Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 56; Memaknai Hijrah untuk Kemanusiaan Perempuan: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Majalah:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2001/05/05/edisi-1/ Swara Rahima] |- |Nama Majalah | : |Majalah Swara Rahima |- |Tema |: |Mengukir Sej...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(3 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''Informasi Majalah:'''
'''Informasi Suplemen:'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2001/05/05/edisi-1/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2019/11/07/edisi-56-2/ Swara Rahima]
|-
|-
|Nama Majalah
|Judul
| :
|:
|Majalah Swara Rahima
|Memaknai [[Hijrah]] untuk Kemanusiaan Perempuan
|-
|Penulis
|:
|Andi Nur Fa’izah, Raudlatun
|-
|-
|Tema
|Editor
|:
|:
|Mengukir Sejarah Baru
|Pera Sopariyanti
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Nomor 1 Tahun I, Mei 2001
|Edisi 56, November 2019
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 23: Baris 27:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2001/05/05/edisi-1/ Download]
|[https://swararahima.com/2019/11/07/edisi-56-2/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=[https://swararahima.com/2001/05/05/edisi-1/ Rahima]|image=Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 01.png|italic title=Majalah Swara Rahima|isbn=|cover_artist=|series=Nomor 1 Tahun I, Mei 2001|title_orig=Majalah Swara Rahima Edisi 01|note=[https://swararahima.com/2001/05/05/edisi-1/ Download Majalah]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 56.png|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 56|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 56, November 2019|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 56|note=[https://swararahima.com/2019/11/07/edisi-56-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


'''''Pembaca yang kami hormati,'''''
'''''Pembaca yang dirahmati Allah...'''''


'''Sebuah''' kelahiran senantiasa selalu diiringi harapan. Sebuah kelahiran adalah anugerah yang harus disyukuri. Kini, alhamdulilah, '''Swara RAHIMA''' edisi perdana telah hadir di tangan anda. Sesuai dengan namanya kami ingin mengikhtiarkan media ini sebagai media ‘kasih sayang’. Media silaturrahmi antar kita semua untuk berbagi kebaikan dalam rangka menegakkan hak-hak perempuan. Dengan demikian, insya Allah, media ini akan menjadi titian untuk merealisasikan cita kemanusiaan yang hakiki. Kami sadar, semua itu tidak semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi kelahiran [[Rahima]] di tengah gempuran situasi ‘konflik’ yang lagi marak di negeri ini justru menjadi dorongan bagi kami untuk bekerja dalam semangat kasih sayang. Dan sudah tentu ''‘concern’'' para pembaca merupakan ‘rabuk’ yang dapat menyemainya.
Alhamdulillah, Rahima dapat kembali menerbitkan suplemen [[majalah Swara Rahima]] edisi 56 dengan tema “Memaknai Hijrah untuk Kemanusiaan Perempuan”. Tema ini dipilih sebagai respon terhadap fenomena hijrah belakangan ini. Dimana sebagian kelompok mengamalkan hijrah dengan menonjolkan simbol-simbol keagamaan. Bahkan puncak kesalehan seorang muslimah diukur dengan kesungguhan dalam menampilkan identitas keagamaan yang formalistik, seperti penggunaan niqab atau [[cadar]]. Meskipun penggunaan cadar tidak sepenuhnya keliru, namun persoalan muncul jika cadar dijadikan satu-satunya tolak ukur kesalehan. Cadar kemudian menjadi pemisah antar ‘saya’ dan ‘kamu’ atau ‘kami’ dengan ‘kalian’. ‘Saya’ atau ‘kami’ dianggap suci karena telah menjalankan syariat secara totalitas. Sedangkan yang lain Islamnya dipandang belum sempurna. Pandangan seperti ini menimbulkan perilaku keberagamaan yang tertutup (eksklusif) sehingga memicu keresahan di masyarakat. Seringkali fenomena ini berlawanan dengan nilai-nilai kesantunan dan etika yang telah lama dipegang teguh, seperti tata krama kepada orang tua, keluarga, maupun para guru.


