Lompat ke isi

Difabel News Edisi 25; Kebijakan Pendidikan yang Berpihak pada Difabel: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed23.png|italic title=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|pub_date=Februari 2012|series=Th. XI  Februari 2012 Edisi 23|title_orig=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Buletin SA...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(7 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed23.png|italic title=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|pub_date=Februari 2012|series=Th. XI  Februari 2012 Edisi 23|title_orig=Kasus Kekerasan terhadap Anak Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Buletin SAPDA Edisi 23]}}'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed25.png|italic title=Kebijakan Pendidikan yang Berpihak pada Difabel|pub_date=April 2012|series=Th. XI  April 2012 Edisi 25|title_orig=Kebijakan Pendidikan yang Berpihak pada Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-25-kebijakan-pendidikan-yang-berpihak-kepada-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-25-kebijakan-pendidikan-yang-berpihak-kepada-difabel/ Buletin Difabel News Edisi 25]}}'''<u>Informasi Buletin:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ SAPDA]
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-25-kebijakan-pendidikan-yang-berpihak-kepada-difabel/ SAPDA]
|-
|-
|Nama Buletin
|Nama Buletin
Baris 11: Baris 11:
|Seri
|Seri
|:
|:
|Th. XI  Februari 2012 Edisi 23
|Th. XI April 2012 Edisi 25
|-
|PDF
|:
|[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-23-kasus-kekerasan-terhadap-anak-difabel/ Download PDF]
|}
|}
BEIT AWWA, — Hanya karena tak mau mempermalukan anak-anaknya yang sehat, sepasang suami istri warga Tepi Barat, Palestina, menyembunyikan dua anak mereka yang cacat selama 40 tahun. Hanya segelintir warga desa kecil Beit Awwa yang tahu soal Bassam Musalmeh (38) dan kakak perempuannya, Nawal (42). Mereka berdua dikurung di dalam ruang berdinding beton yang kotor dan bau pesing di belakang rumah keluarga. Polisi menemukan mereka dalam penggerebekan pada Selasa (26/8) malam, saat memburu anggota Hamas dan sejumlah penjahat di kota itu. Otoritas Palestina membantah penggerebekan itu untuk memburu anggota Hamas.
Kebijakan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus belumlah memahami konsep kebijakan yang dibuat. Bahwa kebijakan hanya ditujukan untuk penyandang disabilitas fisik berbeda untuk disabilitas CP, autisme, down syndrome dan sejenisnya. Untuk membangun mimpi, Ibu Novia Rukmi 38 tahun, yang beralamatkan di Jln. Veteran UH IV/991A Yogyakarta, membentuk komunitas orangtua dengan anak CP, pada November 2011 tahun lalu. Setidaknya 30 pengiat tengah berjuang mendapatkan hak-hak kaum disabilitas. Harapannya tulus, untuk mengadvokasi baik kepada masyarakat maupun pemerintah mengenai anak dengan CP. Sepuluh tahun sudah Novi Rukmi 38 tahun, mendampingi putrinya, Syaharani 10 tahun. Bukan waktu yang singkat bagi seorang perempuan seperti Novi untuk membesarkan anak kesayangannya yang mengidap Celebral Palsy ( CP ), sejenis down syndrome. Waktu itu akan menyekolahkan Syaharani, sempat ditolak oleh tiga Sekolah Luar Biasa, Rani panggilan akrab Syaharani kini belajar dirumah bersama keluarganya. Ibu Novi yang mempunyai anak CP mengalami kesulitan memasukkan anaknya ke suatu sekolah, yang tadinya dari Sleman dan pindah ke Kota. Namun setelah datang ke beberapa sekolah selalu ditolak dengan alasan pihak sekolah tidak bisa menyediakan akomodasi kebutuhan untuk anak CP yaitu seorang pendamping khusus. Bahkan Hak-hak difabel masih belum mendapat perhatian dari pemerintah, yang minimalnya adalah kepedulian namun pada kenyataannya masih banyak difabel yang tidak diterima di suatu sekolah karena alasan-alasan tertentu” terang bu Novi “ Lahir dengan CP, rani tumbuh berbeda dengan penyandang disabilitas mental lainnya. Ia baru bisa berjalan diusia enam tahun, saat ini sulung dari dua bersaudara itu belum bisa berbicara. “ anak dengan CP tidak selalu sama, usia 11 tahun hanya tiduran saja juga ada, “ kata Novi, ditemui disela-sela waktu istirahat sekolah difabilitas, gender dan kesehatan reproduksi yang di adakan di SAPDA , 05 Mei 2012.  
 
Kepala polisi setempat, Samih Saify, mengatakan, ketika anggotanya masuk ke rumah itu, mereka mendengar suara-suara aneh dari bawah dan tergerak untuk menyelidikinya. Mereka kemudian menemukan Bassam dalam keadaan telanjang dan Nawal mengenakan daster tipis. Polisi mengambil gambar mereka. Ibrahim, ayah kedua anak itu, ditangkap meski belum jelas alasan dia mengurung anaknya atau karena terlibat dalam organisasi Hamas. Karena perhatian media sudah begitu besar, Rabu (27/8), Bassam dan Nawal dimandikan dan diberi pakaian yang pantas. Ruang penyekapan pun sudah dibersihkan dan dirapikan meski bau pesing masih menyengat. Menurut paman mereka, Mohammed Musalmeh, kedua orang itu belum pernah didiagnosis menderita gangguan mental tertentu. Mereka juga tidak bisa bicara atau mengenal orang lain. Seorang reporter Associated Press masuk ke ruangan Nawal, tempat dia duduk di ranjang besi. Tampaknya perempuan itu tidak menyadari kehadiran orang lain di ruang itu.  


[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]]
[[Kategori:Majalah, Buletin dan Sumplemen Kupibilitas]]
[[Kategori:Majalah, Buletin dan Sumplemen Kupibilitas]]
[[Kategori:Buletin Kupibilitas]]
[[Kategori:Buletin Kupibilitas]]
[[Kategori:Buletin SAPDA]]
[[Kategori:Difabel News]]