Lompat ke isi

Membangun Ruang Aman Menumbuhkan Solidaritas: Catatan Training of Facilitator Pengorganisasian Komunitas: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://swararahima.com/2023/10/12/pendidikan-literasi-keuangan-digital-inklusi-lkdi-bagi-ulama-perempuan/ Rahima] |- |Penu...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://swararahima.com/2023/10/12/pendidikan-literasi-keuangan-digital-inklusi-lkdi-bagi-ulama-perempuan/ Rahima]
|[https://swararahima.com/2023/03/03/membangun-ruang-aman-menumbuhkan-solidaritas-catatan-training-of-facilitator-pengorganisasian-komunitas/ Rahima]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Swararahima
|Nuansa Garini
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|12 Oktober 2023
|03 Maret 2023
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://swararahima.com/2023/10/12/pendidikan-literasi-keuangan-digital-inklusi-lkdi-bagi-ulama-perempuan/ Pendidikan Literasi Keuangan Digital Inklusi (LKDI) Bagi Ulama Perempuan]
|[https://swararahima.com/2023/03/03/membangun-ruang-aman-menumbuhkan-solidaritas-catatan-training-of-facilitator-pengorganisasian-komunitas/ Membangun Ruang Aman Menumbuhkan Solidaritas: Catatan Training of Facilitator Pengorganisasian Komunitas]
|}
|}
[[Berkas:BrtKUPI2023-1012.jpg|jmpl|500x500px]]
[[Berkas:BrtKUPI2023-0303 (2).jpg|jmpl|500x500px]]
Salah satu misi [[Rahima]] adalah adanya pengakuan pada otoritas [[Ulama Perempuan]] dalam semua hal, termasuk hak-haknya dalam akses pada pengetahuan sebagai hak dasar. Akses pada pengetahuan sebagai hak termasuk dalam pengetahuan dan akses pada ekonomi dan pemberdayaan perempuan. Rahima bekerjasama dengan Women’s World Banking mendukung penguatan otoritas Ulama Perempuan melalui akses pada ekonomi dan pemberdayaan di [[komunitas]].  
“Kita bisa membangun ruang aman, tempat teman-teman peserta healing, menangis, menceritakan hal-hal yang tidak bisa diceritakan di ruang lain. Dengan itu terbangunlah solidaritas.” Kutipan di atas adalah kutipan yang diambil dari kegiatan Training of Facilitator Pengorganisasian [[Komunitas]] bagi [[Ulama Perempuan]] yang disampaikan oleh salah satu narasumber Ibu Desti Murdjiana. Acara ini diadakan selama tiga hari, dari tanggal 9-11 Februari di Wisma Hijau Depok.  


Pada 21-23 September 2023 Rahima telah melaksanakan [[Pendidikan Literasi Keuangan Digital Inklusi (LKDI) Bagi Ulama Perempuan]] di hotel Pandanaran Prawirotaman Yogyakarta. Rahima melakukan penguatan kapasitas bagi Ulama Perempuan dan Penggerak ekonomi di lima provinsi meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Banten terkait dengan literasi digital keuangan yang inklusif.  
Acara ini dilakukan guna meningkatkan pengetahuan Ulama Perempuan alumni PUP dalam memahami Pengorganisasian Komunitas. Serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ulama perempuan terkait kefasilitatoran.  


Sebelum acara ini dilaksanakan, Rahima telah melakukan need assessment pada 27 Juli-10 Agustus 2023 untuk memetakan kebutuhan, mapping pengalaman dan tantangan Ulama Perempuan di komunitas masing-masing dalam melakukan pendampingan ekonomi. Need assessment ini disebarkan melalui WhatsApp Group semua simpul Rahima sejak 27 Juli hingga 10 Agustus 2023. Terdapat 50 Ulama Perempuan yang berpartisipasi mengisi need assessment, kemudian kami memilih 20 Ulama Perempuan yang dapat berpartisipasi selanjutnya. Berikut adalah kriteria yang Rahima pertimbangkan dalam memilih 20 Ulama Perempuan dari 20 [[lembaga]] yaitu memiliki anggota binaan di atas 50 orang, memiliki anggota jamaah beragam (inklusif) yang meliputi remaja, dewasa, lansia, dan difabel, pendampingan ekonomi sudah berjalan di atas 1 tahun, merepresentasikan wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, Jawa Barat dan Banten.  
Sebanyak 20 ulama perempuan hadir mengikuti pelatihan ini. Mereka datang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Dengan materi pembahasan: Pendidikan orang dewasa oleh Bapak [[Helmi Ali]], Kepemimpinan Perempuan oleh Desti Murdjiana, Konsep Ulama (Mengacu pada [[KUPI]]), Tugas Keulamaan, dan Citra Diri Ulama Perempuan oleh Ibu Pera Soparianti.