'''''Pembaca yang budiman,'''''
Seorang [[Ulama Perempuan]] bercerita saat refleksi Ulama Perempuan tentang Pencegahan Ekstrimisme pada Agustus 2019 lalu di Solo. Mantan anak didiknya tiba-tiba telah menggunakan cadar saat pulang liburan semester dari Perguruan Tinggi di Jawa Tengah. Padahal ia belum lama terdaftar di Perguruan Tinggi tersbut. Ia beralasan menggunakan cadar untuk menyempurnakan ke Islamannya secara kaffah. Pemahaman yang didapat dari [[komunitas]] di lingkungan kampusnya itu juga menganggap seseorang belum menjalankan syariat Islam secara utuh jika tidak menggunakan cadar, meskipun itu ustadzahnya sendiri yang sebelumnya telah banyak menggajarkan nilai-nilai Islam kepadanya sebelum ia memasuki jejang perkuliahan. Artinya sang murid merasa lebih shaleh ketimbang Ibu Nyai yang dulu mengajarnya di pesantren itu.


Indonesia kini tengah bergolak. Ada krisis politik, ekonomi dan sosial budaya yang berkepanjangan. Peristiwa demi peristiwa yang mengerikan dan tak pernah di sangka-sangka muncul satu demi satu. Ironisnya semua itu menjamur ketika kran kebebasan mulai terbuka. Ketika masyarakat tengah berupaya mengungkapkan diri untuk merealisasikan segenap harapan mereka akan sebuah dunia yang lebih baik, setelah lebih dari tiga dasawarsa hidup dalam situasi ''tertekan.''
Namun demikian, cerita dari seorang Ulama Perempuan di atas sifatnya kasuistik, karena tidak semua yang bercadar memiliki pandangan demikian. Penggunaan cadar bisa jadi untuk keperluan lain, seperti karena tekanan sosial dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dialog menjadi salah satu cara melihat lebih jauh sikap dan cara pandang berbusana, apapun bentuknya seyogianya menjadi bagian dari hak kebebasan berekspresi yang dijamin dalam UU.


Saat ini, di tengah gelombang harapan itu, teror, pembunuhan dan penyiksaan justru merebak dimana-mana. Kekerasan semakin tampak nyata dan intensif. Terbuka bahkan sangat vulgar. Dan sayangnya, berbagai ekspressi kekerasan itu seringkali dikaitkan dengan agama. Politisasi agama dengan sangat terampil mengemas dua isu sensitif, perempuan dan agama. Ambil contoh ekspose media masa. Begitu penuh emosi. Ada ‘sweeping’ terhadap para pekerja seks, perkosaan dan rajam, aborsi, [[cadar]], [[jilbab]], penggundulan rambut, sampai pro kontra presiden perempuan atau perkawinan (lintas agama). Seringkali tema tema itu dikemas dengan sentimen agama yang tinggi. Hal ini pada gilirannya bisa dipakai oleh pihak- pihak yang tidak bertanggung jawab sebagai ‘bahan bakar’ untuk memperkeruh situasi.
Pembaca yang Budiman [[Suplemen Swara Rahima]] kali ini menyajikan informasi terkait dengan hijrah yang ditulis Nyai Raudlatun, biasa kami memanggil Mbak Odax, salah satu simpul Rahima di Sumenep Madura. Beliau juga merupakan dosen serta Pembina Majelis Taklim. Penulis kedua adalah Andi Nur Fa’izah, Koordinator Program Perhimpunan Rahima. Andi merupakan Alumni Kajian Gender Universitas Indonesia. Keduanya selama ini sangat aktif menyuarakan keadilan dan kesetaraan di masing-masing komunitas. Hal itu terlihat dalam tulisan hijrah ini sangat kental mengupas fenomena hijrah baik di masyarakat maupun lingkungan kampus.


