Lompat ke isi

Difabilitas dalam Al-Qur’an: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|publisher=|image=Berkas:Jurnal Al Istinbath vol2 no2.jpg|italic title=Mubadalah sebagai Paradigma Kesalingan dalam Relasi Suami Istri|isbn=-|pub_date=2025-04-12|cover_artist=|pages=|series=Vol. 2 No. 2 (2025)|author=*Nurul Hidayah (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) *Nasrulloh (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)|title_orig=Mubadalah sebagai Paradigma Kesalingan dalam Relasi Suami Istri|name=Jurnal Al-Istinbath|notes=[https://journal.salahuddinal-ayyu...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(6 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|publisher=|image=Berkas:Jurnal Al Istinbath vol2 no2.jpg|italic title=Mubadalah sebagai Paradigma Kesalingan dalam Relasi Suami Istri|isbn=-|pub_date=2025-04-12|cover_artist=|pages=|series=Vol. 2 No. 2 (2025)|author=*Nurul Hidayah (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
{{Infobox book|image=Berkas:Difabilitas dalam Al-Qur’an.jpg|italic title=Difabilitas dalam Al-Qur’an|pub_date=31 Oct 2015|author=*Nurul Hidayah
*Nasrulloh (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)|title_orig=Mubadalah sebagai Paradigma Kesalingan dalam Relasi Suami Istri|name=Jurnal Al-Istinbath|notes=[https://journal.salahuddinal-ayyubi.com/index.php/AlIJIH/article/view/415/647 Download PDF]|website=[https://journal.salahuddinal-ayyubi.com/index.php/AlIJIH/article/view/415 Al-Istinbath: Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam]}}
*Nasrulloh|title_orig=Difabilitas dalam Al-Qur’an|name=|notes=[https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/4521/1/104211073.pdf Download PDF]|image_caption=[https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/4521/ Walisongo Institutional Repository]}}
'''<u>Informasi Artikel Jurnal:</u>'''
'''<u>Informasi Skripsi:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://journal.salahuddinal-ayyubi.com/index.php/AlIJIH/article/view/415 Al-Istinbath: Jurnal Ilmu Hukum dan Hukum Keluarga Islam]
|[https://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/4521/ Walisongo Institutional Repository]
|-
|Seri
|:
|Vol. 2 No. 2 (2025)
|-
|-
|Penulis
|Penulis
Baris 15: Baris 11:
|Nurul Hidayah, Nasrulloh
|Nurul Hidayah, Nasrulloh
|-
|-
|DOI
|Fakultas
|:
|https://doi.org/10.71242/crwfb286
|-
|PDF
|:
|:
|[https://journal.salahuddinal-ayyubi.com/index.php/AlIJIH/article/view/415 Download PDF]
|Ushuluddin
|}
|}
'''Abstrak'''
'''Abstrak'''


Penelitian  ini bertujuan  untuk mengangkat  dan mengkaji  konsep  mubadalah  sebagai paradigma  dalam  merekonstruksi  relasi  suami  istri,  menawarkan  alternatif  terhadap dominasi  kerangka  patriarkis  yang telah  mengakar  dalam  hukum  keluarga  Islam  dan praktik  sosial.  Melalui  metode  kajian  kualitatif  normatif  dengan pendekatan  studi pustaka,  penelitian  ini  menganalisis  landasan  teologis  dan yuridis  mubadalah,  serta implikasinya  terhadap  hak  dan  kewajiban  suami  istri. Temuan  utama  menunjukkan bahwa paradigma  mubadalah,dengan  lima  pilarnya  yang menekankan  akad  sebagai perjanjian  kokoh  (mitsaqan  ghalizhan),   hubungan  berpasangan  (zawj),   saling memperlakukan  dengan  baik  (mu’asyarah  bil  ma’ruf), musyawarah, dan saling memberi  kenyamanan  (taradhin  min-huma),   membuka  ruang  substantif  bagi kesalingan  dan  keadilan  gender  dalam   keluarga  Islam.   Hal  ini   didukung  oleh penafsiran  ulang  ayat-ayat  Al-Qur'an  (QS. al-Baqarah  [2]:  187  dan QS.  al-Rum  [30]: 21)  yang secara  inheren menyiratkan  kesetaraan  dan timbal  balik, serta  reinterpretasi pasal-pasal  dalam  UU  Perkawinan  dan KHI  yang dapat  diharmonisasikan  dengan semangat kesalingan. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya mengintegrasikan perspektif mubadalah ke dalam kurikulum pendidikan pranikah dan reformasi hukum keluarga  untuk mewujudkan  tatanan  rumah yang harmonis, resilien,  dan  berkeadilan, sejalan dengan tujuan ''sakinah, mawaddah,dan'' ''wa rahmah''.
Sekarang ini para penyandang difabel masih sering kali dipandang sebelah mata bagi masyarakat luas, hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor beberapa diantaranya disebabkan oleh keterbatasan mereka untuk melakukan suatu aktivitas dan keterbatasan mereka terhadap kemampuan fisik mereka. Pandangan masyarakat yang negatif terhadap kelompok difabel juga menyebabkan kelompok tersebut sulit untuk mendapatkan kedudukan, hak, kewajiban dan peran yang sama dengan masyarakat lainnya di segala aspek kehidupan dan penghidupan
 
