Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 44; Antara Perempuan, Keledai dan Anjing: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Suplemen:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima] |- |Tema |: |Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempua...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(2 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2014/03/07/edisi-44-2/ Swara Rahima]
|-
|-
|Tema
|Tema
|:
|:
|Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempuan
|Antara Perempuan, Keledai dan Anjing
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Irma Riyani, MA
|Isti’anah, S.Th.I, M.Ag
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| A. Dicky Sofyan
| ''AD Kusumaningtyas''
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Edisi 29, Desember 2009
|Edisi 44, Maret 2014
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 27: Baris 27:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download]
|[https://swararahima.com/2014/03/07/edisi-44-2/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 29.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 29, Desember 2009|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|note=[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 44.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 44|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 44, Maret 2014|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 44|note=[https://swararahima.com/2014/03/07/edisi-44-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
''Alhamdulillahirabbil ‘alamien.'' Ungkapan rasa syukur yang tak terkira kita haturkan ke hadirat Allah swt. Kasih sayang dan karuniaNya selalu menemani kita dalam menjalankan berbagai amal shaleh dan tugas kemanusiaan.


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?” Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,” maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada Baginda Rasulullah saw. Beliaulah suri tauladan kita para umatnya dalam menebar kebaikan di muka bumi. Termasuk di dalamnya menyampaikan dan mengimlementasikan ajarannya tentang kesetaraan dan keadilan di antara sesama umat manusia, laki-laki dan perempuan.


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
'''Pembaca setia ''Swara Rahima'' yang dirahmati Allah swt.'''


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
Suplemen pada edisi ke 44 majalah ''Swara Rahima'' kali ini akan membahas kajian mendalam yang dilakukan oleh Istianah, peserta program Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) II dan Penguatan [[Tokoh]] Agama wilayah Jawa Barat. Tulisan ini merupakan perenungan panjang yang terinspirasi dari tesis S2-nya di UIN Bandung. Ia mengangkat judul ''Antara Perempuan, Keledai dan Anjing ( Kritik atas Matan Hadis Nabi)'' untuk tulisannya ini.


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
Tulisan ini hadir sebagai refleksi mendalamnya atas banyaknya hadis-hadis yang ditengarai mengandung muatan misoginis (baca : membenci perempuan). Banyaknya argumen-argumen keagamaan yang terkesan mendiskriminasikan perempuan yang seringkali dirujuk oleh para tokoh agama (yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki), membuatnya mempertanyakan hal ini. Oleh karenanya, dengan disiplin ilmu konsentrasi studi hadis-nya, Isti berusaha untuk mengkaji kembali hadis yang bersifat misoginis tersebut. Dan topik di atas diangkatnya untuk bisa menelaah hadis-hadis secara mendalam, dengan mengembangkan kembali pendekatan dalam ilmu ''musthalah al-[[hadits]].'' Tidak saja mengungkapkan soal pendekatan kritik ''sanad'' atas hadis, Isti juga kembali berupaya untuk mempopularkan pendekatan kritik ''matan''. Sebuah tinjauan sejarah yang pada awalnya dilakukan, namun belakangan hampir dilupakan dalam ilmu hadis yang berkembang akhir-akhir ini.


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
'''Para pembaca ''Swara Rahima'' yang berbahagia,'''


Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
Memandang perempuan sebagai salah satu sumber kesialan, atau menganggap dia sebagai pihak yang harus dituding menjadi penyebab membatalkan shalat, tentu merupakan argumen-argumen yang membuatnya geram. Mengapa? Karena terlalu menyudutkan perempuan. Padahal, mustahil Allah dan Rasulnya mengajarkan sikap diskriminatif di antara sesama manusia ciptaan-Nya.


''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
Refleksi atas pengalaman perempuan membuat Isti mempertanyakan kembali informasi-informasi terkait dengan ajaran agama yang didapatkannya selama ini. Dominasi kaum laki-laki yang menjadi tokoh agamawan yang acapkali menjadi sumber rujukan, kadang-kadang memang perlu dipertanyakan. Mungkin, hal tersebut akan menginspirasi para perempuan untuk menjadi ''mufassirah.''


