Lompat ke isi

Kursus Keluarga Bahagia Bersama 20 Ulama Perempuan Nusantara: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Nama Media |: |[https://rahma.id/ Rahma.id] |- |Penulis |: |Izza Royyani (''Alumni UIN Sunan Kalijaga. Berminat dalam kajian perempuan dan ag...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(8 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''Info Artikel'''
'''Info Artikel'''
{|
{|
|Nama  Media
|Sumber Original
|:
|:
|[https://rahma.id/ Rahma.id]
|[https://www.nu.or.id/nasional/kursus-keluarga-bahagia-bersama-20-ulama-perempuan-nusantara-xAuXD NU Online]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Izza  Royyani (''Alumni UIN Sunan Kalijaga. Berminat dalam kajian perempuan dan  agama'')
|Syifa Arrahmah (Kontributor)
|-
|-
|Tanggal  Terbit
|Tanggal  Terbit
|:
|:
|16 Mei  2021
|<nowiki>Sabtu, 17 April 2021 | 11:30 WIB</nowiki>
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://rahma.id/faqihuddin-abdul-kodir-qiraah-mubaadalah/ Faqihuddin Abdul Kodir dan Teori Qira’ah Mubaadalah untuk  Relasi Kesalingan]
|[https://www.nu.or.id/nasional/kursus-keluarga-bahagia-bersama-20-ulama-perempuan-nusantara-xAuXD Kursus Keluarga Bahagia Bersama 20 Ulama Perempuan Nusantara]
|}
|}
Wacana keadilan gender dalam agama pada era post-modern ini semakin menunjukkan kekuatannya. Bagaimana tidak, pada era ini banyak cendekiawan muslim yang mencoba merumuskan metodologi untuk membaca teks sumber Islalm yang masih sering diinterpretasi secara kurang tepat, atau bahkan mendiskriminasikan perempuan. Faqihudin Abdul Kodir, merupakan salah satu nama cendekiawan muslim Indonesia yang turut memberikan andil dalam hal ini
''Jakarta, '''NU Online'''''


Faqihuddin Berasal dari Cirebon, Jawa Barat.  Mengawali rihlah menjadi  santri di Dar al-[[Tauhid]] Arjawinangun, Cirebon (1983-1989).  Pendidikan Sarjananya ia tempuh di Damaskus-Syiria dengan mengambil ''double degree'' Fakultas Dakwah Abu Nur (1989-1995) dan Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus (1990-1996). Jenjang Master secara resmi ia tempuh di International Islamic University Malaysia pada bidang pengembangan fiqih zakat (1996-1999). Sepuluh tahun kemudian, ia melanjutkan studi doktor di Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), UGM Yogyakarta (2009-2015).
Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) bersinergi dengan [[Mubadalah]] mengadakan Kelas Intensif Ramadhan 1442 H 20 Hari bersama 20 Ulama Perempuan Nusantara. Berbalut tema Kursus Keluarga Bahagia Kitab Manba'ussa'adah, kelas resmi dibuka Jumat (16/4) oleh Nyai [[Badriyah Fayumi]] dan KH. Faqihuddin Abdul Qodir melalui Fanpage Mubadalah.id. Kegiatan tersebut juga ditayangkan melalui Fanpage Mubadalah setiap pukul 13.00 WIB.
[[Kategori:Jejak Tokoh]]
 
[[Kategori:Jejak Faqihuddin Abdul Kodir]]
Kitab Manba'ussa'adah sendiri berisikan pokok-pokok pemikiran para ulama perempuan yang dipimpin oleh Nyai Hj Shinta Nuriyah Wahid, yang banyak merujuk kepada prinsip-prinsip Islam rahmatan lil alamin yang disertai prinsip akhlak mulia.
 
"Prinsip-prinsip ini harus hadir sejak dalam kehidupan berkeluarga, terutama dalam konteks hubungan relasi suami istri, jadi, kitab ini merujuk pada prinsip-prinsip tersebut, lalu kemudian diterjemahkan dalam relasi suami istri," kata Kiai Faqih dalam pidato pengantarnya.
 
