Lompat ke isi

Merancang Kembali Program Pengkaderan Ulama Perempuan: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://swararahima.com/2023/10/12/pendidikan-literasi-keuangan-digital-inklusi-lkdi-bagi-ulama-perempuan/ Rahima] |- |Penu...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://swararahima.com/2023/10/12/pendidikan-literasi-keuangan-digital-inklusi-lkdi-bagi-ulama-perempuan/ Rahima]
|[https://swararahima.com/2018/10/03/merancang-kembali-program-pengkaderan-ulama-perempuan/ Rahima]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
Baris 11: Baris 11:
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|12 Oktober 2023
|03 Oktober 2018
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://swararahima.com/2023/10/12/pendidikan-literasi-keuangan-digital-inklusi-lkdi-bagi-ulama-perempuan/ Pendidikan Literasi Keuangan Digital Inklusi (LKDI) Bagi Ulama Perempuan]
|[https://swararahima.com/2018/10/03/merancang-kembali-program-pengkaderan-ulama-perempuan/ Merancang Kembali Program Pengkaderan Ulama Perempuan]
|}
|}
[[Berkas:BrtKUPI2023-1012.jpg|jmpl|500x500px]]
Salah satu misi [[Rahima]] adalah adanya pengakuan pada otoritas [[Ulama Perempuan]] dalam semua hal, termasuk hak-haknya dalam akses pada pengetahuan sebagai hak dasar. Akses pada pengetahuan sebagai hak termasuk dalam pengetahuan dan akses pada ekonomi dan pemberdayaan perempuan. Rahima bekerjasama dengan Women’s World Banking mendukung penguatan otoritas Ulama Perempuan melalui akses pada ekonomi dan pemberdayaan di [[komunitas]].  
''“Alhamdulilah saya lebih berani menyuarakan kesetaraan, keadilan dalam jajaran Muslimat dan Fatayat NU, di pesta pernikahan, acara PHBI di daerah Kediri dan sekitarnya. Insya Allah bulan 10 nanti saya akan mengadakan lomba sholawat keadilan''


Pada 21-23 September 2023 Rahima telah melaksanakan [[Pendidikan Literasi Keuangan Digital Inklusi (LKDI) Bagi Ulama Perempuan]] di hotel Pandanaran Prawirotaman Yogyakarta. Rahima melakukan penguatan kapasitas bagi Ulama Perempuan dan Penggerak ekonomi di lima provinsi meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Banten terkait dengan literasi digital keuangan yang inklusif.  
''di Muslimat se Kab. Kediri”.''


Sebelum acara ini dilaksanakan, Rahima telah melakukan need assessment pada 27 Juli-10 Agustus 2023 untuk memetakan kebutuhan, mapping pengalaman dan tantangan Ulama Perempuan di komunitas masing-masing dalam melakukan pendampingan ekonomi. Need assessment ini disebarkan melalui WhatsApp Group semua simpul Rahima sejak 27 Juli hingga 10 Agustus 2023. Terdapat 50 Ulama Perempuan yang berpartisipasi mengisi need assessment, kemudian kami memilih 20 Ulama Perempuan yang dapat berpartisipasi selanjutnya. Berikut adalah kriteria yang Rahima pertimbangkan dalam memilih 20 Ulama Perempuan dari 20 [[lembaga]] yaitu memiliki anggota binaan di atas 50 orang, memiliki anggota jamaah beragam (inklusif) yang meliputi remaja, dewasa, lansia, dan difabel, pendampingan ekonomi sudah berjalan di atas 1 tahun, merepresentasikan wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, Jawa Barat dan Banten.  
Pesan singkat lewat SMS ''(sort message service)'' di atas dikirim Ibu Nyai Roihana Faqih, alumni Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) [[Rahima]] wilayah Jawa Timur angkatan I. PUP merupakan salah satu program Rahima untuk menyemai kader-kader ulama perempuan yang selain fasih memahami teks-teks keagamaan Islam juga gigih melakukan pengorganisasian dan pendampingan atas problem umat. Angkatan I PUP ini telah diselenggarakan di dua wilayah, Jawa Timur dan Jawa Barat, dengan metode pendidikan orang dewasa yang menekankan pada proses aksi-refleksi.


