Lompat ke isi

Warkah Al-Basyar Volume I Tahun 2002; Edisi 02 Kelalaian Yang (Tak Perlu) Lagi Dimaafkan: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(7 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|image=Berkas:AlBasyar Vol1 (Cov2).jpg|italic title=Warkah Al-Basyar Volume I|title_orig=Warkah Al-Basyar Volume I|notes=[Download Vol.1 Tahun 2002; Edisi 1]}}'''Informasi Buletin:'''
[[Berkas:AlBasyar Vol1 (Cov2).jpg|kiri|nirbing|460x460px]]
'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
Baris 15: Baris 16:
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|12 Juli 2002 M
|12 Juli 2002 M ''(1 Jumadil Ula 1423 H)''
|-
|
|
|''(1 Jumadil Ula 1423 H)''
|-
|-
|Penerbit
|Penerbit
Baris 31: Baris 28:
|Link Download
|Link Download
|:
|:
|Download Warkah Al-Basyar
|[https://drive.google.com/file/d/1hEVxuQKvhjEh9IqPD5mT_53LL0Baynib/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar]
|}
|}
Kecelakan lalu lintas, agaknya telah menjadi fonemena yang rutin menghampiri memori kita. Belum lama ini, kita menyaksikan tabrakan dahsyat di Stasiun Kejaksan antara kereta Empu Jaya dengan gerbong Cirebon Ekspress. Tragedi yang menewaskan belasan orang dan melukai lebih banyak lagi. Kemudian kita saksikan kembali bagaimana dua bis dari perusahaan angkutan yang sama, Dewi Sri, beradu muka di Kapetakan Cirebon. 15 orang tewas sia-sia, dan puluhan lainya luka-luka.
Kejadian tragis yang terbaru, sebuah bus Damri nyosor ke sungai di Jember. Lebih dari 20 orang sebagian besar adalah anak-anak usia TK yang tengah lucu-lucunya, mesti kehilangan nyawa dengan sia-sia.
Musibah yang membuat nyawa-nyawa melayang, sangat menyesakkan dada setiap orang. Bagi keluarga para korban; istri yang kehilangan suami, anak yang kehilangan orang tua, atau orang tua yang ditinggalkan belahan hatinya, mereka tidak hanya sesak yang menyentak, melainkan duka memdalam, yang menyayat relung-relung kejiawaan. Bahkan acapkali, terasa kegamangan menatap masa depan yang tiba-tiba menjadi kelam.
Lantas, mengapa musibah demi musibah terus terjadi? Salah siapakah? Masih pantaskah kita menyalahkan takdir Allah, untuk kemudian saling memaafkan? Atau kesalahan alami yang harus dikutuk?
'''Muhasabah'''
Kita seharusnya jujur terhadap diri kita. Mau membuka mata hati, menatap dalam cermin diri, serta merenungi realitas kita bangun. kehidupan yang Sesungguhnya hati kecil kita akan berbisik: "inilah buah yang selayaknya kita petik". Musibah demi musibah, adalah petunjuk nyata bahwa ada sekian kesalahan dalam perilaku kita. Bukankah Sunnatullah dalam kehidupan menyatakan, bahwa kita akan memetik apa yang akan kita tanam, dan menuai apa yang akan kita taburkan?
Dalam kehidupan bermasyarakat, ada keterkaitan satu dengan yang lain. Kelalailan seseorang bisa menyeret sekian banyak orang lain yang sama sekali tidak terlibat dengan kelalaiannya. Persis seperti yang digambarkan Nabi Muhammad SAW:
"Ada sekelompok orang bepergian menggunakan kapal yang punya kabin. Orang-orang yang berada di atas memiliki akses teradap air, tidak seperti yang di bawah. Orang-orang yang berada di dasar kapal berusaha mendapatkan air, tetapi oang yang berada di atas menghalangi upaya tersebut. Sehingga orang-orang yang berada di bawah membuat lubang di dasar kapal agar bisa minum. Jika ini dibiarkan, mereka semua akan mati karena kapal akan karam. Tetapi jika orang-orang yang di atas membiarkan mereka mengakses air sehingga bisa minum, semua orang akan selamat."
