Lompat ke isi

Majalah Swara Rahima Edisi 01; Mengukir Sejarah Baru: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi ''''Info Artikel:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2024/04/29/modul-pendidikan-pengaderan-ulama-perempuan-2/ Swara Rahima] |- |Judul Buku |: |'''Modul Pendidi...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(24 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''Info Artikel:'''
[[Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 01.png|kiri|nirbing|482x482px]]
'''<u>Informasi Majalah:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2024/04/29/modul-pendidikan-pengaderan-ulama-perempuan-2/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2001/05/05/edisi-1/ Swara Rahima]
|-
|-
|Judul Buku
|Nama Majalah
|:
|:
|'''Modul Pendidikan Pengaderan [[Ulama Perempuan]]'''
|[[Majalah Swara Rahima]]
|-
|-
|Penulis
|Seri
|:
|:
| [[Faqihuddin Abdul Kodir]], [[Nur Rofiah]], Pera Soparianti, Nuansa Garini
|Nomor 1 Tahun I, Mei 2001
|-
|Editor
|:
| [[Masruchah]], Wanda Roxanne
|-
|Desain & Layout
|:
|Ricky Priangga Subastiyan
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 25: Baris 18:
|[[Rahima]]
|[[Rahima]]
|-
|-
|Tahun Terbit
|Link Download
|:
|:
|Cetakan I: 2024
|[https://swararahima.com/2001/05/05/edisi-1/ Download]
|-
|}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|Halaman dan Dimensi
 
|:
'''''Pembaca yang kami hormati,'''''
|<nowiki>xvi + 230 halaman | 17,6cm x 25cm</nowiki>
 
|-
'''Sebuah''' kelahiran senantiasa selalu diiringi harapan. Sebuah kelahiran adalah anugerah yang harus disyukuri. Kini, alhamdulilah, '''Swara RAHIMA''' edisi perdana telah hadir di tangan anda. Sesuai dengan namanya kami ingin mengikhtiarkan media ini sebagai media ‘kasih sayang’. Media silaturrahmi antar kita semua untuk berbagi kebaikan dalam rangka menegakkan hak-hak perempuan. Dengan demikian, insya Allah, media ini akan menjadi titian untuk merealisasikan cita kemanusiaan yang hakiki. Kami sadar, semua itu tidak semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi kelahiran [[Rahima]] di tengah gempuran situasi ‘konflik’ yang lagi marak di negeri ini justru menjadi dorongan bagi kami untuk bekerja dalam semangat kasih sayang. Dan sudah tentu ''‘concern’'' para pembaca merupakan ‘rabuk’ yang dapat menyemainya.
|Akses Buku
 
|:
'''''Pembaca yang budiman,'''''
|[https://swararahima.com/2024/04/29/modul-pendidikan-pengaderan-ulama-perempuan-2/ Download]
|}
[[Berkas:Modul Pendidikan Pengaderan Ulama Perempuan (IPAS).jpg|ka|nirbing]]
''Alhamdulillah'', rasa syukur yang mendalam atas lahirnya modul Pengaderan Ulama Perempuan (PUP) Rahima yang sudah direvisi dari modul sebelumnya dengan menggunakan pendekatan [[KUPI]] ([[Kongres Ulama Perempuan Indonesia]]) baik dari sisi pendekatan, perespektif dan metodologi maupun dari sisi dakwah. Pendekatan, persepektif dan metodologi KUPI yang dimaksud adalah pendekatan makruf, [[mubadalah]] dan keadilan hakiki atau yang sering disebut trilogi KUPI untuk sampai pada keadilan dan kemaslahatan bagi perempuan. Trilogi KUPI juga menjadi pendekatan dalam strategi dakwah yang dilakukan baik dakwal secara offline maupun online megisi ruang-ruang di media sosial. Modul ini merupakan salah satu ikhtiar kami dalam proses melahirkan para ulama perempuan yang tidak hanya memiliki wawasan keagamaan yang mendalam, tetapi juga mempunyai perspektif adil gender dan keberpihakan pada perempuan dan kelompok ''mustad’afin''.


