Lompat ke isi

2025 Reinterpretasi Konsep Nusyūz Dan Penyelesaiannya Dalam Kompilasi Hukum Islam: Tinjauan Kritis Perspektif Mubādalah: Perbedaan antara revisi

←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal JIMI vol3 no1.jpg|italic title=Relasi Kesalingan Dalam Rumah Tangga: Kajian Atas Pola Hubungan Suami-Istri Perspektif Mubadalah|isbn=3047-2121|pub_date=2026-01-19|series=Vol. 3 No. 1 (2026)|author=*Tiara Cintia Maneza (UIN Sultan Syarif Kasim) *Jumni Nelli (UIN Sultan Syarif Kasim) *Afrizal Ahmad (UIN Sultan Syarif Kasim)|title_orig=Relasi Kesalingan Dalam Rumah Tangga: Kajian Atas Pola Hubungan Suami-Istri Perspektif Mubadalah|...'
 
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 1: Baris 1:
{{Infobox book|image=Berkas:Jurnal JIMI vol3 no1.jpg|italic title=Relasi Kesalingan Dalam Rumah Tangga: Kajian Atas Pola Hubungan Suami-Istri Perspektif Mubadalah|isbn=3047-2121|pub_date=2026-01-19|series=Vol. 3 No. 1 (2026)|author=*Tiara Cintia Maneza (UIN Sultan Syarif Kasim)
{{Infobox book|image=Berkas:Maqasid.jpg|italic title=Reinterpretasi Konsep Nusyūz Dan Penyelesaiannya Dalam Kompilasi Hukum Islam: Tinjauan Kritis Perspektif Mubādalah|isbn=2615-2622|pub_date=09-11-2025|series=Vol. 14 No. 3 (2025)|author=*Muhammad Dhiyaulhaq Syahrial Ramadhan (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
*Jumni Nelli (UIN Sultan Syarif Kasim)
*Ahmad In’am Awaluddin (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)|title_orig=Reinterpretasi Konsep Nusyūz Dan Penyelesaiannya Dalam Kompilasi Hukum Islam: Tinjauan Kritis Perspektif Mubādalah|name=|notes=[https://journal.um-surabaya.ac.id/Maqasid/article/view/28579 Download PDF]|image_caption=[https://journal.um-surabaya.ac.id/Maqasid/article/view/28579 Maqasid; Jurnal Studi Hukum Islam]}}
*Afrizal Ahmad (UIN Sultan Syarif Kasim)|title_orig=Relasi Kesalingan Dalam Rumah Tangga: Kajian Atas Pola Hubungan Suami-Istri Perspektif Mubadalah|name=|notes=[https://journal.smartpublisher.id/index.php/jimi/article/view/1478 Download PDF]|image_caption=[https://journal.smartpublisher.id/index.php/jimi/article/view/1478 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu (JIMI)]}}
'''<u>Informasi Artikel Jurnal:</u>'''
'''<u>Informasi Artikel Jurnal:</u>'''
{|
{|
|Sumber
|Sumber
|:
|:
|[https://journal.smartpublisher.id/index.php/jimi/article/view/1478 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu (JIMI)]
|[https://journal.um-surabaya.ac.id/Maqasid/article/view/28579 Maqasid; Jurnal Studi Hukum Islam]
|-
|-
|Seri
|Seri
|:
|:
|Vol. 3 No. 1 (2026)
|Vol. 14 No. 3 (2025)
|-
|-
|Penulis
|Penulis
|:
|:
|Tiara Cintia Maneza, Jumni Nelli, Afrizal Ahmad
|Muhammad Dhiyaulhaq Syahrial Ramadhan,
|-
|
|
|Ahmad In’am Awaluddin
|-
|-
|DOI
|DOI
|:
|:
|https://doi.org/10.69714/zmzegh71
|https://doi.org/10.30651/mqsd.v14i3.28579
|-
|PDF
|:
|[https://journal.um-surabaya.ac.id/Maqasid/article/view/28579 Download PDF]
|}
|}
'''Abstrak'''
'''Abstrak'''