'''Latar Persoalan'''
Dari tragedi-tragedi di atas; betapa keteledoran supir dalam mengemudi, atau kesalahan masinis dan petugas jaga pintu kereta misalnya, ternyata bisa menyebabkan bencana bagi banyak orang.
Hanya saja, dalam realitas kehidupan berlalu lintas di negeri kita, kita tidak bisa menimpakan kesalahan semata-mata pada tataran individual. Persoalanya, problema yang ada adalah problema yang sistematik. Berbagai bencana terjadi karena akumulasi dari keteledoran, keserakahan, kesalahan sistem pengaturan lalu lintas, juga karena tidak adanya perangkat hukum yang memadai. Ada kesalahan mendasar, yang merembet dan sekaligus menjadi pemicu bagi rangkaian kesalahan lainya.
Sebagai contoh, setoran besar yang mesti dikejar oleh para awak bus, juga sekian banyak pungli yang mau tak mau mesti dibayar, dipadukan dengan rendahnya penghasilan dan tidak ditegakkannya. peraturan lalu lintas secara konsisten, jelas menjadi penyebab para awak bus cenderung bekerja "ekstra keras" (baca: ngebut, mengangkut penumpang melebihi kapasitas, menarik ongkos diatas tarif resmi dan sebagainya). Dan kalau perlu, berbuat sewenang-wenang dan menghalalkan segala cara. Lebih dari itu, kita belum mampu mempraktikkan manajemen transportasi yang menjamin kenyamanan dan keselamatan semua pihak. Baik karena persoalan lemahnya moralitas, minimnya infrastruktur maupun rendahnya kapasitas SDM.
'''Apa Peran Kita'''
Kita semua harus bertanggung jawab. Memang tidak mudah untuk menyelesaikan. Tetapi kita harus berbuat, Setidaknya, kita memulai dengan menterjemahkan pesan agama dalam praktik kehidupan kita sehari-hari. Islam adalah agama keadilan. Keadilan ini diwujudkan dengan menempatkan sesuatu sesuai proporsinya. Keadilan juga menuntut untuk tidak melakukan kezhaliman pada siapapun. Adalah keadilan, ketika sebagai penumpang kita membayar ongkos sesuai tarif. Dan merupakan keadilan, ketika seorang kernet menarik ongkos tepat sesuai tarif, tanpa melebihkanya. Tetapi, keadilan diruntuhkan ketika seorang pengusaha transportasi, memaksakan memungut setoran besar dengan menaikan tarif, sementara kesejah-teraan awak kendaraan tetap minimal dan tidak memadai. Juga, keadilan terinjak-injak ketika awak kendaraan umum memaksa penumpang yang membayar tarif secara penuh, berimpit-impitan dalam kendaraan yang telah penuh sesak, pengap dan bau. Bahkan, sering lebihan ongkos penumpang tidak dikembalikan.
Lebih dari itu adalah perbaikan pada tataran sistem. Harus ada kebijakan yang tepat dari pemerintah, yang berorientasi pada pelayanan publik. Kontrol terhadap manajemen, kinerja dan penggunaan anggaran. Pengusaha transportasi, tidak hanya memikirkan keuntungan finansial, melainkan juga kualitas layanan, keselamatan penumpang dan pengguna jalan, sekaligus kesejahteraan para pegawainya.
'''Moralitas Dihidupkan'''
Tentu saja, yang tak kalah penting adalah penegakan hukum. Para korban musibah atau kecelakan selalu berada pada posisi yang lemah. Ditekan pengusaha, dilecehkan pejabat pemerintah, diperas anggota polisi, dijambret oleh masyarakat sekitar, atau dijadikan alat untuk mencari dana sumbangan. Ketika tawar menawar ganti rugi, mereka tidak mendapatkan hak yang selayaknya. Bahkan, sering berakhir dengan saling memaafkan, dengan alasan takdir Tuhan, atau kelalaian yang selalu bisa dimaafkan. Padahal, dalam fiqih Islam, kelalaian yang mencelakakan, harus diper-tanggungjawabkan. Dengan kata lain, harus diusut dan dihadapkan ke pengadilan.