Setelah need of assessment, Rahima melaksanakan Pendidikan LKDI dengan 31 peserta yang mewakili 20 lembaga yang dipilih dengan pertimbangan di atas. Pendidikan LKDI Bagi Ulama Perempuan ini merupakan pendidikan/pelatihan penguatan ekonomi yang difasilitatori oleh Ibu Fitriani Sunarto dari Asosiasi Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW), serta oleh Ibu Pera Sopariyanti dan Wanda Roxanne dari Rahima.
Pada pelatihan ini peserta diperkenalkan dengan prinsip-prinsip kerja-kerja [[jaringan]] perempuan di antaranya: Pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan, solidaritas terbangun, interseksionalitas, dan dampak dari kegiatan yang dibuat juga masuk ke dalam perhatian gerakan. “Kalau solidaritas sudah terbentuk maka akan mudah membangun kekuatan untuk mengupayakan kemaslahatan bagi perempuan ke depan”, jelas Ibu Desti.


PPSW merupakan LSM yang berfokus untuk pemberdayaan masyarakat terutama perempuan dalam menghadapi persoalan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan yang merupakan pintu masuk dalam pengorganisasian masyarakat. Selain itu, Rahima juga mengundang narasumber lainnya yaitu Ibu Zusiana Elly Triantini, M. SI (dosen Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Bapak Asadulloh Sefnado (Grup Literasi Keuangan Syariah OJK).
Peserta mengungkapkan kepuasannya dengan apa yang mereka dapat berupa seni berperan, bank of ice breaking, evaluasi yang diberikan dari peserta yang lain salah satunya.  


Ibu Pera Sopariyanti selaku direktur Rahima menyampaikan dalam sambutannya bahwa pendidikan LKDI merupakan pendidikan pertama yang dilakukan oleh Rahima untuk penguatan otoritas ulama perempuan. Penguatan ekonomi menjadi hal penting dalam kerja-kerja penguatan hak-hak perempuan di akar rumput.
Seni berperan peserta lakukan karena salah seorang peserta ada yang melakukan praktek fasilitasi bagi peserta disabilitas, yang dilakukan oleh Ibu Aniroh. “Kemarin saya cukup sentimentil sekali ketika menjadi peserta disabilitas, kalau dia juga punya kepentingan dan hak yang sama yang harus difasilitasi negara. Dan salah satu fungsi NGO itu di sana, bergerak agar hak-hak mereka bisa difasilitasi baik oleh pemerintah.”, tanggap Ibu Ulfah yang merupakan salah satu peserta pelatihan.  


Ibu Fitri selaku fasilitator sekaligus sebagai narasumber membahas beberapa materi mengenai Pengalaman Pemberdayaan Ekonomi di Komunitas; Analisis Pengelolaan Keuangan dan Diskusi; Pengelolaan Keuangan Usaha dan Diskusi; Pengembangan Usaha: Bisnis Online dan Offline; Pemasaran Produk Online yang Aman dan Luas; Proteksi Diri Dari Kejahatan Digital dan Pendalaman Materi. Sementara, Ibu Elly sebagai narasumber membahas materi terkait “Keuangan Syariah dan Pemberdayaan Ekonomi dalam Perspektif Gender dan Inklusi”. Pak Nado dari OJK menyampaikan materi melalui Zoom Meeting memaparkan terkait “Inovasi Keuangan Digital: Produk, Skema, dan Harga Layanan Keuangan Digital”.  Kedua narasumber tersebut dimoderatori oleh Pera Sopariyanti.  
Peserta juga banyak yang mengungkapkan kesenangannya mendapat bank ice breaking dari para peserta lain seperti salah satu kesan dari Ibu Anis Su’adah, “Kemudian kita juga mengantongi macam-macam ''ice breaking'' kemarin yang kita ingat-ingat. Ada yang koniciwa sayonara contohnya. Sekali lagi terima kasih kepada [[Rahima]], saya akan bawa pelajaran ini untuk saya implementasikan di kegiatan komunitas.


