Lompat ke isi

2025 Kontroversi Hadist Laknat Bagi Istri Yang Menolak Ajakan Suami: Kajian dalam Perspektif Al-Qur’an: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Iddah Bagi Suami dan Kesetaraan Gender: Pandangan Faqihuddin Abdul Kodir|author=Wahyu Nur Alfiyan (STAI Al Fattah Arjosari Pacitan)|title_orig=Iddah Bagi Suami dan Kesetaraan Gender: Pandangan Faqihuddin Abdul Kodir|name=|issn=2797-2291|note=[https://ejurnal.inhafi.ac.id/index.php/jurisy/article/view/735/344 (Download Original)]|pub_date=2025-12-16|series=Vol. 5 No. 2 (2025): September|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|image_caption=|...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(2 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Iddah Bagi Suami dan Kesetaraan Gender: Pandangan Faqihuddin Abdul Kodir|author=Wahyu Nur Alfiyan (STAI Al Fattah Arjosari Pacitan)|title_orig=Iddah Bagi Suami dan Kesetaraan Gender: Pandangan Faqihuddin Abdul Kodir|name=|issn=2797-2291|note=[https://ejurnal.inhafi.ac.id/index.php/jurisy/article/view/735/344 (Download Original)]|pub_date=2025-12-16|series=Vol. 5 No. 2 (2025): September|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|image_caption=|sumber=[https://ejurnal.inhafi.ac.id/index.php/jurisy/article/view/735 Jurisy: Jurnal Ilmiah Syariah]|doi=}}
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Kontroversi Hadist Laknat Bagi Istri Yang Menolak Ajakan Suami: Kajian dalam Perspektif Al-Qur’an|author=*Oom Mukarromah
*Miftahatul Qodiriyyah
*Fera Fadillah
*Nisrina Rohmi Astuti
(Universitas Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia)|title_orig=Kontroversi Hadist Laknat Bagi Istri Yang Menolak Ajakan Suami: Kajian dalam Perspektif Al-Qur’an|name=|issn=2828-5031|note=[https://jurnal.erapublikasi.id/index.php/JEL/article/view/1802 (Download Original)]|pub_date=Dec 31, 2025|series=Vol. 4 No. 3 (2025)|image=Berkas:Evidence.png|image_caption=|sumber=[https://jurnal.erapublikasi.id/index.php/JEL/article/view/1802 Journal Evidence of Law]|doi=[https://doi.org/10.59066/jel.v4i3.1802 doi.org/10.59066/jel.v4i3.1802]}}'''Abstrak:''' Penelitian ini membahas hadis tentang laknat bagi istri yang menolak ajakan suami, sebuah hadis yang kerap menimbulkan kontroversi dalam konteks relasi suami istri dan isu kesetaraan gender. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tersebut sering dipahami secara tekstual sebagai kewajiban mutlak istri untuk memenuhi ajakan suami, tanpa mempertimbangkan kondisi fisik maupun psikisnya. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kembali pemaknaan hadis tersebut melalui pendekatan Al-Qur’an yang menekankan prinsip kasih sayang (rahmah), keadilan, dan kesalingan dalam rumah tangga. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui analisis terhadap literatur tafsir, hadis, dan pemikiran ulama klasik serta kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna “laknat” dalam hadis tidak bermakna kutukan ilahi, melainkan simbol hilangnya rahmat dan keharmonisan dalam rumah tangga akibat ketidakharmonisan hubungan suami istri. Al-Qur’an menegaskan pentingnya mu‘asyarah bi al-ma‘ruf, kesetaraan, dan kerelaan dalam hubungan. Karena itu, pemaksaan hubungan seksual bertentangan dengan prinsip maqasid al-syari’ah serta tujuan pernikahan untuk mewujudkan sakinah, mawaddah, wa rahmah.


