Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 52; Gerakan Laki-Laki Baru: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Suplemen:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima] |- |Tema |: |Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempua...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2017/11/07/edisi-52-2/ Swara Rahima]
|-
|-
|Tema
|Tema
|:
|:
|Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempuan
|Gerakan Laki-Laki Baru
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Irma Riyani, MA
|Nur Hasyim
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| A. Dicky Sofyan
| [[AD. Kusumaningtyas]]
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Edisi 29, Desember 2009
|Edisi 52, November 2017
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 27: Baris 27:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download]
|[https://swararahima.com/2017/11/07/edisi-52-2/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 29.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 29, Desember 2009|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|note=[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 52.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 52|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 52, November 2017|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 52|note=[https://swararahima.com/2017/11/07/edisi-52-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
''Alhamdulillah,'' puji syukur tiada lupa kita haturkan ke hadirat Allah swt., sang Pemilik semesta. Semoga kesadaran untuk senantiasa bersyukur membuat kita menjadi hamba-Nya yang selalu ditambahkan nikmat-Nya. Kesehatan, kesempatan untuk mengisi hidup kita dengan silaturahim dan berbuat kebajikan, menjadi pribadi yang senantiasa berorientasi pada perbaikan diri dan selalu saling mengingatkan. ''Fabiayyi ala-i rabbikumaa tukadzdzibaan?'' Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang hendak kamu dustakan?


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,” maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.
''Shalawat'' dan ''salam'', semoga tercurah pada Baginda Rasulullah Muhammad saw., atas berbagai pesan moralnya agar kita selalu berbuat baik pada sesama dan tidak melakukan berbagai bentuk kekerasan. Terlebih pada istri atau pasangan kita. Secara khusus, Nabi pernah menyampaikan pesannya saat Haji Wada’,” Dan ingatlah bahwa aku telah berwasiat kepadamu untuk selalu berbuat baik kepada kaum perempuan. Karena mereka seringkali menjadi sasaran pelecehan. Padahal kamu semuanya tidak boleh melakukan tidak kekerasan dan harus memperlakukan mereka hanya dengan kebaikan semata.Semoga kesadaran ini juga membuat kita sadar tentang pentingnya menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Sehingga nantinya akan tercipta keluarga ''[[sakinah]], mawaddah, wa rahmah.''


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
'''''Pembaca yang mulia,'''''


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
Adanya ketidakadilan gender yang ditandai dengan relasi yang tidak setara antara lelaki dan perempuan akibat dari konstruksi budaya patriarkhi telah menyebabkan banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan. Karena kekerasan ini terjadi akibat relasi gender yang timpang, maka kasus-kasus kekerasan yang banyak menjadikan perempuan sebagai korban sering pula disebut dengan Kekerasan Berbasis Gender (KBG). Sejumlah data statistik selalu menyebutkan bahwa dalam kasus kekerasan berbasis gender pelakunya adalah kaum laki-laki. Mengingat dalam budaya patriarki diposisikan sebagai pihak yang dominan, mereka sangat potensial untuk menjadi pelaku kekerasan. Namun, perlu diingat bahwa sejatinya kecenderungan ini bukanlah ''given'' atau kodrat dari Yang Maha Kuasa. Situasi ini muncul akibat pola didik dan pola asuh yang menekankan pada aspek maskulinitas.


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
Namun, benarkah maskulinitas mesti diekspresikan menjadi sosok dominan dan pelaku kekerasan? Trend laki-laki sebagai pelaku kekerasan, ternyata oleh sebagian laki-laki dirasakan sebagai ‘label negatif’ yang membuat mereka tak nyaman dalam melakukan interaksi sosial. Bagi gerakan perempuan pun, disadari bahwa mengabaikan laki-laki dalam upaya membangun relasi yang adil dan setara gender juga bukan merupakan pilihan tepat. Oleh karenanya, gerakan pelibatan laki-laki dalam mencegah dan menghapus kekerasan terhadap perempuan mulai berlangsung di berbagai belahan dunia. Studi gender juga mulai berkembang dengan tafsir baru atas maskulinitas. Refleksi pengalaman laki-laki maupun keterlibatan mereka sebagai ayah, sebagai sosok yang menawarkan nilai-nilai kerjasama, persahabatan, dan anti kekerasan juga mulai banyak diperkenalkan.