Diterangkan pula oleh Kang Faqih, sapaan akrabnya, bahwa risalah ini hadir sebagai jawaban atas keinginan para santri di berbagai pesantren yang menginginkan kitab berbahasa Arab yang dapat merepresentasikan relasi suami istri dalam berkeluarga.
 
"Karena membangun keluarga itu harus membangun seluruh anggota keluarga yang ada di dalamnya. Nah, kitab ini sangat baik untuk menyusun atau merencanakan berkeluarga yang anggotanya satu sama lain mempunyai sikap, prinsip, relasi yang mubadalah (kesalingan) atau musyarakah. Jadi, menikah itu mempertemukan aku dan kau menjadi kita, sehingga satu sama lain jika baik berembuk bersama, jika buruk tidak melakukannya," jelasnya.
 
Oleh karena itu, secara umum kitab ini merupakan bentuk perhatian kepada pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan berkeluarga untuk saling menguatkan, berbahagia dan juga membahagiakan. Kang Faqih juga berharap Kajian ini menjadi sarana terpancarnya aura kebahagiaan dalam mewujudkan kehidupan berkeluarga yang berkesalingan.
 
"Melalui berbagai pembahasan yang intinya adalah bahwa kebahagiaan itu bagian dari ibadah, karena itu kalau menikah itu harus untuk kebahagiaan, jadi, harus kita wujudkan bersama bahagia adalah ibadah dan membahagiakan juga bagian dari ibadah, karena itu, saya namakan kitab ini Manba'ussa'adah (telaga kebahagiaan)," tuturnya.
 
Di kesempatan yang sama, Nyai Badriyah menyampaikan bahwa momentum Ramadhan kali ini menjadi titik temu antara KUPI, [[tradisi]] Nusantara, dan tradisi pesantren melalui kajian selama 20 hari ke depan dengan sama-sama mengaji satu kitab, yaitu Manba'ussa'adah.
 
"Dua puluh ulama perempuan Nusantara selama 20 hari ngaji satu kitab. Insyaallah substansinya khatam, ya meskipun mungkin tidak dibaca satu demi satu kata seperti dalam khataman kitab kuning di pesantren-pesantren pada bulan Ramadhan," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina ini.
 
Ny. Badriyah Fayumi merespons dan memaknai tradisi pesantren yang mulai beradaptasi dengan dunia digital sebagai hikmah di balik musibah pandemi Covid-19, sebagaimana kajian 20 hari bersama 20 ulama perempuan yang diadakan secara virtual juga merupakan membangun tradisi baru yang berakar kuat pada tradisi lama.
 
"Penggunaan media online ini mempunyai manfaat bagi orang-orang pesantren untuk menyalurkan pengetahuannya, berdiskusi, untuk bersilaturahim, bahkan untuk bermuktamar pemikiran tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, dan ini suatu berkah," ungkapnya.
 
Oleh karena itu, pihaknya mengajak kepada seluruh partisipan yang ikut mengaji dan para ibu Nyai sebagai pengajar untuk bersyukur. "Bahwa kita bisa bersama-sama hadir dan menjadi bagian dari tradisi baru yang diinisiasi dan dilakukan oleh para ulama perempuan," imbuhnya.
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita 2021]]

Revisi terkini sejak 26 Agustus 2024 20.43

Info Artikel

Sumber Original : NU Online
Penulis : Syifa Arrahmah (Kontributor)
Tanggal Terbit : Sabtu, 17 April 2021 | 11:30 WIB
Artikel Lengkap : Kursus Keluarga Bahagia Bersama 20 Ulama Perempuan Nusantara

Jakarta, NU Online

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) bersinergi dengan Mubadalah mengadakan Kelas Intensif Ramadhan 1442 H 20 Hari bersama 20 Ulama Perempuan Nusantara. Berbalut tema Kursus Keluarga Bahagia Kitab Manba'ussa'adah, kelas resmi dibuka Jumat (16/4) oleh Nyai Badriyah Fayumi dan KH. Faqihuddin Abdul Qodir melalui Fanpage Mubadalah.id. Kegiatan tersebut juga ditayangkan melalui Fanpage Mubadalah setiap pukul 13.00 WIB.

