Nur Rofiah: Islam Tidak Lain Mencitakan Kesalingan: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 19: | Baris 19: | ||
'''AKURAT.CO''' Webinar pada Senin (10/08/2020) yang diadakan melalui Zoom oleh Akurat Poll, Akurat.co dan Pascasarjana PTIQ jakarta diikuti oleh berbagai kalangan, dari mulai akademisi, hingga masyarakat bawah. Tidak kurang dari 500 peserta hadir dalam acara yang secara spesifik membicarakan tafsir [[Al-Qur’an]] ini. | '''AKURAT.CO''' Webinar pada Senin (10/08/2020) yang diadakan melalui Zoom oleh Akurat Poll, Akurat.co dan Pascasarjana PTIQ jakarta diikuti oleh berbagai kalangan, dari mulai akademisi, hingga masyarakat bawah. Tidak kurang dari 500 peserta hadir dalam acara yang secara spesifik membicarakan tafsir [[Al-Qur’an]] ini. | ||
Dalam kesempatan itu, Nur Rofi’ah, yang juga merupakan Dosen Pascasarjana PTIQ menjadi salah satu narasumber. Rofiah yang akrab dengan isu-isu gender dalam Islam itu memberi pandangan soal kesetaraan dalam Islam antara laki-laki dan perempuan. | Dalam kesempatan itu, Nur Rofi’ah, yang juga merupakan Dosen Pascasarjana PTIQ menjadi salah satu narasumber. Rofiah yang akrab dengan isu-isu [[Gender Dalam Islam|gender dalam Islam]] itu memberi pandangan soal kesetaraan dalam Islam antara laki-laki dan perempuan. | ||
Ketidakadilan gender dalam agama Islam bermula dari kesadaran gender dalam bahasa Arab. Rofiah menyebut, “Bahasa Arab menjadi salah satu sumber mengapa perempuan seperti menjadi makhluk nomor dua setelah laki-laki. Sejak digunakannya, bahasa Arab kental akan nilai gender. Misalnya ada isim maushul ''alladzi'' dan ''allati'' untuk menunjukkan laki-laki dan perempuan. Atau, ada ''dhzmir mudzakar'' dan ''mu’annas''. Dan lainnya.” | Ketidakadilan gender dalam agama Islam bermula dari kesadaran gender dalam bahasa Arab. Rofiah menyebut, “Bahasa Arab menjadi salah satu sumber mengapa perempuan seperti menjadi makhluk nomor dua setelah laki-laki. Sejak digunakannya, bahasa Arab kental akan nilai gender. Misalnya ada isim maushul ''alladzi'' dan ''allati'' untuk menunjukkan laki-laki dan perempuan. Atau, ada ''dhzmir mudzakar'' dan ''mu’annas''. Dan lainnya.” | ||
| Baris 30: | Baris 30: | ||
Bagi Nur Rofiah, Islam hadir di muka bumi tidak lain sebagai agama kemanusiaan. Di dalamnya tidak mungkin ada unsur membedakan antara siapapun. Siapa saja yang mengaku beragama Islam akan tetapi masih mau menindas satu sama lain maka mesti dipertanyakan keislamannya. [] | Bagi Nur Rofiah, Islam hadir di muka bumi tidak lain sebagai agama kemanusiaan. Di dalamnya tidak mungkin ada unsur membedakan antara siapapun. Siapa saja yang mengaku beragama Islam akan tetapi masih mau menindas satu sama lain maka mesti dipertanyakan keislamannya. [] | ||
[[Kategori:Jejak Nur Rofiah]] | [[Kategori:Jejak Nur Rofiah]] | ||