Difabel News Edisi 07; Meratapi Nasib Bukan "Jawabannya": Membangun Motivasi dan Penerimaan Diri Terhadap Difabel: Perbedaan antara revisi
←Membuat halaman berisi '{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Buletin SAPDA Ed24.png|italic title=Stop Diskriminasi Terhadap Difabel|pub_date=Maret 2012|series=Th. XI Maret 2012 Edisi 24|title_orig=Stop Diskriminasi Terhadap Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-24-stop-diskriminasi-terhadap-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2017/02/buletin-sapda-edisi-24-stop-diskriminasi-terhadap-difabel/ Buletin Difabel News Edisi 2...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (4 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas: | {{Infobox book|publisher=SAPDA|image=Berkas:Difabel News Ed07.png|italic title=Meratapi Nasib Bukan "Jawabannya": Membangun Motivasi dan Penerimaan Diri Terhadap Difabel|pub_date=Maret 2010|series=Th. X Maret 2010 Edisi 7|title_orig=Meratapi Nasib Bukan "Jawabannya": Membangun Motivasi dan Penerimaan Diri Terhadap Difabel|name=|notes=[https://sapdajogja.org/2016/09/buletin-7-meratapi-nasib-bukan-jawabannya-membangun-motivasi-dan-penerimaan-diri-terhadap-difabel/ Download PDF]|image_caption=[https://sapdajogja.org/2016/09/buletin-7-meratapi-nasib-bukan-jawabannya-membangun-motivasi-dan-penerimaan-diri-terhadap-difabel/ Buletin Difabel News Edisi 7]}} | ||
'''<u>Informasi Buletin:</u>''' | '''<u>Informasi Buletin:</u>''' | ||
{| | {| | ||
|Sumber | |Sumber | ||
|: | |: | ||
|[https://sapdajogja.org/ | |[https://sapdajogja.org/2016/09/buletin-7-meratapi-nasib-bukan-jawabannya-membangun-motivasi-dan-penerimaan-diri-terhadap-difabel/ SAPDA] | ||
|- | |- | ||
|Nama Buletin | |Nama Buletin | ||
| Baris 12: | Baris 12: | ||
|Seri | |Seri | ||
|: | |: | ||
|Th. X | |Th. X Maret 2010 Edisi 7 | ||
|} | |} | ||
Seorang pemuda terlihat duduk termenung di sebuah teras rumah. Dia adalah Fulan, anak pak Karya yang baru mengalami kecelakaan lalu lintas hingga kedua kakinya harus diamputasi. Amputasi kaki tersebut telah memukul jiwa Fulan, pemuda yang dulu energik dan selalu ceria kini menjadi pemurung, suka menyendiri, dan mudah tersinggung. Fulan tidak lagi terlihat main gitar sambil menyanyikan lagu kesayangannya dengan gaya konser, dia juga tidak mau lagi hadir dalam rapat Karang Taruna. Padahal dulu sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya, Fulan adalah pemuda yang paling vokal dalam setiap rapat pengurus Karang Taruna, ide-idenya cukup cemerlang, maka tak salah jika tahun kemarin dia terpilih untuk mewakili kotanya menjadi Pemuda Pelopor tingkat Nasional. | |||
Kecelakaan lalu lintas tersebut telah mengubah 180 derajat kehidupan Fulan. Bagi Fulan dunia seakan begitu sempit dan masa depan hanya mimpi kosong yang hampa. Dalam catatan hariannya Fulan menuliskan bahwa dia telah mengubur dalam-dalam impian dan cita-citanya, karena dia sudah tidak yakin bahwa dia dapat mewujudkan impiannya dengan kondisi yang sekarang dia miliki. Memang telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Fulan kini menyandang predikat baru sebagai seorang difabel. Predikat baru tersebut telah membuatnya menjadi risih dan minder, karena difabel bagi dia dan masyarakat sekitar identik dengan ketidakberdayaan dan aib. Yang ada dalam benak pikiran Fulan sekarang ini hanyalah penyesalan dan ratapan akan nasib yang menimpa dirinya. | |||
Difabel, bagi sebagian masyarakat kita masih dipandang sebagai sebuah tragedi. Tak seorangpun yang sudi untuk menerima keadaan difabel, meskipun itu sebuah kejadian yang tidak disengaja. | |||
