Lompat ke isi

KUPI: Momen Tepat di Tengah Kuatnya Interpretasi Maskulinitas: Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''<u>Informasi Artikel Berita:</u>''' {| |Sumber Original |: |[https://fahmina.id/kupi-rancang-pelatihan-penulisan-short-bio-untuk-perkuat-ekosistem-gerakan-ulama-perempuan/ Yayasan Fahmina] |- |Penulis |: |Zaenal Abidin |- |Tanggal Terbit |: |9 Februari 2026 |- |Artikel Lengkap |: |[https://fahmina.id/kupi-rancang-pelatihan-penulisan-short-bio-untuk-perkuat-ekosistem-gerakan-ulama-perempuan/ KUPI Rancang Pelatihan Penulisan Short Bio untuk Perkuat Ekosistem Ger...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://fahmina.id/kupi-rancang-pelatihan-penulisan-short-bio-untuk-perkuat-ekosistem-gerakan-ulama-perempuan/ Yayasan Fahmina]
|[https://swararahima.com/2018/04/03/kupi-momen-tepat-di-tengah-kuatnya-interpretasi-maskulinitas/ Swara Rahima]
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Zaenal Abidin
|Swara Rahima
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|9 Februari 2026
|3 April 2018
|-
|-
|Artikel Lengkap
|Artikel Lengkap
|:
|:
|[https://fahmina.id/kupi-rancang-pelatihan-penulisan-short-bio-untuk-perkuat-ekosistem-gerakan-ulama-perempuan/ KUPI Rancang Pelatihan Penulisan Short Bio untuk Perkuat Ekosistem Gerakan Ulama Perempuan]
|[https://swararahima.com/2018/04/03/kupi-momen-tepat-di-tengah-kuatnya-interpretasi-maskulinitas/ KUPI: Momen Tepat di Tengah Kuatnya Interpretasi Maskulinitas]
|}
|}
Majelis Musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Divisi Syiar menggelar rapat koordinasi di Griya Gus Dur, Jumat (6/2/2026), untuk merancang pelaksanaan program Co-Impact: Penguatan Ekosistem Gerakan Ulama Perempuan, khususnya melalui pelatihan penulisan short bio ulama perempuan.
Proses kultural yang cukup penting telah ditorehkan oleh perempuan-perempuan Islam Indonesia pada pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), 25-27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon Jawa Barat. Kongres yang disebut-sebut sebagai pertama kalinya di dunia ini dihadiri lebih dari 700 ulama perempuan Indonesia—dari Aceh sampai Papua—dan 15 negara sahabat. Kongres yang diinisiasi oleh Rahima, Fahmina dan Alimat ini berisi serangkaian kegiatan, seperti seminar internasional dan nasional, diskusi, peluncuran karya keulamaan perempuan, pentas seni dan budaya, serta kegiatan sosial lainnya.


Rapat ini dihadiri oleh perwakilan lima lembaga penyangga KUPI, yaitu Yayasan Fahmina, Gusdurian, AMAN Indonesia, Alimat, dan Rahima, serta perwakilan media sistem Mubadalah dan Islami.co. Hadir pula jajaran Divisi Syiar KUPI, di antaranya Jay Akhmad, Faqih Abdul Kodir, dan Iklilah Muzayyanah, bersama Kamala Chandrakirana dari Majelis Musyawarah KUPI.
Kongres Ulama Perempuan Indonesia ini, jika dilihat dari perspektif historis pembentukan teologi klasik Islam yang menunjukkan terlalu kuatnya maskulinitas, menjadi penting untuk diletakan dalam sejarah. Sejarah Islam mencatat ulama perempuan telah menjadi bagian dari setiap peradaban ilmu pengetahuan. Namun, dalam lembaran-lembaran sejarah tidak banyak ditampakkan sebagaimana popularitas ulama laki-laki. Tidak kalah penting juga kiprah organisasi-organisasi perempuan di kalangan komunitas keagamaan, seperti Muslimat dan Fatayat di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Aisyiah dan Nasyiatul Aisyiyah (NA) di lingkungan Muhammadiyah, maupun Persistri di lingkungan organisasi Persatuan Islam (Persis). Kiprah mereka ini, sedikit banyak merupakan tanggapan dari adanya tuntutan agar perempuan mendapatkan ruang untuk ber''-tafaqquh fid-dien,'' menuntut ilmu dan berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.
 
Selain itu, rapat juga diikuti oleh Sarjoko S. dari Gusdurian, Fachrul dari Mubadalah, Zenit dari Kupipedia, Zaenal Abidin dari Yayasan Fahmina, Dedik Priyatno dari Islami.co, serta Fitriyatunisa dari Rahima.
 
Pertemuan dibuka oleh Jay Akhmad yang menegaskan bahwa rapat bertujuan menghasilkan gambaran utuh pelaksanaan program Co-Impact agar berjalan strategis, terukur, dan selaras dengan mandat gerakan KUPI.
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita KUPI]]
[[Kategori:Berita 2018]]
[[Kategori:Berita 2018]]

Revisi terkini sejak 9 April 2026 00.32

Informasi Artikel Berita:

Sumber Original : Swara Rahima
Penulis : Swara Rahima
Tanggal Terbit : 3 April 2018
Artikel Lengkap : KUPI: Momen Tepat di Tengah Kuatnya Interpretasi Maskulinitas

Proses kultural yang cukup penting telah ditorehkan oleh perempuan-perempuan Islam Indonesia pada pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), 25-27 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon Jawa Barat. Kongres yang disebut-sebut sebagai pertama kalinya di dunia ini dihadiri lebih dari 700 ulama perempuan Indonesia—dari Aceh sampai Papua—dan 15 negara sahabat. Kongres yang diinisiasi oleh Rahima, Fahmina dan Alimat ini berisi serangkaian kegiatan, seperti seminar internasional dan nasional, diskusi, peluncuran karya keulamaan perempuan, pentas seni dan budaya, serta kegiatan sosial lainnya.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia ini, jika dilihat dari perspektif historis pembentukan teologi klasik Islam yang menunjukkan terlalu kuatnya maskulinitas, menjadi penting untuk diletakan dalam sejarah. Sejarah Islam mencatat ulama perempuan telah menjadi bagian dari setiap peradaban ilmu pengetahuan. Namun, dalam lembaran-lembaran sejarah tidak banyak ditampakkan sebagaimana popularitas ulama laki-laki. Tidak kalah penting juga kiprah organisasi-organisasi perempuan di kalangan komunitas keagamaan, seperti Muslimat dan Fatayat di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Aisyiah dan Nasyiatul Aisyiyah (NA) di lingkungan Muhammadiyah, maupun Persistri di lingkungan organisasi Persatuan Islam (Persis). Kiprah mereka ini, sedikit banyak merupakan tanggapan dari adanya tuntutan agar perempuan mendapatkan ruang untuk ber-tafaqquh fid-dien, menuntut ilmu dan berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.