Lompat ke isi

Suplemen Swara Rahima Edisi 53; Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Suplemen:''' {| |Sumber |: |[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima] |- |Tema |: |Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempua...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 3: Baris 3:
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Swara Rahima]
|[https://swararahima.com/2024/10/08/edisi-53-2/ Swara Rahima]
|-
|-
|Tema
|Tema
|:
|:
|Kajian Kronologis Ayat-ayat Al-Quran tentang Perempuan
|Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak (Ikhtiar Mendidik “Anak Zaman Now”
yang Shaleh dalam Perspektif Islam)
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Irma Riyani, MA
|[[Cecep Jaya Karama]] dan Ernawati Siti Syaja’ah
|-
|-
|Editor
|Editor
|:
|:
| A. Dicky Sofyan
| [[AD. Kusumaningtyas]]
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Edisi 29, Desember 2009
|Edisi 53, Juni 2018
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 27: Baris 28:
|Link Download
|Link Download
| :
| :
|[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download]
|[https://swararahima.com/2024/10/08/edisi-53-2/ Download]
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 29.jpg|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 29, Desember 2009|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 29|note=[https://swararahima.com/2009/12/07/edisi-29/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''
|}{{Infobox book|publisher=Rahima|image=Berkas:Suplemen Swara Rahima Edisi 53.png|italic title=Suplemen Swara Rahima Edisi 53|isbn=|cover_artist=|series=Edisi 53, Juni 2018|title_orig=Suplemen Swara Rahima Edisi 53|note=[https://swararahima.com/2024/10/08/edisi-53-2/ Download Suplemen]}}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.''


Syukur ''Alhamdulillah,'' ke hadirat ''Ilahi Rabbi'' yang mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menyemai upaya pembebasan bagi seluruh umat manusia, lelaki dan perempuan. ''Swara Rahima'' edisi ke-29, hadir kembali dengan Suplemen bertema ''Kajian Kronologis Ayat-ayat Alquran tentang Perempuan.'' 
Ungkapan rasa syukur alhamdulillah, tak lupa kami haturkan ke hadirat Ilahi Rabbi, atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkannya pada kita semua. Mudah-mudahan, rasa syukur itu senantiasa menjadi penyemangat kita dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Betapa “nikmat sehat” sering kali kita lupakan, padahal kesehatan itu, baik yang berupa fisik, mental, dan sosial senantiasa membuat kita merasa kuat menjalani yang tugas yang berat sekalipun, dengan dukungan orang-orang tercinta. Semoga kesadaran untuk selalu bersyukur tadi akan semakin mendekatkan diri kita pada Sang Pencipta. Sebagaimana sebuah doa Rasulullah ''“Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibaadatika.'' (''Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu'') dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad, mudah-mudahan rasa syukur itu akan meningkatkan kualitas ibadah kita.


Menarik ketika di awal bahasan tulisan ini, kita disuguhi pertanyaan ringan yang wajar dilontarkan masyarakat di sekitar kita. Katanya, bila seseorang ditanya, “sudah punya anak? Laki-laki atau perempuan?” Biasanya bila jawaban yang keluar “Sudah, anakku laki-laki,” maka respon penanya adalah “Alhamdulillah”. Tapi bila jawabnya “Anakku perempuan,” maka respon penanya akan biasabiasa saja; manggut-manggut, atau sekedar berkata “ooh”.
''Shalawat dan salam,'' semoga terlimpah pada Rasulullah Muhammad saw., sang ''uswatun hasanah'' yang mengemban tugas mulia untuk menyempurnakan akhlak manusia. Melalui sirah beliau ketika membiarkan dirinya bersujud lama-lama saat kedua cucu tercintanya Hasan dan Husein menaiki punggung beliau saat sedang shalat, kita bisa belajar banyak tentang bagaimana kasihnya beliau kepada anak-anak. Salah satu hadis beliau yang juga sangat termasyhur “Ajarilah anak-anakmu berkuda, berenang, dan memanah”, mengajak kita untuk memberikan putra-putri kita ketrampilan agar mereka bisa menghadapi segala tantangan hidup yang kelak di kemudian hari mereka hadapi. Bagi orang tua zaman “''now''”, juga termasuk belajar mengikuti perkembangan teknologi, sehingga kita selalu bisa berinteraksi dengan putra-putri kita dimana saja, selain mengetahui tumbuh kembang mereka dan mengawasi pola pertemanan dan interaksi mereka terutama di dunia maya, agar mereka dijauhkan dari berbagai bentuk penistaan dan perundungan.