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
Melalui Suplemen edisi ke-52 kali ini, ''Swara Rahima'' mengangkat tema “Gerakan Laki-laki Baru”. Tulisan ini disajikan berdasarkan refleksi penulisnya, Nur Hasyim, MA., seorang aktivis yang pernah hidup dalam asuhan Feminisme melalui keterlibatannya di Rifka Annisa Yogyakarta, sebuah [[lembaga]] pendamping perempuan korban kekerasan. Lelaki yang akrab dipanggil Mas Boim ini kini beraktivitas sebagai salah seorang tenaga pendidik (Dosen) pada FISIP UIN Walisongo Semarang. Ia juga merupakan salah satu penggagas Aliansi Laki-laki Baru, sebuah jejaring laki-laki yang banyak terlibat menjadi aktivis gerakan perempuan yang salah satu upayanya adalah memperkenalkan dan mengkampanyekan kepada publik tentang pentingnya kaum laki-laki terlibat dalam pencegahan maupun penghapusan kekerasan berbasis gender.


Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
'''''Pembaca yang berbahagia'','''


''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
Melalui penuturannya di rubrik Suplemen, Mas Boim akan bercerita panjang lebar, tak hanya tentang Aliansi Laki-laki Baru, sebuah jejaring yang turut ia dirikan. Namun, jauh sebelumnya, ia akan berefleksi mengapa laki-laki penting untuk terlibat dalam upaya penghapusan tindak kekerasan maupun membangun masyarakat yang adil dan setara gender.


Jakarta, November 2009
Beragam teori ia ulas, beragam pengalaman di berbagai negara tentang gerakan laki-laki baru yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender serta berupaya menghapus kekerasan berbasis gender ia sajikan, dan tentunya refleksi pengalaman sebagai laki-laki yang menurutnya ‘tumbuh dalam asuhan gerakan perempuan’ maupun harapannya menjadi sosok ayah yang peduli pada pengasuhan anak dan partner yang baik bagi pasangan, juga hendak ia ungkapkan di rubrik ini.


'''''Redaksi'''''
Semua tak lak lain karena kesadaran bahwa ''“inna an-nisaa’ syaqaa-iq al-rijaal”'' (sesungguhnya kaum perempuan adalah saudara kandung bagi laki-laki), yang juga diperintahkan agar ''“tasaa-aluuna bihi wal arhaam”'' (saling tolong menolong dan saling bersilaturahim) dengan kaum perempuan.


Demikian pengantar dari kami. Semoga semua yang kami sajikan bermanfaat. Dan akhirnya: “Selamat Membaca!”, karena membaca adalah salah satu jendela dunia.
''Wassalamu’alaikum wr. wb.''
''Redaksi''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2026 13.08

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Gerakan Laki-Laki Baru
Penulis : Nur Hasyim
Editor : AD. Kusumaningtyas
Seri : Edisi 52, November 2017
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 52; Gerakan Laki-Laki Baru
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 52
SeriEdisi 52, November 2017
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, puji syukur tiada lupa kita haturkan ke hadirat Allah swt., sang Pemilik semesta. Semoga kesadaran untuk senantiasa bersyukur membuat kita menjadi hamba-Nya yang selalu ditambahkan nikmat-Nya. Kesehatan, kesempatan untuk mengisi hidup kita dengan silaturahim dan berbuat kebajikan, menjadi pribadi yang senantiasa berorientasi pada perbaikan diri dan selalu saling mengingatkan. Fabiayyi ala-i rabbikumaa tukadzdzibaan? Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang hendak kamu dustakan?

Shalawat dan salam, semoga tercurah pada Baginda Rasulullah Muhammad saw., atas berbagai pesan moralnya agar kita selalu berbuat baik pada sesama dan tidak melakukan berbagai bentuk kekerasan. Terlebih pada istri atau pasangan kita. Secara khusus, Nabi pernah menyampaikan pesannya saat Haji Wada’,” Dan ingatlah bahwa aku telah berwasiat kepadamu untuk selalu berbuat baik kepada kaum perempuan. Karena mereka seringkali menjadi sasaran pelecehan. Padahal kamu semuanya tidak boleh melakukan tidak kekerasan dan harus memperlakukan mereka hanya dengan kebaikan semata.” Semoga kesadaran ini juga membuat kita sadar tentang pentingnya menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Sehingga nantinya akan tercipta keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Pembaca yang mulia,

