Majalah Swara Rahima Edisi 13; Qurban untuk Pembelaan Korban: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Informasi Majalah:''' | [[Berkas:Majalah Swara Rahima Edisi 13.png|kiri|nirbing|478x478px]] | ||
'''<u>Informasi Majalah:</u>''' | |||
{| | {| | ||
|Sumber | |Sumber | ||
| Baris 8: | Baris 9: | ||
| : | | : | ||
|Majalah Swara [[Rahima]] | |Majalah Swara [[Rahima]] | ||
|- | |- | ||
|Seri | |Seri | ||
| Baris 24: | Baris 21: | ||
|: | |: | ||
|[https://swararahima.com/2005/01/06/edisi-13/ Download] | |[https://swararahima.com/2005/01/06/edisi-13/ Download] | ||
|}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.'' | |}''Assalamu’alaikum Wr.Wb.'' | ||
'''''Pembaca yang setia…''''' | |||
Seluruh redaksi Majalah ''Swara Rahima'' mengucapkan selamat tahun baru 2005. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan kita sudah berada dalam lembaran baru di tahun 2005. Mudah-mudahan di awal tahun baru ini, dengan semangat baru, langkah kita akan semakin ringan untuk terus mengentaskan setiap penindasan dan kedzaliman di muka bumi ini. Sehingga tidak banyak lagi korban berjatuhan karena penindasan tersebut sehingga ketentraman menjadi sahabat sehari-hari. | Seluruh redaksi Majalah ''Swara Rahima'' mengucapkan selamat tahun baru 2005. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan kita sudah berada dalam lembaran baru di tahun 2005. Mudah-mudahan di awal tahun baru ini, dengan semangat baru, langkah kita akan semakin ringan untuk terus mengentaskan setiap penindasan dan kedzaliman di muka bumi ini. Sehingga tidak banyak lagi korban berjatuhan karena penindasan tersebut sehingga ketentraman menjadi sahabat sehari-hari. | ||
Revisi terkini sejak 20 Maret 2026 01.50

Informasi Majalah:
| Sumber | : | Swara Rahima |
| Nama Majalah | : | Majalah Swara Rahima |
| Seri | : | Nomor 13 Tahun V, Januari 2005 |
| Penerbit | : | Rahima |
| Link Download | : | Download |
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Pembaca yang setia…
Seluruh redaksi Majalah Swara Rahima mengucapkan selamat tahun baru 2005. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan kita sudah berada dalam lembaran baru di tahun 2005. Mudah-mudahan di awal tahun baru ini, dengan semangat baru, langkah kita akan semakin ringan untuk terus mengentaskan setiap penindasan dan kedzaliman di muka bumi ini. Sehingga tidak banyak lagi korban berjatuhan karena penindasan tersebut sehingga ketentraman menjadi sahabat sehari-hari.
Swara Rahima seperti biasanya akan menjadi teman setia pembaca untuk membahas persoalan yang berkaitan dengan isu perempuan dan Islam. Pada edisi kali ini redaksi menyuguhkan tema Qurban. Bagaimana qurban dimaknai dengan mengambil sudut pandang perempuan? Juga dalam hal ini redaksi mencoba menyanding istilah qurban (dengan huruf “qu”) dan istilah korban (dengan “ko”). Hal ini berkaitan dengan kondisi yang sampai detik ini, kaum perempuan masih menjadi pihak yang selalu menjadi korban, dituntut untuk berkorban, dan menjadi pihak yang selalu dikorbankan terus.
Pembaca yang berbahagia…
Ritual ibadah qurban merupakan pengulangan dari rekaman peristiwa yang terjadi ribuan tahun lampau atas diri Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Peristiwa itu dimulai dari sebuah mimpi yang dialami oleh Nabi Ibrahim selama tiga hari berturut-turut. Mimpi seorang nabi tentu berbeda dengan mimpinya orang biasa. Mimpi nabi tersebut adalah wahyu Ilahi. Hanya saja, banyak orang lupa (atau melupakan) bahwa selain Ismail dan Ibrahim sebagai tokoh sejarah dalam peristiwa tersebut, di sana juga ada Hajar dan Sarah. Perempuan-perempuan yang turut berperan bahkan berkorban sebagai perempuan, sebagai istri dan ibu. Sehingga ritual qurban sesungguhnya bukan hanya bagian dari peringatan terhadap pengorbanan Ismail dan Ibrahim tetapi juga pengorbanan Hajar dan Sarah.
Pembaca yang budiman...
Lepas dari qurban, korban dan pengorbanan perempuan, apa yang ingin diungkap dalam lembaran-lembaran berikut adalah bagian dari refleksi kehidupan kita. Dari situ pula diharapkan tumbuh sebuah kesadaran baru bahwa tidak seharusnya selalu ada manusia “korban” atau yang dikorbankan bagi sebuah misi kehidupan yang mencita-citakan tatanan kehidupan yang penuh dengan keadilan dan kesederajatan. Peristiwa ritual qurban sudah saatnya dibaca dan dimaknai melalui perspektif yang lebih manusiawi dan adil, bagi perempuan dan laki-laki.
Selamat Membaca!
Redaksi