Memiliki anak laki-laki dianggap keistimewaan tersendiri bagi sebagian masyarakat. Sedang punya anak perempuan, dirasa biasa saja, biar lengkap, katanya. Meski dianggap wajar, persepsi yang kadung melekat dalam pemahaman masyarakat ini butuh diluruskan. Sebab, baik lelaki maupun perempuan sama-sama sempurna harga dirinya, dan sama-sama berpotensi mengembangkan diri. Sebagai penegasan tentang kesetaraan lelaki-perempuan ini, Alquran menyatakan Tuhan memberi kesempatan dan balasan sama bagi siapa saja yang berbuat kebajikan, tanpa melihat laki-laki atau perempuan (QS. ''Al-Nahl:'' 97).
'''''Pembaca yang budiman,'''''


Alquran, dalam memberi ketetapan-ketetapan tersebut tentang laki-laki dan perempuan, tidaklah terlepas dari konteks sosial yang melatarbelakangi, sebagaimana yang terkaji dalam ilmu ''Asbab al-Nuzul.'' Dengan memperhatikan teks sekaligus konteks, seorang ''mufassir'' diharapkan dapat menangkap makna yang terkandung dalam Alquran, tidak jauh berbeda dengan apa yang dimaksudkan Tuhan dan Rasul-Nya. Alasannya, sebuah konteks peristiwa akan memberi nuansa psikologi sosial yang berlaku pada saat teks diturunkan. Terlebih saat ini, Islam telah meluas ke seluruh penjuru dunia, dengan situasi dan pengalaman yang berbeda, maka penafsiran yang memperhatikan konteks sangat perlu agar semangat ajaran Alquran tetap dapat diaplikasikan di manapun dan kapanpun. Inilah yang diresapi sebagai ''Alquran shalihun likulli zaman wa makan''.
Ada sesuatu yang istimewa dari sajian Suplemen ''Swara Rahima'' edisi ke-53 kali ini. Kebetulan tema yang diangkat pada edisi ini adalah Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak (''Parenting''). Dan tulisan di suplemen ini berjudul ''“Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak ((Ikhtiar Mendidik “Anak Zaman Now” yang Shaleh dalam Perspektif Islam)”,'' hampir senada dengan tema utama Swara Rahima kali ini. Dan menariknya lagi, karena sajian tulisan ini merupakan hasil kerjasama pasangan suami istri Cecep Jaya Karama dan Ernawati Siti Syaja’ah, dua mitra Rahima dari produk serial program pendidikan yang berbeda. Kang Cecep, demikian panggilan akrabnya adalah seorang ''Ajengan'' (istilah untuk Kyai dalam bahasa Sunda) muda putra dari KH. Nuh Ad-Dawami Pimpinan Pesantren Nurul Huda, Cisurupan, Garut. Ia pernah mengikuti program Penguatan [[Tokoh]] Agama Jawa Barat yang diselenggarakan oleh Rahima. Sementara istrinya, Teh Erna adalah peserta program Pendidikan [[Ulama Perempuan]] (PUP) Jawa Barat. Kini mereka bersama-sama mengasuh, mendidik, dan mengajar para santri di pesantren Nurul Huda yang didirikan oleh sang ayah.


Dalam pembacaan Alquran ini, salah satu aspek kontekstualisasi yang dikaji dalam tulisan ini adalah pembacaan secara kronologis, yang dimulai dari periode Mekah dan dilanjutkan dengan periode Madinah. Pembacaan ini dipandang penulis, sebagai salah satu “cara baca baru” yang dapat dijadikan alternatif untuk mengkaji ayat-ayat Alquran secara lebih tepat, terutama terkait ayat-ayat yang memberi advokasi terhadap eksistensi jenis kelamin perempuan.
Awalnya, ''Swara Rahima'' menghubungi Kang Cecep untuk meminta kesediaan beliau untuk menulis di rubrik ini. Biasanya rubrik suplemen, meskipun juga berisi dengan deskripsi masalah sosial juga berisi bagaimana perspektif Islam (dengan pendekatan yang adil dan setara gender tentunya) menjawab beragam persoalan tersebut. Pucuk dicinta ulama tiba, saat Kang Cecep menghubungi Redaksi untuk menginformasikan bahwa ia telah mengirimkan tulisannya, ia menambahkan keterangan, “Mbak, tulisan ini saya tulis berdua dengan Erna, istri saya”. Tentu kami sangat berterimakasih atas upayanya ini. Terlebih, saat melihat bahwa isi tulisan ini tidak melulu tumpukan teks keagamaan yang bersumberkan Alquran dan Hadis, namun juga pengalaman pasangan suami istri ini bekerjasama dalam mengasuh dan mendidik ketiga putera mereka Muqtav Azka Ibadillah (11 Th), Mumtaz Azkiya Maulidia (7Th) dan Syauqina Azna Queena (18 bulan). Tentunya, refleksi pengalaman mereka ini sangat penting, karena pembelajaran mengenai bagaimana mereka menerapkan kesadaran dan pengetahuan tentang bagaimana benar-benar memainkan peran sebagai orang tua (''parents'') yang berusaha mendidik anak-anak mereka dengan teladan, kasih sayang, kerjasama, dan penghormatan satu sama lain serta menghindari praktik diskriminasi kekerasan pasti sangat menginspirasi kita semua.


