Warkah Al-Basyar Volume I Tahun 2002; Edisi 04 Sakitnya Pendidikian Kita: Perbedaan antara revisi
←Membuat halaman berisi ''''Informasi Buletin:''' {| |Sumber |: |Yayasan Fahmina |- |Nama Buletin |: |Warkah Al-Basyar |- |Seri |: | |- |Tanggal Terbit |: | |- |Penerbit |: |Fahmina In...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (6 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Informasi Buletin:''' | [[Berkas:AlBasyar Vol1 (Cov4).jpg|kiri|nirbing|460x460px]] | ||
'''<u>Informasi Buletin:</u>''' | |||
{| | {| | ||
|Sumber | |Sumber | ||
| Baris 11: | Baris 12: | ||
|Seri | |Seri | ||
|: | |: | ||
| | |Volume I Tahun 2002; Edisi 04 | ||
|- | |- | ||
|Tanggal Terbit | |Tanggal Terbit | ||
|: | |: | ||
|26 Juli 2002 M | |||
|- | |||
| | | | ||
| | |||
|''(15 Jumadil Ula 1423 H)'' | |||
|- | |- | ||
|Penerbit | |Penerbit | ||
| Baris 23: | Baris 28: | ||
|Penulis | |Penulis | ||
|: | |: | ||
| | |Marzuki Rais | ||
|- | |- | ||
|Link Download | |Link Download | ||
|: | |: | ||
|Download Al-Basyar | |[https://drive.google.com/file/d/1HUYH5kNuvTkUQHldzjBumf79DgmdYfUw/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar] | ||
|} | |} | ||
<blockquote>''Pendidikan tidak akan menghasilkan manusia yang bai Fendidikan hanya memandaikan manusia, biasanya untuk kejahatan (4.J. Rousseau)''</blockquote>Sepasang kekasih, yang mengaku manasiswa sebuah Perguruan Tinggi di Kota Cirebon, tertangkap basah oleh Satpol PP Kota Cirebon, ketika "berduaan" ai sebuan hotel melati. Demikian isi berita koran iokal beberapa hari yang lalu (23 juni 2002). Tentu saja, berita itu membuat setiap orang yang peduli pada dunia pendidikan makin prihatin. Sebab untuk kesekian kalinya insan akademis kita, terlibat dalam petualangan syahwat yang melampaui konvensi moral maupun hukum agama. | |||
Kita rasanya masih ingat, ketika beberapa bulan yang lalu, masyarakat dihebohkan dengan VCD Itenas Bandung. Disusul kemudian dengan VCD Empek-Empek Palembang. Yang kesemuanya dilakukan oleh mereka yang notabene-nya adalah kalangaan terpelajar. Demikian halnya hasil survey, dari MCR, LSM yang bergerak dalam masalah remaja, menyatakan bahwa, 7% pelajar Kota Cirebon, telah melakukan hubungan seks bebas. | |||
Di luar persoaian seks bebas, kita bisa menemukan data lain dari Kepolisian Resort Kota Cirebon seputar kasus kenakalan para pelajar. Di antaranya adalah perkelahian antar pelajar. Seperti yang sering terjadi antara STM PUI VS STM Nasional di jalan Perjuangan, dan SMK Taman Siswa VS SMU Windu Wacana di Jalan P. Drajat. yang, sampai mengakibatkan satu korban jiwa. Sementara, media massa lokal juga menuliskan bahwa, pada tanggal 27 Juni 2002 sekitar pukul 10.00 WIB, tiga orang pelajar dengan menggunakan senjata tajam jenis belati melakukan penodongan dengan meminta uang sebesar Rp.50.000,- terhadap SR, di seberang toko Meksiko, Jalan Bahagia Kota Cirebon. | |||
Peristiwa demi peristiwa tersebut, menghentakkan kesadaran masyarakat akan fungsi [[lembaga]] pendidikan atau sekolah selama ini. Khususnya berkaitan dengan pembinaan moral para pelajar dan mahasiswa. Kita rasanya ingin bertanya, selama ini, apa saja yang telah dilakukan oleh sekolah? Mengapa seiring dengan bertambah banyak dan megahnya gedung-gedung sekolah, serta semakin banyak jumlah kalangan terdidik, cerita tentang penyimpangan moral dan pelanggaran hkum justru semakin marak? Mengapa dulu, ketika kesempatan sekolah masih menjadi barang langka, semua itu tak banyak terjadi? | |||
'''Komersialiasi dan Hilangnya Keteladanan''' | |||
Realitas kehidupan yang materialistik, menjebak kita untuk ikut larut di dalamnya. Hiruk pikuk persaingan kehidupan membuat banyak pihak lalai akan tuntutan pendidikan yang sebenarnya. sekolah yang semula berperan sebagai medium penanaman nilai-nilai luhur dan medium pengembangan ilmu pengetahuan yang akan memandu manusia menjalani hidup secara lebih arif, kini justru diarahkan sekedar mencetak para pekerja. Para pelajar dididik untuk memiliki keahlian tertentu sesuai kebutuhan dunia bisnis. Mereka didesain untuk menjadi mesin pencetak uang. | |||
