Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 46; Memaknai Kembali Birr Al-Walidain: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 30: Baris 30:
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 46.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 46|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 46, Oktober 2014|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 46|note=[https://swararahima.com/2014/10/07/edisi-46-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 46.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 46|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 46, Oktober 2014|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 46|note=[https://swararahima.com/2014/10/07/edisi-46-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
''Alhamdulillah,'' segala puji syukur kita haturkan ke hadirat Ilahi Rabbi, atas limpahan rahmat, karunia, dan anugerah-Nya, kita memiliki kekuatan untuk bisa menjalankan peran sebagai Khalifah-Nya di muka bumi. Menjalankan berbagai amal saleh dan tugas kemanusiaan, belajar untuk melakukan hal-hal positif yang berguna bagi sesama.


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?” Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,” maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.
''Shalawat'' dan ''salam'' semoga terlimpah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw. yang menjadi suri tauladan bagi manusia ''(uswatun hasanah)'', terutama dalam memperbaiki akhlak manusia sebagaimana sabdanya, ''“Innama bu’itstu li-utammima makaarima al-akhlaaq”'' (Sesungguhnya aku diutus oleh Allah swt. tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia).


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
''Pembaca yang budiman,''


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
Di antara ajaran yang disampaikan kepada umat manusia adalah perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, yang sering kita kenal dengan ''birr al-walidain.'' Orang tua adalah sosok yang memiliki andil sangat besar bagi kehadiran umat manusia di dunia, sekaligus berperan penting dalam proses pendewasaan diri dan pembentukan kepribadian kita. Mereka diajarkan agar memperlakukan anaknya penuh kasih sayang dan menghindarkan anakanak dari tindak kekerasan. Sebagaimana contoh yang diberikan oleh Rasulullah saw., saat seorang Ibu merenggut anaknya yang buang air kecil dan saat itu tengah ada dalam gendongan beliau. Pada si Ibu, Rasulullah bersabda, “Kencing bayi ini bisa dibersihkan, tetapi perlakuanmu merenggutnya dengan kasar dari gendonganku akan berbekas dalam dirinya sepanjang hidupnya.


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
Oleh karena itu, atas ketelatenan orang tua terutama Ibu dalam mengandung, membesarkan dan merawat kita, setiap kita diperintahkan untuk berbakti kepada orang tua. Dalam Islam, istilah ini dikenal dengan ''Birr-al-walidain''.


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
Bagaimana makna ''birr al-walidain'' perlu kita perbincangkan kembali di tengah situasi dimana para orang tua (lansia) mengalami beragam masalah dalam kehidupan mereka di usia senja? Tema ini menarik perhatian Muhadditsir Rifa’i, seorang Dosen di Institut Agama Islam (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon yang juga peserta Pendidikan Ulama Laki-laki (PUL) Rahima. Melalui rubrik Suplemen ''Swara Rahima'' edisi ke-46 ini, Rifai akan berbagi hasil pemikiran dan kajiannya mengenai berbagai teks keagamaan Islam terkait tentang berbakti pada orang tua.


Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
''Pembaca yang dirahmati Allah,''


''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
Mengapa menghidupkan ajaran tentang ''birr al-walidain'' ini penting? Hal ini tidak terlepas dari perkembangan kehidupan zaman modern yang semakin individualis, terkadang mengabaikan nilai-nilai peran keluarga besar termasuk orang tua. Bergesernya piramida penduduk, dimana populasi jumlah orang lanjut usia ''(lansia)'' semakin banyak ternyata juga membutuhkan peran negara untuk mengatasinya.


Jakarta, November 2009
Menurut data Profil Penduduk Perempuan Indonesia yang diterbitkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) bekerjasama dengan Biro Pusat Statistik (BPS) Tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah penduduk lanjut usia berjumlah 19,44 juta jiwa. Persentase penduduk lansia yang telah mencapai angka di atas 7% menunjukan bahwa Indonesia sudah masuk kelompok negara berstruktur tua ''(ageing population).'' Dari jumlah penduduk lanjut usia tersebut di atas persentase jumlah lanjut usia perempuan sekitar 53,76 persen dan jumlah lanjut usia laki-laki sekitar sekitar 46,24 persen. Situasi itu memperlihatkan bahwa usia harapan hidup lansia perempuan lebih tinggi dibandingkan lansia lakilaki. Di antara penyebabnya adalah faktor sosial budaya yang mengkonstruksikan perempuan sudah terbiasa mandiri sejak kecil, melakukan banyak tugas ''(multi tasking)'' dan dapat menyelesaikan beberapa persoalan sekaligus.
 