Pembacaan seperti ini perlu dikembangkan, terlebih saat ini, permasalahan yang dihadapi manusia, lelaki dan perempuan, telah semakin kompleks. Kesadaran akan konteks sosial yang berbeda kini, dengan saat Alquran diturunkan, harus disertai pendekatan yang lebih ramah terhadap semua, tanpa membedakan jenis kelamin. Apalagi, selama ini, kecenderungan pemahaman yang bias atas teks-teks agama, telah menjadikan perempuan sebagai ‘subordinat’. Karenanya, mengambil langkah re-evaluasi dan bersikap kritis terhadap penafsiran dan penggunaan ayat-ayat Alquran, dan sumber-sumber ajaran Islam, dibutuhkan untuk membangun kesetaraan di antara lelaki dan perempuan.
'''''Pembaca yang dirahmati Allah,'''''


Selanjutnya, bagaimana sesungguhnya kita harus mengkaji Alquran terutama ayat-ayat tentang hak-hak perempuan ini dengan lebih mendalami konteks sosial di mana ayat-ayat tersebut turun? Kembali salah satu Peserta Pengkaderan [[Ulama Perempuan]] (PUP) RAHIMA angkatan II Jawa Barat, 2009, Irma Riyani MA., akan mengurai hal tersebut. Pemaparannya tentang kajian kronologis ayat-ayat Alquran berperspektif perempuan ini'','' akan menambah [[khazanah]] pengetahuan kita dalam mengupayakan pemberdayaan untuk hak-hak perempuan. ''Selamat membaca!''
Dalam tulisannya di rubrik suplemen ini, Kang Cecep dan Teh Erna juga benar-benar menggali rujukan baik yang ada dalam Alquran dan Hadis tentang bagaimana peran ayah dalam pengasuhan. Mencontohkan kisah-kisah para Nabi seperti Nabi Daud yang merupakan ayah Nabi Sulaiman, Nabi Ya’qub yang merupakan ayah Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim yang merupakan ayah dari Ismail, menunjukkan seberapa pentingnya peran ayah sebagai figur “pendidik” bagi putra-putrinya. Kisah legendaris Luqman al-Hakim yang diabadikan dalam Alquran beserta nilai-nilai yang ditanamkannya, serta beberapa hadis yang mendorong agar tidak mendiskriminasikan perempuan dan memberikan kesempatan pada anak perempuan untuk belajar bersama dalam majelis-majelis Ilmu pengetahuan, belajar 7 bacaan Alquran (''Qira’ah Sab’ah''), bahkan menjadi Ahli Hadis (''Muhadditsat'') bukanlah suatu kemustahilan.


''Wassalamu’alikum Wr. Wb.''
Selain itu, pengalaman mereka mendidik putra-putri mereka melalui bermain bersama, membiasakan diskusi-diskusi sehat dan terbuka dalam keluarga, menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis anak terutama terkait dengan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas yang mulai mereka ingin tahu jawabannya saat pubertas, membangun kebersamaan dengan saling memberikan pujian pada pasangan dan merefleksikan diri secara lebih mendalam, menunjukkan bahwa parenting bukanlah sekedar teori. Parenting menyadarkan kita bahwa keberadaan ''parents'' (kedua) orang tua itu sama-sama ‘penting’. Oleh karenanya, tugas mengasuh dan mendidik anak ini tak mungkin hanya dibebankan pada satu pihak.


Jakarta, November 2009
'''''Pembaca yang mulia,'''''


'''''Redaksi'''''
Banyak gagasan-gagasan bernas dan rujukan tegas yang bisa Anda peroleh dari tulisan ini. Dengan membacanya, membuat kita bisa berefleksi tentang pendidikan yang kita terapkan pada putra-putri kita dalam keluarga. Benarkah telah sesuai dengan pesan-pesan moral yang telah diperkenalkan oleh Islam melalui Alquran dan teladan Nabi? Sudahkah kita konsisten menjalankan peran “keorangtuaan” kita? Tak perlu dijawab. Cukup direfleksikan dengan jujur, dan semua menjadi bahan agar kita bisa memperbaiki diri.