Penelitian ini menganalisis pola relasi suami-istri berdasarkan perspektif mubadalah, yang menekankan kesalingan, keadilan, dan kerja sama dalam rumah tangga. Studi dilaksanakan di Kelurahan Sidomulyo Timur, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, dengan pendekatan kualitatif dan teknik wawancara mendalam terhadap pasangan suami-istri sebagai informan utama. Hasil penelitian mengidentifikasi empat pola relasi yang berkembang: (1) Owner–Property, (2) Head–Complement, (3) Senior–Junior, dan (4) Equal Partner. Di antara keempat pola tersebut, hanya pola Equal Partner yang secara penuh merefleksikan nilai-nilai mubadalah, sementara pola lainnya menunjukkan variasi dalam tingkat kesetaraan dan keterlibatan pasangan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa relasi suami-istri yang ideal seharusnya dibangun di atas prinsip mubadalah dan taradhin (kerelaan bersama) demi terwujudnya rumah tangga yang harmonis, adil, dan setara.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bias gender dalam pengaturan nusyūz pada Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan merumuskan reinterpretasi berdasarkan prinsip kesalingan (mubādalah). Penelitian ini mengkaji konsep nusyūz dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang dinilai masih bias gender karena hanya mengatur ''nusyūz'' dari pihak istri tanpa mengakomodasi kemungkinan ''nusyūz'' dari pihak suami. Padahal, al-Qur'an dalam QS. An-Nisa' ayat 34 dan 128 secara eksplisit mengakui bahwa ''nusyūz'' dapat dilakukan oleh kedua belah pihak. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, penelitian ini menganalisis pasal-pasal KHI tentang ''nusyūz'' (Pasal 80, 83, 84, dan 152) melalui perspektif teori mubādalah yang dikembangkan oleh Faqihuddin Abdul Kodir. Teori mubādalah menekankan prinsip kesalingan (reciprocity), kesetaraan, dan kemitraan dalam relasi suami-istri sebagaimana tertuang dalam QS. Ar-Rum: 21 dan Hadis Mu'adz bin Jabal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan ''nusyūz'' dalam KHI bertentangan dengan prinsip kesalingan karena: (1) hanya membebani istri tanpa sanksi paralel bagi suami; (2) memberikan konsekuensi hukum yang tidak proporsional berupa gugurnya hak-hak istri; (3) tidak mengatur mekanisme penyelesaian konflik yang konstruktif; dan (4) menggunakan frasa "berbakti lahir dan batin" yang abstrak dan bias gender. Penelitian ini merekomendasikan reinterpretasi komprehensif terhadap pasal-pasal terkait dengan: mengakui konsep ''nusyūz'' suami; menetapkan bahwa gugurnya kewajiban harus melalui penetapan pengadilan setelah mediasi; mengubah kewajiban menjadi bersifat resiprokal; mengatur mekanisme penyelesaian konflik bertahap; dan melindungi hak-hak dasar kedua belah pihak selama proses pemeriksaan. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis berupa kerangka reinterpretasi hukum keluarga Islam berbasis mubādalah, serta kontribusi praktis bagi pembaruan regulasi KHI agar lebih adil, egaliter, dan sesuai dengan maqāṣid al-syarī'ah dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
 
'''''Kata Kunci:''' Relasi suami-istri, mubadalah, kesetaraan gender, pola relasi keluarga, keadilan domestik.''
 
'''''Abstract:''''' ''This study analyzes the patterns of husband-wife relationships based on the mubadalah perspective, which emphasizes reciprocity, fairness, and cooperation in the household. The study was conducted in Sidomulyo Timur Village, Marpoyan Damai District, Pekanbaru City, using a qualitative approach and in-depth interviews with married couples as the main informants. The results of the study identified four developing relationship patterns: (1) Owner–Property, (2) Head–Complement, (3) Senior–Junior, and (4) Equal Partner. Among these four patterns, only the Equal Partner pattern fully reflects the values of mubadalah, while the other patterns show variations in the level of equality and involvement of the couple. This study concludes that an ideal husband-wife relationship should be built on the principles of mubadalah and taradhin (mutual consent) in order to achieve a harmonious, fair, and equal household.''


'''''Keywords:''' Marital relations, mubadalah, gender equality, family relationship patterns, domestic justice''
'''''Kata Kunci:''' Nusyūz, Kompilasi Hukum Islam, Mubādalah, Kesetaraan Gender, Hukum Keluarga Islam''  
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Khazanah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]]