Ada semacam sub-ordinasi. atau penundukan pendidikan, di bawah kepentingan kapitalisme. Lembaga pendidikan tak lagi hadir untuk melayani kepentingan kemanusiaan, melainkan lebih dari abdi para pemilik modal. Bahkan, bermetamorfosa menjadi institutsi kapitalis. Dan sebaliknya, di kalangan masyarakat sendiri, kewajiban menuntut ilmu, sebagaimana dipesankan Rasulullah "menuntut ilmu itu wajib bagi kaum muslimin dan muslimat" (HR. Thabrani), bergeser menjadi sekedar tuntutan untuk mendapatkan pekerjaan setelah selesai sekolah. Semua pihak seolah tenggelam dalam adagium ''"buat apa sekolah bila tujuannya bukan buat mencari duit"''. | |||
Kebanyakan orang tua, bangga kalau anak mereka memiliki NEM yang tinggi, meski dia tidak memeiliki kreativitas dan kepekaan untuk menerapkan kepribadian yang luhur. Kebanyakan orang tua juga bangga ketika sang anak bergelar tinggi, menjadi kaum profesional berkeahlian tinggi yang sesuai tuntutan pasar sembari menomorduakan soal moralitas. Terlalu naif bicara moralitas di tengah kecenderungan diagungkannya kecerdikan siasat, kekayaan dan kekuasaan. | |||
Pada kahirnya, wajar-wajar sajalah jika kemudian anak menjadi demikian mudah mengesampingkan aturan moral. Mereka seolah teramat ringan dan tanpa beban untuk berzinah, berbohong maupun menganiaya sesama. Toh mereka tidak dididik untuk tidak melakukan itu semua. Mereka memang diajarkan bahwa perilaku-perilaku itu adalah kejahatan modal. Tapi mereka tidak diberi kesempatan dan bimbingan yang cukup agar semua petuah moral itu terhayati dan menjadi bagian dari kepribadian. | |||
Terlebih, lingkungan dimana mereka hidup sehari-hari, justru lebih mendorong mereka mengabaikan moralitas dan kemuliaan akhlak. Mereka menyaksikan para pengelola lembaga pendidikan, menjadikan mereka sebagai komoditas yang penting hanya ketika mereka pun, a tang. Mereka menyaksikan banyak guru dan pendidik yang bicara tentang kebajikan dan keluhuran akhlak, tapi di luar kelas mereka memanipulasi prestasi kepegawaian agar cepat naik pangkat, menjual LKS dan seragam secara paksa, bahkan juga tak segan menyuap agar jadi kepala sekolah. | |||
Di luar itu, mereka juga menyaksikan orang tua mereka, para pemuka agama, para elit politik, juga hanya bisa bicara tentang yang baik-baik. Sementara realitasnya, mereka tahu bahwa banyak orang tua yang menjadi kaya karena korupsi, sebagian pemuka agama menjadi stempel kekuasaan, dan para elit politik melanggengkan kekuasaan dengan menindas dan membohongi rakyat. | |||
Sungguh, teramat wajar para pelajar kita berbuat amoral, karena mereka adalah anak yang lahir dari rahim kemunafikan. Begitu banyak paradoks di tengah kehidupan orang dewasa yang mereka saksikan setiap hari. Mereka bingung melihat kebenaran menjadi soal selera, dan moralitas sekadar kata-kata. Mereka kehilangan kemampuan untuk membedakan yang salah dari yang benar. Karena itu, mereka kecewa dan ingin membalas dendam. | |||
'''Kembalikan Fungsi Sekolah''' | |||
Seperti dituliskan Hendrawan Nadesul dalam artikelnya, hasil riset yang dilakukan oleh George Barna di sekolah-sekolah Amerika tahun 1994 menunjukkan, bila anak tidak mengenal standar kebenaran, mereka akan berbohong kepada orang tua, suka menyontek, mencuri, terlibat narkoba, menyakiti orang lain, hidup tanpa tujuan, merasa kesal, kecewa dan marah kepada kehidupan. | |||
Dengan banyaknya kejadian ini, lembaga pendidikan harus berintrospeksi, untuk mau mengevaluasi sistem pendidikan yang selama ini diterapkan. Semua pihak yang berkepentingan dengan sekolah, mesti merumuskan cara mengembalikan sekolah sebagai laboratorium pendidikan. Tempat anak-anak didik, belajar tentang moralitas dan kebajikan sebelum mereka terjun ke masyarakat. Dan para orang tua, elit politik, tak lagi meracuni pola pikir para pelajar kita dengan perilaku paradoks dan ambisi duniawi berlebihan. | |||
