Lompat ke isi

Yuniyanti Chuzaifah: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '{{Infobox person|name=Yuniyanti Chuzaifah|birth_date=04 Juni 1969|image=Berkas:Yuniyanti Chuzaifah.jpg|imagesize=220px|known for=*Menulis isu-isu gender dan gerakan pe...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
*Menjadi gender konsultan untuk kesetaraan Gender dan Inklusi sosial}}'''Yuniyanti Chuzaifah''' lahir di Wonogiri. Setelah purna bakti dari posisi sebagai Ketua Komnas Perempuan, sejak akhir 2019, Yuni tetap giat melakukan kerja-kerja intelektual dan aktivisme, menjadi konsultan, menulis di berbagai media, termasuk Kompas dan ''The Jakarta Post'', hingga menjadi narasumber di sejumlah forum untuk mendiskusikan isu-isu perempuan, keislaman, dan perdamaian. Hingga hari ini, Yuni kerap diminta menjadi ''board'' atau tim ahli oleh lingkaran jaringannya.
*Menjadi gender konsultan untuk kesetaraan Gender dan Inklusi sosial}}'''Yuniyanti Chuzaifah''' lahir di Wonogiri. Setelah purna bakti dari posisi sebagai Ketua Komnas Perempuan, sejak akhir 2019, Yuni tetap giat melakukan kerja-kerja intelektual dan aktivisme, menjadi konsultan, menulis di berbagai media, termasuk Kompas dan ''The Jakarta Post'', hingga menjadi narasumber di sejumlah forum untuk mendiskusikan isu-isu perempuan, keislaman, dan perdamaian. Hingga hari ini, Yuni kerap diminta menjadi ''board'' atau tim ahli oleh lingkaran jaringannya.


Yuni mengawal isu-isu Islam yang menurutnya mendesak dan membutuhkan pengawalan serius di dua kaki, yakni di organisasi perempuan hingga di Komnas Perempuan. Ia melihat bagaimana isu ''human right'' menjadi salah satu keran keulamaan yang menurutnya penting karena seringkali, ulama tidak mempertimbangkan HAM, sehingga kaum ''mustadh’afin'' menjadi semakin terlemahkan oleh sistem dan menderita kelemahan berlapis. Sementara itu isu-isu yang dalam dunia Islam memerlukan pengawalan juga tidak ia lepaskan untuk memastikan proses yang akuntabel dan hasil yang sesuai dengan harapan. Dari sinilah, Yuni melihat betapa [[KUPI]] memiliki peran yang demikian penting. Ia mengatakan bahwa KUPI menggenggam rekognisi emas karena menjadi wadah para ulama perempuan sehingga KUPI akan menjadi sebuah altar penting.
Yuni mengawal isu-isu Islam yang menurutnya mendesak dan membutuhkan pengawalan serius di dua kaki, yakni di organisasi perempuan hingga di Komnas Perempuan. Ia melihat bagaimana isu ''human right'' menjadi salah satu keran keulamaan yang menurutnya penting karena seringkali, ulama tidak mempertimbangkan HAM, sehingga kaum ''mustadh’afin'' menjadi semakin terlemahkan oleh sistem dan menderita kelemahan berlapis. Sementara itu isu-isu yang dalam dunia Islam memerlukan pengawalan juga tidak ia lepaskan untuk memastikan proses yang akuntabel dan hasil yang sesuai dengan harapan. Dari sinilah, Yuni melihat betapa [[KUPI]] memiliki peran yang demikian penting. Ia mengatakan bahwa KUPI menggenggam rekognisi emas karena menjadi wadah para [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] sehingga KUPI akan menjadi sebuah altar penting.


== Riwayat Hidup ==
== Riwayat Hidup ==
Baris 59: Baris 59:
|'''Penulis'''
|'''Penulis'''
|''':'''
|''':'''
|'''Masyithah Mirza'''
|'''Masyithah Mardhatillah'''
|-
|-
|'''Editor'''
|'''Editor'''