Setelah Pendidikan LKDI dilaksanakan, seluruh Ulama Perempuan dan penggerak ekonomi akan melakukan sosialisasi hasil dari Pendidikan LKDI di komunitas/lembaganya masing-masing yang melibatkan anak muda, perempuan dewasa, difabel dan lansia. Sosialisasi ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan perempuan yang inklusif di komunitas/lembaga masing-masing di akar rumput terkait dengan pemberdayaan ekonomi. Harapannya, Ulama Perempuan dan komunitasnya dapat mandiri dan berdaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarganya.
Acara diakhiri dengan saling berterima kasih satu sama lain, yang menimbulkan suasana kehangatan. ''[Nuansa Garini]''
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita 2023]]
[[Kategori:Berita 2023]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2025 13.16

Info Artikel

Sumber Original : Rahima
Penulis : Nuansa Garini
Tanggal Terbit : 03 Maret 2023
Artikel Lengkap : Membangun Ruang Aman Menumbuhkan Solidaritas: Catatan Training of Facilitator Pengorganisasian Komunitas

“Kita bisa membangun ruang aman, tempat teman-teman peserta healing, menangis, menceritakan hal-hal yang tidak bisa diceritakan di ruang lain. Dengan itu terbangunlah solidaritas.” Kutipan di atas adalah kutipan yang diambil dari kegiatan Training of Facilitator Pengorganisasian Komunitas bagi Ulama Perempuan yang disampaikan oleh salah satu narasumber Ibu Desti Murdjiana. Acara ini diadakan selama tiga hari, dari tanggal 9-11 Februari di Wisma Hijau Depok.

Acara ini dilakukan guna meningkatkan pengetahuan Ulama Perempuan alumni PUP dalam memahami Pengorganisasian Komunitas. Serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ulama perempuan terkait kefasilitatoran.

Sebanyak 20 ulama perempuan hadir mengikuti pelatihan ini. Mereka datang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Dengan materi pembahasan: Pendidikan orang dewasa oleh Bapak Helmi Ali, Kepemimpinan Perempuan oleh Desti Murdjiana, Konsep Ulama (Mengacu pada KUPI), Tugas Keulamaan, dan Citra Diri Ulama Perempuan oleh Ibu Pera Soparianti.

Pada pelatihan ini peserta diperkenalkan dengan prinsip-prinsip kerja-kerja jaringan perempuan di antaranya: Pengalaman perempuan adalah sumber pengetahuan, solidaritas terbangun, interseksionalitas, dan dampak dari kegiatan yang dibuat juga masuk ke dalam perhatian gerakan. “Kalau solidaritas sudah terbentuk maka akan mudah membangun kekuatan untuk mengupayakan kemaslahatan bagi perempuan ke depan”, jelas Ibu Desti.

Peserta mengungkapkan kepuasannya dengan apa yang mereka dapat berupa seni berperan, bank of ice breaking, evaluasi yang diberikan dari peserta yang lain salah satunya.

Seni berperan peserta lakukan karena salah seorang peserta ada yang melakukan praktek fasilitasi bagi peserta disabilitas, yang dilakukan oleh Ibu Aniroh. “Kemarin saya cukup sentimentil sekali ketika menjadi peserta disabilitas, kalau dia juga punya kepentingan dan hak yang sama yang harus difasilitasi negara. Dan salah satu fungsi NGO itu di sana, bergerak agar hak-hak mereka bisa difasilitasi baik oleh pemerintah.”, tanggap Ibu Ulfah yang merupakan salah satu peserta pelatihan.

Peserta juga banyak yang mengungkapkan kesenangannya mendapat bank ice breaking dari para peserta lain seperti salah satu kesan dari Ibu Anis Su’adah, “Kemudian kita juga mengantongi macam-macam ice breaking kemarin yang kita ingat-ingat. Ada yang koniciwa sayonara contohnya. Sekali lagi terima kasih kepada Rahima, saya akan bawa pelajaran ini untuk saya implementasikan di kegiatan komunitas.”

Acara diakhiri dengan saling berterima kasih satu sama lain, yang menimbulkan suasana kehangatan. [Nuansa Garini]