Sehingga, janji Tuhan yang akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman serta orang-orang yang menuntut ilmu (QS. Al Mujadilah,58: 11) betul-betul terbukti serta benar adanya. Dan dunia pun kembali menjadi damai oleh anak-anak terpelajar yang menebarkan senyum dan salam. ''Wallahu a'alam.'' | |||
[[Kategori:Khazanah]] | [[Kategori:Khazanah]] | ||
[[Kategori:Buletin]] | [[Kategori:Buletin]] | ||
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]] | [[Kategori:Warkah Al-Basyar]] | ||
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol1]] | [[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol1]] | ||
Revisi terkini sejak 27 Maret 2026 18.09

Informasi Buletin:
| Sumber | : | Yayasan Fahmina |
| Nama Buletin | : | Warkah Al-Basyar |
| Seri | : | Volume I Tahun 2002; Edisi 04 |
| Tanggal Terbit | : | 26 Juli 2002 M |
| (15 Jumadil Ula 1423 H) | ||
| Penerbit | : | Fahmina Institute |
| Penulis | : | Marzuki Rais |
| Link Download | : | Download Warkah Al-Basyar |
Pendidikan tidak akan menghasilkan manusia yang bai Fendidikan hanya memandaikan manusia, biasanya untuk kejahatan (4.J. Rousseau)
Sepasang kekasih, yang mengaku manasiswa sebuah Perguruan Tinggi di Kota Cirebon, tertangkap basah oleh Satpol PP Kota Cirebon, ketika "berduaan" ai sebuan hotel melati. Demikian isi berita koran iokal beberapa hari yang lalu (23 juni 2002). Tentu saja, berita itu membuat setiap orang yang peduli pada dunia pendidikan makin prihatin. Sebab untuk kesekian kalinya insan akademis kita, terlibat dalam petualangan syahwat yang melampaui konvensi moral maupun hukum agama.
Kita rasanya masih ingat, ketika beberapa bulan yang lalu, masyarakat dihebohkan dengan VCD Itenas Bandung. Disusul kemudian dengan VCD Empek-Empek Palembang. Yang kesemuanya dilakukan oleh mereka yang notabene-nya adalah kalangaan terpelajar. Demikian halnya hasil survey, dari MCR, LSM yang bergerak dalam masalah remaja, menyatakan bahwa, 7% pelajar Kota Cirebon, telah melakukan hubungan seks bebas.
Di luar persoaian seks bebas, kita bisa menemukan data lain dari Kepolisian Resort Kota Cirebon seputar kasus kenakalan para pelajar. Di antaranya adalah perkelahian antar pelajar. Seperti yang sering terjadi antara STM PUI VS STM Nasional di jalan Perjuangan, dan SMK Taman Siswa VS SMU Windu Wacana di Jalan P. Drajat. yang, sampai mengakibatkan satu korban jiwa. Sementara, media massa lokal juga menuliskan bahwa, pada tanggal 27 Juni 2002 sekitar pukul 10.00 WIB, tiga orang pelajar dengan menggunakan senjata tajam jenis belati melakukan penodongan dengan meminta uang sebesar Rp.50.000,- terhadap SR, di seberang toko Meksiko, Jalan Bahagia Kota Cirebon.
Peristiwa demi peristiwa tersebut, menghentakkan kesadaran masyarakat akan fungsi lembaga pendidikan atau sekolah selama ini. Khususnya berkaitan dengan pembinaan moral para pelajar dan mahasiswa. Kita rasanya ingin bertanya, selama ini, apa saja yang telah dilakukan oleh sekolah? Mengapa seiring dengan bertambah banyak dan megahnya gedung-gedung sekolah, serta semakin banyak jumlah kalangan terdidik, cerita tentang penyimpangan moral dan pelanggaran hkum justru semakin marak? Mengapa dulu, ketika kesempatan sekolah masih menjadi barang langka, semua itu tak banyak terjadi?
Komersialiasi dan Hilangnya Keteladanan
Realitas kehidupan yang materialistik, menjebak kita untuk ikut larut di dalamnya. Hiruk pikuk persaingan kehidupan membuat banyak pihak lalai akan tuntutan pendidikan yang sebenarnya. sekolah yang semula berperan sebagai medium penanaman nilai-nilai luhur dan medium pengembangan ilmu pengetahuan yang akan memandu manusia menjalani hidup secara lebih arif, kini justru diarahkan sekedar mencetak para pekerja. Para pelajar dididik untuk memiliki keahlian tertentu sesuai kebutuhan dunia bisnis. Mereka didesain untuk menjadi mesin pencetak uang.
