Menanti Kontribusi Alimat: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi 'Kongres ulama perempuan yang baru pertama kali digelar di Indonesia, bahkan di dunia, di buka kemarin malam. Kongres mengangkat tema “Peran Ulama Perempuan dalam men...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (4 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Info Artikel:''' | |||
{| | |||
|Sumber Original | |||
|: | |||
|Pikiran Rakyat | |||
|- | |||
|Tanggal Publikasi | |||
|: | |||
|26 April 2017 | |||
|- | |||
|Penulis | |||
|: | |||
| | |||
|- | |||
|Artikel Lengkap | |||
|: | |||
|Menanti Kontribusi Alimat | |||
|} | |||
Kongres ulama perempuan yang baru pertama kali digelar di Indonesia, bahkan di dunia, di buka kemarin malam. Kongres mengangkat tema “Peran [[Ulama Perempuan]] dalam meneguhkan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan”. | Kongres ulama perempuan yang baru pertama kali digelar di Indonesia, bahkan di dunia, di buka kemarin malam. Kongres mengangkat tema “Peran [[Ulama Perempuan]] dalam meneguhkan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan”. | ||
Sebanyak 780 ulama perempuan, terdiri atas 580 orang peserta dan 200 pengamat hadir dalam acara tersebut. Mereka datang ke Cirebon dari berbagai daerah di Indonesia dan Negara. | Sebanyak 780 ulama perempuan, terdiri atas 580 orang peserta dan 200 pengamat hadir dalam acara tersebut. Mereka datang ke Cirebon dari berbagai daerah di Indonesia dan Negara. | ||
Ketua panitia pengarah (Steering Commite) | Ketua panitia pengarah (Steering Commite) [[Kongres Ulama Perempuan Indonesia]] ([[KUPI]]) [[Badriyah Fayumi]] mengungkapkan, pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia diharapkan memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab. | ||
Itu karena, kata Badriyah, ulama perempuan adalah mereka yang memiliki perhatian pada perespektif untuk kesetaraan perempuan dalam memajukan peradaban islam dan pengetahuan masyarakat madani. | Itu karena, kata Badriyah, ulama perempuan adalah mereka yang memiliki perhatian pada perespektif untuk kesetaraan perempuan dalam memajukan peradaban islam dan pengetahuan masyarakat madani. | ||
| Baris 16: | Baris 35: | ||
Sementara itu, ulama perempuan sekaligus feminis Malaysia Zaenah Anwar menilai, Indonesia sebetulnya sudah cukup baik dalam soal kesetaraan gender. “Hanya Indonesia kurang menjual hal tersebut ke publik,” kata Zaenah. | Sementara itu, ulama perempuan sekaligus feminis Malaysia Zaenah Anwar menilai, Indonesia sebetulnya sudah cukup baik dalam soal kesetaraan gender. “Hanya Indonesia kurang menjual hal tersebut ke publik,” kata Zaenah. | ||
Zaenah mengakui, tantangan kesetaraan perempuan memang besar, “Bagi kami, peran ulama perempuan di tengah hubungan antara [[komunitas]] muslim dan Negara, adalah membangun pengalaman yang baik bagaimana menginterpretasi ayat-ayat Al-Qur’an dan menyelaraskannya dengan semangat kesetaraan,” katanya. | Zaenah mengakui, tantangan kesetaraan perempuan memang besar, “Bagi kami, peran ulama perempuan di tengah hubungan antara [[komunitas]] muslim dan Negara, adalah membangun pengalaman yang baik bagaimana menginterpretasi ayat-ayat [[Al-Qur’an]] dan menyelaraskannya dengan semangat kesetaraan,” katanya. | ||
Menurut Zaenah, dalam Islam tidak ada diskriminasi. Justru Islam menjunjung tinggi peran perempuan. | Menurut Zaenah, dalam Islam tidak ada diskriminasi. Justru Islam menjunjung tinggi peran perempuan. | ||
| Baris 22: | Baris 41: | ||
Sementara itu, Hatoon Al-Fasi, ulama dari Arab Saudi dalam penyampaian tema ''“facing resistance: Personal Insight and Strategies of Women Ulama”'' mengungkapkan, ulama perempuan bertanggung jawab menyampaikan Islam moderat, kesetaraan, dan kemanusiaan. | Sementara itu, Hatoon Al-Fasi, ulama dari Arab Saudi dalam penyampaian tema ''“facing resistance: Personal Insight and Strategies of Women Ulama”'' mengungkapkan, ulama perempuan bertanggung jawab menyampaikan Islam moderat, kesetaraan, dan kemanusiaan. | ||
“Menjadi seorang [[alimat]] di kawasan kami (Arab Saudi) bukanlah tugas yang mudah. Walaupun ada ribuan perempuan lulusan pendidikan Islam, penghafal Al-Qur’an, tetapi kita tidak punya alimat yang diakui sebagai imam yang bisa melakukan ijtihad dan diakui,” katanya. | “Menjadi seorang [[alimat]] di kawasan kami (Arab Saudi) bukanlah tugas yang mudah. Walaupun ada ribuan perempuan lulusan pendidikan Islam, penghafal Al-Qur’an, tetapi kita tidak punya alimat yang diakui sebagai imam yang bisa melakukan [[ijtihad]] dan diakui,” katanya. | ||
[[Kategori:Berita]] | [[Kategori:Berita]] | ||
[[Kategori:Berita Kongres 1]] | |||