2025 Disrupting Patriarchy Through Critical Literacy: A Textual and Pedagogical Analysis of Faqihuddin Abdul Kodir’s Writings on Gender Justice in Contemporary Indonesia: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 3: | Baris 3: | ||
*Septi Gumiandari (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon) | *Septi Gumiandari (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon) | ||
*Huriyah Huriyah (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon) | *Huriyah Huriyah (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon) | ||
*Nazwa Ilmy (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon)|title_orig=Disrupting Patriarchy Through Critical Literacy: A Textual and Pedagogical Analysis of Faqihuddin Abdul Kodir’s Writings on Gender Justice in Contemporary Indonesia|name=|issn=2715-9132|note=[https://ejournal.uinmadura.ac.id/index.php/ghancaran/article/view/21662 (Download Original)]|pub_date=2025-09-12|series=Special Edition: LALONGET VI|image=Berkas: | *Nazwa Ilmy (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon)|title_orig=Disrupting Patriarchy Through Critical Literacy: A Textual and Pedagogical Analysis of Faqihuddin Abdul Kodir’s Writings on Gender Justice in Contemporary Indonesia|name=|issn=2715-9132|note=[https://ejournal.uinmadura.ac.id/index.php/ghancaran/article/view/21662 (Download Original)]|pub_date=2025-09-12|series=Special Edition: LALONGET VI|image=Berkas:Ghancaran.jpg|image_caption=|sumber=[https://ejournal.uinmadura.ac.id/index.php/ghancaran/article/view/21662 GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia]|doi=[https://doi.org/10.19105/ghancaran.vi.21662 doi.org/10.19105/ghancaran.vi.21662]}}'''Abstrak:''' Narasi patriarkal dalam teks pendidikan dan keagamaan di Indonesia terus mereproduksi ketidaksetaraan gender, sehingga literasi kritis menjadi pendekatan pedagogis yang mendesak. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana karya-karya Faqihuddin Abdul Kodir berkontribusi dalam mempromosikan keadilan gender dalam pendidikan bahasa melalui praktik literasi kritis. Dengan menggunakan desain studi kasus kualitatif, penelitian ini melibatkan wawancara, observasi kelas, dan analisis dokumen dengan guru bahasa dan mahasiswa pendidikan di Cirebon yang terlibat dengan tulisan-tulisan Faqihuddin serta kerangka mubadalah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru dan mahasiswa mengembangkan kesadaran yang lebih besar terhadap bias gender dalam teks dan menerapkan strategi membaca reflektif untuk menginternalisasi nilai-nilai etis seperti keadilan dan timbal balik. Para guru mulai mengintegrasikan bahasa yang inklusif dan mendorong latihan penulisan ulang dari perspektif perempuan, yang menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Selain itu, para pendidik mulai mendefinisikan kembali peran profesional mereka dari sekadar pengajar bahasa menjadi fasilitator keadilan sosial. Hasil ini menunjukkan potensi transformatif pedagogi literasi kritis yang berkeadilan gender dalam konteks pendidikan Islam maupun multibahasa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi teks yang sadar gender dan praktik reflektif dapat memperkaya pembelajaran bahasa, mendorong kesetaraan gender, serta menawarkan kontribusi progresif Islam terhadap wacana literasi kritis global. | ||
'''''Kata Kunci:''' Representasi gender; Literasi kritis; Mubadalah; Transformasi pedagogis; Pendidikan Indonesia'' | '''''Kata Kunci:''' Representasi gender; Literasi kritis; Mubadalah; Transformasi pedagogis; Pendidikan Indonesia'' | ||
Revisi terkini sejak 26 April 2026 10.35
| Judul | Disrupting Patriarchy Through Critical Literacy: A Textual and Pedagogical Analysis of Faqihuddin Abdul Kodir’s Writings on Gender Justice in Contemporary Indonesia |
|---|---|
| Penulis |
|
| Seri | Special Edition: LALONGET VI |
Tahun terbit | 2025-09-12 |
| ISSN | 2715-9132 |
| DOI | doi.org/10.19105/ghancaran.vi.21662 |
| Sumber Original | GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia |
| (Download Original) | |
Abstrak: Narasi patriarkal dalam teks pendidikan dan keagamaan di Indonesia terus mereproduksi ketidaksetaraan gender, sehingga literasi kritis menjadi pendekatan pedagogis yang mendesak. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana karya-karya Faqihuddin Abdul Kodir berkontribusi dalam mempromosikan keadilan gender dalam pendidikan bahasa melalui praktik literasi kritis. Dengan menggunakan desain studi kasus kualitatif, penelitian ini melibatkan wawancara, observasi kelas, dan analisis dokumen dengan guru bahasa dan mahasiswa pendidikan di Cirebon yang terlibat dengan tulisan-tulisan Faqihuddin serta kerangka mubadalah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru dan mahasiswa mengembangkan kesadaran yang lebih besar terhadap bias gender dalam teks dan menerapkan strategi membaca reflektif untuk menginternalisasi nilai-nilai etis seperti keadilan dan timbal balik. Para guru mulai mengintegrasikan bahasa yang inklusif dan mendorong latihan penulisan ulang dari perspektif perempuan, yang menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan sosial. Selain itu, para pendidik mulai mendefinisikan kembali peran profesional mereka dari sekadar pengajar bahasa menjadi fasilitator keadilan sosial. Hasil ini menunjukkan potensi transformatif pedagogi literasi kritis yang berkeadilan gender dalam konteks pendidikan Islam maupun multibahasa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi teks yang sadar gender dan praktik reflektif dapat memperkaya pembelajaran bahasa, mendorong kesetaraan gender, serta menawarkan kontribusi progresif Islam terhadap wacana literasi kritis global.
Kata Kunci: Representasi gender; Literasi kritis; Mubadalah; Transformasi pedagogis; Pendidikan Indonesia
Abstract: Patriarchal narratives in Indonesian educational and religious texts continue to reproduce gender inequality, making critical literacy an urgent pedagogical approach. This study aims to examine how the works of Faqihuddin Abdul Kodir contribute to promoting gender justice in language education through critical literacy practices. Employing a qualitative case study design, the research involved interviews, classroom observations, and document analysis with language teachers and education students in Cirebon who engaged with Faqihuddin’s writings and mubadalah framework. The findings reveal that teachers and students developed greater awareness of gender bias in texts and adopted reflective reading strategies to internalize ethical values such as justice and reciprocity. Teachers began to integrate inclusive language and encourage rewriting exercises from female perspectives, which positioned students as agents of social change. Furthermore, educators started to redefine their professional roles from mere linguistic instructors to facilitators of social justice. These results demonstrate the transformative potential of gender-just critical literacy pedagogy in both Islamic and multilingual educational contexts. This study concludes that integrating gender-conscious texts and reflective practices can enrich language classrooms, advance gender equality, and offer a progressive Islamic contribution to global critical literacy discourse.
Keywords: Gender representation; Critical literacy; Mubadalah; Pedagogical Transformation; Indonesia education