Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 33; Konsep Qiwamah Perempuan dalam Islam: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 32: Baris 32:
Menurut para pengkaji isu perempuan, posisi-posisi perempuan demikian itu selain karena faktor ideologi dan budaya yang memihak laki-laki, juga karena adanya ''justifikasi'' oleh para ahli agama. Para agamawan yang menjadi pewaris Nabi ini justru melahirkan produk pemahaman atas teks-teks keagamaan yang bias gender dan diskriminatif terhadap perempuan.
Menurut para pengkaji isu perempuan, posisi-posisi perempuan demikian itu selain karena faktor ideologi dan budaya yang memihak laki-laki, juga karena adanya ''justifikasi'' oleh para ahli agama. Para agamawan yang menjadi pewaris Nabi ini justru melahirkan produk pemahaman atas teks-teks keagamaan yang bias gender dan diskriminatif terhadap perempuan.


Sepanjang sejarah perjalanan Islam telah lahir beragam karya ''tafsir'' yang ditulis oleh para ulama dalam rangka memberi penjelasan terhadap [[Al-Qur’an|Al-qur’an]]. Namun dalam mainstream kitab tafsir yang ada menunjukkan belum adanya sensitifitas terhadap kepentingan perempuan. Sebagian besar karya tafsir itu justru mengandung opini yang melihat perbedaan kelamin sebagai cara  pandang terhadap ayat-ayat ''Al-qur’an''. Tak heran jika kemudian terjadi diskriminasi gender  dalam berbagai literatur tafsir yang kini diterima dan dijadikan pegangan umat Islam. Oleh  karena itu, untuk melakukan kajian ulang sangat dibutuhkan pendekatan pemahaman yang memiliki perspektif jender. Pengkajian tentang wacana gender dalam literatur tafsir tersebut merupakan upaya meninjau kembali penafsiran ulama terhadap relasi perempuan dan laki-laki yang tidak seimbang. Karena hal itu tidak sejalan dengan misi utamanya yang mengedepankan spirit kesetaraan dan keadilan bagi setiap insan. Upaya ini harus ditempuh sebagai salah satu solusi untuk meminimalisir stigma buruk bagi perempuan. Ada beberapa asumsi teologis yang menyebabkan lahirnya suatu pemahaman keagamaan yang mensubordinasi perempuan serta memarginalkan perannya. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan Riffat Hassan, ada tiga asumsi teologis yang dikenal dalam Yahudi, Kristen, dan Islam yang menyebabkan superioritas laki-laki atas perempuan. Pertama, makhluk utama Tuhan adalah laki-laki, bukan perempuan, karena perempuan diyakini tercipta dari tulang rusuk adam, sehingga secara ontologis perempuan adalah makhluk derivatif dan nomor dua. Kedua, perempuan adalah penyebab kejatuhan laki-laki dari surga. Ketiga, perempuan tidak hanya diciptakan dari laki-laki tapi juga untuk laki-laki. Ironinya, ketiga asusmsi teologis ini kemudian dimapankan dalam berbagai karya tafsir yang kemudian menjadi basis legitimasi peminggiran
Sepanjang sejarah perjalanan Islam telah lahir beragam karya ''tafsir'' yang ditulis oleh para ulama dalam rangka memberi penjelasan terhadap [[Al-Qur’an|Al-qur’an]]. Namun dalam mainstream kitab tafsir yang ada menunjukkan belum adanya sensitifitas terhadap kepentingan perempuan. Sebagian besar karya tafsir itu justru mengandung opini yang melihat perbedaan kelamin sebagai cara  pandang terhadap ayat-ayat ''[[Al-Qur’an|Al-qur’an]]''. Tak heran jika kemudian terjadi diskriminasi gender  dalam berbagai literatur tafsir yang kini diterima dan dijadikan pegangan umat Islam. Oleh  karena itu, untuk melakukan kajian ulang sangat dibutuhkan pendekatan pemahaman yang memiliki perspektif jender. Pengkajian tentang wacana gender dalam literatur tafsir tersebut merupakan upaya meninjau kembali penafsiran ulama terhadap relasi perempuan dan laki-laki yang tidak seimbang. Karena hal itu tidak sejalan dengan misi utamanya yang mengedepankan spirit kesetaraan dan keadilan bagi setiap insan. Upaya ini harus ditempuh sebagai salah satu solusi untuk meminimalisir stigma buruk bagi perempuan. Ada beberapa asumsi teologis yang menyebabkan lahirnya suatu pemahaman keagamaan yang mensubordinasi perempuan serta memarginalkan perannya. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan Riffat Hassan, ada tiga asumsi teologis yang dikenal dalam Yahudi, Kristen, dan Islam yang menyebabkan superioritas laki-laki atas perempuan. Pertama, makhluk utama Tuhan adalah laki-laki, bukan perempuan, karena perempuan diyakini tercipta dari tulang rusuk adam, sehingga secara ontologis perempuan adalah makhluk derivatif dan nomor dua. Kedua, perempuan adalah penyebab kejatuhan laki-laki dari surga. Ketiga, perempuan tidak hanya diciptakan dari laki-laki tapi juga untuk laki-laki. Ironinya, ketiga asusmsi teologis ini kemudian dimapankan dalam berbagai karya tafsir yang kemudian menjadi basis legitimasi peminggiran


peran perempuan.
peran perempuan.
Baris 38: Baris 38:
Selain itu, faktor pendukung yang cukup berpengaruh dalam melahirkan wacana agama yang bias adalah fakta bahwa perumusan ajaran agama sejak awal didominasi oleh bangsa Arab, sebuah bangsa yang memiliki pra asumsi bias dalam memandang perempuan. Hingga kini wacana Agama masih berkiblat ke negeri Arab, sehingga tidak hanya relasi yang tidak imbang antara laki-laki dan perempuan yang mereka tanamkan dalam kesadaran masyarakat Muslim di seluruh dunia, tetapi juga relasi tidak seimbang antara Muslim dan non Muslim berdasarkan pengalaman pahit yang mereka alami hingga kini di tanah Arab.
Selain itu, faktor pendukung yang cukup berpengaruh dalam melahirkan wacana agama yang bias adalah fakta bahwa perumusan ajaran agama sejak awal didominasi oleh bangsa Arab, sebuah bangsa yang memiliki pra asumsi bias dalam memandang perempuan. Hingga kini wacana Agama masih berkiblat ke negeri Arab, sehingga tidak hanya relasi yang tidak imbang antara laki-laki dan perempuan yang mereka tanamkan dalam kesadaran masyarakat Muslim di seluruh dunia, tetapi juga relasi tidak seimbang antara Muslim dan non Muslim berdasarkan pengalaman pahit yang mereka alami hingga kini di tanah Arab.
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]