Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 43; Menjadi Remaja, Menjadi Dilema: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(2 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2013/11/07/edisi-43-2/ Swara Rahima]
|-
|-
|Tema
|Tema
|:
|:
|Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempuan
|Menjadi Remaja, Menjadi Dilema
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Irma Riyani, MA
|Irza Anwar Syaddad
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| A. Dicky Sofyan
| ''AD Kusumaningtyas''
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Edisi 29, Desember 2009
|Edisi 43, November 2013
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 27: Baris 27:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download]
|[https://swararahima.com/2013/11/07/edisi-43-2/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 29.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 29, Desember 2009|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|note=[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 43.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 43|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 43, November 2013|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 43|note=[https://swararahima.com/2013/11/07/edisi-43-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
Puji dan syukur senantiasa kita haturkan ke hadirat Allah swt., Sang Pencipta Kehidupan dan Penguasa Semesta. Atas berkat karunia-Nya serta curahan rahmatNya yang maha luas karena kita masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan ibadah dan kerja-kerja kemanusiaan.


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?” Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.
Shalawat dan salam, semoga selalu menyertai junjungan kita Nabi Muhammad saw. yang telah menanamkan ajaran Islam yang senantiasa menghargai kehidupan, memberi makna akan hadirnya generasi mendatang, serta menyambut hari esok penuh dengan optimisme. Sebagaimana termaktub dalam salah satu sabdanya, “''Inna fi yadi al-syubbani amr al-ummah. Wa fi iqdamiha hayataha''”. Sesungguhnya di tangan generasi muda-lah urusan umat itu akan diletakkan. Dan dalam segala kemajuannya, terletak perkembangan kehidupannya.


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
Mudah-mudahan dengan memahami ''spirit'' ini, kita menjadi dapat lebih mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh kaum muda dalam membangun kehidupan mendatang.


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
'''''Pembaca setia Swara Rahima yang dirahmati Allah swt.,'''''


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
Suplemen Edisi 43 kali ini ditulis oleh seorang kader muda yang berasal dari [[komunitas]] santri yang menjadi mahasiswa pada sebuah perguruan tinggi di Margoyoso, Pati. Irza Anwar Syaddad, demikian nama penulis mengangkat sebuah tema ''Menjadi Remaja, Menjadi Dilema: Menelisik Polemik Seputar Kedewasaan''. Perbincangan mengenai definisi “kedewasaan” dalam Ilmu Psikologi, dan wacana “''baligh''” dalam literatur ''[[Fiqh]]'' mengusik perhatiannya untuk menelaah lebih lanjut. Dia melakukan pembacaan kritis atas opini masyarakat yang memandang bahwa remaja adalah manusia yang belum matang, tetap kanak-kanak, sehingga terdorong untuk menciptakan ''problem'' atau masalah. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa memang wajar bila di era remaja ini mereka melakukan kekacauan sehingga muncul istilah ‘kenakalan remaja’ atau ‘''juvenile delinquency’''.


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
Dalam literatur ''fiqh'' dielaborasi makna “''baligh''” yang secara umum banyak menjelaskan tentang perubahan ciriciri fisik seperti terjadinya menstruasi (haid) pertama pada anak perempuan, dan mimpi basah (''ihtilam'') pada anak laki-laki. Semua ciri-ciri ini hanya menyebutkan fenomena yang bersifat badany atau fisikal. Oleh karena itu, dalam konteks pembebanan ketetapan hukum, kata “''baligh''” selalu disandingkan dengan kata “’''aqil''”, sehingga muncullah istilah baru “’''aqil-baligh''” untuk menggambarkan kesatuan kedewasan fisik dan mental seseorang.


Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
Oleh karena itu, dalam uraian tulisannya ini, Irza menolak untuk menetapkan remaja sebagai “biang masalah”. Beragam fakta yang disajikannya mengenai trend penyiraman air keras yang dilalukan oleh sekelompok Anak Baru Gede (ABG) maupun fenomena tentang munculnya kasus-kasus kehamilan di usia remaja bukanlah justifikasi atas ''stereotype'' yang berkembang tentang remaja. Remaja, justru merupakan sosok dambaan bagi masa depan generasi. Mereka adalah sosok yang telah memahami hati dirinya, yang senantiasa mengisi hari-harinya dengan karya positif. Seperti yang diungkapkan dalam salah satu ''mahfuzhat'' (pepatah Arab) : “''Inna al-fataa alladzii yaquulu haa ana dzaa. Wa laisa al-fataa alladzii yaquulu kaana abii…''” (Sesungguhnya anak muda adalah orang yang –menepuk dadanya- dan berkata “inilah aku”, dan bukanlah anak muda itu adalah orang yang mengatakan “bapakku adalah” -dalam arti bergantung dan membanggakan pada orang tuanya.