Setelah need of assessment, Rahima melaksanakan Pendidikan LKDI dengan 31 peserta yang mewakili 20 lembaga yang dipilih dengan pertimbangan di atas. Pendidikan LKDI Bagi Ulama Perempuan ini merupakan pendidikan/pelatihan penguatan ekonomi yang difasilitatori oleh Ibu Fitriani Sunarto dari Asosiasi Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW), serta oleh Ibu Pera Sopariyanti dan Wanda Roxanne dari Rahima.
Dari hasil refleksi angkatan I, dirasakan adanya kebutuhan menyempurnakan kurikululum belajar untuk dikembangkan pada angkatan II dalam workshop penyempurnaan modul. Workshop penyempurnaan modul [[Pengkaderan Ulama Perempuan]] ini dilaksanakan pada tanggal 26-28 Agustus 2008 di Wisma Hijau Cimanggis. Untuk itu, Rahima mengundang sejumlah perwakilan alumni PUP angkatan I maupun  mitra Rahima dari berbagai daerah seperti Garut, Majalengka dan Serang, serta beberapa pengurus yayasan. Harapannya, mereka dapat menjadi narasumber aktif yang akan berkontribusi menyempurnakan modul tersebut.


PPSW merupakan LSM yang berfokus untuk pemberdayaan masyarakat terutama perempuan dalam menghadapi persoalan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan yang merupakan pintu masuk dalam pengorganisasian masyarakat. Selain itu, Rahima juga mengundang narasumber lainnya yaitu Ibu Zusiana Elly Triantini, M. SI (dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Bapak Asadulloh Sefnado (Grup Literasi Keuangan Syariah OJK).
Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini dipandu oleh tim fasilitator yang terdiri dari [[Helmi Ali]], [[Farha Ciciek]] dan Nur Ahmad. Sebelum memasuki diskusi yang partisipatif dari semua peserta, Dr. Nur Rofi’ah yang terlibat dalam penyusunan kurikulum angkatan I juga ikut menyampaikan refleksinya.


Ibu Pera Sopariyanti selaku direktur Rahima menyampaikan dalam sambutannya bahwa pendidikan LKDI merupakan pendidikan pertama yang dilakukan oleh Rahima untuk penguatan otoritas ulama perempuan. Penguatan ekonomi menjadi hal penting dalam kerja-kerja penguatan hak-hak perempuan di akar rumput.
Menurut Dr. Nur Rofi’ah, Pengkaderan Ulama Perempuan perlu terus dilakukan sebagai sebuah proses yang disengaja. Tujuannya adalah untuk mengurangi berbagai persoalan yang ada dalam masyarakat. Menurutnya berbagai ketimpangan yang ada pada masyarakat disebabkan masih rendahnya budaya kesetaraan. Imbasnya adalah masih kuatnya bias gender pada wilayah sejarah, ''[[fiqh]]'', tafsir, hadis dan lainnya.


Ibu Fitri selaku fasilitator sekaligus sebagai narasumber membahas beberapa materi mengenai Pengalaman Pemberdayaan Ekonomi di Komunitas; Analisis Pengelolaan Keuangan dan Diskusi; Pengelolaan Keuangan Usaha dan Diskusi; Pengembangan Usaha: Bisnis Online dan Offline; Pemasaran Produk Online yang Aman dan Luas; Proteksi Diri Dari Kejahatan Digital dan Pendalaman Materi. Sementara, Ibu Elly sebagai narasumber membahas materi terkait “Keuangan Syariah dan Pemberdayaan Ekonomi dalam Perspektif Gender dan Inklusi”. Pak Nado dari OJK menyampaikan materi melalui Zoom Meeting memaparkan terkait “Inovasi Keuangan Digital: Produk, Skema, dan Harga Layanan Keuangan Digital”.  Kedua narasumber tersebut dimoderatori oleh Pera Sopariyanti.  
Selanjutnya Direktur Rahima, Aditiana Dewi Eridani menyampaikan pula refleksinya atas program ini. Program ini dirancang bersama, dimulai dari penyusunan kurikulum, rekrutmen, pelaksanaan pengkaderan atau serial pelatihan, tugas di luar kelas, monitoring dan evaluasi. Berdasar masukan peserta atas kurikulum dan sistematikanya, ia pun sependapat diperlukan adanya saling keterkaitan antara materi satu dengan lainnya.


Setelah Pendidikan LKDI dilaksanakan, seluruh Ulama Perempuan dan penggerak ekonomi akan melakukan sosialisasi hasil dari Pendidikan LKDI di komunitas/lembaganya masing-masing yang melibatkan anak muda, perempuan dewasa, difabel dan lansia. Sosialisasi ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan perempuan yang inklusif di komunitas/lembaga masing-masing di akar rumput terkait dengan pemberdayaan ekonomi. Harapannya, Ulama Perempuan dan komunitasnya dapat mandiri dan berdaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarganya.
Dalam pembahasan kurikulum, peserta workshop juga mengusulkan penambahan materi gender dan kajian keagamaan menjadi 2 seri pertemuan. Berdasarkan pengalaman peserta PUP angkatan I, materi ini sangat ditunggu-tunggu dan menjadi diskusi menarik bagi peserta.
 
