Lompat ke isi

Kebangkitan Perempuan di Ruang Publik: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi 'Kongres ulama perempuan Indonesia (KUPI) telah berakhir kemarin. Acara yang dihelat di pesantren Kebon Jambu, Ciwaringin, Cirebon, itu menjadi penanda baru kebangkitan...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(3 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
Kongres ulama perempuan Indonesia ([[KUPI]]) telah berakhir kemarin. Acara yang dihelat di pesantren Kebon Jambu, Ciwaringin, Cirebon, itu menjadi penanda baru kebangkitan kaum hawa. Ribuan ulama perempuan, aktivis, dan akademisi dari lintas agama turut hadir. Tiga agenda besar diusung, antara lain meneguhkan peran ulama perempuan di kancah syi’ar Islam, membuka ruang ulama perempuan untuk kerja pemberdayaan dan keadilan sosial, serta membangun basis pengetahuan mengenai ulama perempuan dan kontribusinya untuk keadaban.
'''Info Artikel:'''
{|
|Sumber Original
|:
|Harian Media Indonesia
|-
|Tanggal Publikasi
|:
|28 April 2017
|-
|Penulis
|:
|
|-
|Artikel Lengkap
|:
|Kebangkitan Perempuan di Ruang Publik
|}
 
Kongres [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) telah berakhir kemarin. Acara yang dihelat di pesantren Kebon Jambu, Ciwaringin, Cirebon, itu menjadi penanda baru kebangkitan kaum hawa. Ribuan [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]], aktivis, dan akademisi dari lintas agama turut hadir. Tiga agenda besar diusung, antara lain meneguhkan peran [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] di kancah syi’ar Islam, membuka ruang [[Ulama Perempuan|ulama perempuan]] untuk kerja pemberdayaan dan keadilan sosial, serta membangun basis pengetahuan mengenai ulama perempuan dan kontribusinya untuk keadaban.


Kehadiran ulama perempuan di ruang kekinian memiliki peran penting dalam membangun kesetaraan sekaligus meneguhkan eksistensi. Perempuan tidak lagi dianggap sebagai makhluk tak berdaya yang harus tunduk pada kultur patriarkhi. Sejarah membuktikan betapa ketidakhadiran suara perempuan dalam perumusan fikih justru semakin memperkuat suporioritas laki-laki atas perempuan.
Kehadiran ulama perempuan di ruang kekinian memiliki peran penting dalam membangun kesetaraan sekaligus meneguhkan eksistensi. Perempuan tidak lagi dianggap sebagai makhluk tak berdaya yang harus tunduk pada kultur patriarkhi. Sejarah membuktikan betapa ketidakhadiran suara perempuan dalam perumusan fikih justru semakin memperkuat suporioritas laki-laki atas perempuan.
Baris 7: Baris 26:
Hirarki dan superioritas laki-laki atas perempuan tersebut akhirnya semakin dikukuhkan dalam soal-soal fikih yang lebih menguntungkan kaum laki-laki ketimbang perempuan, seperti perkara kewarisan, persaksian, imamah, hingga persoalan yang bersifat pribadi, yakni penguasaan laki laki atas reproduksi dan seksualitas perempuan.
Hirarki dan superioritas laki-laki atas perempuan tersebut akhirnya semakin dikukuhkan dalam soal-soal fikih yang lebih menguntungkan kaum laki-laki ketimbang perempuan, seperti perkara kewarisan, persaksian, imamah, hingga persoalan yang bersifat pribadi, yakni penguasaan laki laki atas reproduksi dan seksualitas perempuan.


Karena itu, diselenggarakanya kongres ulama perempuan Indonesia sejatinya sebagai interupsi bagi kita bahwa perempuan memiliki kekuatan besar yang perlu diberikan ruang. Apalagi, menyangkut pembahasan persoalan-persoalan keperempuanan masa kini seperti masih kuatnya dominasi kultur patriarkhi, kasus pemerkosaan, kepemimpinan dan labelisasi perempuan hanya urusan privat.
Karena itu, diselenggarakanya [[Kongres Ulama Perempuan Indonesia|kongres ulama perempuan Indonesia]] sejatinya sebagai interupsi bagi kita bahwa perempuan memiliki kekuatan besar yang perlu diberikan ruang. Apalagi, menyangkut pembahasan persoalan-persoalan keperempuanan masa kini seperti masih kuatnya dominasi kultur patriarkhi, kasus pemerkosaan, kepemimpinan dan labelisasi perempuan hanya urusan privat.




Baris 32: Baris 51:


Akhirulkalam, saya sependapat dengan Rosmary Mahoney, penulis nonfiksi Amerika Serikat, dalam sebuah kolomnya, ''Serahkan Kekuasaan Kepada Wanita, niscaya mengubah dunia.''
Akhirulkalam, saya sependapat dengan Rosmary Mahoney, penulis nonfiksi Amerika Serikat, dalam sebuah kolomnya, ''Serahkan Kekuasaan Kepada Wanita, niscaya mengubah dunia.''
''Media Indonesia,'' 28 April 2017
''Sumber: Harian Media Indonesia, 28 April 2017''
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita]]
[[Kategori:Berita Kongres 1]]