Modul yang ada di tangan para pembaca ini, dilatarbelakangi setidaknya oleh dua hal. Pertama, berangkat dari kegelisahan maraknya kampanye khususnya di media sosial dengan menggunakan narasi agama yang menjadikan perempuan sebagai objek. Misalnya, kampanye [[poligami]], nikah muda, dan lain sebagainya merupakan bukti nyata bagaimana objektifikasi perempuan terus dikembangkan dengan menggunakan narasi agama. Kampanye tersebut kebanyakan dilakukan oleh [[tokoh]] agama laki-laki dengan dalih menghindari [[fitnah]], menjaga moral perempuan, menghindari zina, dan lain sebagainya tanpa mempertimbangkan dampak negatif bagi kehidupan perempuan.
Indonesia kini tengah bergolak. Ada krisis politik, ekonomi dan sosial budaya yang berkepanjangan. Peristiwa demi peristiwa yang mengerikan dan tak pernah di sangka-sangka muncul satu demi satu. Ironisnya semua itu menjamur ketika kran kebebasan mulai terbuka. Ketika masyarakat tengah berupaya mengungkapkan diri untuk merealisasikan segenap harapan mereka akan sebuah dunia yang lebih baik, setelah lebih dari tiga dasawarsa hidup dalam situasi ''tertekan.''


Situasi tersebut menjadi tantangan sekaligus ancaman besar bagi kami sebagai gerakan yang memperjuangkan Islam yang ''rahmatan lil alamin'' sebagai anugerah dan rahmat tidak hanya bagi laki-laki tetapi juga bagi perempuan. Dalam hal ini, Islam menempatkan perempuan sebagai subjek penuh kehidupan sebagaimana laki-laki. Perempuan maupun laki-laki sama-sama sebagai hamba Allah, keduanya mengemban amanah sebagai ''khalifah fil ardhi'' untuk mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia termasuk perempuan dan alam semesta. Kehadiran ulama perempuan diproyeksikan tidak hanya mahir berdakwah di [[komunitas]] masing-masing namun juga mengisi ruang dakwah di media sosial.
Saat ini, di tengah gelombang harapan itu, teror, pembunuhan dan penyiksaan justru merebak dimana-mana. Kekerasan semakin tampak nyata dan intensif. Terbuka bahkan sangat vulgar. Dan sayangnya, berbagai ekspressi kekerasan itu seringkali dikaitkan dengan agama. Politisasi agama dengan sangat terampil mengemas dua isu sensitif, perempuan dan agama. Ambil contoh ekspose media masa. Begitu penuh emosi. Ada ‘sweeping’ terhadap para pekerja seks, perkosaan dan rajam, aborsi, [[cadar]], [[jilbab]], penggundulan rambut, sampai pro kontra presiden perempuan atau perkawinan (lintas agama). Seringkali tema tema itu dikemas dengan sentimen agama yang tinggi. Hal ini pada gilirannya bisa dipakai oleh pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai ‘bahan bakar’ untuk memperkeruh situasi.


Kedua, adanya kebutuhan yang tidak terelakan lagi melahirkan ulama perempuan untuk menjawab berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapi dengan menggunakan pendekatan dan perspektif KUPI. Karena itu, Rahima terus berkomitmen melahirkan ulama perempuan melalui [[Pengkaderan Ulama Perempuan]] (PUP) sebagai pendidikan khas Rahima yang telah dikembangkan sejak 2005. Hingga kini, sudah ada tujuh angkatan pendidikan PUP dan telah melahirkan 270 orang ulama perempuan dari enam provinsi di Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, Aceh dan Sulawesi Selatan.
''Di saat-saat seperti inilah, siapapun kita, termasuk kaum perempuan sudah selayaknya ‘bertafakkur’ sejenak. Mengkaji ulang apa yang tejadi, sebagai bekal untuk melakukan sebuah tindakan yang bertanggung jawab lagi arif di masa datang. Karena sebagai bagian dari bangsa ini kita tidak boleh bersikap reaktif terus menerus, kebingungan atau malahan tinggal diam.''


