Lompat ke isi

Tutik Hamidah: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '{{Infobox person|name=Tutik Hamidah|birth_date=|image=Berkas:Tutik Hamidah.jpg|imagesize=220px|known for=|occupation=}}'''Tutik Hamidah''' yang akrab dipanggil Bu Tuti...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox person|name=Tutik Hamidah|birth_date=|image=Berkas:Tutik Hamidah.jpg|imagesize=220px|known for=|occupation=}}'''Tutik Hamidah''' yang akrab dipanggil Bu Tutik ini lahir di Lamongan pada tanggal 23 April 1959. Saat ini, kegiatan utama Bu Tutik adalah sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Saat ini ia menjabat sebagai ketua di [[Lembaga]] Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
{{Infobox person|name=Tutik Hamidah|birth_date=23 April 1959|image=Berkas:Tutik Hamidah.jpg|imagesize=220px|known for=*Karya penelitian terkait fiqh dan gender, misalnya artikel berjudul “An Analysis of the Contents of Da'wah Attaki in You Tube Media with the Title ‘The Most Beautiful Love’ in the Perspective of Religious Moderation”, yang diseminarkan di International Conference on Engineering, Technology, and Social Sciences (ICONETOS) tahun 2020.
*Pada tahun 2011 ia menulis buku yang berjudul Fikih Perempuan Berwawasan Keadilan Gender.|occupation=*Bu Tutik adalah dosen di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Saat ini ia menjabat sebagai ketua di Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di universitas Islam tersebut.
*Aktif menjalankan kegiatan dakwah dan keorganisasian di masyarakat, misalnya kegiatannya sebagai anggota Majelis Ulama Indonesia Kota Malang.}}'''Tutik Hamidah''' yang akrab dipanggil Bu Tutik ini lahir di Lamongan pada tanggal 23 April 1959. Saat ini, kegiatan utama Bu Tutik adalah sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Saat ini ia menjabat sebagai ketua di [[Lembaga]] Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.


Selama pelaksanaan [[KUPI]], Bu Tutik terlibat sebagai peserta aktif, terutama dalam diskusi-diskusi yang bertemakan tentang perubahan batas mininal usia pernikahan, penghapusan kekerasan seksual, dan dakwah perempuan. Pengalaman mengikuti KUPI memberinya semangat yang lebih kuat untuk menjalankan kegiatan dakwah dan keorganisasiannya, misalnya kegiatannya sebagai anggota MUI Kota Malang. Menurutnya, perempuan juga bisa menjadi ulama selayaknya laki-laki, tergantung pada kompetensi pribadinya. “Bukankah ''sayyidah'' Aisyah sering berfatwa?” tanyanya menegaskan.
Selama pelaksanaan [[KUPI]], Bu Tutik terlibat sebagai peserta aktif, terutama dalam diskusi-diskusi yang bertemakan tentang perubahan batas mininal usia pernikahan, penghapusan kekerasan seksual, dan dakwah perempuan. Pengalaman mengikuti KUPI memberinya semangat yang lebih kuat untuk menjalankan kegiatan dakwah dan keorganisasiannya, misalnya kegiatannya sebagai anggota MUI Kota Malang. Menurutnya, perempuan juga bisa menjadi ulama selayaknya laki-laki, tergantung pada kompetensi pribadinya. “Bukankah ''sayyidah'' Aisyah sering berfatwa?” tanyanya menegaskan.
Baris 10: Baris 12:
Enam tahun tinggak di Pesantren Walisongo, Bu Tutik memiliki memori baik tentang cara K.H. Adlan mengajar. “Beliau mengajar kitab ''Riyadhus Shalihin'', ''Shahih Bukhari,'' dan ''Fatchul Muin''. Sebagai anak yang masih kecil, saya ingat betul beliau hafal ketiga kitab itu. Sebab ketika baru membaca judulnya beliau sudah menceritakan isinya. Kadang dengan humor. Beliau sangat sabar, tidak pernah marah, meskipun saya tidur di tengah pembelajaran. ''Allahu yarham'',” kenangnya.
Enam tahun tinggak di Pesantren Walisongo, Bu Tutik memiliki memori baik tentang cara K.H. Adlan mengajar. “Beliau mengajar kitab ''Riyadhus Shalihin'', ''Shahih Bukhari,'' dan ''Fatchul Muin''. Sebagai anak yang masih kecil, saya ingat betul beliau hafal ketiga kitab itu. Sebab ketika baru membaca judulnya beliau sudah menceritakan isinya. Kadang dengan humor. Beliau sangat sabar, tidak pernah marah, meskipun saya tidur di tengah pembelajaran. ''Allahu yarham'',” kenangnya.


Anak pertama dari tiga bersaudara ini menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel. Pendidikan magister diselesaikan di Program Studi Agama dan Filsafat, IAIN Sunan Kalujaga, dan pendidikan doktoralnya ditempuh di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta pada tahun 2010. Ia meraih gelar profesor pada tahun 2020 dalam bidang ''Ushul Fiqh''. Ia memilih kajian ini sebab menurutnya ilmu ini mulai dilupakan<ref>https://www.timesindonesia.co.id/read/news/293360/guru-besar-uin-maliki-prof-tutik-pilih-ilmu-yang-mulai-dilupakan-orang</ref>.
Anak pertama dari tiga bersaudara ini menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel. Pendidikan magister diselesaikan di Program Studi Agama dan Filsafat, IAIN Sunan Kalujaga, dan pendidikan doktoralnya ditempuh di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta pada tahun 2010. Ia meraih gelar profesor pada tahun 2020 dalam bidang ''Ushul [[Fiqh]]''. Ia memilih kajian ini sebab menurutnya ilmu ini mulai dilupakan<ref>https://www.timesindonesia.co.id/read/news/293360/guru-besar-uin-maliki-prof-tutik-pilih-ilmu-yang-mulai-dilupakan-orang</ref>.


== Tokoh Dan Keulamaan Perempuan ==
== Tokoh Dan Keulamaan Perempuan ==