Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 47; Meretas Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan Melalui Bahasa: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Suplemen:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima] |- |Tema |: |Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempua...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2014/12/07/edisi-47-2/ Swara Rahima]
|-
|-
|Tema
|Tema
|:
|:
|Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempuan
|Meretas Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan Melalui Bahasa
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Irma Riyani, MA
|Nia Ramdaniati
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| A. Dicky Sofyan
| ''[[AD. Kusumaningtyas]]''
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Edisi 29, Desember 2009
|Edisi 47, Desember 2014
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 27: Baris 27:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download]
|[https://swararahima.com/2014/12/07/edisi-47-2/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 29.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 29, Desember 2009|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|note=[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 47.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 47|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 47, Desember 2014|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 47|note=[https://swararahima.com/2014/12/07/edisi-47-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
''Alhamdulillah,'' segala puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah swt. Berkat rahmat dan karunia-Nya, kita masih mendapatkan kesempatan untuk melalui hari-hari dan mengisinya dengan kerja-kerja kemanusiaan dalam rangka pengabdian kita pada-Nya. Keberadaan kita sebagai manusia, lelaki dan perempuan di mata-Nya adalah sama. Oleh karena itu, tak mungkin Allah menyia-nyiakan setiap amal saleh dan amal kebajikan yang kita lakukan.


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?” Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,” maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.
''Shalawat dan salam'', semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. sang pembaharu dan pembawa gagasan revolusioner yang mengubah [[tradisi]] masyarakat Arab pra Islam yang patriarkis sehingga lebih menghormati dan menghargai perempuan. Konteks zaman dimana beliau lahir dan dibesarkan memang dipengaruhi kultur sosial yang masih mendiskriminasikan laki-laki dan perempuan. Termasuk di dalamnya, penggunaan bahasa yang mengandung nilai-nilai misoginis dan merendahkan perempuan.


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
''Pembaca yang mulia,''


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
Sebuah pepatah mengatakan ''“bahasa menunjukkan bangsa”.'' Penggunaan bahasa juga mencerminkan kultur dan struktur masyarakat penggunanya. Bila bahasa Indonesia yang sehari-hari kita gunakan tidak mengenal perbedaan gender, penggunaan kata ganti berdasarkan jumlah orang, ruang, dan waktu, tidak demikian halnya bahasa-bahasa lainnya. Bahasa Jawa dan bahasa Sunda, misalnya dipengaruhi oleh stratifikasi sosial berdasarkan usia untuk menunjukkan ‘kadar keakraban’ dan ‘kadar kesopanan’ pada sesama, orang tua, maupun kelompok yang dipandang terhormat lainnya. Sementara, Bahasa Arab dan Inggris mengenal perbedaan kata ganti orang, waktu, dan jenis kelamin. Khusus Bahasa Arab, pengaruh gender sedemikian kuatnya. Oleh karenanya, hal ini menarik perhatian seorang Nia Ramdhaniati, peserta program Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) Angkatan II wilayah Jawa Barat untuk mengupas dan mengkajinya. Hasil kajiannya kami sajikan dalam tulisan pada Suplemen berjudul “''Meretas Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan Melalui Bahasa”'' pada ''Swara Rahima'' edisi ke-47 kali ini.


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
Menurutnya, ini penting karena Bahasa Arab dipandang sebagai ''Lughah al-Quran'' (Bahasa Alquran), sementara Alquran diturunkan dalam konteks masa lalu bangsa Arab yang dikenal patriarkis itu. Ada apa gerangan dengan rahasia Tuhan menurunkan Alquran melalui bahasa Arab ini. Tentu ada banyak pelajaran berharga, disamping bahasa Arab adalah yang bahasa yang digunakan oleh Rasulullah saw. sehari-hari.


