Lompat ke isi

2025 Reinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Women’s Double Burden in the Family: An Analysis of Reciprocal Relations Based on Mubādalah Theory in Central Lampung Regency|author=Ismail Hasan (Office of Religious Affairs (Kantor Urusan Agama), Rumbia Subdistrict, Central Lampung, Indonesia)|title_orig=Women’s Double Burden in the Family: An Analysis of Reciprocal Relations Based on Mubādalah Theory in Central Lampung Regency|name=|issn=3063-587x|note=[https://journa...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Women’s Double Burden in the Family: An Analysis of Reciprocal Relations Based on Mubādalah Theory in Central Lampung Regency|author=Ismail Hasan (Office of Religious Affairs (Kantor Urusan Agama), Rumbia Subdistrict, Central Lampung, Indonesia)|title_orig=Women’s Double Burden in the Family: An Analysis of Reciprocal Relations Based on Mubādalah Theory in Central Lampung Regency|name=|issn=3063-587x|note=[https://journal.brajamustipublication.com/index.php/jim/article/view/150/49 (Download Original)]|pub_date=2025-12-27|series=Vol. 2 No. 2 December (2025)|image=Berkas:Mubadalah vol2 no2.png|image_caption=[https://journal.brajamustipublication.com/index.php/jim/article/view/150 Journal of Islamic Mubadalah]|sumber=[https://journal.brajamustipublication.com/index.php/jim/article/view/150 Journal of Islamic Mubadalah]|doi=[https://doi.org/10.70992/x11gw072 https://doi.org/10.70992/x11gw072]}}'''Abstrak:''' Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya beban ganda yang dipikul perempuan menikah di Kecamatan Rumbia, Lampung Tengah, ketika mereka harus mengelola pekerjaan domestik sekaligus terlibat dalam aktivitas ekonomi keluarga. Artikel ini bertujuan mengurai bentuk konkret beban ganda tersebut, faktor yang melahirkannya, serta dampaknya terhadap keadilan relasi suami istri, sekaligus menafsirkan temuan lapangan melalui perspektif mubadalah. Secara teoretis, kajian ini memadukan gagasan keadilan gender, konsep double burden, dan pendekatan mubadalah dalam hukum keluarga Islam. Metode yang digunakan ialah kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan perempuan pekerja berperan ganda, suami, dan tokoh lokal sebagai informan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan pembagian kerja domestik tetap timpang, dukungan suami dan keluarga relatif minim, serta beban fisik dan psikis perempuan meningkat, meskipun mereka mengupayakan berbagai strategi coping. Dalam kacamatamubadalah, praktik tersebut tidak selaras dengan prinsip kesalingan. Karena itu, penelitian ini merekomendasikan penguatan pendidikan mubadalah dalam keluarga, forum keagamaan akar rumput, dan kebijakan daerah yang mendorong pembagian kerja lebih adil danresiprokal.
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Reinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective|author=*Mufida Ulfa (UIN KHAS Jember, Indonesia)
*Muhammad Masruri (Universiti Tun Hussein Onn Malaysia)|title_orig=Reinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective|name=|issn=2527-8711|note=[https://ejournal.uas.ac.id/index.php/falasifa/article/view/2558/1243 (Download Original)]|pub_date=2025-09-30|series=Vol 16 No 02 (2025): September|image=Berkas:Falasifa.jpg|image_caption=[https://ejournal.uas.ac.id/index.php/falasifa/article/view/2558 Falasifa: Jurnal Studi Keislaman]|sumber=[https://ejournal.uas.ac.id/index.php/falasifa/article/view/2558 Falasifa: Jurnal Studi Keislaman]|doi=[https://doi.org/10.62097/falasifa.v16i02.2558 https://doi.org/10.62097/falasifa.v16i02.2558]}}'''Abstrak:''' Fenomena pemaknaan ayat nusyūz dalam masyarakat selama ini masih bias gender, karena label nusyūz lebih sering dilekatkan pada istri dibanding suami, padahal al-Qur'an menegaskan  bahwa  potensi  nusyūz  dapat  terjadi  pada  keduanya. Bias  tafsir  ini dipengaruhi  oleh  dominasi  pemikiran  klasik  yang kurang  memberikan  keseimbangan dalam  membahas  relasi suami-istri.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengkaji  ulang penafsiran  Ibn  'Āsyūr  terhadap  ayat-ayat  nusyūz  dalam Tafsīr  al-Taḥrīr  wa  al-Tanwīr dengan    menggunakan    perspektif mubādalah yang    menekankan    prinsip kesetaraan  dan  resiprositas  gender.   Penelitian  ini   menggunakan  metode library research dengan pendekatan analisis kualitatif dan teknik analisis isi terhadap teks tafsir  primer  serta  sumber-sumber  sekunder  yang  relevan.  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ibn 'Āsyūr terhadap ayat nusyūz masih sejalan dengan mufassir  klasik, meskipun  ia menawarkan  perbedaan  penting  dalam memahami  tiga tahapan penyelesaian nusyūz. Menurut Ibn 'Āsyūr, tiga langkah penyelesaian—nasihat, pisah  ranjang, dan pemukulan—tidak  harus  dilakukan  secara  berurutan, melainkan dipilih sesuai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh nusyūz. Ia juga menegaskan perlunya  intervensi  pemerintah  bila  suami  melampaui  batas  dalam  tindakan  fisik terhadap  istri. Namun, perspektif mubādalah mengungkap  bahwa  tafsir  Ibn  'Āsyūr belum  sepenuhnya menghadirkan  relasi  timbal  balik  yang  adil  antara  suami dan istri, baik  dalam  definisi  maupun  solusi  terhadap  nusyūz. Tafsir  ini  perlu dikontekstualisasikan ulang agar selaras dengan prinsip kesalingan dan keadilan gender yang ditawarkan oleh pendekatan mubādalah.


