Eksistensi Ulama Perempuan Patut Dihargai: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi 'Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam pencapaian kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketua...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (3 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Info Artikel:''' | |||
{| | |||
|Sumber Original | |||
|: | |||
|[http://redaksiislam.com/780-ulama-perempuan-kongres-di-cirebon-hari-ini/ redaksiislam.com] | |||
|- | |||
|Tanggal Publikasi | |||
|: | |||
|26 April 2017 | |||
|- | |||
|Penulis | |||
|: | |||
| | |||
|- | |||
|Artikel Lengkap | |||
|: | |||
|[http://www.kabar-cirebon.com/2017/04/eksistensi-ulama-perempuan-patut-dihargai/ Eksistensi Ulama Perempuan Patut Dihargai] | |||
|} | |||
Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam pencapaian kemanusiaan yang adil dan beradab. | Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam pencapaian kemanusiaan yang adil dan beradab. | ||
Ketua Panitia Pengarah KUPI Hj. Badriyah Fayumi dalam Seminar Internasional Ulama Perempuan mengatakan, di antara tujuan kongres ini adalah bagaimana ulama perempuan tidak hanya memberikan kontribusinya untuk isu kebangsaan dan kemanusiaan, tetapi eksistensinya dihargai dan diakui. | Ketua Panitia Pengarah KUPI Hj. [[Badriyah Fayumi]] dalam Seminar Internasional Ulama Perempuan mengatakan, di antara tujuan kongres ini adalah bagaimana ulama perempuan tidak hanya memberikan kontribusinya untuk isu kebangsaan dan kemanusiaan, tetapi eksistensinya dihargai dan diakui. | ||
“Sebab, dominasi budaya patriarkhi berakibat pada tenggelam dan terpinggirkannya ulama perempuan dalam mengisi ruang-ruang publik,” ujarnya saat memberikan materi di Seminar Internasional Ulama Perempuan di Gedung Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Selasa (25/4/2017). | “Sebab, dominasi budaya patriarkhi berakibat pada tenggelam dan terpinggirkannya ulama perempuan dalam mengisi ruang-ruang publik,” ujarnya saat memberikan materi di Seminar Internasional Ulama Perempuan di Gedung Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Selasa (25/4/2017). | ||
| Baris 18: | Baris 37: | ||
“Kami ingin membangun kepercayaan perempuan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, justru menjunjung tinggi peran perempuan. Tantangan kesetaraan perempuan memang besar. Sebetulnya Indonesia sudah cukup baik dalam soal kesetaraan. Hanya saja Indonesia kurang menjual hal tersebut ke publik,” imbuhnya. '''(C-11)''' | “Kami ingin membangun kepercayaan perempuan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, justru menjunjung tinggi peran perempuan. Tantangan kesetaraan perempuan memang besar. Sebetulnya Indonesia sudah cukup baik dalam soal kesetaraan. Hanya saja Indonesia kurang menjual hal tersebut ke publik,” imbuhnya. '''(C-11)''' | ||
[[Kategori:Berita]] | [[Kategori:Berita]] | ||
[[Kategori:Berita Kongres 1]] | |||