Jakarta, November 2009
Melalui tulisan ini, diharapkan para pembaca juga akan termotivasi untuk melakukan kajian serupa dengan mengangkat topik-topik lainnya. Dari tulisan ini sendiri, mudah-mudahan ada banyak pelajaran dan inspirasi yang bisa diambil. Semoga sajian suplemen ''Swara Rahima'' edisi ke-44 ini bermanfaat. Dan akhirnya kami ucapkan Selamat membaca!
 
Jakarta, Maret 2014


'''''Redaksi'''''
'''''Redaksi'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2026 13.07

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Antara Perempuan, Keledai dan Anjing
Penulis : Isti’anah, S.Th.I, M.Ag
Editor : AD Kusumaningtyas
Seri : Edisi 44, Maret 2014
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 44; Antara Perempuan, Keledai dan Anjing
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 44
SeriEdisi 44, Maret 2014
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillahirabbil ‘alamien. Ungkapan rasa syukur yang tak terkira kita haturkan ke hadirat Allah swt. Kasih sayang dan karuniaNya selalu menemani kita dalam menjalankan berbagai amal shaleh dan tugas kemanusiaan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah pada Baginda Rasulullah saw. Beliaulah suri tauladan kita para umatnya dalam menebar kebaikan di muka bumi. Termasuk di dalamnya menyampaikan dan mengimlementasikan ajarannya tentang kesetaraan dan keadilan di antara sesama umat manusia, laki-laki dan perempuan.

Pembaca setia Swara Rahima yang dirahmati Allah swt.

Suplemen pada edisi ke 44 majalah Swara Rahima kali ini akan membahas kajian mendalam yang dilakukan oleh Istianah, peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) II dan Penguatan Tokoh Agama wilayah Jawa Barat. Tulisan ini merupakan perenungan panjang yang terinspirasi dari tesis S2-nya di UIN Bandung. Ia mengangkat judul Antara Perempuan, Keledai dan Anjing ( Kritik atas Matan Hadis Nabi) untuk tulisannya ini.

Tulisan ini hadir sebagai refleksi mendalamnya atas banyaknya hadis-hadis yang ditengarai mengandung muatan misoginis (baca : membenci perempuan). Banyaknya argumen-argumen keagamaan yang terkesan mendiskriminasikan perempuan yang seringkali dirujuk oleh para tokoh agama (yang kebanyakan berjenis kelamin laki-laki), membuatnya mempertanyakan hal ini. Oleh karenanya, dengan disiplin ilmu konsentrasi studi hadis-nya, Isti berusaha untuk mengkaji kembali hadis yang bersifat misoginis tersebut. Dan topik di atas diangkatnya untuk bisa menelaah hadis-hadis secara mendalam, dengan mengembangkan kembali pendekatan dalam ilmu musthalah al-hadits. Tidak saja mengungkapkan soal pendekatan kritik sanad atas hadis, Isti juga kembali berupaya untuk mempopularkan pendekatan kritik matan. Sebuah tinjauan sejarah yang pada awalnya dilakukan, namun belakangan hampir dilupakan dalam ilmu hadis yang berkembang akhir-akhir ini.

Para pembaca Swara Rahima yang berbahagia,

Memandang perempuan sebagai salah satu sumber kesialan, atau menganggap dia sebagai pihak yang harus dituding menjadi penyebab membatalkan shalat, tentu merupakan argumen-argumen yang membuatnya geram. Mengapa? Karena terlalu menyudutkan perempuan. Padahal, mustahil Allah dan Rasulnya mengajarkan sikap diskriminatif di antara sesama manusia ciptaan-Nya.

Refleksi atas pengalaman perempuan membuat Isti mempertanyakan kembali informasi-informasi terkait dengan ajaran agama yang didapatkannya selama ini. Dominasi kaum laki-laki yang menjadi tokoh agamawan yang acapkali menjadi sumber rujukan, kadang-kadang memang perlu dipertanyakan. Mungkin, hal tersebut akan menginspirasi para perempuan untuk menjadi mufassirah.

Melalui tulisan ini, diharapkan para pembaca juga akan termotivasi untuk melakukan kajian serupa dengan mengangkat topik-topik lainnya. Dari tulisan ini sendiri, mudah-mudahan ada banyak pelajaran dan inspirasi yang bisa diambil. Semoga sajian suplemen Swara Rahima edisi ke-44 ini bermanfaat. Dan akhirnya kami ucapkan Selamat membaca!

Jakarta, Maret 2014

Redaksi