Adapula mitos di masyarakat dahulu bahwa (orang yang lahir) difabel adalah produk gagal. Mereka lahir sebelum sempurna untuk dilahirkan. Sebagian masyarakat mempercayai bahwa difabilitas yang dialami seseorang adalah akibat dari perbuatan yang melanggar norma sosial dan agama. Mitos lain menggambarkan difabel sebagai hukuman/kutukan yang patut diterima oleh seseorang atas kejahatan yang dilakukannya, baik langsung atau pun tidak langsung. Padahal dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa Islam sangat melarang keras taskhir (menghina dan merendahkan) orang lain dengan alasan apa pun, seperti karena bentuknya, warna kulitnya, agamanya dan lain-lain.
 
Dari uraian latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Difabilitas Dalam al-Qur’an”. Dengan rumusan masalah, pertama, bagaimana eksistensi difabel dalam al-Qur’an. Kedua, Bagaimana perhatian al-Qur’an terhadap penyandang difabel.
 
Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan. Sedangkan dalam pengolahan data, metode yang digunakan penulis adalah metode tafsir maudhu’i. Dengan sumber primernya kitab tafsir Ibnu Katsir, al-Maraghi dan al-Mishbah. Data sekundernya berupa literatur lainnya yang relevan dan yang mendukung dengan judul di atas.
 
Dengan pendekatan metodologi tersebut, penulis menemukan beberapa penemuan bahwa al-Qur’an menyebutkan 2 jenis difabel yaitu tunanetra dan tunadaksa, yang dalam al-Qur’an memberikan perhatian penuh terhadap kaum difabel, yakni dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya, baik seseorang dalam keadaan cacat atau sempurnanya, yang dinilai Allah ialah ketaqwaan dan keimanannya saja.


'''Kata kunci:''' ''Mubadalah; Kesalingan; Relasi; Suami Istri''
'''Kata kunci:'''
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Referensi Kajian KUPIBILITAS]]
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]
[[Kategori:Skripsi, Thesis dan Penelitian]]
[[Kategori:Skripsi, Thesis dan Penelitian Kupibilitas]]
[[Kategori:Skripsi Kupibilitas]]
[[Kategori:Skripsi Kupibilitas]]

Revisi terkini sejak 6 April 2026 17.59

JudulDifabilitas dalam Al-Qur’an
Penulis
  • Nurul Hidayah
  • Nasrulloh
Tahun terbit
31 Oct 2015
Download PDF

Informasi Skripsi:

Sumber : Walisongo Institutional Repository
Penulis : Nurul Hidayah, Nasrulloh
Fakultas : Ushuluddin

Abstrak

Sekarang ini para penyandang difabel masih sering kali dipandang sebelah mata bagi masyarakat luas, hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor beberapa diantaranya disebabkan oleh keterbatasan mereka untuk melakukan suatu aktivitas dan keterbatasan mereka terhadap kemampuan fisik mereka. Pandangan masyarakat yang negatif terhadap kelompok difabel juga menyebabkan kelompok tersebut sulit untuk mendapatkan kedudukan, hak, kewajiban dan peran yang sama dengan masyarakat lainnya di segala aspek kehidupan dan penghidupan

Adapula mitos di masyarakat dahulu bahwa (orang yang lahir) difabel adalah produk gagal. Mereka lahir sebelum sempurna untuk dilahirkan. Sebagian masyarakat mempercayai bahwa difabilitas yang dialami seseorang adalah akibat dari perbuatan yang melanggar norma sosial dan agama. Mitos lain menggambarkan difabel sebagai hukuman/kutukan yang patut diterima oleh seseorang atas kejahatan yang dilakukannya, baik langsung atau pun tidak langsung. Padahal dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa Islam sangat melarang keras taskhir (menghina dan merendahkan) orang lain dengan alasan apa pun, seperti karena bentuknya, warna kulitnya, agamanya dan lain-lain.

Dari uraian latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Difabilitas Dalam al-Qur’an”. Dengan rumusan masalah, pertama, bagaimana eksistensi difabel dalam al-Qur’an. Kedua, Bagaimana perhatian al-Qur’an terhadap penyandang difabel.

Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan. Sedangkan dalam pengolahan data, metode yang digunakan penulis adalah metode tafsir maudhu’i. Dengan sumber primernya kitab tafsir Ibnu Katsir, al-Maraghi dan al-Mishbah. Data sekundernya berupa literatur lainnya yang relevan dan yang mendukung dengan judul di atas.

Dengan pendekatan metodologi tersebut, penulis menemukan beberapa penemuan bahwa al-Qur’an menyebutkan 2 jenis difabel yaitu tunanetra dan tunadaksa, yang dalam al-Qur’an memberikan perhatian penuh terhadap kaum difabel, yakni dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya, baik seseorang dalam keadaan cacat atau sempurnanya, yang dinilai Allah ialah ketaqwaan dan keimanannya saja.

Kata kunci: