Lompat ke isi

2023 The Marital Rape Phenomenon as A Form of Gender Oppression: An Analysis of the Urgency of Sexual Consent Mubadalah's Perspective: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=HUMANISMA: Journal of Gender Studies|isbn=2549-4139|pub_date=2023-12-31|cover_artist=|pages=|s...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(3 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|italic title=HUMANISMA: Journal of Gender Studies|isbn=2549-4139|pub_date=2023-12-31|cover_artist=|pages=|series=Vol. 7 No. 2 (2023): December 2023|author=|title_orig=HUMANISMA: Journal of Gender Studies}}
{{Infobox book|editor=|publisher=|image=Berkas:Humanisma vol7 no1.png|italic title=HUMANISMA: Journal of Gender Studies|isbn=2549-4139|pub_date=2023-12-31|cover_artist=|pages=|series=Vol. 7 No. 2 (2023): December 2023|author=|title_orig=HUMANISMA: Journal of Gender Studies}}
{|
{|
|Nama Jurnal
|Nama Jurnal
Baris 15: Baris 15:
|Judul Tulisan
|Judul Tulisan
|:
|:
|''[https://doi.org/10.30983/humanisme.v7i2.8104 The Marital Rape Phenomenon as A Form of Gender Oppression: An Analysis of the Urgency of Sexual Consent Mubadalah's Perspective]''
|''[https://doi.org/10.30983/humanisme.v7i2.8104 The Marital Rape Phenomenon as A Form of Gender Oppression: An Analysis of the Urgency of Sexual Consent Mubadalah's Perspective]''
|-
|-
|Penulis
|Penulis
Baris 21: Baris 21:
| ''Ade Rosi Siti Zakiah (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), Muhammad Nasiruddin (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), Abdul Wahab Naf'an (Institute Afroasia Suez Canal University Mesir), Ruqoyyah Amilia Andania (National Dong Hwa University (NDHU))''
| ''Ade Rosi Siti Zakiah (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), Muhammad Nasiruddin (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), Abdul Wahab Naf'an (Institute Afroasia Suez Canal University Mesir), Ruqoyyah Amilia Andania (National Dong Hwa University (NDHU))''
|}
|}
'''Abstract'''
'''''Abstract'''''


Dalam Kompilasi Hukum Islam, pengertian nusyuz secara eksklusif mengatur tentang nusyuz yang dilakukan oleh istri. Kompilasi Hukum Islam yang menganut hukum nusyuz tetap berpijak pada fikih patriarki yang berlandaskan pada ajaran agama yang mendasar. Dari segi metodologi, KHI tetap menyerupai gagasan para peneliti sebelumnya. Perspektif dan konteks umat Islam Indonesia belum tertanam secara baik dalam rumusan perundang-undangan KHI.  Kandungan materiilnya, sebagai hukum positif di Indonesia, adalah keabsahan [[fiqh]] yang memberikan kedudukan tersendiri bagi perempuan. Kajian penelitian dilakukan melalui pendekatan konseptual (conceptual appoarch). Disamping itu penelitian ini juga menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Al-Qur'an memperlakukan nusyuz dari dua sudut pandang, sehingga menjadikannya sebagai penghujatan dalam kaitannya dengan nusyuz. Dengan kata lain, nusyuz itu ada dua macam: satu dari istri (QS. an-Nisa [4]: ​​34) dan satu lagi dari suami (QS. an-Nisa [4]: ​​128). Cara apapun (mauizhatul hasanah, hajrun, dhorbun, islah, ihsan, taqwa) dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
''Many women continue to face cases of sexual abuse in biological relationships between husband and wife, sometimes known as marital rape. This phenomenon is often considered taboo to be discussed, conveyed, and addressed. So in turn, the phenomenon of marital rape becomes a problem that cannot be resolved immediately. In particular, the main question in this research is how Islamic law views the phenomenon of marital rape in husband-and-wife relations and whether the urgency of sexual consent from the [[mubadalah]] perspective is a step to prevent marital rape. This research is included in the category of library research with a qualitative approach, data collection techniques with documentation types, data processing techniques with descriptive-analytic methods, and an analytical framework with mubÄdalah theory. The results of this study show that the act of marital rape due to unequal sexual relations between husband and wife is part of an act of violence, both physically and psychologically. Islam prohibits sexual intercourse through coercion and violence. Husband-wife relationships in any condition must have an element of pleasure from each party, meaning that there should be no coercion from both. Thus, sexual consent education needs to be pursued to become a preventive spirit and safe behaviour for instilling a foundation of mutual respect between individuals. This is expected to pave the way for married couples to enjoy a healthy and happy relationship for both parties.''


