Lompat ke isi

Berproses Melalui Panas-Dingin Kupi: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
Tim Paduan Suara IAIN Syekh Nurdjati Cirebon mulai berbaris rapi. Wajah para mahasiswi ini seakan mengisyaratkan bahwa generasi muda siap mengawal cita-cita [[KUPI]] untuk mewujudkan kehidupan yang adil. Tiba-tiba dadaku bergemuruh dan hatiku pun luruh ketika Shalawat yang menegaskan kesetaraan dan keadilan gender mulai dinyanyikan dengan riang namun syahdu. Aku membayangkan Rasulullah SAW., tersenyum menyaksikan ini. Airmataku terus mengalir. Aku menikmati momen spiritual dan emosional ini sambil sesenggukan. Aku tengok sekelilingku. Ternyata banyak yang menangis haru sepertiku.
Tim Paduan Suara IAIN Syekh Nurdjati Cirebon mulai berbaris rapi. Wajah para mahasiswi ini seakan mengisyaratkan bahwa generasi muda siap mengawal cita-cita [[KUPI]] untuk mewujudkan kehidupan yang adil. Tiba-tiba dadaku bergemuruh dan hatiku pun luruh ketika Shalawat yang menegaskan kesetaraan dan keadilan gender mulai dinyanyikan dengan riang namun syahdu. Aku membayangkan Rasulullah SAW., tersenyum menyaksikan ini. Airmataku terus mengalir. Aku menikmati momen spiritual dan emosional ini sambil sesenggukan. Aku tengok sekelilingku. Ternyata banyak yang menangis haru sepertiku.


Momen bersama sekian banyak orang yang sama-sama meyakini Islam mesti adil pada laki-laki sekaligus perempuan seperti di ruang ini sedikit mengobati kegundahanku. Mengapa terkadang semakin “islami” seseorang, sebuah masyarakat, bahkan sebuah negara, punya kecenderungan untuk melemahkan perempuan? Mengapa seorang [[tokoh]] agama justeru bangga bisa memiliki isteri lebih dari satu dan menikahkan anaknya yang masih di bawah umur? Mengapa sebuah organisasi Islam malah menegaskan bahwa perkawinan gantung itu sah padahal telah diyakinkan ''mudlarat-''nya pada perempuan? Mengapa laki-laki dan perempuan bisa setara, baik sebagai saksi maupun hakim, di depan hukum sekuler, namun di depan Hukum Islam kesaksian perempuan hanya separuh dari laki-laki bahkan nol dalam kasus Jinayat?  
Momen bersama sekian banyak orang yang sama-sama meyakini Islam mesti adil pada laki-laki sekaligus perempuan seperti di ruang ini sedikit mengobati kegundahanku. Mengapa terkadang semakin “islami” seseorang, sebuah masyarakat, bahkan sebuah negara, punya kecenderungan untuk melemahkan perempuan? Mengapa seorang [[tokoh]] agama justeru bangga bisa memiliki isteri lebih dari satu dan menikahkan anaknya yang masih di bawah umur? Mengapa sebuah organisasi Islam malah menegaskan bahwa perkawinan gantung itu sah padahal telah diyakinkan ''mudlarat-''nya pada perempuan? Mengapa laki-laki dan perempuan bisa setara, baik sebagai saksi maupun hakim, di depan hukum sekuler, namun di depan Hukum Islam [[Kesaksian Perempuan|kesaksian perempuan]] hanya separuh dari laki-laki bahkan nol dalam kasus Jinayat?  


