Lompat ke isi

Majalah Swara Rahima Edisi 35; Islam, Perempuan dan Budaya Damai: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2010/06/05/edisi-28-2/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 28.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(5 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2010/06/05/edisi-28-2/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 28.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 28 Tahun IX, Agustus 2009|title_orig=|note=[https://swararahima.com/2010/06/05/edisi-28-2/ Download]}}Majalah Swara [[Rahima]] adalah media publikasi berkala dari Perhimpunan Rahima yang berfokus pada wacana Islam dan hak-hak perempuan, utamanya mengusung perspektif adil gender. Majalah ini menyajikan analisis, studi tafsir, dan hadis yang mendukung keadilan perempuan, serta memuat pemikiran [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] di [[komunitas]].
[[Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 35.png|kiri|nirbing|483x483px]]
'''<u>Informasi Majalah:</u>'''
{|
|Sumber
|:
|[https://swararahima.com/2012/04/04/edisi-35-2/ Swara Rahima]
|-
|Nama Majalah
| :
|[[Majalah Swara Rahima]]
|-
| Tema
| :
|Islam, Perempuan dan Budaya Damai
|-
|Seri
|:
|Nomor 35 Tahun XI, Juli 2011
|-
|Penerbit
|:
|[[Rahima]]
|-
|Link Download
|:
|[https://swararahima.com/2012/04/04/edisi-35-2/ Download]
|}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Majalah ini menjadi sarana dialog dan edukasi mengenai posisi perempuan dalam Islam, sering kali melibatkan pemikiran [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] sebagai pengasuh rubrik. Tulisan di dalamnya sering mengangkat tema Islam yang ramah terhadap perempuan dan menolak bias gender.
'''''Pembaca yang dimuliakan Allah swt…'''''


Syukur alhamdulillah, Swara Rahima edisi 35 dapat terbit dan berada di tangan anda semua. Kali ini, Swara Rabima mengangkat tema yang cukup pelik yaitu Perempuan dan Pembangunan Perdamaian (Peace Building).
Barangkali tema ini memang belum terlalu populer di tengah-tengah masyarakat, sebab peran perempuan di dalam menginisiasi perdamaian seringkali tertutupi oleh isu-isu besar lainnya, seperti terorisme, korupsi, pilkada dan sebagainya. Jamak diketahui bahwa di dalam situasi konflik, perempuan dan anak-anak sangat rentan mengalami kekerasan yang berbasis gender misalnya pelecehan dan kekerasan seksual. Namun, beberapa penelitian membuktikan bahwa di dalam situasi konflik dan upaya pembangunan perdamaian, kelompok perempuan memegang peranan yang sangat penting. Lalu bagaimana. sesungguhnya peran dan partisipasi perempuan dalam menjaga perdamaian di setiap lini kehidupan ini? Apakah peran dan partisipasi perempuan dalam penyelesaian 'konflik' atau permasalahan sosial telah mendapat pengakuan?
Dalam edisi ini, seorang Kyai yang sekaligus [[tokoh]] resolusi konflik, yaitu KH. Dian Nafi' dari Solo berbagi tentang pengalamannya terjun di berbagai wilayah konflik yang terjadi di Indonesia seperti Ambon dan Poso. Kyai Dian juga banyak membahas tentang peran pemuka agama untuk transformasi konflik. Selain itu, Dwi Rubiyanti Khalifah, direktur [[AMAN Indonesia]] akan berbagi seputar Sekolah Perempuan untuk perdamaian yang diikuti oleh para ibu-ibu, yang merupakan media pemberdayaan di tingkat akar rumput.
'''''Pembaca yang budiman…'''''
Rubrik Tafsir dan Hadis edisi ini ditulis oleh KH. [[Husein Muhammad]] dan Faqihuddin. Kedua kontributor tetap ini akan mengupas seputar bagaimana Alquran dan hadis berbicara tentang Islam dan perdamaian. Selanjutnya rubrik Teropong Dunia yang ditulis oleh Khariroh Ali menceritakan perjuangan para perempuan Liberia di dalam mengakhiri perang saudara yang sangat mengerikan. Selain itu, lewat rubrik Akhwatuna, Miftahul Huda yang merupakan aktivis IPNU akan berbagi tentang bagaimana [[komunitas]] pesantren merespon isu perdamaian.
Pada rubrik Profil, tokoh perempuan yang diangkat adalah Nyai Ida Mahmudah dari pesantren Blokagung, Banyuwangi Jawa Timur. Ibu Ida adalah seorang da'iyyah yang aktif melakukan pengajian dengan para TKW di Hongkong. Selanjutnya rubrik-rubrik yang lain seperti Cerpen, [[Khazanah]], Kiprah, Fikrah, [[Jaringan]], Tanya Jawab dan Info dapat anda jumpai juga di edisi kali ini.
Adapun Suplemen untuk edisi 35 ini akan menghadirkan tulisan tentang Membincang Khulu' (Gugat Cerai Istri) di Dalam Islam yang ditulis oleh Siti Rufiah Padijaya. Suplemen ini membahas tentang bagaimana teks-teks Islam berbicara tentang khulu' dan bagaimana kaitan khulu' dengan berbagai isu perempuan kontemporer. Mudah-mudahan, apa yang disuguhkan oleh Swara Rahima dapat bermanfaat buat masyarakat luas dan memperkuat perjuangan untuk menata kehidupan yang lebih adil dan setara.
''Wassalam''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Majalah]]
[[Kategori:Majalah]]
[[Kategori:Majalah Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 26 Maret 2026 16.15