Setiap individu pasti akan melakukan penolakan ketika difabel itu menimpa dirinya. Biasanya respon yang muncul adalah stress, putus asa, rendah diri, merasa tidak berharga, dan seringkali individu tersebut menjadi sangat sensitif. Namun bagaimanapun difabel adalah suatu realitas. Ketika ia terjadi atau menimpa seseorang maka ia tak terelakkan. Sehingga satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah menerima kondisi difabel sebagai sebuah realitas. „Menerima‟ adalah kata yang mudah diucapkan namun sangat sulit untuk dilakukan. Menerima realitas memang butuh proses yang mendalam. Namun jika seseorang telah mampu melampau tahapan proses penerimaan diri, maka penerimaan diri tersebut dapat menjadi energi yang sangat dasyatuntuk menggapai impian. Sebaliknya jika seseorang individu belum melalui tahapan penerimaan diri terhadap kondisi dirinya, maka difabel dapat menjadi belenggu kehidupan dirinya. | |||
[[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]] | [[Kategori:Referensi Kajian Kupibilitas]] | ||
[[Kategori:Majalah, Buletin dan Sumplemen Kupibilitas]] | [[Kategori:Majalah, Buletin dan Sumplemen Kupibilitas]] | ||
[[Kategori:Buletin Kupibilitas]] | [[Kategori:Buletin Kupibilitas]] | ||
[[Kategori:Difabel News]] | [[Kategori:Difabel News]] | ||
Revisi terkini sejak 14 April 2026 23.11
| Judul | Meratapi Nasib Bukan "Jawabannya": Membangun Motivasi dan Penerimaan Diri Terhadap Difabel |
|---|---|
| Seri | Th. X Maret 2010 Edisi 7 |
| Penerbit | SAPDA |
Tahun terbit | Maret 2010 |
| Download PDF | |
Informasi Buletin:
| Sumber | : | SAPDA |
| Nama Buletin | : | Difabel News |
| Seri | : | Th. X Maret 2010 Edisi 7 |
Seorang pemuda terlihat duduk termenung di sebuah teras rumah. Dia adalah Fulan, anak pak Karya yang baru mengalami kecelakaan lalu lintas hingga kedua kakinya harus diamputasi. Amputasi kaki tersebut telah memukul jiwa Fulan, pemuda yang dulu energik dan selalu ceria kini menjadi pemurung, suka menyendiri, dan mudah tersinggung. Fulan tidak lagi terlihat main gitar sambil menyanyikan lagu kesayangannya dengan gaya konser, dia juga tidak mau lagi hadir dalam rapat Karang Taruna. Padahal dulu sebelum terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya, Fulan adalah pemuda yang paling vokal dalam setiap rapat pengurus Karang Taruna, ide-idenya cukup cemerlang, maka tak salah jika tahun kemarin dia terpilih untuk mewakili kotanya menjadi Pemuda Pelopor tingkat Nasional.
Kecelakaan lalu lintas tersebut telah mengubah 180 derajat kehidupan Fulan. Bagi Fulan dunia seakan begitu sempit dan masa depan hanya mimpi kosong yang hampa. Dalam catatan hariannya Fulan menuliskan bahwa dia telah mengubur dalam-dalam impian dan cita-citanya, karena dia sudah tidak yakin bahwa dia dapat mewujudkan impiannya dengan kondisi yang sekarang dia miliki. Memang telah menjadi kenyataan yang tak terbantahkan bahwa Fulan kini menyandang predikat baru sebagai seorang difabel. Predikat baru tersebut telah membuatnya menjadi risih dan minder, karena difabel bagi dia dan masyarakat sekitar identik dengan ketidakberdayaan dan aib. Yang ada dalam benak pikiran Fulan sekarang ini hanyalah penyesalan dan ratapan akan nasib yang menimpa dirinya.
Difabel, bagi sebagian masyarakat kita masih dipandang sebagai sebuah tragedi. Tak seorangpun yang sudi untuk menerima keadaan difabel, meskipun itu sebuah kejadian yang tidak disengaja.
Setiap individu pasti akan melakukan penolakan ketika difabel itu menimpa dirinya. Biasanya respon yang muncul adalah stress, putus asa, rendah diri, merasa tidak berharga, dan seringkali individu tersebut menjadi sangat sensitif. Namun bagaimanapun difabel adalah suatu realitas. Ketika ia terjadi atau menimpa seseorang maka ia tak terelakkan. Sehingga satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah menerima kondisi difabel sebagai sebuah realitas. „Menerima‟ adalah kata yang mudah diucapkan namun sangat sulit untuk dilakukan. Menerima realitas memang butuh proses yang mendalam. Namun jika seseorang telah mampu melampau tahapan proses penerimaan diri, maka penerimaan diri tersebut dapat menjadi energi yang sangat dasyatuntuk menggapai impian. Sebaliknya jika seseorang individu belum melalui tahapan penerimaan diri terhadap kondisi dirinya, maka difabel dapat menjadi belenggu kehidupan dirinya.