'''Abstrak:''' Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep Mafhūm Mubādalahyang digagas oleh Faqihuddin Abdul Kodir sebagai metode penafsiran teks-teks keagamaan dalam rangka mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender dalam hukum keluarga Islam, khususnya pada aspek perkawinan dan perceraian. Fokus kajian diarahkan pada relevansidan implikasi penerapan pendekatan resiprokal terhadap pembagian hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif-konseptual, melalui studi kepustakaan terhadap karya-karya Faqihuddin Abdul Kodir, literatur fiqh klasik dan kontemporer, serta teori Maqāṣid al-Syarī‘ah. Analisis dilakukan dengan menelaah teks-teks normatif hukum Islam dan mengkontekstualisasikannya dalam perspektif keadilan gender dan kemaslahatan keluarga.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mafhūm Mubādalahmampu merekonstruksi tafsir keagamaan yangsebelumnya cenderung patriarkis menjadi lebih inklusif dan adil. Prinsip resiprokal dalam pendekatanini menegaskan bahwa ketentuan syariat yang dibebankan kepada salah satu gender pada dasarnya berlaku timbal balik, kecuali terdapat dalil yang secara tegas mengecualikannya. Penerapan konsep ini berimplikasi pada pembagian tanggung jawab yang lebih seimbang, termasuk dalam menjaga kehormatan, pemenuhan hak pasca-perceraian, serta pemulihan emosional kedua belah pihak.
'''''Kata kunci:''' Hadis laknat, relasi suami istri, perspektif Al-Qur’an, kesetaraan gender.Pendahuluan''


'''''Kata Kunci:''' perkawinan, perceraian, hukum Islam, rahmatan lil-‘alamin, keadilan keluarga.''
'''''Abstract:''' This study examines the hadith about the curse for a wife who rejects her husband's invitation, a hadith that often causes controversy in the context of marital relations and gender equality issues. The hadith, narrated by Abu Hurairah, is often understood textually as the absolute obligation of a wife to fulfill her husband's invitation, regardless of her physical or psychological condition. This study aims to review the meaning of the hadith through a Qur'anic approach that emphasizes the principles of compassion (rahmah), justice, and mutuality in the household. The method used is a qualitative library research approach through analysis of tafsir literature, hadith, and the thoughts of classical and contemporary scholars. The results of the study indicate that the meaning of "laknat" in the hadith does not mean divine curse,but rather symbolizes the loss of grace and harmony in the household due to disharmony in the husband-wife relationship. The Qur'an emphasizes the importance of mu'asyarah bi al-ma'ruf, equality, and willingness in relationships. Therefore, forced sexual relations are contrary to the principles of maqasid al-syari'ah and the purpose of marriage to realize sakinah, mawaddah, wa rahmah.''


'''''Abstract:''' This study aims to analyze the concept of Mafhūm Mubādalah (Islamic Principles of Understanding) proposed by Faqihuddin Abdul Kodir as a method of interpreting religious texts to realize justice and gender equality in Islamic family law, particularly in the aspects of marriage and divorce. The study focuses on the relevance and implications of applying a reciprocal approach to the division of rights and obligations between men and women. The research method used is qualitative research with a normative-conceptual approach, through a literature review of Faqihuddin Abdul Kodir's works, classical and contemporary fiqh literature, and the theory of Maqāṣid al-Syarī‘ah. The analysis is conducted by examining normative Islamic legal texts and contextualizing them from the perspective of gender justice and family welfare. The results show that Mafhūm Mubādalah is able to reconstruct religious interpretations that previously tended towards patriarchy to become more inclusive and just. The principle of reciprocity in this approach asserts that sharia provisions imposed on one gender are essentially reciprocal, unless there is explicit evidence to exclude them. The application of this concept implies a more balanced distribution of responsibilities, including maintaining honor, fulfilling post-divorce rights, and providing emotional recovery for both parties.''
'''''Keywords:''' Hadith curse, husband and wife relations, Qur'anic perspective, gender equality.''
 
'''''Keywords:''' marriage, divorce, Islamic law, rahmatan lil-'alamin, family justice.''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]