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
''Pembaca yang budiman,''


Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
Salah satu kaidah dalam Bahasa Arab menyebutkan ''“kullu jam’in muannats”'' (setiap yang jamak adalah ''muannats''/berjenis kelamin perempuan). Mengapa setiap kata yang berkonotasi perempuan digunakan sebagai alat untuk merendahkan? Mengapa pula dalam Alquran, banyak seruan kepada orang-orang yang beriman dibahasakan dengan bentuk ''jamak mudzakkar salim (plural masculine)'' dengan frasa ''“ya ayyuhalladziina aamanuu”'' (“wahai orang-orang yang beriman” –yang bisa diartikan secara ''letterlijk “''wahai kamu sekalian kaum laki-laki yang beriman”). Kenapa eksitensi perempuan menjadi hilang? Haruskah keberadaannya direduksi sedemikian rupa sehingga ia tidak akan pernah tampak dalam sekumpulan laki-laki, atau jumlahnya yang banyak akan hilang hanya karena ada seorang laki-laki turut di dalam anggota kelompok itu?


''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
Contoh yang lainnya, adalah kenapa isu “kepemimpinan” seringkali diidentikkan dengan laki-laki? Apa yang sebenarnya sedang ingin disampaikan dengan penggunaan kata ''rijaal'' dan ''qawwaam'' di sini? Apakah hal ini mengacu kepada keberadaan laki-laki secara biologis lebih superior terhadap mereka yang berjenis kelamin perempuan. Ataukah sebenarnya merujuk pada kualitas maskulinitas positif ''(positive masculinity)'' dalam kepemimpinan ''(leadership)'' yang memungkinkannya mengemban amanah sebagai pemimpin? ''Pembaca Swara Rahima yang senantiasa dirahmati Allah swt.''


Jakarta, November 2009
Wajar bila penggunaan bahasa yang memihak pada satu jenis kelamin ini pernah mendapat protes pada kaum perempuan yang hidup di masa Nabi. Dan mustahil Allah swt. mengabaikan keberadaan mereka. Beberapa surat dalam Alquran bertutur tentang kisah dan perjuangan perempuan dalam menuntut hak-haknya. Dan ayatayat dalam beberapa surat dalam Alquran semisal QS. Al Hujurat: 13, QS. At Taubah: 71, QS. Ali Imran: 195, dan QS. Al Ahzab: 35 mengafirmasi kesetaraan laki-laki dan perempuan dengan menyebut kedua jenis kelamin sekaligus. Jelas, di hadapan Allah mereka setara.
 
Demikianlah sedikit pengantar dari Redaksi, akhirnya kami ucapkan “Selamat membaca”.
 
''Wassalamu’alaikum Wr.Wb.''


'''''Redaksi'''''
'''''Redaksi'''''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2026 13.07

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Meretas Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan Melalui Bahasa
Penulis : Nia Ramdaniati
Editor : AD. Kusumaningtyas
Seri : Edisi 47, Desember 2014
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 47; Meretas Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan Melalui Bahasa
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 47
SeriEdisi 47, Desember 2014
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, segala puji syukur kita haturkan ke hadirat Allah swt. Berkat rahmat dan karunia-Nya, kita masih mendapatkan kesempatan untuk melalui hari-hari dan mengisinya dengan kerja-kerja kemanusiaan dalam rangka pengabdian kita pada-Nya. Keberadaan kita sebagai manusia, lelaki dan perempuan di mata-Nya adalah sama. Oleh karena itu, tak mungkin Allah menyia-nyiakan setiap amal saleh dan amal kebajikan yang kita lakukan.

Shalawat dan salam, semoga terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. sang pembaharu dan pembawa gagasan revolusioner yang mengubah tradisi masyarakat Arab pra Islam yang patriarkis sehingga lebih menghormati dan menghargai perempuan. Konteks zaman dimana beliau lahir dan dibesarkan memang dipengaruhi kultur sosial yang masih mendiskriminasikan laki-laki dan perempuan. Termasuk di dalamnya, penggunaan bahasa yang mengandung nilai-nilai misoginis dan merendahkan perempuan.

