Jangkar Pesantren Kebon Jambu: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 45: | Baris 45: | ||
Dalam sambutan di Pembukaan juga Ibu Nyai mendefenisikan bahwa feminisme menurutnya adalah ide atau sikap dimana perempuan manapun diharamkan untuk membutuhkan makhluk laki-laki dan atau makhluk manapun selain Allah SWT. Sementara kesetaraan gender menurutnya adalah bahwa perempuan diharamkan bersandar kepada kekuatan laki-laki atau kekuatan makhluk manapun, selain Allah Swt. Lalu seseorang yang pluralis, menurut Ibu Nyai, adalah ia yang meyakini bahwa setiap makhluk harus mencintai makhluk lain ciptaan Allah SWT dengan tidak memandang latar belakang apapun. Karena sikap dan pandangan-pandangan seperti ini, Pesantren Kebon Jambu sering menerima kunjungan berbagai kalangan, para aktivis, akademisi, dan para peneliti, muslim dan non-muslim, dalam dan luar negeri. | Dalam sambutan di Pembukaan juga Ibu Nyai mendefenisikan bahwa feminisme menurutnya adalah ide atau sikap dimana perempuan manapun diharamkan untuk membutuhkan makhluk laki-laki dan atau makhluk manapun selain Allah SWT. Sementara kesetaraan gender menurutnya adalah bahwa perempuan diharamkan bersandar kepada kekuatan laki-laki atau kekuatan makhluk manapun, selain Allah Swt. Lalu seseorang yang pluralis, menurut Ibu Nyai, adalah ia yang meyakini bahwa setiap makhluk harus mencintai makhluk lain ciptaan Allah SWT dengan tidak memandang latar belakang apapun. Karena sikap dan pandangan-pandangan seperti ini, Pesantren Kebon Jambu sering menerima kunjungan berbagai kalangan, para aktivis, akademisi, dan para peneliti, muslim dan non-muslim, dalam dan luar negeri. | ||
Di satu sisi, semua ini menunjukkan kemampuan Ibu Nyai dalam mengelola Pesantren. Ia juga menandakan kapasitas keilmuan dan keberpihakan yang tegas dan jelas terhadap kesetaraan dan keadilan gender. Di sisi yang lain, ia juga menunjukkan posisi beliau yang kuat di mata santri, alumni, keluarga Pesantren, para aktivis, dan masyarakat umum. Karena posisi beliau ini, KUPI memilih Pesantren Kebon Jambu al-Islamy. Salah satu dari puluhan Pesantren yang berada di Desa Babakan Ciwaringin Cirebon. Posisi kultural Pesantren Kebon Jambu tidak lepas dari otoritas dan legitimasi dari Pesantren Babakan secara umum. | Di satu sisi, semua ini menunjukkan kemampuan Ibu Nyai dalam mengelola Pesantren. Ia juga menandakan kapasitas keilmuan dan keberpihakan yang tegas dan jelas terhadap kesetaraan dan keadilan gender. Di sisi yang lain, ia juga menunjukkan posisi beliau yang kuat di mata santri, alumni, keluarga Pesantren, para aktivis, dan masyarakat umum. Karena posisi beliau ini, KUPI memilih Pesantren [[Kebon Jambu Al-Islamy|Kebon Jambu al-Islamy]]. Salah satu dari puluhan Pesantren yang berada di Desa Babakan Ciwaringin Cirebon. Posisi kultural Pesantren Kebon Jambu tidak lepas dari otoritas dan legitimasi dari Pesantren Babakan secara umum. | ||
Babakan adalah salah satu daerah Pesantren yang cukup tua di Cirebon, di samping Buntet, Kempek dan Arjawinangun. Ia pertama kali dibuka oleh Kyai Jatira pada tahun 1705. Tetapi aktivitas pembelajaran pesantren lebih jelas dan intensif baru dilakukan oleh Kyai Amin Sepuh pada awal abad keduapuluh. Babakan memiliki posisi kultural karena Kyai Amin Sepuh ini. Beliau termasuk salah seorang yang ditunggu restunya untuk Resolusi [[Jihad]] yang digemakan NU pada masa kemerdekaan. Beliau juga, bersama anak-anak dan santri-santri Babakan, ikut bergerak menuju Surabaya untuk mengusir Belanda pada perang 10 Nopember 1945. Akibat konfrontasi dan perlawanan Kyai Amin Sepuh ini, Pesantren Babakan pernah diserang dan dibumi-hanguskan pada saat agresi Belanda yang kedua, tepatnya tahun 1952. Semua orang mengungsi, termasuk KH Amin Sepuh. | Babakan adalah salah satu daerah Pesantren yang cukup tua di Cirebon, di samping Buntet, Kempek dan Arjawinangun. Ia pertama kali dibuka oleh Kyai Jatira pada tahun 1705. Tetapi aktivitas pembelajaran pesantren lebih jelas dan intensif baru dilakukan oleh Kyai Amin Sepuh pada awal abad keduapuluh. Babakan memiliki posisi kultural karena Kyai Amin Sepuh ini. Beliau termasuk salah seorang yang ditunggu restunya untuk Resolusi [[Jihad]] yang digemakan NU pada masa kemerdekaan. Beliau juga, bersama anak-anak dan santri-santri Babakan, ikut bergerak menuju Surabaya untuk mengusir Belanda pada perang 10 Nopember 1945. Akibat konfrontasi dan perlawanan Kyai Amin Sepuh ini, Pesantren Babakan pernah diserang dan dibumi-hanguskan pada saat agresi Belanda yang kedua, tepatnya tahun 1952. Semua orang mengungsi, termasuk KH Amin Sepuh. | ||
| Baris 54: | Baris 54: | ||
Melalui Cirebon ini, tepatnya Pesantren Babakan Ciwaringn Cirebon, lebih spesifik lagi Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, lokasi Kongres, KUPI ingin mengingatkan sekaligus menegaskan pentingnya corak Islam Nusantara yang menghormati keragaman dan pluralisme yang bermuara pada nilai-nilai [[Tauhid]]. Sebuah pemahaman dan praktek keagamaan yang tidak hanya memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan, tetapi juga membuka ruang secara lebar bagi perempuan untuk berkiprah di berbagai kehidupan publik. Baik sosial, ekonomi, politik, pendidikan, maupun keagamaan. Sesuatu yang ingin ditegaskan oleh KUPI sebagai keniscayaan sejarah dan sekaligus keterpanggilan iman. | Melalui Cirebon ini, tepatnya Pesantren Babakan Ciwaringn Cirebon, lebih spesifik lagi Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, lokasi Kongres, KUPI ingin mengingatkan sekaligus menegaskan pentingnya corak Islam Nusantara yang menghormati keragaman dan pluralisme yang bermuara pada nilai-nilai [[Tauhid]]. Sebuah pemahaman dan praktek keagamaan yang tidak hanya memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan, tetapi juga membuka ruang secara lebar bagi perempuan untuk berkiprah di berbagai kehidupan publik. Baik sosial, ekonomi, politik, pendidikan, maupun keagamaan. Sesuatu yang ingin ditegaskan oleh KUPI sebagai keniscayaan sejarah dan sekaligus keterpanggilan iman. | ||
[[Kategori:Proses]] | [[Kategori:Proses]] | ||
[[Kategori:Proses | [[Kategori:Proses Kongres 1]] | ||