Aku yakin bukan Islamnya yang salah tapi orangnya. Tapi kenapa selalu terulang? Musawah Global Movement menunjukkan ketidakadilan pada perempuan atas nama Islam memiliki pola yang sama di beragam konteks negara dan masyarakat Muslim. Melihat pola ini aku yakin akar masalahnya bukanlah sikap perorangan, melainkan sesuatu yang bersifat sistemik. Salah satu yang kuyakini kemudian adalah sistem pengetahuan Islam tentang perempuan.
Aku yakin bukan Islamnya yang salah tapi orangnya. Tapi kenapa selalu terulang? Musawah Global Movement menunjukkan ketidakadilan pada perempuan atas nama Islam memiliki pola yang sama di beragam konteks negara dan masyarakat Muslim. Melihat pola ini aku yakin akar masalahnya bukanlah sikap perorangan, melainkan sesuatu yang bersifat sistemik. Salah satu yang kuyakini kemudian adalah sistem pengetahuan Islam tentang perempuan.
Baris 14: Baris 14:
Kesadaran ini kubawa kemana pun melangkah. Fakta-fakta di lapangan kubawa ke Perguruan Tinggi Ilmu [[al-Qur’an]] (PTIQ) tempatku mengajar. Sebaliknya, hasil diskusi dengan mahasiswa di kampus kubawa ke lapangan. Beberapa mahasiswa kadang menunjukkan resistensi. Sama persis dengan sebagian tokoh agama yang menjadi peserta dalam pelatihan-pelatihan. Menurutku ini bukan soal penolakan. Namun, sebagian orang kadang hanya perlu waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan pemikiran baru. Nyatanya, keyakinan yang sama bahwa Islam mesti adil juga pada perempuan menjadi landasan kuat bagi keberlanjutan proses penerimaan gagasan ini.
Kesadaran ini kubawa kemana pun melangkah. Fakta-fakta di lapangan kubawa ke Perguruan Tinggi Ilmu [[al-Qur’an]] (PTIQ) tempatku mengajar. Sebaliknya, hasil diskusi dengan mahasiswa di kampus kubawa ke lapangan. Beberapa mahasiswa kadang menunjukkan resistensi. Sama persis dengan sebagian tokoh agama yang menjadi peserta dalam pelatihan-pelatihan. Menurutku ini bukan soal penolakan. Namun, sebagian orang kadang hanya perlu waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan pemikiran baru. Nyatanya, keyakinan yang sama bahwa Islam mesti adil juga pada perempuan menjadi landasan kuat bagi keberlanjutan proses penerimaan gagasan ini.


Pengalaman resistensi ini yang sempat memunculkan keraguan dalam mengawal KUPI. Meskipun banyak orang yang sudah berproses hingga menerima nilai kesetaraan dan keadilan gender Islam, bukankah jauh lebih banyak mereka yang belum berproses? Apakah mereka yang selesai berproses otomatis menerima otoritas keulamaan perempuan? Keraguan ini semakin kuat ketika tidak seorang pun di antara penyelenggara KUPI yang menerima disebut ulama perempuan. Jika kita sendiri tidak ada yang mau, lalu bagaimana dengan orang lain? Workshop Pra-KUPI di Padang pun diwarnai dengan keraguan ini, padahal waktu Kongres semakin dekat. Bagaimana jika Kongres dipaksa bubar oleh kelompok garis keras? Bagaimana jika peserta tiba-tiba memboikot Kongres karena peserta yang hadir dipandang tidak representatif sebagai ulama perempuan?
Pengalaman resistensi ini yang sempat memunculkan keraguan dalam mengawal KUPI. Meskipun banyak orang yang sudah berproses hingga menerima nilai kesetaraan dan keadilan gender Islam, bukankah jauh lebih banyak mereka yang belum berproses? Apakah mereka yang selesai berproses otomatis menerima otoritas keulamaan perempuan? Keraguan ini semakin kuat ketika tidak seorang pun di antara penyelenggara KUPI yang menerima disebut [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]]. Jika kita sendiri tidak ada yang mau, lalu bagaimana dengan orang lain? Workshop Pra-KUPI di Padang pun diwarnai dengan keraguan ini, padahal waktu Kongres semakin dekat. Bagaimana jika Kongres dipaksa bubar oleh kelompok garis keras? Bagaimana jika peserta tiba-tiba memboikot Kongres karena peserta yang hadir dipandang tidak representatif sebagai ulama perempuan?