Adanya ketidakadilan gender yang ditandai dengan relasi yang tidak setara antara lelaki dan perempuan akibat dari konstruksi budaya patriarkhi telah menyebabkan banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan. Karena kekerasan ini terjadi akibat relasi gender yang timpang, maka kasus-kasus kekerasan yang banyak menjadikan perempuan sebagai korban sering pula disebut dengan Kekerasan Berbasis Gender (KBG). Sejumlah data statistik selalu menyebutkan bahwa dalam kasus kekerasan berbasis gender pelakunya adalah kaum laki-laki. Mengingat dalam budaya patriarki diposisikan sebagai pihak yang dominan, mereka sangat potensial untuk menjadi pelaku kekerasan. Namun, perlu diingat bahwa sejatinya kecenderungan ini bukanlah given atau kodrat dari Yang Maha Kuasa. Situasi ini muncul akibat pola didik dan pola asuh yang menekankan pada aspek maskulinitas.

Namun, benarkah maskulinitas mesti diekspresikan menjadi sosok dominan dan pelaku kekerasan? Trend laki-laki sebagai pelaku kekerasan, ternyata oleh sebagian laki-laki dirasakan sebagai ‘label negatif’ yang membuat mereka tak nyaman dalam melakukan interaksi sosial. Bagi gerakan perempuan pun, disadari bahwa mengabaikan laki-laki dalam upaya membangun relasi yang adil dan setara gender juga bukan merupakan pilihan tepat. Oleh karenanya, gerakan pelibatan laki-laki dalam mencegah dan menghapus kekerasan terhadap perempuan mulai berlangsung di berbagai belahan dunia. Studi gender juga mulai berkembang dengan tafsir baru atas maskulinitas. Refleksi pengalaman laki-laki maupun keterlibatan mereka sebagai ayah, sebagai sosok yang menawarkan nilai-nilai kerjasama, persahabatan, dan anti kekerasan juga mulai banyak diperkenalkan.

Melalui Suplemen edisi ke-52 kali ini, Swara Rahima mengangkat tema “Gerakan Laki-laki Baru”. Tulisan ini disajikan berdasarkan refleksi penulisnya, Nur Hasyim, MA., seorang aktivis yang pernah hidup dalam asuhan Feminisme melalui keterlibatannya di Rifka Annisa Yogyakarta, sebuah lembaga pendamping perempuan korban kekerasan. Lelaki yang akrab dipanggil Mas Boim ini kini beraktivitas sebagai salah seorang tenaga pendidik (Dosen) pada FISIP UIN Walisongo Semarang. Ia juga merupakan salah satu penggagas Aliansi Laki-laki Baru, sebuah jejaring laki-laki yang banyak terlibat menjadi aktivis gerakan perempuan yang salah satu upayanya adalah memperkenalkan dan mengkampanyekan kepada publik tentang pentingnya kaum laki-laki terlibat dalam pencegahan maupun penghapusan kekerasan berbasis gender.

Pembaca yang berbahagia,

Melalui penuturannya di rubrik Suplemen, Mas Boim akan bercerita panjang lebar, tak hanya tentang Aliansi Laki-laki Baru, sebuah jejaring yang turut ia dirikan. Namun, jauh sebelumnya, ia akan berefleksi mengapa laki-laki penting untuk terlibat dalam upaya penghapusan tindak kekerasan maupun membangun masyarakat yang adil dan setara gender.

Beragam teori ia ulas, beragam pengalaman di berbagai negara tentang gerakan laki-laki baru yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender serta berupaya menghapus kekerasan berbasis gender ia sajikan, dan tentunya refleksi pengalaman sebagai laki-laki yang menurutnya ‘tumbuh dalam asuhan gerakan perempuan’ maupun harapannya menjadi sosok ayah yang peduli pada pengasuhan anak dan partner yang baik bagi pasangan, juga hendak ia ungkapkan di rubrik ini.

Semua tak lak lain karena kesadaran bahwa “inna an-nisaa’ syaqaa-iq al-rijaal” (sesungguhnya kaum perempuan adalah saudara kandung bagi laki-laki), yang juga diperintahkan agar “tasaa-aluuna bihi wal arhaam” (saling tolong menolong dan saling bersilaturahim) dengan kaum perempuan.

Demikian pengantar dari kami. Semoga semua yang kami sajikan bermanfaat. Dan akhirnya: “Selamat Membaca!”, karena membaca adalah salah satu jendela dunia.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Redaksi