Lompat ke isi

2020 The Reconstruction of Kaidah Al-TazKir And Al-Ta’nis In Paradigm of Gender Equality Interpretation: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=UNES LAW REVIEW|isbn=2622-7045|pub_date=Apr 25, 2024|cover_artist=|pages=|series=Vol. 6 No. 3...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(3 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=UNES LAW REVIEW|isbn=2622-7045|pub_date=Apr 25, 2024|cover_artist=|pages=|series=Vol. 6 No. 3 (2024)|author=|title_orig=UNES LAW REVIEW}}
{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:Attibyan vol5 no2.png|italic title=Jurnal At-Tibyan; Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir|isbn=2579-5708|pub_date=Dec 11, 2020|cover_artist=|pages=|series=Volume 5 No. 2, Desember 2020|author=|title_orig=Jurnal At-Tibyan; Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir}}
{|
{|
|Nama Jurnal
|Nama Jurnal
|:
|:
| UNES LAW REVIEW
| Jurnal At-Tibyan; Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
| Vol. 6 No. 3 (2024)
|Volume 5 No. 2, Desember 2020
|-
|-
|Tahun
|Tahun
|:
|:
| Apr 25, 2024
| Dec 11, 2020
|-
|-
|Judul Tulisan
|Judul Tulisan
|:
|:
|''[https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i3.1783 Konsep Nusyuz dalam Khi dan Penyelesainya Prespektif Mubadalah]''
|''[https://doi.org/10.32505/at-tibyan.v5i2.1625 The Reconstruction of Kaidah Al-TazKir And Al-Ta’nis In Paradigm of Gender Equality Interpretatio]''
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
| ''Jamilatul Nuril Azizah (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta)''
| ''Halya Millati (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia)''
|}
|}
'''Abstract'''


Dalam Kompilasi Hukum Islam, pengertian nusyuz secara eksklusif mengatur tentang nusyuz yang dilakukan oleh istri.  Kompilasi Hukum Islam yang menganut hukum nusyuz tetap berpijak pada fikih patriarki yang berlandaskan pada ajaran agama yang mendasar.  Dari segi metodologi, KHI tetap menyerupai gagasan para peneliti sebelumnya.  Perspektif dan konteks umat Islam Indonesia belum tertanam secara baik dalam rumusan perundang-undangan KHI.  Kandungan materiilnya, sebagai hukum positif di Indonesia, adalah keabsahan [[fiqh]] yang memberikan kedudukan tersendiri bagi perempuan. Kajian penelitian dilakukan melalui pendekatan konseptual (conceptual appoarch). Disamping itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Al-Qur'an memperlakukan nusyuz dari dua sudut pandang, sehingga menjadikannya sebagai penghujatan dalam kaitannya dengan nusyuz.  Dengan kata lain, nusyuz itu ada dua macam: satu dari istri (QS. an-Nisa [4]: ​​34) dan satu lagi dari suami (QS. an-Nisa [4]: ​​128).  Cara apapun (mauizhatul hasanah, hajrun, dhorbun, islah, ihsan, taqwa) dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.


Abstrak


Kaidah ''al-tazkir'' dan ''al-ta’nis'' (maskulinitas dan feminimitas) sebagaimana yang dirumuskan pakar tafsir klasik tidak berpegang pada prinsip kesetaraan. Hal ini dipicu oleh eksklusifitas laki-laki sebagai keniscayaan dari penerapan kaidah tersebut, sehingga menyebabkan superioritas laki-laki ''(muzakkar)'' dan inferioritas perempuan ''(mu’annas)''. Tulisan ini bertujuan untuk mengilustrasikan kaidah ''al-tazkir dan al-ta’nis'' di masa klasik, bagaimana rekonstruksinya saat ini, serta apa motif yang menginspirasi adanya rekonstruksi itu. Dengan teori ''scientific revolution'' Thomas Kuhn, penelitian kepustakaan ini menemukan bahwa kaidah ''al-tazkir dan al-ta’nis'' pada mulanya diadopsi dari ilmu Gramatika Arab, dan sarat superioritas laki-laki. Lalu, mengalami pergeseran, yang semula parsial karena hanya berorientasi pada kaidah bahasa, menjadi teori kesetaraaan dengan berbagai bentuknya yang lebih responsif pada perempuan. Teori-teori itu secara kronologis meliputi ''maqasid musawah'' (Ibnu ‘Ashur, w. 1973), teori resiprokal hadis Nabi (Abu Shuqqah, w. 1995), dan ''Qira’ah [[Mubadalah]]'' ([[Faqihuddin Abdul Kodir]]). Di samping itu, Motif pergeseran ini ialah kaedah ''al-tazkir dan al-ta’nis'' tidak mampu menjawab persoalan ketimpangan gender, sehingga upaya rekonstruksi perlu dilakukan.