Kekhawatiran ini melahirkan sensasi panas dingin sejak persiapan Kongres. Rasa percaya diri naik kala melihat semangat kawan-kawan yang membara, tetap becanda, dan rileks meski sedang membahas tema-tema serius. Namun optimisme ini kadang tiba-tiba turun bahkan terjun bebas saat seorang senior mengerem semangat para junior yang kadang memang rada nekat. Ya maklum jiwa-raga masih muda. Tarik menarik antara kecenderungan ''gaspol'' (idealis) dan sebaliknya ''alon-alon asal kelakon'' (realistis) terus-menerus melahirkan kompromi dalam banyak hal sebagai jalan tengah. Semakin dekat waktu pelaksanaan Kongres rasanya semakin panas dingin sampai tidur pun diwarnai mimpi rapat sampai mimpi mencari dalil. Ampun.....
Kekhawatiran ini melahirkan sensasi panas dingin sejak persiapan Kongres. Rasa percaya diri naik kala melihat semangat kawan-kawan yang membara, tetap becanda, dan rileks meski sedang membahas tema-tema serius. Namun optimisme ini kadang tiba-tiba turun bahkan terjun bebas saat seorang senior mengerem semangat para junior yang kadang memang rada nekat. Ya maklum jiwa-raga masih muda. Tarik menarik antara kecenderungan ''gaspol'' (idealis) dan sebaliknya ''alon-alon asal kelakon'' (realistis) terus-menerus melahirkan kompromi dalam banyak hal sebagai jalan tengah. Semakin dekat waktu pelaksanaan Kongres rasanya semakin panas dingin sampai tidur pun diwarnai mimpi rapat sampai mimpi mencari dalil. Ampun.....
Baris 22: Baris 22:
Aku mendengar di acara silaturahim ulama perempuan yang waktunya bersamaan dengan Seminar Internasional sesi siang tadi, masih banyak peserta yang ragu-ragu tentang keulamaan perempuan. Bahkan ada yang mengusulkan untuk mengubah nama menjadi Kongres Muslimah Indonesia. Hemmm...., panas dingin lagi hingga acara pembukaan Kongres pun dimulai. Inilah pertama kalinya kulihat Mbak Nyai SC pidato di podium. Tak kusangka suaranya menggelegar. Bagaikan tanpa bernafas ia menegaskan eksistensi ulama perempuan sepanjang sejarah Islam dan Indonesia. Kesadaranku seperti digedor-gedor tanpa ampun bahwa keulamaan perempuan itu ada sejak dulu sehingga kehadiran mereka sekarang ini merupakan keterpanggilan iman dan keniscayaan sejarah. Kembali air mataku tumpah ruah. Hatiku berbisik, “''Balaa, wa ana ‘ala dzaalika minasy-syahidiin''”/Betul, dan aku adalah bagian dari orang-orang yang bersaksi (bahwa informasi ini benar adanya)”. Sambutan Bu Nyai [[Masriyah Amva]] tak kalah meyakinkan. Meskipun deg-degan karena bermunculan istilah-istilah yang terus terang kami hindari demi menjaga psikologi peserta, akhirnya berakhir manis karena pendekatan tasawuf yang beliau gunakan.
Aku mendengar di acara silaturahim ulama perempuan yang waktunya bersamaan dengan Seminar Internasional sesi siang tadi, masih banyak peserta yang ragu-ragu tentang keulamaan perempuan. Bahkan ada yang mengusulkan untuk mengubah nama menjadi Kongres Muslimah Indonesia. Hemmm...., panas dingin lagi hingga acara pembukaan Kongres pun dimulai. Inilah pertama kalinya kulihat Mbak Nyai SC pidato di podium. Tak kusangka suaranya menggelegar. Bagaikan tanpa bernafas ia menegaskan eksistensi ulama perempuan sepanjang sejarah Islam dan Indonesia. Kesadaranku seperti digedor-gedor tanpa ampun bahwa keulamaan perempuan itu ada sejak dulu sehingga kehadiran mereka sekarang ini merupakan keterpanggilan iman dan keniscayaan sejarah. Kembali air mataku tumpah ruah. Hatiku berbisik, “''Balaa, wa ana ‘ala dzaalika minasy-syahidiin''”/Betul, dan aku adalah bagian dari orang-orang yang bersaksi (bahwa informasi ini benar adanya)”. Sambutan Bu Nyai [[Masriyah Amva]] tak kalah meyakinkan. Meskipun deg-degan karena bermunculan istilah-istilah yang terus terang kami hindari demi menjaga psikologi peserta, akhirnya berakhir manis karena pendekatan tasawuf yang beliau gunakan.


Kesuksesan Duo Nyai dalam meyakinkan peserta, ternyata memberi beban tersendiri buatku yang keesokan harinya bertugas menjelaskan perspektif keadilan hakiki bagi perempuan dalam studi Islam, yaitu keadilan yang mempertimbangkan kondisi khas perempuan secara biologis dan sosial. Bagaimana nanti kalau peserta malah ragu-ragu kembali gara-gara presentasiku dianggap terlalu berani? Atau sebaliknya dianggap terlalu datar sehingga tidak ada sedikit pun sesuatu yang baru mereka peroleh? Akhirnya waktu presentasi pun tiba dan bersyukur semua poin penting bisa tersampaikan walau tersisa beberapa slide. Adakah yang lebih melegakan daripada mendengar pengakuan langsung beberapa peserta bahwa mereka tidak ragu lagi dengan keulamaan perempuan, bahkan menegaskan ingin mengambil peran semampu mereka?
Kesuksesan Duo Nyai dalam meyakinkan peserta, ternyata memberi beban tersendiri buatku yang keesokan harinya bertugas menjelaskan perspektif [[Keadilan Hakiki|keadilan hakiki]] bagi perempuan dalam studi Islam, yaitu keadilan yang mempertimbangkan kondisi khas perempuan secara biologis dan sosial. Bagaimana nanti kalau peserta malah ragu-ragu kembali gara-gara presentasiku dianggap terlalu berani? Atau sebaliknya dianggap terlalu datar sehingga tidak ada sedikit pun sesuatu yang baru mereka peroleh? Akhirnya waktu presentasi pun tiba dan bersyukur semua poin penting bisa tersampaikan walau tersisa beberapa slide. Adakah yang lebih melegakan daripada mendengar pengakuan langsung beberapa peserta bahwa mereka tidak ragu lagi dengan keulamaan perempuan, bahkan menegaskan ingin mengambil peran semampu mereka?