''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
'''''Para pembaca Swara Rahima yang budiman dan baik hati'''''


Jakarta, November 2009
Pada tulisan yang disajikannya, Irza juga mengutip bagaimana pandangan-pandangan Psikolog mengenai makna “dewasa”. Ia juga mengemukakan pandangan Anna Freud (putri dari [[tokoh]] Psikoanalisis Sigmund Freud) tentang kedewasaan, mengulasnya, mengkritiknya, dan menjelaskan letak ‘kesalahan’ analisis yang dilakukannya dalam memahami remaja. Penstigmaan remaja, permakluman akan tindakan kesalahan yang dilakukannya, maupun cap-cap negatif yang diberikan padanya hanya akan membuat remaja selalu menjadi ‘tokoh yang bermasalah”. Di antara ''labelling'' itu dengan menyebut remaja sebagai “Ababil” (ABG labil).


'''''Redaksi'''''
Tak lupa dia mengangkat soal isu “''baligh''” yang hanya dalam arti fisik itu dengan tema kesehatan reproduksi lainnya, yaitu soal isu ‘kesehatan rahim’. Dalam pemaparannya, Irza memberikan ‘''tt''’ agar kita jangan sampai menikahkan anak dalam usia yang terlalu muda sehingga mengakibatkan kehamilan di usia remaja. Kerentanan rahim akibat peristiwa kehamilan pada usia yang masih terlalu dini serta ancaman mengalami kematian bayi, yang disajikannya berdasarkan pengalaman Nenek (Simbah Putri)-nya membuat tulisan ini menjadi reflektif atas realitas sosial.


Kami berharap, setelah membaca tulisan ini kita bisa melakukan penyadaran agar masyarakat lebih mengapresiasi gerakan kaum muda. Di samping itu, menjadi ajang pembuktian agar remaja tidak selalu dipersalahkan dan dianggap sebagai ''trouble maker'', dengan mencetak prestasi. Hanya dengan cara inilah –di samping pembuktian tiadanya perbedaan jenis kelamin-, tiadanya perbedaan usia yang secara signifikan membuat seseorang meraih predikat “''taqwa''”.
Mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan dari sajian kami melalui suplemen ''Swara Rahima'' edisi 43 kali. Akhirnya kami ucapkan Selamat membaca!
Jakarta, November 2013
'''Redaksi'''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2026 13.06

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Menjadi Remaja, Menjadi Dilema
Penulis : Irza Anwar Syaddad
Editor : AD Kusumaningtyas
Seri : Edisi 43, November 2013
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 43; Menjadi Remaja, Menjadi Dilema
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 43
SeriEdisi 43, November 2013
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji dan syukur senantiasa kita haturkan ke hadirat Allah swt., Sang Pencipta Kehidupan dan Penguasa Semesta. Atas berkat karunia-Nya serta curahan rahmatNya yang maha luas karena kita masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan ibadah dan kerja-kerja kemanusiaan.

Shalawat dan salam, semoga selalu menyertai junjungan kita Nabi Muhammad saw. yang telah menanamkan ajaran Islam yang senantiasa menghargai kehidupan, memberi makna akan hadirnya generasi mendatang, serta menyambut hari esok penuh dengan optimisme. Sebagaimana termaktub dalam salah satu sabdanya, “Inna fi yadi al-syubbani amr al-ummah. Wa fi iqdamiha hayataha”. Sesungguhnya di tangan generasi muda-lah urusan umat itu akan diletakkan. Dan dalam segala kemajuannya, terletak perkembangan kehidupannya.

Mudah-mudahan dengan memahami spirit ini, kita menjadi dapat lebih mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh kaum muda dalam membangun kehidupan mendatang.

