Warkah Al-Basyar Volume I Tahun 2002; Edisi 06 Rumah Sakit:Rumah Yang Menyakitkan?: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 48: | Baris 48: | ||
Selain itu, ada satu hal yang agaknya sudah menjadi rahasia umum dan kerap terjadi (pada hampir setiap [[lembaga]] pelayanan publik). Yaitu masalah tidak transparannya pelayanan seperti yang dialami salah seorang pasien yang memeriksakan paru-parunya di balai pengobatan spesialis. Awalnya tidak begitu masalah ketika baru membayar pendaftaran. Masalah muncul ketika pada langkah-langkah berikutnya ia harus membayar tes darah, tes urine, tes dahak, hingga rontgen yang tanpa bukti pembayaran Agaknya kita semua paham bahwa seyogyanya semua penerimaan lembaga pelayanan publik harus disertai bukti/kuitansi. Kalau tidak, maka indikasi untuk masuk kantong pribadi menjadi lebih kuat. Kitapun bertanya-tanya benarkah yang kita bayar itu sesuai dengan ketentuan, atau justru sengaja diada-adakan untuk memanfaatkan ketidak tahuan dan kebutuhan pasien yang ingin segera sembuh. | Selain itu, ada satu hal yang agaknya sudah menjadi rahasia umum dan kerap terjadi (pada hampir setiap [[lembaga]] pelayanan publik). Yaitu masalah tidak transparannya pelayanan seperti yang dialami salah seorang pasien yang memeriksakan paru-parunya di balai pengobatan spesialis. Awalnya tidak begitu masalah ketika baru membayar pendaftaran. Masalah muncul ketika pada langkah-langkah berikutnya ia harus membayar tes darah, tes urine, tes dahak, hingga rontgen yang tanpa bukti pembayaran Agaknya kita semua paham bahwa seyogyanya semua penerimaan lembaga pelayanan publik harus disertai bukti/kuitansi. Kalau tidak, maka indikasi untuk masuk kantong pribadi menjadi lebih kuat. Kitapun bertanya-tanya benarkah yang kita bayar itu sesuai dengan ketentuan, atau justru sengaja diada-adakan untuk memanfaatkan ketidak tahuan dan kebutuhan pasien yang ingin segera sembuh. | ||
Banyak juga kasus-kasus lain yang bernuansa bisnis oriented, mengedepankan keuntungan material | Banyak juga kasus-kasus lain yang bernuansa bisnis ''oriented'', mengedepankan keuntungan material dari pada etika kemanusiaan. Sepera frekuensi pemeriksaan dokter yang kurang intensif bagi pasien kelas bawah. Juga senyum perawat agak menghilang dan kurang menghibur kaum bawah yang meronta-ronta menahan sakit. | ||
Profesionalisme juga patut kita pertanyakan kepada personil rumah sakit ketika seorang pasien yang hendak bersalin di sebuah rumah sakit, justru penanganannya dilakukan oleh suaminya sendiri dan dibantu oleh perawat pria? Akankah optimal penanganan yang diberikan itu? Bahkan ada sebuah cerita, seorang ibu mesti kehilangan nyawanya karena terlambat ditangani. Dan persoalannya sederhana, ketika ibu itu ke rumah sakit, ia tak didampingi suami yang sedang ada urusan lain. | Profesionalisme juga patut kita pertanyakan kepada personil rumah sakit ketika seorang pasien yang hendak bersalin di sebuah rumah sakit, justru penanganannya dilakukan oleh suaminya sendiri dan dibantu oleh perawat pria? Akankah optimal penanganan yang diberikan itu? Bahkan ada sebuah cerita, seorang ibu mesti kehilangan nyawanya karena terlambat ditangani. Dan persoalannya sederhana, ketika ibu itu ke rumah sakit, ia tak didampingi suami yang sedang ada urusan lain. | ||
| Baris 58: | Baris 58: | ||
Sesungguhnya para personal rumah sakit (perawat, dokter hingga birokratnya) adalah menusia-manusia yang dididik khusus untuk mengusung nilai-nilai tinggi kemanusiaan. Karenanya, mereka dituntut mengerti betul akan penderitaan yang dirasakan oleh pasien dan kemudian berjuang keras membantu pasien agar segera pulih dari sakit. Maka perlakuan yang lemah lembut, pengertian, proporsional dan memanusiakan adalah suatu keharusan. Setiap pasien maupun keluarga nya jelas tak mengharapkan pedakuan yang asal-asalan, apalagi sampai melakukan manuver (kebohongan) tertentu hanya untuk keuntungan materi pribadi. Baik dengan memanfaatkan kebutuhan pasien