Tadarus Subuh ke-147: Cara Menjomlo secara Mulia: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
Dalam [[tradisi]] Islam, pilihan untuk tidak menikah bukanlah sesuatu yang hina atau rendah. Merujuk pada buku Fiqh al-Usrah, serta karya KH. [[Husein Muhammad]] Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Menjomblo, banyak ulama besar seperti Imam Nawawi, Imam Ibn Jarir al-Ṭabari, hingga ulama perempuan seperti Rabi'ah al-Adawiyah, menjalani hidup tanpa menikah namun tetap berakhlak mulia, amanah, dan bertanggung jawab di tengah masyarakat. | |||
Islam tidak mewajibkan pernikahan sebagai satu-satunya jalan kebaikan. Menjomlo bisa menjadi bentuk ibadah, jika dijalani dengan kesadaran, bukan karena kebencian terhadap pernikahan. Justru akhlak mulialah yang menjadi tolak ukur, bukan status relasi. | |||
Lalu, bagaimana menjomlo secara mulia dalam kehidupan modern yang kerap dipenuhi stigma atas pilihan tidak menikah? | |||
{| | {| | ||
|Hari/Tanggal | |Hari/Tanggal | ||
|: | |: | ||
|Minggu, | |Minggu, 27 April 2025 | ||
|- | |- | ||
|Waktu | |Waktu | ||