Yang dihadapkan juga semestinya tidak melulu para pelaku langsung di lapangan. Melainkan semua pihak yang terlibat membusukkan sistem, hingga kecelakaan demi kecelakaan sering terjadi. Saatnya kita tidak lagi dibohongi dengan kelalaian. Apalagi nyawa kita dibunuh, nyawa keluarga kita, teman-teman kita, hanya dengan satu kata LALAI. Memelihara nyawa manusia adalah keimanan, dan memperjuangkannya adalah [[jihad]] ''fi sibilillah''.
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Buletin]]
[[Kategori:Buletin]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol1]]
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol1]]

Revisi terkini sejak 12 April 2026 02.00

Informasi Buletin:

Sumber : Yayasan Fahmina
Nama Buletin : Warkah Al-Basyar
Seri : Volume I Tahun 2002; Edisi 02
Tanggal Terbit : 12 Juli 2002 M (1 Jumadil Ula 1423 H)
Penerbit : Fahmina Institute
Penulis : Setyo HD.
Link Download : Download Warkah Al-Basyar

Kecelakan lalu lintas, agaknya telah menjadi fonemena yang rutin menghampiri memori kita. Belum lama ini, kita menyaksikan tabrakan dahsyat di Stasiun Kejaksan antara kereta Empu Jaya dengan gerbong Cirebon Ekspress. Tragedi yang menewaskan belasan orang dan melukai lebih banyak lagi. Kemudian kita saksikan kembali bagaimana dua bis dari perusahaan angkutan yang sama, Dewi Sri, beradu muka di Kapetakan Cirebon. 15 orang tewas sia-sia, dan puluhan lainya luka-luka.

Kejadian tragis yang terbaru, sebuah bus Damri nyosor ke sungai di Jember. Lebih dari 20 orang sebagian besar adalah anak-anak usia TK yang tengah lucu-lucunya, mesti kehilangan nyawa dengan sia-sia.

Musibah yang membuat nyawa-nyawa melayang, sangat menyesakkan dada setiap orang. Bagi keluarga para korban; istri yang kehilangan suami, anak yang kehilangan orang tua, atau orang tua yang ditinggalkan belahan hatinya, mereka tidak hanya sesak yang menyentak, melainkan duka memdalam, yang menyayat relung-relung kejiawaan. Bahkan acapkali, terasa kegamangan menatap masa depan yang tiba-tiba menjadi kelam.

Lantas, mengapa musibah demi musibah terus terjadi? Salah siapakah? Masih pantaskah kita menyalahkan takdir Allah, untuk kemudian saling memaafkan? Atau kesalahan alami yang harus dikutuk?

Muhasabah

Kita seharusnya jujur terhadap diri kita. Mau membuka mata hati, menatap dalam cermin diri, serta merenungi realitas kita bangun. kehidupan yang Sesungguhnya hati kecil kita akan berbisik: "inilah buah yang selayaknya kita petik". Musibah demi musibah, adalah petunjuk nyata bahwa ada sekian kesalahan dalam perilaku kita. Bukankah Sunnatullah dalam kehidupan menyatakan, bahwa kita akan memetik apa yang akan kita tanam, dan menuai apa yang akan kita taburkan?

Dalam kehidupan bermasyarakat, ada keterkaitan satu dengan yang lain. Kelalailan seseorang bisa menyeret sekian banyak orang lain yang sama sekali tidak terlibat dengan kelalaiannya. Persis seperti yang digambarkan Nabi Muhammad SAW:

"Ada sekelompok orang bepergian menggunakan kapal yang punya kabin. Orang-orang yang berada di atas memiliki akses teradap air, tidak seperti yang di bawah. Orang-orang yang berada di dasar kapal berusaha mendapatkan air, tetapi oang yang berada di atas menghalangi upaya tersebut. Sehingga orang-orang yang berada di bawah membuat lubang di dasar kapal agar bisa minum. Jika ini dibiarkan, mereka semua akan mati karena kapal akan karam. Tetapi jika orang-orang yang di atas membiarkan mereka mengakses air sehingga bisa minum, semua orang akan selamat."

Latar Persoalan

Dari tragedi-tragedi di atas; betapa keteledoran supir dalam mengemudi, atau kesalahan masinis dan petugas jaga pintu kereta misalnya, ternyata bisa menyebabkan bencana bagi banyak orang.