terhadap pengobatan, maupun ketidak tahuan pasien terhadap aturan dan prosedur. Sebuah sikap buruk yang sering diungkapkan dengan bahasa "memancing di air keruh". Betapa tidak manusiawinya manakala kemampuan dan kepandaian yang dimiliki justru dipakai untuk memanfaatkan ketidakmampuan dan kebodohan orang lain. | Sesungguhnya para personal rumah sakit (perawat, dokter hingga birokratnya) adalah menusia-manusia yang dididik khusus untuk mengusung nilai-nilai tinggi kemanusiaan. Karenanya, mereka dituntut mengerti betul akan penderitaan yang dirasakan oleh pasien dan kemudian berjuang keras membantu pasien agar segera pulih dari sakit. Maka perlakuan yang lemah lembut, pengertian, proporsional dan memanusiakan adalah suatu keharusan. Setiap pasien maupun keluarga nya jelas tak mengharapkan pedakuan yang asal-asalan, apalagi sampai melakukan manuver (kebohongan) tertentu hanya untuk keuntungan materi pribadi. Baik dengan memanfaatkan kebutuhan pasien terhadap pengobatan, maupun ketidak tahuan pasien terhadap aturan dan prosedur. Sebuah sikap buruk yang sering diungkapkan dengan bahasa "memancing di air keruh". Betapa tidak manusiawinya manakala kemampuan dan kepandaian yang dimiliki justru dipakai untuk memanfaatkan ketidakmampuan dan kebodohan orang lain. | ||
Maka rasanya perlu kembali ditumbuh kembangkan penyadaran sikap dan rasa kemanusiaan dan para personil rumah sakit, juga penyadaran bahwa tugas yang diembannya sesungguhnya adalah amanah (titipan/kepercayaan) yang amat sangat mulia dan memiliki nilai tinggi baik di mata manusia maupun agama apabila dilaksanakan dengan penuh rasa kemanusiaan tanpa kepentingan yang menyesatkan. Apalagi mereka semua mendapatkan bayaran yang relatif memadai. Dalam al-Quran, Tuhan menegaskan, ''"Barangsiapa yang menghidupkan (satu) jiwa, maka seakan-akan dia menghidupkan manusia seluruhnya. "(5:32)''. Artinya nilai untuk mempertahankan kehidupan satu jiwa dengan berusalia menghindari kematiannya adalah sama halnya dengan mempertahankan kehidupan seluruh manusia di muka bumi. Dan disitulah sesungguhnya terdapat | Maka rasanya perlu kembali ditumbuh kembangkan penyadaran sikap dan rasa kemanusiaan dan para personil rumah sakit, juga penyadaran bahwa tugas yang diembannya sesungguhnya adalah amanah (titipan/kepercayaan) yang amat sangat mulia dan memiliki nilai tinggi baik di mata manusia maupun agama apabila dilaksanakan dengan penuh rasa kemanusiaan tanpa kepentingan yang menyesatkan. Apalagi mereka semua mendapatkan bayaran yang relatif memadai. Dalam al-Quran, Tuhan menegaskan, ''"Barangsiapa yang menghidupkan (satu) jiwa, maka seakan-akan dia menghidupkan manusia seluruhnya. "(5:32)''. Artinya nilai untuk mempertahankan kehidupan satu jiwa dengan berusalia menghindari kematiannya adalah sama halnya dengan mempertahankan kehidupan seluruh manusia di muka bumi. Dan disitulah sesungguhnya terdapat nilai [[jihad]] yang sesungguhnya. | ||
Akhirnya, pederitaan rasa sakit dan kematian setiap saat dapat mengiringi setiap mahluk Tuhan. Termasuk di dalamnya manusia-manusia yang kini tengah mendapat amanah (kepercayaan) untuk menjadi personi rumah sakit. Maka adakah kita akan berkenan apabila ketika sakit, kita justru ''disakiti'' dengan pedakuan yang lebih ''menyakitkan'' dari pada penyakit itu sendiri? Semoga kita terbiasa untuk ''berbahagia'' manakala mampu membahagiakan orang-orang yang ''kebahagiaannya'' terkurangi, karena suatu penyakit misalnya. | Akhirnya, pederitaan rasa sakit dan kematian setiap saat dapat mengiringi setiap mahluk Tuhan. Termasuk di dalamnya manusia-manusia yang kini tengah mendapat amanah (kepercayaan) untuk menjadi personi rumah sakit. Maka adakah kita akan berkenan apabila ketika sakit, kita justru ''disakiti'' dengan pedakuan yang lebih ''menyakitkan'' dari pada penyakit itu sendiri? Semoga kita terbiasa untuk ''berbahagia'' manakala mampu membahagiakan orang-orang yang ''kebahagiaannya'' terkurangi, karena suatu penyakit misalnya. | ||