Lompat ke isi

Jejak Pemikiran Feminisme Buya Husein Muhammad: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber |: |[https://mubadalah.id/biografi-kh-husein-muhammad/ Mubadalah.id] |- |Penulis |: |Napol |- |Tanggal Publikasi |: |24/09/2022 |- |Arti...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://mubadalah.id/biografi-kh-husein-muhammad/ Mubadalah.id]
|[https://jatim.nu.or.id/tokoh/jejak-pemikiran-feminisme-buya-husein-muhammad-vQkLn jatim.nu.or.id]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Napol
|Muhammad Faishol Hamim
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|24/09/2022
|<nowiki>Sabtu, 8 Juni 2024 | 16:00 WIB</nowiki>
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mubadalah.id/biografi-kh-husein-muhammad/ Biografi KH Husein Muhammad]
|[https://jatim.nu.or.id/tokoh/jejak-pemikiran-feminisme-buya-husein-muhammad-vQkLn Jejak Pemikiran Feminisme Buya Husein Muhammad]
|}'''[[Mubadalah]].id–''' Salah satu kiyai memberikan sumbangan besar terhadap kesetaraan gender ialah KH [[Husein Muhammad]]. Pemikiran Kiyai asal Cirebon ini senantiasa relevan di Indonesia. Berikut ini [[biografi KH Husein Muhammad]].
|}KH [[Husein Muhammad]] lahir pada 9 Mei 1953 di Arjawinangun Cirebon. Ia dibesarkan dalam keluarga pesantren, ayahnya adalah Kiai Muhammad bin Asyarofuddin berlatarbelakang keluarga biasa namun berpendidikan pesantren. Ibunya, yakni Nyai Ummu Salma Syatori, merupakan putri pendiri Pondok Pesantren Dar al-[[Tauhid]].


Dewasa ini, patriarkisme tengah digempur oleh kebudayaan dan peradaban modern: sebuah dunia baru yang mengasaskan diri pada demokrasi dan hak-hak dasar manusia.
Pendidikannya dimulai di Sekolah Dasar dan Pendidikan Diniyah di Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon, dan menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1966. Selanjutnya, melanjutkan ke SMP Negeri 1 Arjawinangun dan lulus pada tahun 1969. Setelah lulus SMP, ia berhijrah ke Jawa Timur, tepatnya nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo selama 3 tahun.


Demokrasi meniscayakan sistem yang mengharapkan tidak adanya struktur perbedaan kelas social yang mapan berdasarkan agama, ras, gender, maupun status sosial. Maka, di zaman yang terus berubah, masyarakat memerlukan kontekstualisasi teks-teks agama untuk dijadikan rujukan atas solusi dari masalah-masalah yang dihadapi, termasuk persoalan hak-hak perempuan yang terenggut karena dimapankan oleh tafsir teks-teks agama yang tidak sesuai konteks zaman.
Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi Ilmu [[Al-Qur’an]] (PTIQ) di Jakarta, sebuah institusi yang mengkhususkan diri dalam studi Al-Qur’an dan mewajibkan mahasiswanya untuk menghafal Al-Qur’an. Saat belajar di PTIQ, Kiai Husein menyelesaikan hafalan Al-Qur’annya pada tahun 1980.


KH Husein Muhammad adalah salah satu dari sedikit ulama laki-laki yang banyak mencetuskan pemikiran-pemikiran kritis berbasis teks agama dan kitab-kitab kuning sebagai upayanya membela hak-hak perempuan dan membedah pemapanan relasi timpang.Tokoh-[[tokoh]] feminis lain yang sepemikiran di antaranya: Margot Badran, Asma Barlas, Amina Wadud, Fatima Mernissi, Lois Lamya al-Faruqi.
[[Kategori:Jejak Tokoh]]
[[Kategori:Jejak Husein Muhammad]]
[[Kategori:Jejak Husein Muhammad]]