Akhirnya, kami ucapkan ''Iqra''’! Selamat membaca! Semoga Anda menikmatinya dan mendapatkan manfaat dari sajian suplemen kami di edisi ke-53 ini.
''Wassalamu’alaikum wr. wb.''
Redaksi
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Majalah, Bulletin dan Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen]]
[[Kategori:Suplemen Swara Rahima]]

Revisi terkini sejak 12 Maret 2026 13.08

Informasi Suplemen:

Sumber : Swara Rahima
Tema : Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak (Ikhtiar Mendidik “Anak Zaman Now”

yang Shaleh dalam Perspektif Islam)

Penulis : Cecep Jaya Karama dan Ernawati Siti Syaja’ah
Editor : AD. Kusumaningtyas
Seri : Edisi 53, Juni 2018
Penerbit : Rahima
Link Download : Download
Suplemen Swara Rahima Edisi 53; Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak
JudulSuplemen Swara Rahima Edisi 53
SeriEdisi 53, Juni 2018
PenerbitRahima
Download Suplemen

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ungkapan rasa syukur alhamdulillah, tak lupa kami haturkan ke hadirat Ilahi Rabbi, atas segala nikmat dan karunia yang dilimpahkannya pada kita semua. Mudah-mudahan, rasa syukur itu senantiasa menjadi penyemangat kita dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Betapa “nikmat sehat” sering kali kita lupakan, padahal kesehatan itu, baik yang berupa fisik, mental, dan sosial senantiasa membuat kita merasa kuat menjalani yang tugas yang berat sekalipun, dengan dukungan orang-orang tercinta. Semoga kesadaran untuk selalu bersyukur tadi akan semakin mendekatkan diri kita pada Sang Pencipta. Sebagaimana sebuah doa Rasulullah “Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibaadatika.” (Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu) dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad, mudah-mudahan rasa syukur itu akan meningkatkan kualitas ibadah kita.

Shalawat dan salam, semoga terlimpah pada Rasulullah Muhammad saw., sang uswatun hasanah yang mengemban tugas mulia untuk menyempurnakan akhlak manusia. Melalui sirah beliau ketika membiarkan dirinya bersujud lama-lama saat kedua cucu tercintanya Hasan dan Husein menaiki punggung beliau saat sedang shalat, kita bisa belajar banyak tentang bagaimana kasihnya beliau kepada anak-anak. Salah satu hadis beliau yang juga sangat termasyhur “Ajarilah anak-anakmu berkuda, berenang, dan memanah”, mengajak kita untuk memberikan putra-putri kita ketrampilan agar mereka bisa menghadapi segala tantangan hidup yang kelak di kemudian hari mereka hadapi. Bagi orang tua zaman “now”, juga termasuk belajar mengikuti perkembangan teknologi, sehingga kita selalu bisa berinteraksi dengan putra-putri kita dimana saja, selain mengetahui tumbuh kembang mereka dan mengawasi pola pertemanan dan interaksi mereka terutama di dunia maya, agar mereka dijauhkan dari berbagai bentuk penistaan dan perundungan.

Pembaca yang budiman,

Ada sesuatu yang istimewa dari sajian Suplemen Swara Rahima edisi ke-53 kali ini. Kebetulan tema yang diangkat pada edisi ini adalah Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak (Parenting). Dan tulisan di suplemen ini berjudul “Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak ((Ikhtiar Mendidik “Anak Zaman Now” yang Shaleh dalam Perspektif Islam)”, hampir senada dengan tema utama Swara Rahima kali ini. Dan menariknya lagi, karena sajian tulisan ini merupakan hasil kerjasama pasangan suami istri Cecep Jaya Karama dan Ernawati Siti Syaja’ah, dua mitra Rahima dari produk serial program pendidikan yang berbeda. Kang Cecep, demikian panggilan akrabnya adalah seorang Ajengan (istilah untuk Kyai dalam bahasa Sunda) muda putra dari KH. Nuh Ad-Dawami Pimpinan Pesantren Nurul Huda, Cisurupan, Garut. Ia pernah mengikuti program Penguatan Tokoh Agama Jawa Barat yang diselenggarakan oleh Rahima. Sementara istrinya, Teh Erna adalah peserta program Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) Jawa Barat. Kini mereka bersama-sama mengasuh, mendidik, dan mengajar para santri di pesantren Nurul Huda yang didirikan oleh sang ayah.

