Lompat ke isi

Perempuan Disabilitas Bergerak: 20 Perempuan Penyandang Disabilitas dari Seluruh Indonesia Ikuti Sekolah Perempuan Disabilitas Tahap Pertama yang Diselenggarakan oleh SAPDA dengan dukungan Women’s Fund Asia (WFA): Perbedaan antara revisi

Dari Kupipedia
←Membuat halaman berisi ''''<u>Informasi Artikel:</u>''' {| |Sumber Original |: |[https://sapdajogja.org/2016/02/peran-multipihak-dalam-upaya-pemenuhan-kebutuhan-dasar-dan-khusus-bagi-penyandang-disabilitas/ SAPDA] |- |Tanggal Terbit |: |2016 |- |Penulis |: |Media SAPDA |- |Artikel Lengkap |: |[https://sapdajogja.org/2016/02/peran-multipihak-dalam-upaya-pemenuhan-kebutuhan-dasar-dan-khusus-bagi-penyandang-disabilitas/ Peran Multipihak Dalam Upaya Pemenuhan Kebutuhan Dasar dan Khusus Bagi...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2016/02/peran-multipihak-dalam-upaya-pemenuhan-kebutuhan-dasar-dan-khusus-bagi-penyandang-disabilitas/ SAPDA]
|[https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ SAPDA]
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|2016
|2025
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Media SAPDA
|Media SAPDA
|-
|Artikel Lengkap
|:
|[https://sapdajogja.org/2016/02/peran-multipihak-dalam-upaya-pemenuhan-kebutuhan-dasar-dan-khusus-bagi-penyandang-disabilitas/ Peran Multipihak Dalam Upaya Pemenuhan Kebutuhan Dasar dan Khusus Bagi Penyandang Disabilitas]
|}
|}
Upaya pemenuhan kebutuhan dasar & khusus penyandang disabilitas sebagai warga Negara untuk dapat hidup sebagai manusia yang setara dan mempunyai hak yang sama dengan masyarakat pada umumnya terus dilakukan baik ditingkat lokal dalam hal ini adalah kabupaten/kota, provinsi dan tingkat pusat oleh berbagai pihak yaitu organisasi penyandang disabilitas (DPO), NGO, akademisi dan pemerintah.
{|
 
|Artikel Lengkap: [https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ Perempuan Disabilitas Bergerak: 20 Perempuan Penyandang Disabilitas dari Seluruh Indonesia Ikuti Sekolah Perempuan Disabilitas Tahap Pertama yang Diselenggarakan oleh SAPDA dengan dukungan Women’s Fund Asia (WFA)]
Idealnya semua pihak dapat melakukan kerjasama dengan memfungsikan diri sebagai pilar-pilar untuk menegakkan hak penyandang disabilitas. Pemerintah baik lokal ataupun pusat, DPO (Difabel people organization), NGO, akademisi yang mendapat dukungan penuh dari individu penyandang disabilitas, keluarga serta masyarakat akan menjadi sangat kuat dalam memainkan peran tersebut.
|}
Bagi perempuan disabilitas, kesetaraan adalah perjuangan panjang yang saat ini belum sepenuhnya tercapai. Perempuan disabilitas tidak hanya menghadapi berbagai masalah ketimpangan dalam kondisi masyarakat patriarki, tetapi juga harus berjuang agar suara mereka didengar dalam gerakan perempuan secara umum. Dalam hal ini, stigma masih kuat melekat terhadap perempuan penyandang disabilitas, di mana masyarakat dengan pandangan ableism kerap memandang mereka sebagai sosok lemah, tergantung, dan tidak memiliki peran yang berarti dalam masyarakat.


Persoalannya kembali lagi adalah gerakan pemenuhan hak dasar dan khusus penyandang disabilitas tidaklah ideal, karena kondisi yang menjadi prasyarat keidealan itu sendiri belum terpenuhi.
Kondisi ini juga diperparah dengan adanya hambatan struktural dan kultural, hambatan tersebut menghalangi perempuan disabilitas dalam menikmati hak-hak dasarnya. Perempuan disabilitas mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendidikan yang layak, layanan kesehatan yang memadai, aksesibilitas dan akomodasi yang sesuai, kesempatan kerja dengan upah yang setara, serta hak-hak sebagai perempuan dan warga negara menjadi tantangan utama yang dihadapi. Kerentanan ini pun semakin kompleks ketika dipengaruhi oleh ragam disabilitas yang dimiliki, tempat tinggal, serta bagaimana keluarga dan masyarakat mempersepsikan mereka.
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Berita Kupibilitas]]
[[Kategori:Berita Kupibilitas]]

Revisi terkini sejak 11 April 2026 01.35

Informasi Artikel:

Sumber Original : SAPDA
Tanggal Terbit : 2025
Penulis : Media SAPDA
Artikel Lengkap: Perempuan Disabilitas Bergerak: 20 Perempuan Penyandang Disabilitas dari Seluruh Indonesia Ikuti Sekolah Perempuan Disabilitas Tahap Pertama yang Diselenggarakan oleh SAPDA dengan dukungan Women’s Fund Asia (WFA)

Bagi perempuan disabilitas, kesetaraan adalah perjuangan panjang yang saat ini belum sepenuhnya tercapai. Perempuan disabilitas tidak hanya menghadapi berbagai masalah ketimpangan dalam kondisi masyarakat patriarki, tetapi juga harus berjuang agar suara mereka didengar dalam gerakan perempuan secara umum. Dalam hal ini, stigma masih kuat melekat terhadap perempuan penyandang disabilitas, di mana masyarakat dengan pandangan ableism kerap memandang mereka sebagai sosok lemah, tergantung, dan tidak memiliki peran yang berarti dalam masyarakat.

Kondisi ini juga diperparah dengan adanya hambatan struktural dan kultural, hambatan tersebut menghalangi perempuan disabilitas dalam menikmati hak-hak dasarnya. Perempuan disabilitas mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendidikan yang layak, layanan kesehatan yang memadai, aksesibilitas dan akomodasi yang sesuai, kesempatan kerja dengan upah yang setara, serta hak-hak sebagai perempuan dan warga negara menjadi tantangan utama yang dihadapi. Kerentanan ini pun semakin kompleks ketika dipengaruhi oleh ragam disabilitas yang dimiliki, tempat tinggal, serta bagaimana keluarga dan masyarakat mempersepsikan mereka.