Difabel News Edisi 25; Kebijakan Pendidikan yang Berpihak pada Difabel: Perbedaan antara revisi
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 11: | Baris 11: | ||
|Seri | |Seri | ||
|: | |: | ||
|Th. | |Th. XI April 2012 Edisi 25 | ||
|} | |} | ||
Kebijakan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus belumlah memahami konsep kebijakan yang dibuat. Bahwa kebijakan hanya ditujukan untuk penyandang disabilitas fisik berbeda untuk disabilitas CP, autisme, down syndrome dan sejenisnya. Untuk membangun mimpi, Ibu Novia Rukmi 38 tahun, yang beralamatkan di Jln. Veteran UH IV/991A Yogyakarta, membentuk komunitas orangtua dengan anak CP, pada November 2011 tahun lalu. Setidaknya 30 pengiat tengah berjuang mendapatkan hak-hak kaum disabilitas. Harapannya tulus, untuk mengadvokasi baik kepada masyarakat maupun pemerintah mengenai anak dengan CP. Sepuluh tahun sudah Novi Rukmi 38 tahun, mendampingi putrinya, Syaharani 10 tahun. Bukan waktu yang singkat bagi seorang perempuan seperti Novi untuk membesarkan anak kesayangannya yang mengidap Celebral Palsy ( CP ), sejenis down syndrome. Waktu itu akan menyekolahkan Syaharani, sempat ditolak oleh tiga Sekolah Luar Biasa, Rani panggilan akrab Syaharani kini belajar dirumah bersama keluarganya. Ibu Novi yang mempunyai anak CP mengalami kesulitan memasukkan anaknya ke suatu sekolah, yang tadinya dari Sleman dan pindah ke Kota. Namun setelah datang ke beberapa sekolah selalu ditolak dengan alasan pihak sekolah tidak bisa menyediakan akomodasi kebutuhan untuk anak CP yaitu seorang pendamping khusus. Bahkan Hak-hak difabel masih belum mendapat perhatian dari pemerintah, yang minimalnya adalah kepedulian namun pada kenyataannya masih banyak difabel yang tidak diterima di suatu sekolah karena alasan-alasan tertentu” terang bu Novi “ Lahir dengan CP, rani tumbuh berbeda dengan penyandang disabilitas mental lainnya. Ia baru bisa berjalan diusia enam tahun, saat ini sulung dari dua bersaudara itu belum bisa berbicara. “ anak dengan CP tidak selalu sama, usia 11 tahun hanya tiduran saja juga ada, “ kata Novi, ditemui disela-sela waktu istirahat sekolah difabilitas, gender dan kesehatan reproduksi yang di adakan di SAPDA , 05 Mei 2012. | Kebijakan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus belumlah memahami konsep kebijakan yang dibuat. Bahwa kebijakan hanya ditujukan untuk penyandang disabilitas fisik berbeda untuk disabilitas CP, autisme, down syndrome dan sejenisnya. Untuk membangun mimpi, Ibu Novia Rukmi 38 tahun, yang beralamatkan di Jln. Veteran UH IV/991A Yogyakarta, membentuk komunitas orangtua dengan anak CP, pada November 2011 tahun lalu. Setidaknya 30 pengiat tengah berjuang mendapatkan hak-hak kaum disabilitas. Harapannya tulus, untuk mengadvokasi baik kepada masyarakat maupun pemerintah mengenai anak dengan CP. Sepuluh tahun sudah Novi Rukmi 38 tahun, mendampingi putrinya, Syaharani 10 tahun. Bukan waktu yang singkat bagi seorang perempuan seperti Novi untuk membesarkan anak kesayangannya yang mengidap Celebral Palsy ( CP ), sejenis down syndrome. Waktu itu akan menyekolahkan Syaharani, sempat ditolak oleh tiga Sekolah Luar Biasa, Rani panggilan akrab Syaharani kini belajar dirumah bersama keluarganya. Ibu Novi