Lompat ke isi

Masriyah Amva: Mendobrak Budaya Patriarki di Pesantren: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel''' {| |Sumber Original |: |[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia] |- |Penulis |: |Editor :...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Media Indonesia]
|[https://www.suara.com/wawancara/2017/05/29/070000/masriyah-amva-mendobrak-budaya-patriarki-di-pesantren suara.com]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Editor : Triwinarno
|Pebriansyah Ariefana
|-
|-
|Tanggal Publikasi
|Tanggal Publikasi
|:
|:
|23/10/2020 05:15
|<nowiki>Senin, 29 Mei 2017 | 07:00 WIB</nowiki>
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://mediaindonesia.com/humaniora/355124/belajar-dari-sang-nyai-masriyah-amva Belajar dari sang Nyai Masriyah Amva]
|[https://www.suara.com/wawancara/2017/05/29/070000/masriyah-amva-mendobrak-budaya-patriarki-di-pesantren Masriyah Amva: Mendobrak Budaya Patriarki di Pesantren]
|}PESANTREN menjadi salah satu [[lembaga]] pendidikan, khusus agama Islam. Tidak heran jika satu pesantren terkadang memiliki ratusan hingga ribuan santri yang rela mondok untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.  
|}Suara.com - Dalam [[tradisi]] Islam, perempuan menjadi ‘warga’ nomor 2 dalam hal kepemimpinan. Lelaki diutamakan menjadi pemimpin dalam kehidupan, salah satunya dalam lingkungan pesantren.


Jika pada umumnya pesantren identik dengan penokohan seorang kiai, beda halnya dengan Pesantren Kebon Jambu yang berada di kawasan kampung santri Desa Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
[[Masriyah Amva]] menjadi sosok perempuan berbeda di Indonesia. Dia ‘mendobrak’ patriarki di tradisi Islam dengan menjadi pimpinan pondok pesantren. Status dia ‘Nyai’, sebagai tanda seorang pemimpin perempuan di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin, Cirebon.  


Menjadi pemimpin 1.000 santri lelaki dan perempuan, Nyai Amva menghadapi banyak tantangan. Terutama banyak peristiwa kekerasan seksual yang dialami santri perempuannya. Ada juga santri lelaki yang menjadi pelakunya.
Amva juga ulama perempuan yang berani dan kontroversi. Dia dianggap terlalu vulgar membicarakan soal seksual dalam tulisan-tulisan di belasan bukunya. Sebab untuk bicara pendidikan seks di lingkungan pesantren, menurutnya tidak mungkin.
Bagaimana awalnya Amva bisa menjadi pemimpin pesantren? Seperti apa pembicaraan seksual Amva dalam bukunya? . . . . .
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]
[[Kategori:Jejak Masriyah Amva]]