Panas dingin ternyata kembali menghampiri di sesi [[Musyawarah]] Keagamaan. Selama sesi ini berlangsung tugasku adalah keliling mengamati tiga forum secara bergantian. Aku tahu tidak semua kawan mengikuti keseluruhan proses dan memahami kompromi-kompromi terkait dengan musyawarah ini. Namun demikian, aku cukup tenang karena meyakini bahwa setidaknya kita sama-sama memandang bahwa musyawarah bukanlah sebuah proses yang berdiri sendiri. Walhasil, aku kaget ''binti'' panik ketika menyadari keyakinanku ini ternyata salah. Syukurlah akhirnya semua bisa menerima dengan lapang dada segala keterbatasan yang ada.
Panas dingin ternyata kembali menghampiri di sesi [[Musyawarah]] Keagamaan. Selama sesi ini berlangsung tugasku adalah keliling mengamati tiga forum secara bergantian. Aku tahu tidak semua kawan mengikuti keseluruhan proses dan memahami kompromi-kompromi terkait dengan musyawarah ini. Namun demikian, aku cukup tenang karena meyakini bahwa setidaknya kita sama-sama memandang bahwa musyawarah bukanlah sebuah proses yang berdiri sendiri. Walhasil, aku kaget ''binti'' panik ketika menyadari keyakinanku ini ternyata salah. Syukurlah akhirnya semua bisa menerima dengan lapang dada segala keterbatasan yang ada.
Baris 28: Baris 28:
Salah satu pelajaran dari KUPI buatku adalah berusaha melihat segala sesuatu sebagai proses. Ini cukup membantuku setiap melihat kenyataan yang belum sesuai harapan.  
Salah satu pelajaran dari KUPI buatku adalah berusaha melihat segala sesuatu sebagai proses. Ini cukup membantuku setiap melihat kenyataan yang belum sesuai harapan.  


Pada akhirnya, rasa syukur sedalamnya pada Allah SWT., karena KUPI berlangsung lancar dan apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. Hormat setinggi-tingginya pada keluarga besar Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, panitia, peserta, pengamat, dan lainnya yang telah bersatu-padu mengambil bagian dalam perhelatan akbar ini, baik yang bekerja dalam keramaian maupun dalam kesunyian.  
Pada akhirnya, rasa syukur sedalamnya pada Allah SWT., karena KUPI berlangsung lancar dan apa yang aku khawatirkan tidak terjadi. Hormat setinggi-tingginya pada keluarga besar Pondok Pesantren [[Kebon Jambu Al-Islamy|Kebon Jambu al-Islamy]], panitia, peserta, pengamat, dan lainnya yang telah bersatu-padu mengambil bagian dalam perhelatan akbar ini, baik yang bekerja dalam keramaian maupun dalam kesunyian.  


Semoga KUPI juga ikut memberikan penguatan spiritual pada mereka yang hadir atau menyimak dari jauh untuk mempertahankan NKRI. Hanya dengan negara bangsa yang demokratis kita bisa mencegah peluang terjadinya kekerasan atas nama agama secara sistemik melalui negara, termasuk kekerasan pada perempuan.
Semoga KUPI juga ikut memberikan penguatan spiritual pada mereka yang hadir atau menyimak dari jauh untuk mempertahankan NKRI. Hanya dengan negara bangsa yang demokratis kita bisa mencegah peluang terjadinya kekerasan atas nama agama secara sistemik melalui negara, termasuk kekerasan pada perempuan.
Baris 38: Baris 38:
''(Pengurus Alimat Bidang Pendidikan dan Peningkatan Kapasitas/Anggota Badan Pengurus Rahima/Ketua I KUPI)''
''(Pengurus Alimat Bidang Pendidikan dan Peningkatan Kapasitas/Anggota Badan Pengurus Rahima/Ketua I KUPI)''


[[Kategori:Refleksi Kongres]]
[[Kategori:Refleksi]]
[[Kategori:Refleksi Kongres1]]
[[Kategori:Refleksi Kongres 1]]