'''''Kata Kunci:''' Beban Ganda Perempuan, Mubadalah, Keadilan Gender, Hukum Keluarga Islam, Perempuan Pekerja, Lampung Tengah''
'''''Kata Kunci:''' Ibn 'Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz''


'''''Abstract:''' This study is situated within the growing prevalence of the double burden borne by married women in Rumbia District, Central Lampung, as they are required to manage domestic responsibilities while simultaneously engaging in family-based economic activities. The article seeks to elucidate the concrete forms of this double burden, the factors that generate it, and its implications for fairness within spousal relations. In addition, the study interprets empirical findings through the lens of the mubadalahperspective. From a theoretical standpoint, the analysis integrates gender justice theory, the concept of the double burden, and the mubadalahapproach within Islamic family law. Methodologically, the research employed a qualitative case study design, involving women engaged in dual roles, their husbands, and local community figures as informants. Data were collected through in-depth interviews,participant observation, and document analysis. The findings indicate that the division of domestic labor remains markedly unequal, spousal and familial support tends to be limited, and women experience heightened physical and psychological strain, despite their efforts to develop various coping strategies. Viewed through the mubadalahframework, these practices appear to be inconsistent with the principle of reciprocity. Consequently, the study recommends strengthening mubadalah-based education within families, grassroots religious forums, and local policy initiatives that promote a more equitable and reciprocal division of labor.''
'''''Abstract:''' The interpretation of nusyūz verses in Muslim societies remains gender-biased. The term nusyūz gets  attributed  predominantly  to wives  rather  than  husbands, even though  the Qur'an  addresses  both.  This  interpretive  asymmetry  stems  from classical  exegetical  traditions  that inadequately  discuss  marital  relations in  a balanced  manner.   This  study  re-examines  Ibn  'Āsyūr's  interpretation  of the nusyūz verses  in Tafsīr al-Taḥrīr  wa  al-Tanwīr through the lens of mubādalah,  a hermeneutical  framework  emphasizing  reciprocity  and  gender equality. Using a library  research design and qualitative  content  analysis, this  study  analyzes  Ibn 'Āsyūr's tafsir alongside relevant exegetical and fiqh sources. The findings reveal that Ibn 'Āsyūr's interpretation largely aligns with classical exegetes, yet introduces a  significant  reinterpretation  of  the three  remedial  steps  for nusyūz:  admonition, separation of beds, and physical discipline. Unlike most commentators who view these steps as sequential, Ibn 'Āsyūr argues that each should be applied according to the degree of marital disruption. He also emphasizes governmental intervention if a husband exceeds permissible limits. The mubādalah perspective reveals that Ibn 'Āsyūr's tafsir still lacks reciprocal and egalitarian treatment of both spouses in defining and resolving nusyūz. His interpretation requires further contextualization to  align  with  the  ethical  principles  of mutuality  and  gender  justice  inherent in mubādalah.''