'''''Keywords:''' kesetaraan gender, rekonstruksi, al-ta’nith, al-tadhkir''


'''''Abstract'''''


The rules of ''al-tazkîr'' and ''al-ta'nîs\'' (masculinity and femininity) formulated by classical interpretation don’t adhere to the principle of equality. This is triggered by exclusivity of men as a necessity of applying these rules, which causes superiority of male (''muzakkar'') and inferiority of women (''mu'annas''). This paper aims to illustrate the rules of ''al-tazkîr'' and ''al-ta'nîs'' in the classical period, how the current reconstruction was, and what motives inspired the reconstruction. With Thomas Kuhn's theory of scientific revolution, this literature research finds that the rule of ''al-taz\kîr'' and ''al-ta'nîs\'' was originally adopted from Arabic grammar, and it’s full of male superiority. Then, experiencing a shift, which was initially partial because it was only oriented towards language, into a theory of equality with its various forms that were more responsive to women. The theories chronologically include ''maqasid musawah'' (Ibn 'Ashur, w. 1973), the reciprocal theory of the Prophet's hadith (Abu Shuqqah, w. 1995), and ''Qira'ah Mubadalah'' (Faqihuddin Abdul Kodir). In addition, the motive for this shift is that the rule of ''al-tazkîr'' and ''al-ta'nîs'' is unable to answer the problem of gender inequality, so reconstruction efforts need to be carried out.


'''''Keywords:''' Nusyuz, KHI, [[Mubadalah]]''  
'''''Keywords:''' gender equality, reconstruction, al-ta’nis, al-tazkir''


Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i3.1783'''''
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://doi.org/10.32505/at-tibyan.v5i2.1625'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2020]]

Revisi terkini sejak 3 April 2026 14.58

2020 The Reconstruction of Kaidah Al-TazKir And Al-Ta’nis In Paradigm of Gender Equality Interpretation
JudulJurnal At-Tibyan; Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
SeriVolume 5 No. 2, Desember 2020
Tahun terbit
Dec 11, 2020
ISBN2579-5708
Nama Jurnal : Jurnal At-Tibyan; Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Seri : Volume 5 No. 2, Desember 2020
Tahun : Dec 11, 2020
Judul Tulisan : The Reconstruction of Kaidah Al-TazKir And Al-Ta’nis In Paradigm of Gender Equality Interpretatio
Penulis : Halya Millati (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia)


Abstrak

Kaidah al-tazkir dan al-ta’nis (maskulinitas dan feminimitas) sebagaimana yang dirumuskan pakar tafsir klasik tidak berpegang pada prinsip kesetaraan. Hal ini dipicu oleh eksklusifitas laki-laki sebagai keniscayaan dari penerapan kaidah tersebut, sehingga menyebabkan superioritas laki-laki (muzakkar) dan inferioritas perempuan (mu’annas). Tulisan ini bertujuan untuk mengilustrasikan kaidah al-tazkir dan al-ta’nis di masa klasik, bagaimana rekonstruksinya saat ini, serta apa motif yang menginspirasi adanya rekonstruksi itu. Dengan teori scientific revolution Thomas Kuhn, penelitian kepustakaan ini menemukan bahwa kaidah al-tazkir dan al-ta’nis pada mulanya diadopsi dari ilmu Gramatika Arab, dan sarat superioritas laki-laki. Lalu, mengalami pergeseran, yang semula parsial karena hanya berorientasi pada kaidah bahasa, menjadi teori kesetaraaan dengan berbagai bentuknya yang lebih responsif pada perempuan. Teori-teori itu secara kronologis meliputi maqasid musawah (Ibnu ‘Ashur, w. 1973), teori resiprokal hadis Nabi (Abu Shuqqah, w. 1995), dan Qira’ah Mubadalah (Faqihuddin Abdul Kodir). Di samping itu, Motif pergeseran ini ialah kaedah al-tazkir dan al-ta’nis tidak mampu menjawab persoalan ketimpangan gender, sehingga upaya rekonstruksi perlu dilakukan.

Keywords: kesetaraan gender, rekonstruksi, al-ta’nith, al-tadhkir

Abstract

The rules of al-tazkîr and al-ta'nîs\ (masculinity and femininity) formulated by classical interpretation don’t adhere to the principle of equality. This is triggered by exclusivity of men as a necessity of applying these rules, which causes superiority of male (muzakkar) and inferiority of women (mu'annas). This paper aims to illustrate the rules of al-tazkîr and al-ta'nîs in the classical period, how the current reconstruction was, and what motives inspired the reconstruction. With Thomas Kuhn's theory of scientific revolution, this literature research finds that the rule of al-taz\kîr and al-ta'nîs\ was originally adopted from Arabic grammar, and it’s full of male superiority. Then, experiencing a shift, which was initially partial because it was only oriented towards language, into a theory of equality with its various forms that were more responsive to women. The theories chronologically include maqasid musawah (Ibn 'Ashur, w. 1973), the reciprocal theory of the Prophet's hadith (Abu Shuqqah, w. 1995), and Qira'ah Mubadalah (Faqihuddin Abdul Kodir). In addition, the motive for this shift is that the rule of al-tazkîr and al-ta'nîs is unable to answer the problem of gender inequality, so reconstruction efforts need to be carried out.

Keywords: gender equality, reconstruction, al-ta’nis, al-tazkir

Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: https://doi.org/10.32505/at-tibyan.v5i2.1625