''Pembaca Swara Rahima yang dirahmati Allah swt.''
 
Tak heran, bila dalam sebuah hadis dinyatakan, ketika Rasulullah saw. mendapatkan pertanyaan tentang siapa yang terlebih dahulu kita hormati, beliau menjawab dengan kata “Ibumu, ibumu, ibumu.” Pernyataan yang diulang hingga tiga kali tersebut setidaknya berkait erat dengan kerentanan yang dialami oleh perempuan, yang memiliki beban lebih berat akibat fungsi reproduksi yang dimilikinya ini. Mulai dari menghadapi resiko kematian akibat persoalan reproduksi (AKI), kerentanan mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga (KdRT) akibat stereotipe atas tugas reproduksinya, hingga peliknya persoalan yang dihadapinya saat usianya semakin menua. Oleh karenanya, bila dalam Alquran dinyatakan larangan untuk mengatakan “ah” kepada orang tua, tentu hal tersebut harus dibarengi dengan upaya serius pemenuhan hak-hak lansia dan jaminan atas kesejahteraan mereka dalam arti fisik, psikis, maupun sosial di hari tua oleh negara.
 
Yang tak boleh dilupakan adalah bagaimana mengajak masyarakat untuk menghormati kedua orang tua dan berbakti kepada orang tua, meskipun terkadang mereka memiliki pilihan hidup termasuk keyakinan yang berbeda dengan anak-anaknya. Dalam berbagai perbedaan itu diharapkan dapat muncul kearifan dan kesungguhan untuk mengekspresikan cinta kepada kedua orang tua, yang meskipun dengan cara sederhana tetap dapat menguatkan ikatan batin antara anak dengan orang tua.
 
Demikianlah sedikit pengantar dari Redaksi, akhirnya kami ucapkan “Selamat membaca”.
 
''Wassalamu’alaikum Wr.Wb.''


'''''Redaksi'''''
'''''Redaksi'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2026 13.07

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Memaknai Kembali Birr Al-Walidain
Penulis : Muhadditsir Rifa’i
Editor : AD. Kusumaningtyas
Seri : Edisi 46, Oktober 2014
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 46; Memaknai Kembali Birr Al-Walidain
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 46
SeriEdisi 46, Oktober 2014
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, segala puji syukur kita haturkan ke hadirat Ilahi Rabbi, atas limpahan rahmat, karunia, dan anugerah-Nya, kita memiliki kekuatan untuk bisa menjalankan peran sebagai Khalifah-Nya di muka bumi. Menjalankan berbagai amal saleh dan tugas kemanusiaan, belajar untuk melakukan hal-hal positif yang berguna bagi sesama.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw. yang menjadi suri tauladan bagi manusia (uswatun hasanah), terutama dalam memperbaiki akhlak manusia sebagaimana sabdanya, “Innama bu’itstu li-utammima makaarima al-akhlaaq” (Sesungguhnya aku diutus oleh Allah swt. tak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia).

Pembaca yang budiman,

Di antara ajaran yang disampaikan kepada umat manusia adalah perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, yang sering kita kenal dengan birr al-walidain. Orang tua adalah sosok yang memiliki andil sangat besar bagi kehadiran umat manusia di dunia, sekaligus berperan penting dalam proses pendewasaan diri dan pembentukan kepribadian kita. Mereka diajarkan agar memperlakukan anaknya penuh kasih sayang dan menghindarkan anakanak dari tindak kekerasan. Sebagaimana contoh yang diberikan oleh Rasulullah saw., saat seorang Ibu merenggut anaknya yang buang air kecil dan saat itu tengah ada dalam gendongan beliau. Pada si Ibu, Rasulullah bersabda, “Kencing bayi ini bisa dibersihkan, tetapi perlakuanmu merenggutnya dengan kasar dari gendonganku akan berbekas dalam dirinya sepanjang hidupnya.”