Pembaca setia Swara Rahima yang dirahmati Allah swt.,

Suplemen Edisi 43 kali ini ditulis oleh seorang kader muda yang berasal dari komunitas santri yang menjadi mahasiswa pada sebuah perguruan tinggi di Margoyoso, Pati. Irza Anwar Syaddad, demikian nama penulis mengangkat sebuah tema Menjadi Remaja, Menjadi Dilema: Menelisik Polemik Seputar Kedewasaan. Perbincangan mengenai definisi “kedewasaan” dalam Ilmu Psikologi, dan wacana “baligh” dalam literatur Fiqh mengusik perhatiannya untuk menelaah lebih lanjut. Dia melakukan pembacaan kritis atas opini masyarakat yang memandang bahwa remaja adalah manusia yang belum matang, tetap kanak-kanak, sehingga terdorong untuk menciptakan problem atau masalah. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa memang wajar bila di era remaja ini mereka melakukan kekacauan sehingga muncul istilah ‘kenakalan remaja’ atau ‘juvenile delinquency’.

Dalam literatur fiqh dielaborasi makna “baligh” yang secara umum banyak menjelaskan tentang perubahan ciriciri fisik seperti terjadinya menstruasi (haid) pertama pada anak perempuan, dan mimpi basah (ihtilam) pada anak laki-laki. Semua ciri-ciri ini hanya menyebutkan fenomena yang bersifat badany atau fisikal. Oleh karena itu, dalam konteks pembebanan ketetapan hukum, kata “baligh” selalu disandingkan dengan kata “’aqil”, sehingga muncullah istilah baru “’aqil-baligh” untuk menggambarkan kesatuan kedewasan fisik dan mental seseorang.

Oleh karena itu, dalam uraian tulisannya ini, Irza menolak untuk menetapkan remaja sebagai “biang masalah”. Beragam fakta yang disajikannya mengenai trend penyiraman air keras yang dilalukan oleh sekelompok Anak Baru Gede (ABG) maupun fenomena tentang munculnya kasus-kasus kehamilan di usia remaja bukanlah justifikasi atas stereotype yang berkembang tentang remaja. Remaja, justru merupakan sosok dambaan bagi masa depan generasi. Mereka adalah sosok yang telah memahami hati dirinya, yang senantiasa mengisi hari-harinya dengan karya positif. Seperti yang diungkapkan dalam salah satu mahfuzhat (pepatah Arab) : “Inna al-fataa alladzii yaquulu haa ana dzaa. Wa laisa al-fataa alladzii yaquulu kaana abii…” (Sesungguhnya anak muda adalah orang yang –menepuk dadanya- dan berkata “inilah aku”, dan bukanlah anak muda itu adalah orang yang mengatakan “bapakku adalah” -dalam arti bergantung dan membanggakan pada orang tuanya.

Para pembaca Swara Rahima yang budiman dan baik hati

Pada tulisan yang disajikannya, Irza juga mengutip bagaimana pandangan-pandangan Psikolog mengenai makna “dewasa”. Ia juga mengemukakan pandangan Anna Freud (putri dari tokoh Psikoanalisis Sigmund Freud) tentang kedewasaan, mengulasnya, mengkritiknya, dan menjelaskan letak ‘kesalahan’ analisis yang dilakukannya dalam memahami remaja. Penstigmaan remaja, permakluman akan tindakan kesalahan yang dilakukannya, maupun cap-cap negatif yang diberikan padanya hanya akan membuat remaja selalu menjadi ‘tokoh yang bermasalah”. Di antara labelling itu dengan menyebut remaja sebagai “Ababil” (ABG labil).

Tak lupa dia mengangkat soal isu “baligh” yang hanya dalam arti fisik itu dengan tema kesehatan reproduksi lainnya, yaitu soal isu ‘kesehatan rahim’. Dalam pemaparannya, Irza memberikan ‘tt’ agar kita jangan sampai menikahkan anak dalam usia yang terlalu muda sehingga mengakibatkan kehamilan di usia remaja. Kerentanan rahim akibat peristiwa kehamilan pada usia yang masih terlalu dini serta ancaman mengalami kematian bayi, yang disajikannya berdasarkan pengalaman Nenek (Simbah Putri)-nya membuat tulisan ini menjadi reflektif atas realitas sosial.

Kami berharap, setelah membaca tulisan ini kita bisa melakukan penyadaran agar masyarakat lebih mengapresiasi gerakan kaum muda. Di samping itu, menjadi ajang pembuktian agar remaja tidak selalu dipersalahkan dan dianggap sebagai trouble maker, dengan mencetak prestasi. Hanya dengan cara inilah –di samping pembuktian tiadanya perbedaan jenis kelamin-, tiadanya perbedaan usia yang secara signifikan membuat seseorang meraih predikat “taqwa”.

Mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan dari sajian kami melalui suplemen Swara Rahima edisi 43 kali. Akhirnya kami ucapkan Selamat membaca!

Jakarta, November 2013

Redaksi