Pembaca yang mulia,

Sebuah pepatah mengatakan “bahasa menunjukkan bangsa”. Penggunaan bahasa juga mencerminkan kultur dan struktur masyarakat penggunanya. Bila bahasa Indonesia yang sehari-hari kita gunakan tidak mengenal perbedaan gender, penggunaan kata ganti berdasarkan jumlah orang, ruang, dan waktu, tidak demikian halnya bahasa-bahasa lainnya. Bahasa Jawa dan bahasa Sunda, misalnya dipengaruhi oleh stratifikasi sosial berdasarkan usia untuk menunjukkan ‘kadar keakraban’ dan ‘kadar kesopanan’ pada sesama, orang tua, maupun kelompok yang dipandang terhormat lainnya. Sementara, Bahasa Arab dan Inggris mengenal perbedaan kata ganti orang, waktu, dan jenis kelamin. Khusus Bahasa Arab, pengaruh gender sedemikian kuatnya. Oleh karenanya, hal ini menarik perhatian seorang Nia Ramdhaniati, peserta program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Angkatan II wilayah Jawa Barat untuk mengupas dan mengkajinya. Hasil kajiannya kami sajikan dalam tulisan pada Suplemen berjudul “Meretas Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan Melalui Bahasa” pada Swara Rahima edisi ke-47 kali ini.

Menurutnya, ini penting karena Bahasa Arab dipandang sebagai Lughah al-Quran (Bahasa Alquran), sementara Alquran diturunkan dalam konteks masa lalu bangsa Arab yang dikenal patriarkis itu. Ada apa gerangan dengan rahasia Tuhan menurunkan Alquran melalui bahasa Arab ini. Tentu ada banyak pelajaran berharga, disamping bahasa Arab adalah yang bahasa yang digunakan oleh Rasulullah saw. sehari-hari.

Pembaca yang budiman,

Salah satu kaidah dalam Bahasa Arab menyebutkan “kullu jam’in muannats” (setiap yang jamak adalah muannats/berjenis kelamin perempuan). Mengapa setiap kata yang berkonotasi perempuan digunakan sebagai alat untuk merendahkan? Mengapa pula dalam Alquran, banyak seruan kepada orang-orang yang beriman dibahasakan dengan bentuk jamak mudzakkar salim (plural masculine) dengan frasa “ya ayyuhalladziina aamanuu” (“wahai orang-orang yang beriman” –yang bisa diartikan secara letterlijk “wahai kamu sekalian kaum laki-laki yang beriman”). Kenapa eksitensi perempuan menjadi hilang? Haruskah keberadaannya direduksi sedemikian rupa sehingga ia tidak akan pernah tampak dalam sekumpulan laki-laki, atau jumlahnya yang banyak akan hilang hanya karena ada seorang laki-laki turut di dalam anggota kelompok itu?

Contoh yang lainnya, adalah kenapa isu “kepemimpinan” seringkali diidentikkan dengan laki-laki? Apa yang sebenarnya sedang ingin disampaikan dengan penggunaan kata rijaal dan qawwaam di sini? Apakah hal ini mengacu kepada keberadaan laki-laki secara biologis lebih superior terhadap mereka yang berjenis kelamin perempuan. Ataukah sebenarnya merujuk pada kualitas maskulinitas positif (positive masculinity) dalam kepemimpinan (leadership) yang memungkinkannya mengemban amanah sebagai pemimpin? Pembaca Swara Rahima yang senantiasa dirahmati Allah swt.

Wajar bila penggunaan bahasa yang memihak pada satu jenis kelamin ini pernah mendapat protes pada kaum perempuan yang hidup di masa Nabi. Dan mustahil Allah swt. mengabaikan keberadaan mereka. Beberapa surat dalam Alquran bertutur tentang kisah dan perjuangan perempuan dalam menuntut hak-haknya. Dan ayatayat dalam beberapa surat dalam Alquran semisal QS. Al Hujurat: 13, QS. At Taubah: 71, QS. Ali Imran: 195, dan QS. Al Ahzab: 35 mengafirmasi kesetaraan laki-laki dan perempuan dengan menyebut kedua jenis kelamin sekaligus. Jelas, di hadapan Allah mereka setara.

Demikianlah sedikit pengantar dari Redaksi, akhirnya kami ucapkan “Selamat membaca”.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Redaksi