Oleh karena itu, atas ketelatenan orang tua terutama Ibu dalam mengandung, membesarkan dan merawat kita, setiap kita diperintahkan untuk berbakti kepada orang tua. Dalam Islam, istilah ini dikenal dengan Birr-al-walidain.

Bagaimana makna birr al-walidain perlu kita perbincangkan kembali di tengah situasi dimana para orang tua (lansia) mengalami beragam masalah dalam kehidupan mereka di usia senja? Tema ini menarik perhatian Muhadditsir Rifa’i, seorang Dosen di Institut Agama Islam (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon yang juga peserta Pendidikan Ulama Laki-laki (PUL) Rahima. Melalui rubrik Suplemen Swara Rahima edisi ke-46 ini, Rifai akan berbagi hasil pemikiran dan kajiannya mengenai berbagai teks keagamaan Islam terkait tentang berbakti pada orang tua.

Pembaca yang dirahmati Allah,

Mengapa menghidupkan ajaran tentang birr al-walidain ini penting? Hal ini tidak terlepas dari perkembangan kehidupan zaman modern yang semakin individualis, terkadang mengabaikan nilai-nilai peran keluarga besar termasuk orang tua. Bergesernya piramida penduduk, dimana populasi jumlah orang lanjut usia (lansia) semakin banyak ternyata juga membutuhkan peran negara untuk mengatasinya.

Menurut data Profil Penduduk Perempuan Indonesia yang diterbitkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) bekerjasama dengan Biro Pusat Statistik (BPS) Tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah penduduk lanjut usia berjumlah 19,44 juta jiwa. Persentase penduduk lansia yang telah mencapai angka di atas 7% menunjukan bahwa Indonesia sudah masuk kelompok negara berstruktur tua (ageing population). Dari jumlah penduduk lanjut usia tersebut di atas persentase jumlah lanjut usia perempuan sekitar 53,76 persen dan jumlah lanjut usia laki-laki sekitar sekitar 46,24 persen. Situasi itu memperlihatkan bahwa usia harapan hidup lansia perempuan lebih tinggi dibandingkan lansia lakilaki. Di antara penyebabnya adalah faktor sosial budaya yang mengkonstruksikan perempuan sudah terbiasa mandiri sejak kecil, melakukan banyak tugas (multi tasking) dan dapat menyelesaikan beberapa persoalan sekaligus.

Pembaca Swara Rahima yang dirahmati Allah swt.

Tak heran, bila dalam sebuah hadis dinyatakan, ketika Rasulullah saw. mendapatkan pertanyaan tentang siapa yang terlebih dahulu kita hormati, beliau menjawab dengan kata “Ibumu, ibumu, ibumu.” Pernyataan yang diulang hingga tiga kali tersebut setidaknya berkait erat dengan kerentanan yang dialami oleh perempuan, yang memiliki beban lebih berat akibat fungsi reproduksi yang dimilikinya ini. Mulai dari menghadapi resiko kematian akibat persoalan reproduksi (AKI), kerentanan mengalami tindak kekerasan dalam rumah tangga (KdRT) akibat stereotipe atas tugas reproduksinya, hingga peliknya persoalan yang dihadapinya saat usianya semakin menua. Oleh karenanya, bila dalam Alquran dinyatakan larangan untuk mengatakan “ah” kepada orang tua, tentu hal tersebut harus dibarengi dengan upaya serius pemenuhan hak-hak lansia dan jaminan atas kesejahteraan mereka dalam arti fisik, psikis, maupun sosial di hari tua oleh negara.

Yang tak boleh dilupakan adalah bagaimana mengajak masyarakat untuk menghormati kedua orang tua dan berbakti kepada orang tua, meskipun terkadang mereka memiliki pilihan hidup termasuk keyakinan yang berbeda dengan anak-anaknya. Dalam berbagai perbedaan itu diharapkan dapat muncul kearifan dan kesungguhan untuk mengekspresikan cinta kepada kedua orang tua, yang meskipun dengan cara sederhana tetap dapat menguatkan ikatan batin antara anak dengan orang tua.

Demikianlah sedikit pengantar dari Redaksi, akhirnya kami ucapkan “Selamat membaca”.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Redaksi