Hanya saja, dalam realitas kehidupan berlalu lintas di negeri kita, kita tidak bisa menimpakan kesalahan semata-mata pada tataran individual. Persoalanya, problema yang ada adalah problema yang sistematik. Berbagai bencana terjadi karena akumulasi dari keteledoran, keserakahan, kesalahan sistem pengaturan lalu lintas, juga karena tidak adanya perangkat hukum yang memadai. Ada kesalahan mendasar, yang merembet dan sekaligus menjadi pemicu bagi rangkaian kesalahan lainya.

Sebagai contoh, setoran besar yang mesti dikejar oleh para awak bus, juga sekian banyak pungli yang mau tak mau mesti dibayar, dipadukan dengan rendahnya penghasilan dan tidak ditegakkannya. peraturan lalu lintas secara konsisten, jelas menjadi penyebab para awak bus cenderung bekerja "ekstra keras" (baca: ngebut, mengangkut penumpang melebihi kapasitas, menarik ongkos diatas tarif resmi dan sebagainya). Dan kalau perlu, berbuat sewenang-wenang dan menghalalkan segala cara. Lebih dari itu, kita belum mampu mempraktikkan manajemen transportasi yang menjamin kenyamanan dan keselamatan semua pihak. Baik karena persoalan lemahnya moralitas, minimnya infrastruktur maupun rendahnya kapasitas SDM.

Apa Peran Kita

Kita semua harus bertanggung jawab. Memang tidak mudah untuk menyelesaikan. Tetapi kita harus berbuat, Setidaknya, kita memulai dengan menterjemahkan pesan agama dalam praktik kehidupan kita sehari-hari. Islam adalah agama keadilan. Keadilan ini diwujudkan dengan menempatkan sesuatu sesuai proporsinya. Keadilan juga menuntut untuk tidak melakukan kezhaliman pada siapapun. Adalah keadilan, ketika sebagai penumpang kita membayar ongkos sesuai tarif. Dan merupakan keadilan, ketika seorang kernet menarik ongkos tepat sesuai tarif, tanpa melebihkanya. Tetapi, keadilan diruntuhkan ketika seorang pengusaha transportasi, memaksakan memungut setoran besar dengan menaikan tarif, sementara kesejah-teraan awak kendaraan tetap minimal dan tidak memadai. Juga, keadilan terinjak-injak ketika awak kendaraan umum memaksa penumpang yang membayar tarif secara penuh, berimpit-impitan dalam kendaraan yang telah penuh sesak, pengap dan bau. Bahkan, sering lebihan ongkos penumpang tidak dikembalikan.

Lebih dari itu adalah perbaikan pada tataran sistem. Harus ada kebijakan yang tepat dari pemerintah, yang berorientasi pada pelayanan publik. Kontrol terhadap manajemen, kinerja dan penggunaan anggaran. Pengusaha transportasi, tidak hanya memikirkan keuntungan finansial, melainkan juga kualitas layanan, keselamatan penumpang dan pengguna jalan, sekaligus kesejahteraan para pegawainya.

Moralitas Dihidupkan

Tentu saja, yang tak kalah penting adalah penegakan hukum. Para korban musibah atau kecelakan selalu berada pada posisi yang lemah. Ditekan pengusaha, dilecehkan pejabat pemerintah, diperas anggota polisi, dijambret oleh masyarakat sekitar, atau dijadikan alat untuk mencari dana sumbangan. Ketika tawar menawar ganti rugi, mereka tidak mendapatkan hak yang selayaknya. Bahkan, sering berakhir dengan saling memaafkan, dengan alasan takdir Tuhan, atau kelalaian yang selalu bisa dimaafkan. Padahal, dalam fiqih Islam, kelalaian yang mencelakakan, harus diper-tanggungjawabkan. Dengan kata lain, harus diusut dan dihadapkan ke pengadilan.

Yang dihadapkan juga semestinya tidak melulu para pelaku langsung di lapangan. Melainkan semua pihak yang terlibat membusukkan sistem, hingga kecelakaan demi kecelakaan sering terjadi. Saatnya kita tidak lagi dibohongi dengan kelalaian. Apalagi nyawa kita dibunuh, nyawa keluarga kita, teman-teman kita, hanya dengan satu kata LALAI. Memelihara nyawa manusia adalah keimanan, dan memperjuangkannya adalah jihad fi sibilillah.