Warkah Al-Basyar Volume I Tahun 2003; Edisi 26 Perempuan Racun ataukah Madu Kehidupan?: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[Berkas:AlBasyar Vol1 (Cov26).jpg|kiri|nirbing|460x460px]] | |||
'''<u>Informasi Buletin:</u>''' | |||
{| | {| | ||
|Sumber | |Sumber | ||
| Baris 33: | Baris 34: | ||
|[https://drive.google.com/file/d/1XWrcaV6arj95CdCCQJF2kxPI_vwc_o1c/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar] | |[https://drive.google.com/file/d/1XWrcaV6arj95CdCCQJF2kxPI_vwc_o1c/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar] | ||
|} | |} | ||
Seorang Ibu tampak khawatir melihat perkembangan putrinya yang telah genap berusia 24 tahun namun belum mempunyai calon suami. Ia merasa ada masalah besar. Ia pun sibuk mencari calon menantu untuk putrinya. Bahkan meminta jampi-jampi kepada dukun, dengan harapan laki-laki yang melihat anak gadisnya akan tertarik. Lain perasaanya terhadap kakak laki-lakinya yang masih lajang meskipun terlah berumur 27 tahu. | |||
Cerita di atas eringkali menjadi fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Hal ini menjadi bukti bahwa dalam banyak sejarah peradaban besar dunia kapanpun termasuk sekarang ini, perempuan masih dijadikan obyek masalah. Pada puncak peradaban yang pernah ada, mungkin hanya Mesir kuno, sebagai satu-satunya peradaban yang sedikit menganugerahkan pengakuan kepada perempuan. Pengakuan negara terhadap perempuan untuk mendapatkan hak-haknya, baik di dalam lingkungan keluarga maupun di kalangan masyarakat luas, sama dengan pengakuan terhadap hak-hak pria dan tidak tergantung pada baik hati kalangan pria semata, tapi ini pun masih ada diskriminasi. | |||
Dalam [[tradisi]] orang tuda dulu, ketika memberikan nasehat pada anak perempuan disebut ''"kanca wingking"''. Ini berarti tidak punya peran. Cukup bersembunyi di balik pria. Apa pun yang dikatakan dan dilakukan pria tidak boleh dibantahnya. Perempuan mesti menjadi "''yes-women"''. Ada pula ungkapan ''"perempuan berarti swarga nunut neraka katut"'' perempuan tidak perlu mempunyai pendirian. Tidak perlu giat berusaha, ikut saja sang suami. Kalau mukti ya ikut mukti, kalau suami celaka ya harus ikut celaka. | |||
Banyak macam contoh di keluarga, mulai anak perempuan anak kelas dua sedangkan anak laki-laki anak kelas satu, segala macam perhatian harus diberikan kepada anak laki-laki lebih dulu, baru anak perempuan. Ada pembedaan wilayah hidup antara anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan didik untuk melakukan pekerjaa rumah tangga (di dalam rumah). Anak laki-laki melakukan pekerjaan di luar rumah. Permainan pun dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Ada batasan bagi anak-anak prempuan untuk menempuh pendidikan formal, tidal perlu tinggi-tinggi. Anak perempuan dibatasi dalam bergaul, baik teman bergaulnya maupun waktu bergaul. Bahkan diwanti-wanti harus hati-hati, pandai-pandai menjaga diri dan lain sebagainya. Dan kalau dipandang pantas untuk bersuami, di desak-desak untuk segera menikah walaupun belum mempunyai calon disertai kesanggupan, orang tua segera untuk mencarikan calonnya. Dan masih banyak contoh-contoh petuah atau nasehat-nasehat lain yang berkembang dimasyarakat. | |||
Mudahlah dimengerti bahwa kondisi seperti ini lambat laun perempuan menerima pola demikian seakan-akan itu merupakan kodrat dari agama yang tidak usah dipertanyakan lagi. | |||
Dalam kepercayaan tradisional yang ada, kuat sekali kecenderungan untuk melanjutkan pemberian beban dosa kepada kaum perempuan yang terlalu besar dan kejam, mereka dianggap sebagai racun dunia, pengacau kehidupan ini dan yang lebih parah lagi di legitimasi dengan cerita tentang Adam dan Hawa, di mana Hawa telah menjadi penggoda Adam hingga akhirnya keduanya diturunkan ke dunia. Islam secara tegas dan jelas membantah semua anggapan itu, terlihat dalam surat Al-A'raf ayat 211-222 mengatakan: ''"Maka setan menggoda keduanya, bersumpah kepada keduanya sesungguhnya termasuk orang-orang memberi nasehat kepada kamu berdua. Dan dia membujuk mereka dengan dipu dosa"''. Konsep-konsep yang pernah tersiar pada masa lalu dan yang masih tetap berada di kalangan masyarakat dan bangsa-bangsa tertentu di dunia pada masa kini. Anggapan bahwa perempuan menjerumuskan pria ke dalam neraka, perempuan racun bagi pria, perempuan penghancur masa depan merupakan pemalsuan yang kejam. Kata 'hak' ditafsirkan kembali untuk disebarluaskan kembali di kalangan masyarakat oleh mereka yang senantiasa prihatin akan kemerdekaan manusia seutuhnya. Dan dimanakah kemerdekaan manusia diteropong sampai ke tingkat mutlak selain agama? Dan oleh karena sarana dalam masalah ini satu-satunya manusia. Maka dengan sendirinya | |||
[[Kategori:Khazanah]] | [[Kategori:Khazanah]] | ||
[[Kategori:Buletin]] | [[Kategori:Buletin]] | ||
[[Kategori:Warkah Al-Basyar]] | [[Kategori:Warkah Al-Basyar]] | ||
[[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol1]] | [[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol1]] | ||