''Di saat-saat seperti inilah, siapapun kita, termasuk kaum perempuan sudah selayaknya ‘bertafakkur’ sejenak. Mengkaji ulang apa yang tejadi, sebagai bekal untuk melakukan sebuah tindakan yang bertanggung jawab lagi arif di masa datang. Karena sebagai bagian dari bangsa ini kita tidak boleh bersikap reaktif terus menerus, kebingungan atau malahan tinggal diam.''
Pembahasan hijrah pada suplemen ini menyajikan pemaknaan hijrah secara lebih subtantif de–ngan menghadirkan referensi dari berbagai literatur keagamaan. Memotret hijrah di masa nabi yang merupakan perpindahan dari kezaliman menuju keadilan dan penghormatan pada martabat kemanusiaan. Misi hijrah kenabian ini juga mengangkat keadilan dan kesetaraan harkat perempuan sebagai sesama hamba Allah


Dalam semangat itulah, di edisi perdana ini '''Swara RAHIMA''' mengajak para pembaca untuk berefleksi di seputar sebuah tema besar yakni gerakan perempuan Islam. Sebagai sebuah langkah awal, kami sama sekali  tidak berpretensi mengungkap seluruh kisi gerakan ini. Namun kami berupaya sedapat mungkin untuk dapat  menghadirkan sebuah sajian yang memberi gambaran akan sosok dan dinamika gerakan yang tengah terjadi. Semoga kita semua dapat membacanya secara jujur dan kritis. Karena hanya dengan kejernihan dan kejujuran, hikmah dapat kita petik dari setiap kejadian.
yang memiliki kesempatan untuk beramal saleh. Oleh karena itu, dalam Suplemen kali ini dijabarkan tentang hijrah bagi perempuan. Hijrah yang tidak hanya terpaku pada simbol keagamaan formalistik, tapi hijrah menuju peranan perempuan yang produktif bagi kerja-kerja ke manusiaan dalam kerangka nilai-nilai ''Islam rahmatan lil’alamin''.


'''''Pembaca yang berbahagia,'''''
Selamat membaca!


Akhirnya, kami selalu mengharapkan saran dan kritik para pembaca guna perbaikan '''Swara RAHIMA''' di hari-hari mendatang. Untuk itu, keluarga besar Rahima mengharap restu para pembaca, agar kerja yang kami lakukan akan lancar dan penuh rahmat bagi kita semua. Khususnya bagi kaum perempuan yang sampai saat ini banyak dari hak-hak dasar mereka masih belum diakui. ''Semoga Allah, Tuhan yang Maha Rahman dan Rahim, selalu memberkati upaya kita semua. Amin.''
Bogor, 11 Desember 2019


''Wassalam,''
'''Pera Sopariyanti,'''


'''''Redaksi'''''
'''Direktur Rahima'''  
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2026 13.08

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Judul : Memaknai Hijrah untuk Kemanusiaan Perempuan
Penulis : Andi Nur Fa’izah, Raudlatun
Editor : Pera Sopariyanti
Seri : Edisi 56, November 2019
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 56; Memaknai Hijrah untuk Kemanusiaan Perempuan
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 56
SeriEdisi 56, November 2019
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Pembaca yang dirahmati Allah...

