Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume X Tahun 2020; Edisi 06 Teladan Nabi Bergaul dengan non Muslim: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(3 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
[[Berkas:AlBasyar Vol10 (Cov6).jpg|kiri|nirbing|457x457px]]
'''Informasi Buletin:'''
'''Informasi Buletin:'''
{|
{|
Baris 33: Baris 34:
|[https://drive.google.com/file/d/14wZYW4AXqUjHO9p6oFID5S8L6YhE7Jxy/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|[https://drive.google.com/file/d/14wZYW4AXqUjHO9p6oFID5S8L6YhE7Jxy/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}
|}
{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol10 (Cov6).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume X|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume X|notes=[https://drive.google.com/file/d/14wZYW4AXqUjHO9p6oFID5S8L6YhE7Jxy/view?usp=drive_link Download Al-Basyar Vol.10 Tahun 2020; Edisi 6]}}


Islam pada esensinya memandang manusia dan kemanusiaan secara positif dan optimis. Menurut Islam, manusia berasal dari satu asal yang sama; keturunan Adam dan Hawa. Meski berasal dari nenek moyang yang sama tetapi kemudian manusia menjadi bersuku-suku, berkaum-kaum, atau berbangsa-bangsa, lengkap dengan kebudayaan dan peradaban khas masing-masing. Semua perbedaan dan distingsi ini, selanjutnya mendorong mereka untuk saling mengenal dan menumbuhkan apresiasi dan respek satu sama lain. Perbedaan di antara umat manusia dalam pandangan Islam bukanlah karena warna kulit dan bangsa, tetapi hanyalah tergantung pada tingkat ketaqwaan masing-masing (Q.S Al-Hujarat 49: 13). Inilah yang menjadi dasar perspektif Islam “tentang kesatuan umat manusia” (''universal humanity''), yang pada gilirannya akan mendorong berkembangnya solidaritas antar-manusia (''ukhwah insaniyah atau ukhuwah basyariyah'')<ref>Abd Moqsith Ghazali dkk, ''merayakan kebebasan beragama'' (Jakarta: ICRP 2009), hlm. 15</ref>.   
Islam pada esensinya memandang manusia dan kemanusiaan secara positif dan optimis. Menurut Islam, manusia berasal dari satu asal yang sama; keturunan Adam dan Hawa. Meski berasal dari nenek moyang yang sama tetapi kemudian manusia menjadi bersuku-suku, berkaum-kaum, atau berbangsa-bangsa, lengkap dengan kebudayaan dan peradaban khas masing-masing. Semua perbedaan dan distingsi ini, selanjutnya mendorong mereka untuk saling mengenal dan menumbuhkan apresiasi dan respek satu sama lain. Perbedaan di antara umat manusia dalam pandangan Islam bukanlah karena warna kulit dan bangsa, tetapi hanyalah tergantung pada tingkat ketaqwaan masing-masing (Q.S Al-Hujarat 49: 13). Inilah yang menjadi dasar perspektif Islam “tentang kesatuan umat manusia” (''universal humanity''), yang pada gilirannya akan mendorong berkembangnya solidaritas antar-manusia (''ukhwah insaniyah atau ukhuwah basyariyah'')<ref>Abd Moqsith Ghazali dkk, ''merayakan kebebasan beragama'' (Jakarta: ICRP 2009), hlm. 15</ref>.