Proses workshop yang berjalan selama 3 hari ini memberi masukan yang sangat berarti bagi penyusunan modul Pengkaderan Ulama Perempuan Rahima angkatan II. Dari pengalaman tersebut, baik masukan maupun kritik membangun telah menjadi bagian dari proses belajar yang tidak boleh diabaikan. Namun demikian, kritik dan masukan tersebut perlu diolah kembali agar menjadi suatu model dan modul yang siap digunakan untuk kepentingan pemberdayaan perempuan di [[komunitas]] muslim. Melakukan dan belajar itulah proses dari kehidupan. ''Wallahu a’lam'' '''(Man).'''
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita 2018]]
[[Kategori:Berita 2018]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2025 13.11

Info Artikel

Sumber Original : Rahima
Penulis : Swararahima
Tanggal Terbit : 03 Oktober 2018
Artikel Lengkap : Merancang Kembali Program Pengkaderan Ulama Perempuan

“Alhamdulilah saya lebih berani menyuarakan kesetaraan, keadilan dalam jajaran Muslimat dan Fatayat NU, di pesta pernikahan, acara PHBI di daerah Kediri dan sekitarnya. Insya Allah bulan 10 nanti saya akan mengadakan lomba sholawat keadilan

di Muslimat se Kab. Kediri”.

Pesan singkat lewat SMS (sort message service) di atas dikirim Ibu Nyai Roihana Faqih, alumni Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Rahima wilayah Jawa Timur angkatan I. PUP merupakan salah satu program Rahima untuk menyemai kader-kader ulama perempuan yang selain fasih memahami teks-teks keagamaan Islam juga gigih melakukan pengorganisasian dan pendampingan atas problem umat. Angkatan I PUP ini telah diselenggarakan di dua wilayah, Jawa Timur dan Jawa Barat, dengan metode pendidikan orang dewasa yang menekankan pada proses aksi-refleksi.

Dari hasil refleksi angkatan I, dirasakan adanya kebutuhan menyempurnakan kurikululum belajar untuk dikembangkan pada angkatan II dalam workshop penyempurnaan modul. Workshop penyempurnaan modul Pengkaderan Ulama Perempuan ini dilaksanakan pada tanggal 26-28 Agustus 2008 di Wisma Hijau Cimanggis. Untuk itu, Rahima mengundang sejumlah perwakilan alumni PUP angkatan I maupun  mitra Rahima dari berbagai daerah seperti Garut, Majalengka dan Serang, serta beberapa pengurus yayasan. Harapannya, mereka dapat menjadi narasumber aktif yang akan berkontribusi menyempurnakan modul tersebut.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini dipandu oleh tim fasilitator yang terdiri dari Helmi Ali, Farha Ciciek dan Nur Ahmad. Sebelum memasuki diskusi yang partisipatif dari semua peserta, Dr. Nur Rofi’ah yang terlibat dalam penyusunan kurikulum angkatan I juga ikut menyampaikan refleksinya.

Menurut Dr. Nur Rofi’ah, Pengkaderan Ulama Perempuan perlu terus dilakukan sebagai sebuah proses yang disengaja. Tujuannya adalah untuk mengurangi berbagai persoalan yang ada dalam masyarakat. Menurutnya berbagai ketimpangan yang ada pada masyarakat disebabkan masih rendahnya budaya kesetaraan. Imbasnya adalah masih kuatnya bias gender pada wilayah sejarah, fiqh, tafsir, hadis dan lainnya.

Selanjutnya Direktur Rahima, Aditiana Dewi Eridani menyampaikan pula refleksinya atas program ini. Program ini dirancang bersama, dimulai dari penyusunan kurikulum, rekrutmen, pelaksanaan pengkaderan atau serial pelatihan, tugas di luar kelas, monitoring dan evaluasi. Berdasar masukan peserta atas kurikulum dan sistematikanya, ia pun sependapat diperlukan adanya saling keterkaitan antara materi satu dengan lainnya.

Dalam pembahasan kurikulum, peserta workshop juga mengusulkan penambahan materi gender dan kajian keagamaan menjadi 2 seri pertemuan. Berdasarkan pengalaman peserta PUP angkatan I, materi ini sangat ditunggu-tunggu dan menjadi diskusi menarik bagi peserta.

Proses workshop yang berjalan selama 3 hari ini memberi masukan yang sangat berarti bagi penyusunan modul Pengkaderan Ulama Perempuan Rahima angkatan II. Dari pengalaman tersebut, baik masukan maupun kritik membangun telah menjadi bagian dari proses belajar yang tidak boleh diabaikan. Namun demikian, kritik dan masukan tersebut perlu diolah kembali agar menjadi suatu model dan modul yang siap digunakan untuk kepentingan pemberdayaan perempuan di komunitas muslim. Melakukan dan belajar itulah proses dari kehidupan. Wallahu a’lam (Man).