Lompat ke isi

Bangun Jejaring Lawan Radikalisme: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(4 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''Info Artikel:'''
{|
|Sumber Original
|:
|[https://nasional.kompas.com/read/2017/04/26/19552951/bangun.jejaring.lawan.radikalisme?page=all Kompas]
|-
|Tanggal Publikasi
|:
|<nowiki>26/04/2017 | 19:55 WIB</nowiki>
|-
|Penulis
|:
|
|-
|Artikel Lengkap
|:
|[https://nasional.kompas.com/read/2017/04/26/19552951/bangun.jejaring.lawan.radikalisme?page=all Bangun Jejaring Lawan Radikalisme]
|}
Islam mengajarkan keadilan dan kesetaraan di antara sesama manusia dalam kehidupan berbangsa. Akan tetapi, banyak ketiakadilan terjadi atas nama agama, dan menempatkan perempuan sebagai korban. Perempuan bahkan dieksploitasi dan menjadi bagian dari kelompok radikal.
Islam mengajarkan keadilan dan kesetaraan di antara sesama manusia dalam kehidupan berbangsa. Akan tetapi, banyak ketiakadilan terjadi atas nama agama, dan menempatkan perempuan sebagai korban. Perempuan bahkan dieksploitasi dan menjadi bagian dari kelompok radikal.


Perempuan sangat rentan dieksploitasi sehingga mudah terlibat dalam radikalisme. Hal itu sudah terjadi di banyak negara. Oleh karena itu, jadi kebutuhan mendesak untuk membangun jejaring gerakan perempuan antarnegara guna memperjuangkan kesetaraan sekaligus mencegah radikalisme.
Perempuan sangat rentan dieksploitasi sehingga mudah terlibat dalam radikalisme. Hal itu sudah terjadi di banyak negara. Oleh karena itu, jadi kebutuhan mendesak untuk membangun jejaring gerakan perempuan antarnegara guna memperjuangkan kesetaraan sekaligus mencegah radikalisme.


Demikian antara lain pemikiran yang mengemuka dalam Seminar Internasional [[Ulama Perempuan]] bertema “Menguatkan Suara Ulama Perempuan, Menegaskan Nilai-nilai Islam, Kebangsaan, dan Kemanusiaan” di Cirebon, Jawa Barat, Selasa (25/4). Seminar yang menghadirkan pembicara dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, Nigeria, Kenya, dan Afganistan itu menjadi bagian dari Kongres [[Ulama Perempuan Indonesia]] ([[KUPI]]) di IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, dan Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon, 25-27 April 2017. KUPI diikuti oleh lebih dari 500 peserta dari 15 negara.
Demikian antara lain pemikiran yang mengemuka dalam Seminar Internasional [[Ulama Perempuan]] bertema “Menguatkan Suara Ulama Perempuan, Menegaskan Nilai-nilai Islam, Kebangsaan, dan Kemanusiaan” di Cirebon, Jawa Barat, Selasa (25/4). Seminar yang menghadirkan pembicara dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, Nigeria, Kenya, dan Afganistan itu menjadi bagian dari [[Kongres Ulama Perempuan Indonesia]] ([[KUPI]]) di IAIN Syekh Nurjati, Cirebon, dan Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon, 25-27 April 2017. KUPI diikuti oleh lebih dari 500 peserta dari 15 negara.


Pengalaman paling ekstrem tentang perempuan sebagai korban radikalisasi diceritakan Bushra Qadhim Hyder dari PAIMAN, Alumni Trust Pakistan. Ia mengatakan, banyak kaum perempuan di Pakistan dieksploitasi atas nama agama, lalu disuruh berperang oleh kelompok radikal. “Kaum perempuan sering dipaksa menjadi pelaku bom bunuh diri dan diperlakukan tidak manusiawi. Mereka menangkap pandangan [[jihad]] yang tidak tepat, kemudian masuk ke gerakan ekstrem,” katanya.
Pengalaman paling ekstrem tentang perempuan sebagai korban radikalisasi diceritakan Bushra Qadhim Hyder dari PAIMAN, Alumni Trust Pakistan. Ia mengatakan, banyak kaum perempuan di Pakistan dieksploitasi atas nama agama, lalu disuruh berperang oleh kelompok radikal. “Kaum perempuan sering dipaksa menjadi pelaku bom bunuh diri dan diperlakukan tidak manusiawi. Mereka menangkap pandangan [[jihad]] yang tidak tepat, kemudian masuk ke gerakan ekstrem,” katanya.
Baris 25: Baris 44:


Duta Besar Afganistan untuk Indonesia Roya Rahmani mengajak semua perempuan dan gerakan perempuan dari semua negara untuk saling mendukung satu sama lain. KUPI menjadi satu alternatif wadah untuk berjejaring. “Kita perlu mencari suara alternatif karena masalah radikalisme, kekerasan seksual, dan hal lain yang merugikan perempuan itu mengglobal. Kita harus bertukar strategi dan bersatu dengan negara lain,” ujarnya. '''(IVV/IKI)'''
Duta Besar Afganistan untuk Indonesia Roya Rahmani mengajak semua perempuan dan gerakan perempuan dari semua negara untuk saling mendukung satu sama lain. KUPI menjadi satu alternatif wadah untuk berjejaring. “Kita perlu mencari suara alternatif karena masalah radikalisme, kekerasan seksual, dan hal lain yang merugikan perempuan itu mengglobal. Kita harus bertukar strategi dan bersatu dengan negara lain,” ujarnya. '''(IVV/IKI)'''
KOMPAS'','' 26 April 2017
''Sumber: Harian KOMPAS, 26 April 2017''
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita KUPI 1]]
[[Kategori:Berita Kongres 1]]