|
|
| Baris 33: |
Baris 33: |
| |: | | |: |
| |[https://drive.google.com/file/d/1XxusVFQUlZY-XEruKr48G8AluFwMPKA5/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar] | | |[https://drive.google.com/file/d/1XxusVFQUlZY-XEruKr48G8AluFwMPKA5/view?usp=drive_link Download Warkah Al-Basyar] |
| |}Islam ''rahmatan lil ‘alamin'' adalah Islam yang memproklamasikan dan mengamalkan rahmat bagi semesta. Bumi dan seisinya tidak diciptakan hanya untuk orang-orang Islam. Allah Swt menciptakannya untuk kepentingan semua orang dan semua makhluk yang ada di muka bumi ini. Muslim maupun non-muslim, manusia, hewan atau tumbuh-tumbuhan, semua memiliki hak yang sama untuk memperoleh dan menikmati kerahmatan sebagai ciptaan-Nya. Termasuk dalam mengelola dan memanfaatkan bumi ini. mereka tidak boleh merusak, menghancurkan atau melenyapkan tanpa ada alasan atau kepentingan yang lebih besar. Mendefinisikan kepentingan inilah yang kemudian memerlukan kajian dan bantuan pengetahuan serta tehnologi. Karena nilai dan kepentingan, bisa berubah sesuai kebutuhan kondisi sosial dan kemanusiaan. | | |} |
| | |
| Misalnya, menebang pohon memiliki nilai dan kepentingan berbeda antara di daerah yang tandus dengan di daerah yang subur. Antara masa lalu, yang mungkin masih banyak hamparan hutan belantara, dengan masa sekarang dimana sudah banyak yang gundul bahkan bumi terancam dengan kepanasan global yang lambat laun akan menghancurkannya. Sekarang, bencana silih berganti dan cuaca yang ekstrim akibat pemanasan global telah terjadi dan terus mengancam pendudukan dunia. Hutan atau sebatang pohon, saat ini memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibanding apapun. Pohon tidak hanya mampu menyerap air, tetapi juga menjadi paru-paru bumi yang membersihkan udara yang kotor akibat polusi kendaraan dan pabrik. Nilai dan kepentingan ini sebelumnya tidak terjadi, atau belum terlihat besar.
| |
| | |
| Islam yang rahmat bagi semesta harus memiliki tanggung jawab terhadap kelestarian kehidupan kemanusiaan. Sekali lagi tanpa membedakan agama, etnik, ras dan bahasa. ''Rahmatan lil 'alamin,'' harus berbentuk konsep dan tindakan nyata. Tidak hanya ajakan dan pembicaraan di mimbar khutbah atau meja-meja seminar. Secara prinsip, ''rahmatan lil 'alamin'' adalah agar tidak ada lagi orang, dan lingkungan, yang dirugikan dengan mengatasnamakan Islam. Jika terjadi kekerasan dan kerugian, dengan mengatasnamakan apapun tindakan kerugian itu, Islam harus bergerak dan bertindak nyata. Saya pikir ini adalah prinsip, dan tidak perlu harus dikuatkan dengan ayat-ayat atau teks-teks [[hadits]]. Tetapi umat Islam, biasanya tidak merasa mantap jika tidak ada ayat atau teks hadits.
| |
| | |
| Jika demikian, kita bisa belajar dari konsep Nabi Saw yang mengharamkan 'pencabutan rumput atau pohon' di tanah haram. Mungkin bagi orang Indonesia terlihat aneh, tapi bagi orang yang hidup di tanah tandus. akan merasakan manfaat yang sangat besar dari sepotong rumput sekalipun. Sehingga perlu diberikan konsep 'haram mencabut rumput dan pohon'. Orang tua kita juga, sebenarnya sudah arif dengan menggunakan istilah 'pamali' 'pohon keramat' atau 'pohon ditunggu orang tua'. Ini semua sebenarnya bahasa masyarakat pada saat itu, untuk ikut menjaga dan melestarikan lingkungan. Kita tidak perlu menebang hanya karena dianggap syirik. Kita bisa melakukan 'da'wah' tanpa harus menebang pohon atau merusak lingkungan.