Kitab Manba'ussa'adah sendiri berisikan pokok-pokok pemikiran para ulama perempuan yang dipimpin oleh Nyai Hj Shinta Nuriyah Wahid, yang banyak merujuk kepada prinsip-prinsip Islam rahmatan lil alamin yang disertai prinsip akhlak mulia.

"Prinsip-prinsip ini harus hadir sejak dalam kehidupan berkeluarga, terutama dalam konteks hubungan relasi suami istri, jadi, kitab ini merujuk pada prinsip-prinsip tersebut, lalu kemudian diterjemahkan dalam relasi suami istri," kata Kiai Faqih dalam pidato pengantarnya.

Diterangkan pula oleh Kang Faqih, sapaan akrabnya, bahwa risalah ini hadir sebagai jawaban atas keinginan para santri di berbagai pesantren yang menginginkan kitab berbahasa Arab yang dapat merepresentasikan relasi suami istri dalam berkeluarga.

"Karena membangun keluarga itu harus membangun seluruh anggota keluarga yang ada di dalamnya. Nah, kitab ini sangat baik untuk menyusun atau merencanakan berkeluarga yang anggotanya satu sama lain mempunyai sikap, prinsip, relasi yang mubadalah (kesalingan) atau musyarakah. Jadi, menikah itu mempertemukan aku dan kau menjadi kita, sehingga satu sama lain jika baik berembuk bersama, jika buruk tidak melakukannya," jelasnya.

Oleh karena itu, secara umum kitab ini merupakan bentuk perhatian kepada pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan berkeluarga untuk saling menguatkan, berbahagia dan juga membahagiakan. Kang Faqih juga berharap Kajian ini menjadi sarana terpancarnya aura kebahagiaan dalam mewujudkan kehidupan berkeluarga yang berkesalingan.

"Melalui berbagai pembahasan yang intinya adalah bahwa kebahagiaan itu bagian dari ibadah, karena itu kalau menikah itu harus untuk kebahagiaan, jadi, harus kita wujudkan bersama bahagia adalah ibadah dan membahagiakan juga bagian dari ibadah, karena itu, saya namakan kitab ini Manba'ussa'adah (telaga kebahagiaan)," tuturnya.

Di kesempatan yang sama, Nyai Badriyah menyampaikan bahwa momentum Ramadhan kali ini menjadi titik temu antara KUPI, tradisi Nusantara, dan tradisi pesantren melalui kajian selama 20 hari ke depan dengan sama-sama mengaji satu kitab, yaitu Manba'ussa'adah.

"Dua puluh ulama perempuan Nusantara selama 20 hari ngaji satu kitab. Insyaallah substansinya khatam, ya meskipun mungkin tidak dibaca satu demi satu kata seperti dalam khataman kitab kuning di pesantren-pesantren pada bulan Ramadhan," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina ini.

Ny. Badriyah Fayumi merespons dan memaknai tradisi pesantren yang mulai beradaptasi dengan dunia digital sebagai hikmah di balik musibah pandemi Covid-19, sebagaimana kajian 20 hari bersama 20 ulama perempuan yang diadakan secara virtual juga merupakan membangun tradisi baru yang berakar kuat pada tradisi lama.

"Penggunaan media online ini mempunyai manfaat bagi orang-orang pesantren untuk menyalurkan pengetahuannya, berdiskusi, untuk bersilaturahim, bahkan untuk bermuktamar pemikiran tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, dan ini suatu berkah," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak kepada seluruh partisipan yang ikut mengaji dan para ibu Nyai sebagai pengajar untuk bersyukur. "Bahwa kita bisa bersama-sama hadir dan menjadi bagian dari tradisi baru yang diinisiasi dan dilakukan oleh para ulama perempuan," imbuhnya.