Alhamdulillah, Rahima dapat kembali menerbitkan suplemen majalah Swara Rahima edisi 56 dengan tema “Memaknai Hijrah untuk Kemanusiaan Perempuan”. Tema ini dipilih sebagai respon terhadap fenomena hijrah belakangan ini. Dimana sebagian kelompok mengamalkan hijrah dengan menonjolkan simbol-simbol keagamaan. Bahkan puncak kesalehan seorang muslimah diukur dengan kesungguhan dalam menampilkan identitas keagamaan yang formalistik, seperti penggunaan niqab atau cadar. Meskipun penggunaan cadar tidak sepenuhnya keliru, namun persoalan muncul jika cadar dijadikan satu-satunya tolak ukur kesalehan. Cadar kemudian menjadi pemisah antar ‘saya’ dan ‘kamu’ atau ‘kami’ dengan ‘kalian’. ‘Saya’ atau ‘kami’ dianggap suci karena telah menjalankan syariat secara totalitas. Sedangkan yang lain Islamnya dipandang belum sempurna. Pandangan seperti ini menimbulkan perilaku keberagamaan yang tertutup (eksklusif) sehingga memicu keresahan di masyarakat. Seringkali fenomena ini berlawanan dengan nilai-nilai kesantunan dan etika yang telah lama dipegang teguh, seperti tata krama kepada orang tua, keluarga, maupun para guru.

Seorang Ulama Perempuan bercerita saat refleksi Ulama Perempuan tentang Pencegahan Ekstrimisme pada Agustus 2019 lalu di Solo. Mantan anak didiknya tiba-tiba telah menggunakan cadar saat pulang liburan semester dari Perguruan Tinggi di Jawa Tengah. Padahal ia belum lama terdaftar di Perguruan Tinggi tersbut. Ia beralasan menggunakan cadar untuk menyempurnakan ke Islamannya secara kaffah. Pemahaman yang didapat dari komunitas di lingkungan kampusnya itu juga menganggap seseorang belum menjalankan syariat Islam secara utuh jika tidak menggunakan cadar, meskipun itu ustadzahnya sendiri yang sebelumnya telah banyak menggajarkan nilai-nilai Islam kepadanya sebelum ia memasuki jejang perkuliahan. Artinya sang murid merasa lebih shaleh ketimbang Ibu Nyai yang dulu mengajarnya di pesantren itu.

Namun demikian, cerita dari seorang Ulama Perempuan di atas sifatnya kasuistik, karena tidak semua yang bercadar memiliki pandangan demikian. Penggunaan cadar bisa jadi untuk keperluan lain, seperti karena tekanan sosial dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dialog menjadi salah satu cara melihat lebih jauh sikap dan cara pandang berbusana, apapun bentuknya seyogianya menjadi bagian dari hak kebebasan berekspresi yang dijamin dalam UU.

Pembaca yang Budiman Suplemen Swara Rahima kali ini menyajikan informasi terkait dengan hijrah yang ditulis Nyai Raudlatun, biasa kami memanggil Mbak Odax, salah satu simpul Rahima di Sumenep Madura. Beliau juga merupakan dosen serta Pembina Majelis Taklim. Penulis kedua adalah Andi Nur Fa’izah, Koordinator Program Perhimpunan Rahima. Andi merupakan Alumni Kajian Gender Universitas Indonesia. Keduanya selama ini sangat aktif menyuarakan keadilan dan kesetaraan di masing-masing komunitas. Hal itu terlihat dalam tulisan hijrah ini sangat kental mengupas fenomena hijrah baik di masyarakat maupun lingkungan kampus.

Pembahasan hijrah pada suplemen ini menyajikan pemaknaan hijrah secara lebih subtantif de–ngan menghadirkan referensi dari berbagai literatur keagamaan. Memotret hijrah di masa nabi yang merupakan perpindahan dari kezaliman menuju keadilan dan penghormatan pada martabat kemanusiaan. Misi hijrah kenabian ini juga mengangkat keadilan dan kesetaraan harkat perempuan sebagai sesama hamba Allah

yang memiliki kesempatan untuk beramal saleh. Oleh karena itu, dalam Suplemen kali ini dijabarkan tentang hijrah bagi perempuan. Hijrah yang tidak hanya terpaku pada simbol keagamaan formalistik, tapi hijrah menuju peranan perempuan yang produktif bagi kerja-kerja ke manusiaan dalam kerangka nilai-nilai Islam rahmatan lil’alamin.

Selamat membaca!

Bogor, 11 Desember 2019

Pera Sopariyanti,

Direktur Rahima