yang mempunyai anak CP mengalami kesulitan memasukkan anaknya ke suatu sekolah, yang tadinya dari Sleman dan pindah ke Kota. Namun setelah datang ke beberapa sekolah selalu ditolak dengan alasan pihak sekolah tidak bisa menyediakan akomodasi kebutuhan untuk anak CP yaitu seorang pendamping khusus. Bahkan Hak-hak difabel masih belum mendapat perhatian dari pemerintah, yang minimalnya adalah kepedulian namun pada kenyataannya masih banyak difabel yang tidak diterima di suatu sekolah karena alasan-alasan tertentu” terang bu Novi “ Lahir dengan CP, rani tumbuh berbeda dengan penyandang disabilitas mental lainnya. Ia baru bisa berjalan diusia enam tahun, saat ini sulung dari dua bersaudara itu belum bisa berbicara. “ anak dengan CP tidak selalu sama, usia 11 tahun hanya tiduran saja juga ada, “ kata Novi, ditemui disela-sela waktu istirahat sekolah difabilitas, gender dan kesehatan reproduksi yang di adakan di SAPDA , 05 Mei 2012. | ||
Revisi terkini sejak 14 April 2026 11.31
| Judul | Kebijakan Pendidikan yang Berpihak pada Difabel |
|---|---|
| Seri | Th. XI April 2012 Edisi 25 |
| Penerbit | SAPDA |
Tahun terbit | April 2012 |
| Download PDF | |
Informasi Buletin:
| Sumber | : | SAPDA |
| Nama Buletin | : | Difabel News |
| Seri | : | Th. XI April 2012 Edisi 25 |
Kebijakan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus belumlah memahami konsep kebijakan yang dibuat. Bahwa kebijakan hanya ditujukan untuk penyandang disabilitas fisik berbeda untuk disabilitas CP, autisme, down syndrome dan sejenisnya. Untuk membangun mimpi, Ibu Novia Rukmi 38 tahun, yang beralamatkan di Jln. Veteran UH IV/991A Yogyakarta, membentuk komunitas orangtua dengan anak CP, pada November 2011 tahun lalu. Setidaknya 30 pengiat tengah berjuang mendapatkan hak-hak kaum disabilitas. Harapannya tulus, untuk mengadvokasi baik kepada masyarakat maupun pemerintah mengenai anak dengan CP. Sepuluh tahun sudah Novi Rukmi 38 tahun, mendampingi putrinya, Syaharani 10 tahun. Bukan waktu yang singkat bagi seorang perempuan seperti Novi untuk membesarkan anak kesayangannya yang mengidap Celebral Palsy ( CP ), sejenis down syndrome. Waktu itu akan menyekolahkan Syaharani, sempat ditolak oleh tiga Sekolah Luar Biasa, Rani panggilan akrab Syaharani kini belajar dirumah bersama keluarganya. Ibu Novi yang mempunyai anak CP mengalami kesulitan memasukkan anaknya ke suatu sekolah, yang tadinya dari Sleman dan pindah ke Kota. Namun setelah datang ke beberapa sekolah selalu ditolak dengan alasan pihak sekolah tidak bisa menyediakan akomodasi kebutuhan untuk anak CP yaitu seorang pendamping khusus. Bahkan Hak-hak difabel masih belum mendapat perhatian dari pemerintah, yang minimalnya adalah kepedulian namun pada kenyataannya masih banyak difabel yang tidak diterima di suatu sekolah karena alasan-alasan tertentu” terang bu Novi “ Lahir dengan CP, rani tumbuh berbeda dengan penyandang disabilitas mental lainnya. Ia baru bisa berjalan diusia enam tahun, saat ini sulung dari dua bersaudara itu belum bisa berbicara. “ anak dengan CP tidak selalu sama, usia 11 tahun hanya tiduran saja juga ada, “ kata Novi, ditemui disela-sela waktu istirahat sekolah difabilitas, gender dan kesehatan reproduksi yang di adakan di SAPDA , 05 Mei 2012.