Informasi Majalah:

Sumber : Swara Rahima
Nama Majalah : Majalah Swara Rahima
Tema : Islam, Perempuan dan Budaya Damai
Seri : Nomor 35 Tahun XI, Juli 2011
Penerbit : Rahima
Link Download : Download

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Pembaca yang dimuliakan Allah swt…

Syukur alhamdulillah, Swara Rahima edisi 35 dapat terbit dan berada di tangan anda semua. Kali ini, Swara Rabima mengangkat tema yang cukup pelik yaitu Perempuan dan Pembangunan Perdamaian (Peace Building).

Barangkali tema ini memang belum terlalu populer di tengah-tengah masyarakat, sebab peran perempuan di dalam menginisiasi perdamaian seringkali tertutupi oleh isu-isu besar lainnya, seperti terorisme, korupsi, pilkada dan sebagainya. Jamak diketahui bahwa di dalam situasi konflik, perempuan dan anak-anak sangat rentan mengalami kekerasan yang berbasis gender misalnya pelecehan dan kekerasan seksual. Namun, beberapa penelitian membuktikan bahwa di dalam situasi konflik dan upaya pembangunan perdamaian, kelompok perempuan memegang peranan yang sangat penting. Lalu bagaimana. sesungguhnya peran dan partisipasi perempuan dalam menjaga perdamaian di setiap lini kehidupan ini? Apakah peran dan partisipasi perempuan dalam penyelesaian 'konflik' atau permasalahan sosial telah mendapat pengakuan?

Dalam edisi ini, seorang Kyai yang sekaligus tokoh resolusi konflik, yaitu KH. Dian Nafi' dari Solo berbagi tentang pengalamannya terjun di berbagai wilayah konflik yang terjadi di Indonesia seperti Ambon dan Poso. Kyai Dian juga banyak membahas tentang peran pemuka agama untuk transformasi konflik. Selain itu, Dwi Rubiyanti Khalifah, direktur AMAN Indonesia akan berbagi seputar Sekolah Perempuan untuk perdamaian yang diikuti oleh para ibu-ibu, yang merupakan media pemberdayaan di tingkat akar rumput.

Pembaca yang budiman…

Rubrik Tafsir dan Hadis edisi ini ditulis oleh KH. Husein Muhammad dan Faqihuddin. Kedua kontributor tetap ini akan mengupas seputar bagaimana Alquran dan hadis berbicara tentang Islam dan perdamaian. Selanjutnya rubrik Teropong Dunia yang ditulis oleh Khariroh Ali menceritakan perjuangan para perempuan Liberia di dalam mengakhiri perang saudara yang sangat mengerikan. Selain itu, lewat rubrik Akhwatuna, Miftahul Huda yang merupakan aktivis IPNU akan berbagi tentang bagaimana komunitas pesantren merespon isu perdamaian.

Pada rubrik Profil, tokoh perempuan yang diangkat adalah Nyai Ida Mahmudah dari pesantren Blokagung, Banyuwangi Jawa Timur. Ibu Ida adalah seorang da'iyyah yang aktif melakukan pengajian dengan para TKW di Hongkong. Selanjutnya rubrik-rubrik yang lain seperti Cerpen, Khazanah, Kiprah, Fikrah, Jaringan, Tanya Jawab dan Info dapat anda jumpai juga di edisi kali ini.

Adapun Suplemen untuk edisi 35 ini akan menghadirkan tulisan tentang Membincang Khulu' (Gugat Cerai Istri) di Dalam Islam yang ditulis oleh Siti Rufiah Padijaya. Suplemen ini membahas tentang bagaimana teks-teks Islam berbicara tentang khulu' dan bagaimana kaitan khulu' dengan berbagai isu perempuan kontemporer. Mudah-mudahan, apa yang disuguhkan oleh Swara Rahima dapat bermanfaat buat masyarakat luas dan memperkuat perjuangan untuk menata kehidupan yang lebih adil dan setara.

Wassalam