'''''Keywords:''' Central Lampung, Gender Justice, Islamic Family Law, Mubadalah, Working Women, Women’s Double Burden.''
'''''Keywords:''' Ibn ‘Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]

Revisi terkini sejak 21 April 2026 20.13

JudulReinterpretation of the Nusyūz Verse in the Al-Taḥrīr wa Tanwīr Exegesis from a Mubadalah Perspective
Penulis
  • Mufida Ulfa (UIN KHAS Jember, Indonesia)
  • Muhammad Masruri (Universiti Tun Hussein Onn Malaysia)
SeriVol 16 No 02 (2025): September
Tahun terbit
2025-09-30
ISSN2527-8711
DOIhttps://doi.org/10.62097/falasifa.v16i02.2558
Sumber OriginalFalasifa: Jurnal Studi Keislaman
(Download Original)

Abstrak: Fenomena pemaknaan ayat nusyūz dalam masyarakat selama ini masih bias gender, karena label nusyūz lebih sering dilekatkan pada istri dibanding suami, padahal al-Qur'an menegaskan bahwa potensi nusyūz dapat terjadi pada keduanya. Bias tafsir ini dipengaruhi oleh dominasi pemikiran klasik yang kurang memberikan keseimbangan dalam membahas relasi suami-istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang penafsiran Ibn 'Āsyūr terhadap ayat-ayat nusyūz dalam Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr dengan menggunakan perspektif mubādalah yang menekankan prinsip kesetaraan dan resiprositas gender. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan analisis kualitatif dan teknik analisis isi terhadap teks tafsir primer serta sumber-sumber sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Ibn 'Āsyūr terhadap ayat nusyūz masih sejalan dengan mufassir klasik, meskipun ia menawarkan perbedaan penting dalam memahami tiga tahapan penyelesaian nusyūz. Menurut Ibn 'Āsyūr, tiga langkah penyelesaian—nasihat, pisah ranjang, dan pemukulan—tidak harus dilakukan secara berurutan, melainkan dipilih sesuai tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh nusyūz. Ia juga menegaskan perlunya intervensi pemerintah bila suami melampaui batas dalam tindakan fisik terhadap istri. Namun, perspektif mubādalah mengungkap bahwa tafsir Ibn 'Āsyūr belum sepenuhnya menghadirkan relasi timbal balik yang adil antara suami dan istri, baik dalam definisi maupun solusi terhadap nusyūz. Tafsir ini perlu dikontekstualisasikan ulang agar selaras dengan prinsip kesalingan dan keadilan gender yang ditawarkan oleh pendekatan mubādalah.

Kata Kunci: Ibn 'Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz

Abstract: The interpretation of nusyūz verses in Muslim societies remains gender-biased. The term nusyūz gets attributed predominantly to wives rather than husbands, even though the Qur'an addresses both. This interpretive asymmetry stems from classical exegetical traditions that inadequately discuss marital relations in a balanced manner. This study re-examines Ibn 'Āsyūr's interpretation of the nusyūz verses in Tafsīr al-Taḥrīr wa al-Tanwīr through the lens of mubādalah, a hermeneutical framework emphasizing reciprocity and gender equality. Using a library research design and qualitative content analysis, this study analyzes Ibn 'Āsyūr's tafsir alongside relevant exegetical and fiqh sources. The findings reveal that Ibn 'Āsyūr's interpretation largely aligns with classical exegetes, yet introduces a significant reinterpretation of the three remedial steps for nusyūz: admonition, separation of beds, and physical discipline. Unlike most commentators who view these steps as sequential, Ibn 'Āsyūr argues that each should be applied according to the degree of marital disruption. He also emphasizes governmental intervention if a husband exceeds permissible limits. The mubādalah perspective reveals that Ibn 'Āsyūr's tafsir still lacks reciprocal and egalitarian treatment of both spouses in defining and resolving nusyūz. His interpretation requires further contextualization to align with the ethical principles of mutuality and gender justice inherent in mubādalah.

Keywords: Ibn ‘Āsyūr, Mubādalah, Nusyūz