Lompat ke isi

Dukungan Sosial Untuk Penyandang Disabilitas: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi ''''<u>Informasi Artikel:</u>''' {| |Sumber Original |: |[https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ SAPDA] |- |Tanggal Terbit |: |2025 |- |Penulis |: |Media SAPDA |} {| |Artikel Lengkap: [https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilita...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 3: Baris 3:
|Sumber Original
|Sumber Original
|:
|:
|[https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ SAPDA]
|[https://babelprov.go.id/artikel_detil/dukungan-sosial-untuk-penyandang-disabilitas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung]
|-
|-
|Tanggal Terbit
|Tanggal Terbit
|:
|:
|2025
| -
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Media SAPDA
|Dwi Ratna Laksitasari (Dinas Sosial)
|-
|Artikel Lengkap
|:
|[https://babelprov.go.id/artikel_detil/dukungan-sosial-untuk-penyandang-disabilitas Dukungan Sosial Untuk Penyandang Disabilitas]
|}
|}
{|
Disabilitas yang dekade lalu disebut dengan istilah cacat menjadi sebuah kata yang agak tabu diucapkan. Istilah tuli, bisu, buta, gila, dan idiot telah lama diganti dengan istilah yang lebih sopan. Bukan hanya karena takut menyinggung penyandang disabilitas, tapi karena memang mereka hanya mengalami disable (kurang/ tidak mampu). Tidak mampu menggunakan indera dan fisik mereka dengan maksimal. Namun, pemberdayaan yang baik atas ketidakmampuan mereka dengan pelatihan dan pendidikan yang sesuai dapat menjadikan mereka bahkan lebih unggul.
|Artikel Lengkap: [https://sapdajogja.org/2025/03/perempuan-disabilitas-bergerak-20-perempuan-penyandang-disabilitas-dari-seluruh-indonesia-ikuti-sekolah-perempuan-disabilitas-tahap-pertama-yang-diselenggarakan-oleh-sapda-dengan-dukungan-women/ Perempuan Disabilitas Bergerak: 20 Perempuan Penyandang Disabilitas dari Seluruh Indonesia Ikuti Sekolah Perempuan Disabilitas Tahap Pertama yang Diselenggarakan oleh SAPDA dengan dukungan Women’s Fund Asia (WFA)]
 
|}
Menurut Undang-Undang No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas pada Pasal 1 disebutkan bahwa penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.
Bagi perempuan disabilitas, kesetaraan adalah perjuangan panjang yang saat ini belum sepenuhnya tercapai. Perempuan disabilitas tidak hanya menghadapi berbagai masalah ketimpangan dalam kondisi masyarakat patriarki, tetapi juga harus berjuang agar suara mereka didengar dalam gerakan perempuan secara umum. Dalam hal ini, stigma masih kuat melekat terhadap perempuan penyandang disabilitas, di mana masyarakat dengan pandangan ableism kerap memandang mereka sebagai sosok lemah, tergantung, dan tidak memiliki peran yang berarti dalam masyarakat.


Kondisi ini juga diperparah dengan adanya hambatan struktural dan kultural, hambatan tersebut menghalangi perempuan disabilitas dalam menikmati hak-hak dasarnya. Perempuan disabilitas mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendidikan yang layak, layanan kesehatan yang memadai, aksesibilitas dan akomodasi yang sesuai, kesempatan kerja dengan upah yang setara, serta hak-hak sebagai perempuan dan warga negara menjadi tantangan utama yang dihadapi. Kerentanan ini pun semakin kompleks ketika dipengaruhi oleh ragam disabilitas yang dimiliki, tempat tinggal, serta bagaimana keluarga dan masyarakat mempersepsikan mereka.
Beberapa dari kita mungkin tidak bisa menerima keadaan mereka. Tidak sedikit dari kita yang menolak, bahkan menghina keadaan mereka. Padahal sewaktu-waktu kita bisa saja menjadi bagian dari mereka. Mengapa harus menjaga jarak? Yang dibutuhkan hanyalah kelapangan hati untuk mengerti dan berempati.
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Informasi dan Opini Kupibilitas]]
[[Kategori:Berita Kupibilitas]]
[[Kategori:Berita Kupibilitas]]