Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume VII Tahun 2008; Edisi 07 Perdangan Perempuan Adalah Kejahatan Kemanusiaan: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(3 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''Informasi Buletin:'''
[[Berkas:AlBasyar Vol7 (Cov7).jpg|kiri|nirbing|459x459px]]
'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
Baris 15: Baris 16:
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|11 April 2008 (04 Rabi'ul Akhir 1429H)
|11 April 2008 M
|-
|
|
|''(04 Rabi'ul Akhir 1429H)''
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 28: Baris 33:
|:
|:
|[https://drive.google.com/file/d/1ClWRS6dU_LAH8RlHNNi-Ep7VNsEnQiZg/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|[https://drive.google.com/file/d/1ClWRS6dU_LAH8RlHNNi-Ep7VNsEnQiZg/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}
|}''Mawar dan Melati (bukan nama asli), gadis belia usia 18-an, suatu hari ditawari pekerjaan sebagai pelayan salah satu cafe di Jakarta oleh tetanggnya Andi dan Dani (bukan nama asli). Tanpa curiga, Mawar dan Melati langsung menerima tawaran tersebut. Maklum saja, mereka berasal dari keluarga kurang mampu, tawaran pekerjaan hal-hal yang ditunggu- tunggunya selama ini. Selang berapa hari, mereka diberangkatkan ke Jakarta. Sesampainya di sana, mereka langsung ditempatkan di rumah kontrakan. Dari situlah bencana dimulai, di mana kedua gadis belia tersebut ditawarkan kepada seorang germo dengan harga hanya 15 juta rupiah. Kontan saja, mereka menolak tawarn tersebut. Transaksi pun dibatalkan. Lalu keduanya ditawari kerja sebagai pelayan di warung kopi. Mereka menerimanya. Andi dan Dani menerima imbalan sebesar Rp. 600.000,-. Setelah bekerja, dua gadis lugu itu baru tahu, bahwa mereka dijebak. Warung kopi hanya kedok saja, mereka dipaksa bekerja dari jam 12 malam hingga jam 5 pagi, untuk menemani dan 'melayani' tamu laki-laki. Di malam, malam pertama, mereka terpaksa menemani minum laki-laki yang datang, tetapi menolak untuk melayani nafsu binatangnya. Pagi harinya, mereka berencana kabur dengan menghubungi saudaranya yang ada di Jakarta. Singkat cerita, Mawar selamat, berhasil pulang ke kampung halamannya. Sementara Melati ikut saudaranya di Jakarta. Dua minggu kemudian ada berita bahwa Melati meninggal dunia tertabrak kereta api. Ternyata ia stress dan trauma berat, karena apa yang telah dialaminya itu.''  
{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol7 (Cov7).jpg|italic title=Volume VII Tahun 2008; Edisi 07|title_orig=|notes=[https://drive.google.com/file/d/1ClWRS6dU_LAH8RlHNNi-Ep7VNsEnQiZg/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.7 Tahun 2008; Edisi 07]}}
 
''Mawar dan Melati (bukan nama asli), gadis belia usia 18-an, suatu hari ditawari pekerjaan sebagai pelayan salah satu cafe di Jakarta oleh tetanggnya Andi dan Dani (bukan nama asli). Tanpa curiga, Mawar dan Melati langsung menerima tawaran tersebut. Maklum saja, mereka berasal dari keluarga kurang mampu, tawaran pekerjaan hal-hal yang ditunggu- tunggunya selama ini. Selang berapa hari, mereka diberangkatkan ke Jakarta. Sesampainya di sana, mereka langsung ditempatkan di rumah kontrakan. Dari situlah bencana dimulai, di mana kedua gadis belia tersebut ditawarkan kepada seorang germo dengan harga hanya 15 juta rupiah. Kontan saja, mereka menolak tawarn tersebut. Transaksi pun dibatalkan. Lalu keduanya ditawari kerja sebagai pelayan di warung kopi. Mereka menerimanya. Andi dan Dani menerima imbalan sebesar Rp. 600.000,-. Setelah bekerja, dua gadis lugu itu baru tahu, bahwa mereka dijebak. Warung kopi hanya kedok saja, mereka dipaksa bekerja dari jam 12 malam hingga jam 5 pagi, untuk menemani dan 'melayani' tamu laki-laki. Di malam, malam pertama, mereka terpaksa menemani minum laki-laki yang datang, tetapi menolak untuk melayani nafsu binatangnya. Pagi harinya, mereka berencana kabur dengan menghubungi saudaranya yang ada di Jakarta. Singkat cerita, Mawar selamat, berhasil pulang ke kampung halamannya. Sementara Melati ikut saudaranya di Jakarta. Dua minggu kemudian ada berita bahwa Melati meninggal dunia tertabrak kereta api. Ternyata ia stress dan trauma berat, karena apa yang telah dialaminya itu.''  


Kasus yang menimpa Mawar dan Melati tidaklah sedikit jumlahnya. Kasus semacam ini biasa disebut dengan perdagangan perempuan. Kasus perdagangan perempuan di Indonesia masih jarang terungkap karena selain licinnya sindikat perdagangan perempuan, juga karena masih lemahnya [[Lembaga]] penegak Hukum di negeri ini. Selain itu banyak perempuan korban yang tidak menyadari bahwa dirinya diperdagangkan. Ini karena biasanya yang melakukan adalah orang-orang terdekat dengan diri korban, ditambah dengan nilai-nilai sosial di masyarakat yang memandang perempuan mestilah mengabdi dan berkorban. Parahnya lagi, banyak orang beranggapan bahwa, dengan melaporkan tindak kejahatan atau kasus ini sama dengan mencemarkan nama diri sendiri.
Kasus yang menimpa Mawar dan Melati tidaklah sedikit jumlahnya. Kasus semacam ini biasa disebut dengan perdagangan perempuan. Kasus perdagangan perempuan di Indonesia masih jarang terungkap karena selain licinnya sindikat perdagangan perempuan, juga karena masih lemahnya [[Lembaga]] penegak Hukum di negeri ini. Selain itu banyak perempuan korban yang tidak menyadari bahwa dirinya diperdagangkan. Ini karena biasanya yang melakukan adalah orang-orang terdekat dengan diri korban, ditambah dengan nilai-nilai sosial di masyarakat yang memandang perempuan mestilah mengabdi dan berkorban. Parahnya lagi, banyak orang beranggapan bahwa, dengan melaporkan tindak kejahatan atau kasus ini sama dengan mencemarkan nama diri sendiri.