| |
| | |
| Orang-orang yang melakukan pengrusakan terhadap lingkungan, [[tradisi]] atau yang lain dengan atas nama anti-syirik, adalah orang-orang yang tidak mampu menemukan metode ''bil hikmah wal mawizhah hasanan.'' Mereka hanya ingin mengamalkan cara cepat dan menimbulkan ketakutan publik. Ini membahayakan.
| |
| | |
| Saat ini menebang pohon sangat berbahaya. Kita bisa mengatakan bahwa seluruh bumi, sekarang menjadi 'tanah haram'. Kita harus mencanangkan penanaman pohon sebanyak mungkin, bukan pencabutan dan penebangan pohon. Inilah yang menjadi salah satu perintah Allah SWT kepada manusia sebagai khalifah di bumi. Mereka diciptakan untuk memakmurkan dan melestarikan, bukan sebaliknya.
| |
| | |
| ''"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Saleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu untuk memakmurkannya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)." (QS. Hud, 11: 61).''
| |
| | |
| Beberapa teks hadits juga memberikan apresiasi kepada mereka yang suka menanam pohon, tanaman atau sayuran. Anas bin Malik ra berkata: bahwa Nabi Saw bersabda: ''"Tidak sekali-kali seorang muslim menanam pohon, atau bercocok tanam, kemudian dari hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang ternak, kecuali orang tersebut akan memperoleh pahala shadaqah".''
| |
| | |
| Dalam riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah ra: ''"Tidak sekali-kali seorang muslim menanam pohon, kecuali yang dimakan dari hasilnya akan menjadi shadaqah baginya, yang dicuri darinya akan menjadi shadaqah, yang dimakan binatang buas akan menjadi shadaqah, yang dimakan burung akan menjadi shadaqah dan yang diminta seseorang juga akan menjadi shadaqah baginya", (Riwayat at-Turmudzi)''. Anjuran untuk menanam pohon dan tanaman, dipertegas lagi dalam suatu teks hadits, yang sangat dikenal di kalangan pesantren. Bahwa ''"Apabila hari kiamat tiba dan di tanganmu ada benih tanaman, maka kalau masih bisa menanamnya, lakukanlah" (HR. Imam Ahmad)''.
| |
| | |
| Menurut beberapa ulama, sebagaimana dicatat al-Asqallani dalam Fath al-Bari, hadits at-Turmudzi juga dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa seorang yang fasiqpun ketika melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat untuk banyak makhluk, ia akan memperoleh pahala. Karena hadits ini menyebutkan binatang ternak, burung dan pencuri yang memanfaatkan hasil tanaman, berarti siapapun yang menanam akan memperoleh balasan dan pahala.
| |
| | |
| Tentu saja, ini hanya contoh dan bukan segalanya. Kita harus memiliki kreatifitas yang memungkinkan kita bisa menjaga dan melestarikan lingkungan. Kepentingan lingkungan, bukan hanya soal tanah atau pohon dan tumbuh-tumbuhan. Kita harus menggunakan ilmu pengetahuan untuk menelusuri lebih banyak kekayaan alam dan mendalami metode dan cara untuk melestarikan, demikepentingan kemanusiaan dan kepentingan lingkungan hidup. Tetapi tentu saja tidak hanya menjadi jargon dunia maju untuk menekan dan memaksa dunia berkembang yang mungkin hanya memiliki sumber daya alam. Ini seharusnya menjadi kewajiban bersama, dengan pengelolaan yang adil dan tidak menggusur orang-orang lemah. Mungkin ini sulit, sebagaimana sulitnya mengartikulasikan [[Islam Rahmatan Lil 'Alamin|Islam rahmatan lil 'alamin]]' di tengah-tengah kepentingan golongan dan kelompok. Tetapi jika kita tidak sadar dan memulai, kita akan menjadi korban yang pertama. ''Walaahu a'lam bi ashshawab wal hamdu lillahi rabbil 'alamin''. []
| |
| | |
| Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Katulistiwa Kempek Cirebon.
| |
| [[Kategori:Khazanah]] | | [[Kategori:Khazanah]] |
| [[Kategori:Buletin]] | | [[Kategori:Buletin]] |
| [[Kategori:Warkah Al-Basyar]] | | [[Kategori:Warkah Al-Basyar]] |
| [[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol8]] | | [[Kategori:Warkah Al-Basyar Vol8]] |