Awalnya, Swara Rahima menghubungi Kang Cecep untuk meminta kesediaan beliau untuk menulis di rubrik ini. Biasanya rubrik suplemen, meskipun juga berisi dengan deskripsi masalah sosial juga berisi bagaimana perspektif Islam (dengan pendekatan yang adil dan setara gender tentunya) menjawab beragam persoalan tersebut. Pucuk dicinta ulama tiba, saat Kang Cecep menghubungi Redaksi untuk menginformasikan bahwa ia telah mengirimkan tulisannya, ia menambahkan keterangan, “Mbak, tulisan ini saya tulis berdua dengan Erna, istri saya”. Tentu kami sangat berterimakasih atas upayanya ini. Terlebih, saat melihat bahwa isi tulisan ini tidak melulu tumpukan teks keagamaan yang bersumberkan Alquran dan Hadis, namun juga pengalaman pasangan suami istri ini bekerjasama dalam mengasuh dan mendidik ketiga putera mereka Muqtav Azka Ibadillah (11 Th), Mumtaz Azkiya Maulidia (7Th) dan Syauqina Azna Queena (18 bulan). Tentunya, refleksi pengalaman mereka ini sangat penting, karena pembelajaran mengenai bagaimana mereka menerapkan kesadaran dan pengetahuan tentang bagaimana benar-benar memainkan peran sebagai orang tua (parents) yang berusaha mendidik anak-anak mereka dengan teladan, kasih sayang, kerjasama, dan penghormatan satu sama lain serta menghindari praktik diskriminasi kekerasan pasti sangat menginspirasi kita semua.

Pembaca yang dirahmati Allah,

Dalam tulisannya di rubrik suplemen ini, Kang Cecep dan Teh Erna juga benar-benar menggali rujukan baik yang ada dalam Alquran dan Hadis tentang bagaimana peran ayah dalam pengasuhan. Mencontohkan kisah-kisah para Nabi seperti Nabi Daud yang merupakan ayah Nabi Sulaiman, Nabi Ya’qub yang merupakan ayah Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim yang merupakan ayah dari Ismail, menunjukkan seberapa pentingnya peran ayah sebagai figur “pendidik” bagi putra-putrinya. Kisah legendaris Luqman al-Hakim yang diabadikan dalam Alquran beserta nilai-nilai yang ditanamkannya, serta beberapa hadis yang mendorong agar tidak mendiskriminasikan perempuan dan memberikan kesempatan pada anak perempuan untuk belajar bersama dalam majelis-majelis Ilmu pengetahuan, belajar 7 bacaan Alquran (Qira’ah Sab’ah), bahkan menjadi Ahli Hadis (Muhadditsat) bukanlah suatu kemustahilan.

Selain itu, pengalaman mereka mendidik putra-putri mereka melalui bermain bersama, membiasakan diskusi-diskusi sehat dan terbuka dalam keluarga, menghadapi pertanyaan-pertanyaan kritis anak terutama terkait dengan masalah kesehatan reproduksi dan seksualitas yang mulai mereka ingin tahu jawabannya saat pubertas, membangun kebersamaan dengan saling memberikan pujian pada pasangan dan merefleksikan diri secara lebih mendalam, menunjukkan bahwa parenting bukanlah sekedar teori. Parenting menyadarkan kita bahwa keberadaan parents (kedua) orang tua itu sama-sama ‘penting’. Oleh karenanya, tugas mengasuh dan mendidik anak ini tak mungkin hanya dibebankan pada satu pihak.

Pembaca yang mulia,

Banyak gagasan-gagasan bernas dan rujukan tegas yang bisa Anda peroleh dari tulisan ini. Dengan membacanya, membuat kita bisa berefleksi tentang pendidikan yang kita terapkan pada putra-putri kita dalam keluarga. Benarkah telah sesuai dengan pesan-pesan moral yang telah diperkenalkan oleh Islam melalui Alquran dan teladan Nabi? Sudahkah kita konsisten menjalankan peran “keorangtuaan” kita? Tak perlu dijawab. Cukup direfleksikan dengan jujur, dan semua menjadi bahan agar kita bisa memperbaiki diri.

Akhirnya, kami ucapkan Iqra’! Selamat membaca! Semoga Anda menikmatinya dan mendapatkan manfaat dari sajian suplemen kami di edisi ke-53 ini.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Redaksi