Ada semacam sub-ordinasi. atau penundukan pendidikan, di bawah kepentingan kapitalisme. Lembaga pendidikan tak lagi hadir untuk melayani kepentingan kemanusiaan, melainkan lebih dari abdi para pemilik modal. Bahkan, bermetamorfosa menjadi institutsi kapitalis. Dan sebaliknya, di kalangan masyarakat sendiri, kewajiban menuntut ilmu, sebagaimana dipesankan Rasulullah "menuntut ilmu itu wajib bagi kaum muslimin dan muslimat" (HR. Thabrani), bergeser menjadi sekedar tuntutan untuk mendapatkan pekerjaan setelah selesai sekolah. Semua pihak seolah tenggelam dalam adagium "buat apa sekolah bila tujuannya bukan buat mencari duit".
Kebanyakan orang tua, bangga kalau anak mereka memiliki NEM yang tinggi, meski dia tidak memeiliki kreativitas dan kepekaan untuk menerapkan kepribadian yang luhur. Kebanyakan orang tua juga bangga ketika sang anak bergelar tinggi, menjadi kaum profesional berkeahlian tinggi yang sesuai tuntutan pasar sembari menomorduakan soal moralitas. Terlalu naif bicara moralitas di tengah kecenderungan diagungkannya kecerdikan siasat, kekayaan dan kekuasaan.
Pada kahirnya, wajar-wajar sajalah jika kemudian anak menjadi demikian mudah mengesampingkan aturan moral. Mereka seolah teramat ringan dan tanpa beban untuk berzinah, berbohong maupun menganiaya sesama. Toh mereka tidak dididik untuk tidak melakukan itu semua. Mereka memang diajarkan bahwa perilaku-perilaku itu adalah kejahatan modal. Tapi mereka tidak diberi kesempatan dan bimbingan yang cukup agar semua petuah moral itu terhayati dan menjadi bagian dari kepribadian.
Terlebih, lingkungan dimana mereka hidup sehari-hari, justru lebih mendorong mereka mengabaikan moralitas dan kemuliaan akhlak. Mereka menyaksikan para pengelola lembaga pendidikan, menjadikan mereka sebagai komoditas yang penting hanya ketika mereka pun, a tang. Mereka menyaksikan banyak guru dan pendidik yang bicara tentang kebajikan dan keluhuran akhlak, tapi di luar kelas mereka memanipulasi prestasi kepegawaian agar cepat naik pangkat, menjual LKS dan seragam secara paksa, bahkan juga tak segan menyuap agar jadi kepala sekolah.
Di luar itu, mereka juga menyaksikan orang tua mereka, para pemuka agama, para elit politik, juga hanya bisa bicara tentang yang baik-baik. Sementara realitasnya, mereka tahu bahwa banyak orang tua yang menjadi kaya karena korupsi, sebagian pemuka agama menjadi stempel kekuasaan, dan para elit politik melanggengkan kekuasaan dengan menindas dan membohongi rakyat.
Sungguh, teramat wajar para pelajar kita berbuat amoral, karena mereka adalah anak yang lahir dari rahim kemunafikan. Begitu banyak paradoks di tengah kehidupan orang dewasa yang mereka saksikan setiap hari. Mereka bingung melihat kebenaran menjadi soal selera, dan moralitas sekadar kata-kata. Mereka kehilangan kemampuan untuk membedakan yang salah dari yang benar. Karena itu, mereka kecewa dan ingin membalas dendam.
Kembalikan Fungsi Sekolah
Seperti dituliskan Hendrawan Nadesul dalam artikelnya, hasil riset yang dilakukan oleh George Barna di sekolah-sekolah Amerika tahun 1994 menunjukkan, bila anak tidak mengenal standar kebenaran, mereka akan berbohong kepada orang tua, suka menyontek, mencuri, terlibat narkoba, menyakiti orang lain, hidup tanpa tujuan, merasa kesal, kecewa dan marah kepada kehidupan.
Dengan banyaknya kejadian ini, lembaga pendidikan harus berintrospeksi, untuk mau mengevaluasi sistem pendidikan yang selama ini diterapkan. Semua pihak yang berkepentingan dengan sekolah, mesti merumuskan cara mengembalikan sekolah sebagai laboratorium pendidikan. Tempat anak-anak didik, belajar tentang moralitas dan kebajikan sebelum mereka terjun ke masyarakat. Dan para orang tua, elit politik, tak lagi meracuni pola pikir para pelajar kita dengan perilaku paradoks dan ambisi duniawi berlebihan.
Sehingga, janji Tuhan yang akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman serta orang-orang yang menuntut ilmu (QS. Al Mujadilah,58: 11) betul-betul terbukti serta benar adanya. Dan dunia pun kembali menjadi damai oleh anak-anak terpelajar yang menebarkan senyum dan salam. Wallahu a'alam.