Modul ini kami rancang dengan memuat lima tema besar yang dituangkan dalam lima tadarus dengan durasi masing-masing tadarus selama empat hari secara offline. Lima tema besar yang diangkat tidak hanya memuat penguatan pengetahuan namun juga penguatan skill para ulama perempuan. Berikut lima tema dari lima tadarus tersebut. Tadrus pertama membahas Orientasi keulamaan, analisis gender, kesehatan reproduksi, dan hak-hak perempuan. Tadarus kedua, membahas Metode kajian Islam pendekatan makruf, [[Keadilan Hakiki]] dan Mubadalah pada kajian tafsir AlQur’an, hadis, dan fikih. Tadarus ketiga membahas Metodologi [[Fatwa]] KUPI dan Praktik Membuat Fatwa. Tadarus keempat membahas Analisis sosial, Kepemimpinan perempuan, dan pengorganisasian komunitas. Tadarsu kelima Dakwah digital yang membahas metode, strategi, dan keterampilan dalam melakukan dakwah baik secara offline maupun online.
Dalam semangat itulah, di edisi perdana ini '''Swara RAHIMA''' mengajak para pembaca untuk berefleksi di seputar sebuah tema besar yakni gerakan perempuan Islam. Sebagai sebuah langkah awal, kami sama sekali  tidak berpretensi mengungkap seluruh kisi gerakan ini. Namun kami berupaya sedapat mungkin untuk dapat  menghadirkan sebuah sajian yang memberi gambaran akan sosok dan dinamika gerakan yang tengah terjadi. Semoga kita semua dapat membacanya secara jujur dan kritis. Karena hanya dengan kejernihan dan kejujuran, hikmah dapat kita petik dari setiap kejadian.


Pendidikan PUP ini menggunakan metode Pendidikan Orang Dewasa (POD) yang menempatkan peserta sebagai subjek dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Dalam metode POD, peran narasumber tidak hanya memberi pengetahuan baru, namun menjadi ruang untuk klarifikasi dari pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki. Peran fasilitator dalam pendidikan menjadi kunci bagi keberhasilan pendidikan. Fasilitator tidak hanya paham pendidikan orang dewasa, tetapi juga mempraktikkannya sehingga semua peserta merasa nyaman, saling menghormati, dan menghargai pendapat antar peserta. Methode pendidikan PUP dilakukan dengan dua cara yakni pendidikan di dalam dan di luar kelas. Pendidikan di dalam kelas yang sifatnya penguatan pengetatahuan dan keterampilan yang diperoleh selama proses di dalam kelas. Sedangkan pendidikan di luar kelas dilakukan dengan turun lapangan yang dilakukan oleh para peserta PUP setelah mengikuti masing-masing tadarus untuk melakukan pengamatan di komunitas dan melakukan kajian sesuai dengan materi yang didapatkan. Hasil pengamatan dan kajian tersebut akan disampaikan oleh peserta di awal tadarus berikutnya.
'''''Pembaca yang berbahagia,'''''


Secara khusus, modul ini sebagai pegangan fasilitator dalam melakukan pendidikan pengkaderan ulama perempuan, apapun nama kegiatannya baik oleh Rahima maupun oleh alumni peserta PUP sebagai pegangan dalam melakukan pendidikan serupa di komunitasnya masing-masing. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan modul ini juga digunakan oleh siapapun termasuk ulama perempuan lainnya serta [[lembaga]] atau organisasi serta praktisi yang mempunyai fokus yang sama dalam memberikan pendidikan bagi ulama perempuan maupun tokoh agama muda di komunitas. Kami menyadari, modul ini masih jauh dari sempurna dan masukan dari para pengguna maupun pembaca sangat penting bagi kami.
Akhirnya, kami selalu mengharapkan saran dan kritik para pembaca guna perbaikan '''Swara RAHIMA''' di hari-hari mendatang. Untuk itu, keluarga besar Rahima mengharap restu para pembaca, agar kerja yang kami lakukan akan lancar dan penuh rahmat bagi kita semua. Khususnya bagi kaum perempuan yang sampai saat ini banyak dari hak-hak dasar mereka masih belum diakui. ''Semoga Allah, Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim, selalu memberkati upaya kita semua. Amin.''


'''Jakarta, 31 Januari 2024'''
''Wassalam,''


'''Pera Sopariyanti (Direktur Rahima)'''
'''''Redaksi'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Buku dan Modul KUPI]]
[[Kategori:Majalah]]
[[Kategori:Modul KUPI]]
[[Kategori:Majalah Swara Rahima]]