'''''Keywords:''' Marital Rape, Mubādalah, Sexual Consent, Sexual Violence''


'''Abstrak'''


Masih banyak dialami oleh perempuan. Fenomena ini sering dianggap tabu untuk dibicarakan, disampaikan dan disikapi. Sehingga pada gilirannya fenomena marital rape menjadi permasalahan yang tidak segera ditanggulangi. Secara spesifik, pertanyaan utama dalam penelitian ini ialah bagaimana hukum Islam memandang fenomena marital rape dalam hubungan suami istri dan bagaimana urgensi sexual consent perspektif mubadalah sebagai upaya preventif terjadinya martial rape. Kajian ini termasuk pada kategori penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data jenis dokumentasi, teknik pengolahan data dengan metode deskriptif-analisis, dan kerangka analisa dengan teori mubÄdalah. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa tindakan marital rape akibat hubungan seksual yang tidak seimbang antara suami istri merupakan bagian dari tindakan kekerasan, baik secara fisik maupun psikis. Islam melarang hubungan seksual dengan paksaan dan kekerasan. Hubungan suami istri dalam kondisi apapun harus ada unsur kesenangan dari masing-masing pihak, artinya tidak boleh ada unsur paksaan dari keduanya. Dengan demikian, pendidikan sexual consent perlu diupayakan guna menjadi semangat preventif dan safe behaviour dalam menanamkan landasan saling menghargai antar individu. Hal ini diharapkan mampu membuka jalan untuk pasangan suami istri agar dapat menikmati hubungan yang sehat dan membahagiakan bagi kedua belah pihak.


'''Kata Kunci:''' ''Kekerasan Seksual, Marital Rape, Mubādalah, Sexual Consen''


'''''Keywords:''' Nusyuz, KHI, [[Mubadalah]]''


Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://doi.org/10.30983/humanisme.v7i2.8104'''''
Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: '''''https://doi.org/10.30983/humanisme.v7i2.8104'''''
Baris 36: Baris 38:
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2023]]

Revisi terkini sejak 2 April 2026 16.01

2023 The Marital Rape Phenomenon as A Form of Gender Oppression: An Analysis of the Urgency of Sexual Consent Mubadalah's Perspective
JudulHUMANISMA: Journal of Gender Studies
SeriVol. 7 No. 2 (2023): December 2023
Tahun terbit
2023-12-31
ISBN2549-4139
Nama Jurnal : HUMANISMA: Journal of Gender Studies
Seri : Vol. 7 No. 2 (2023): December 2023
Tahun : 2023-12-31
Judul Tulisan : The Marital Rape Phenomenon as A Form of Gender Oppression: An Analysis of the Urgency of Sexual Consent Mubadalah's Perspective
Penulis : Ade Rosi Siti Zakiah (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), Muhammad Nasiruddin (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang), Abdul Wahab Naf'an (Institute Afroasia Suez Canal University Mesir), Ruqoyyah Amilia Andania (National Dong Hwa University (NDHU))

Abstract

Many women continue to face cases of sexual abuse in biological relationships between husband and wife, sometimes known as marital rape. This phenomenon is often considered taboo to be discussed, conveyed, and addressed. So in turn, the phenomenon of marital rape becomes a problem that cannot be resolved immediately. In particular, the main question in this research is how Islamic law views the phenomenon of marital rape in husband-and-wife relations and whether the urgency of sexual consent from the mubadalah perspective is a step to prevent marital rape. This research is included in the category of library research with a qualitative approach, data collection techniques with documentation types, data processing techniques with descriptive-analytic methods, and an analytical framework with mubÄdalah theory. The results of this study show that the act of marital rape due to unequal sexual relations between husband and wife is part of an act of violence, both physically and psychologically. Islam prohibits sexual intercourse through coercion and violence. Husband-wife relationships in any condition must have an element of pleasure from each party, meaning that there should be no coercion from both. Thus, sexual consent education needs to be pursued to become a preventive spirit and safe behaviour for instilling a foundation of mutual respect between individuals. This is expected to pave the way for married couples to enjoy a healthy and happy relationship for both parties.

Keywords: Marital Rape, Mubādalah, Sexual Consent, Sexual Violence

Abstrak

Masih banyak dialami oleh perempuan. Fenomena ini sering dianggap tabu untuk dibicarakan, disampaikan dan disikapi. Sehingga pada gilirannya fenomena marital rape menjadi permasalahan yang tidak segera ditanggulangi. Secara spesifik, pertanyaan utama dalam penelitian ini ialah bagaimana hukum Islam memandang fenomena marital rape dalam hubungan suami istri dan bagaimana urgensi sexual consent perspektif mubadalah sebagai upaya preventif terjadinya martial rape. Kajian ini termasuk pada kategori penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data jenis dokumentasi, teknik pengolahan data dengan metode deskriptif-analisis, dan kerangka analisa dengan teori mubÄdalah. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa tindakan marital rape akibat hubungan seksual yang tidak seimbang antara suami istri merupakan bagian dari tindakan kekerasan, baik secara fisik maupun psikis. Islam melarang hubungan seksual dengan paksaan dan kekerasan. Hubungan suami istri dalam kondisi apapun harus ada unsur kesenangan dari masing-masing pihak, artinya tidak boleh ada unsur paksaan dari keduanya. Dengan demikian, pendidikan sexual consent perlu diupayakan guna menjadi semangat preventif dan safe behaviour dalam menanamkan landasan saling menghargai antar individu. Hal ini diharapkan mampu membuka jalan untuk pasangan suami istri agar dapat menikmati hubungan yang sehat dan membahagiakan bagi kedua belah pihak.

Kata Kunci: Kekerasan Seksual, Marital Rape, Mubādalah, Sexual Consen


Untuk membaca penuh artikel ini silahkan klik tautan berikut: https://doi.org/10.30983/humanisme.v7i2.8104