Lompat ke isi

Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan)
Baris 1: Baris 1:
'''Informasi Artikel:'''
{{Infobox berita, opini|italic title=Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa|sumber=[https://mubadalah.id/dimensi-difabelitas-dalam-lanskap-masyarakat-jawa/ Mubadalah.id]|name=|author=Zahra Amin|title_orig=Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa|pub_date=7 Maret 2026|image=Berkas:Mubadalah.id.png|note=}}'''[[Mubadalah]].id -''' Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa tidak mudah begitu saja kita meresapi menjadi agama masyarakat secara luas. Terjadi pergulatan yang luar biasa, terutama terkait dengan unsur-unsur pemikiran yang sudah ada sebelumnya.
{|
|Sumber Original
|:
|[https://mubadalah.id/dimensi-difabelitas-dalam-lanskap-masyarakat-jawa/ Mubadalah.id]
|-
|Tanggal Terbit
|:
|7 Maret 2026
|-
|Penulis
|:
|Zahra Amin
|}
'''[[Mubadalah]].id -''' Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa tidak mudah begitu saja kita meresapi menjadi agama masyarakat secara luas. Terjadi pergulatan yang luar biasa, terutama terkait dengan unsur-unsur pemikiran yang sudah ada sebelumnya.


Sebagaimana artikel yang saya tuliskan di edisi sebelumnya yang mengulas tentang Difabel dalam Masyarakat Indonesia. Edisi kali ini saya akan melanjutkan dengan dimensi difabelitas dalam lanskap masyarakat Jawa. Adapun sumber referensi masih dari Jurnal Perempuan No. 65 tahun 2010 dengan tema Mencari Ruang untuk Difabel.
Sebagaimana artikel yang saya tuliskan di edisi sebelumnya yang mengulas tentang Difabel dalam Masyarakat Indonesia. Edisi kali ini saya akan melanjutkan dengan dimensi difabelitas dalam lanskap masyarakat Jawa. Adapun sumber referensi masih dari Jurnal Perempuan No. 65 tahun 2010 dengan tema Mencari Ruang untuk Difabel.
Baris 23: Baris 9:
Hal ini dapat tergambar dalam berbagai serat dan mitos-mitos seperti, Centhini, Baruklinting dan yang paling kontroversial adalah suluk Gatholotjo.
Hal ini dapat tergambar dalam berbagai serat dan mitos-mitos seperti, Centhini, Baruklinting dan yang paling kontroversial adalah suluk Gatholotjo.


'''Difabel sebagai Simbol Perlawanan'''
== Difabel sebagai Simbol Perlawanan ==
 
Serat Gatholotjo mungkin salah satu gambaran, sosok lelaki buruk, dengkleng, dan bau. Namun dia mengaku sebagai lelananging jagat. Gatholotjo teridentifikasi sebagai seorang anak raja yang “cacat” secara fisik, dan yang mengembara untuk menemukan jati diri.
Serat Gatholotjo mungkin salah satu gambaran, sosok lelaki buruk, dengkleng, dan bau. Namun dia mengaku sebagai lelananging jagat. Gatholotjo teridentifikasi sebagai seorang anak raja yang “cacat” secara fisik, dan yang mengembara untuk menemukan jati diri.


Baris 37: Baris 22:
Laku lampak Mbisu – Berjalan Keliling Merapi dengan membisukan diri, tapa Mbisu – mengelilingi Benteng di Yogyakarta, dan tentu masih banyak lagi berbagai ornamen kebudayaan yang mencerminkan bagaimana pandangan magis bagi difabel dalam masyarakat Jawa.
Laku lampak Mbisu – Berjalan Keliling Merapi dengan membisukan diri, tapa Mbisu – mengelilingi Benteng di Yogyakarta, dan tentu masih banyak lagi berbagai ornamen kebudayaan yang mencerminkan bagaimana pandangan magis bagi difabel dalam masyarakat Jawa.


'''Simbol yang Bergeser'''
== Simbol yang Bergeser ==
 
Difabel Jawa yang magis dan sakti ini kemudian bergeser. Bukan lagi menjadi simbol perlawanan, akan tetapi menjadi “penyakit” yang mesti dibersihkan. Bukan lagi sebagai sosok penyeimbang, namun menjadi “patologi” sosial yang harus mereka tertibkan.
Difabel Jawa yang magis dan sakti ini kemudian bergeser. Bukan lagi menjadi simbol perlawanan, akan tetapi menjadi “penyakit” yang mesti dibersihkan. Bukan lagi sebagai sosok penyeimbang, namun menjadi “patologi” sosial yang harus mereka tertibkan.


Baris 47: Baris 31:
Pada tahun 1621, mulailah mereka membangun berbagai rumah kecil khusus untuk pengobatan yang beredar di sekitar benteng-benteng Batavia, di mana kuasa sejati mereka tancapkan. Kuasa medis semakin kuat dan meneguhkan diri sejak pemerintah Belanda pada masa H.W. Daendles membenahi sistem dan memperluas rumah-rumah medis bagi militer dengan membentuk [[jaringan]] rapi di tahun 1808.
Pada tahun 1621, mulailah mereka membangun berbagai rumah kecil khusus untuk pengobatan yang beredar di sekitar benteng-benteng Batavia, di mana kuasa sejati mereka tancapkan. Kuasa medis semakin kuat dan meneguhkan diri sejak pemerintah Belanda pada masa H.W. Daendles membenahi sistem dan memperluas rumah-rumah medis bagi militer dengan membentuk [[jaringan]] rapi di tahun 1808.


'''Medikalisasi Tubuh dan Difabelitas'''
== Medikalisasi Tubuh dan Difabelitas ==
 
Paska tahun-tahun tersebut, medikalisasi tubuh dan difabelitas semakin kuat dan berjalan dengan baik. Yakni sejak Professor G.G.K. Raindwart pada tahun 1820 mereka nobatkan menjadi komisaris manajerial urusan medis Hindia Belanda.
Paska tahun-tahun tersebut, medikalisasi tubuh dan difabelitas semakin kuat dan berjalan dengan baik. Yakni sejak Professor G.G.K. Raindwart pada tahun 1820 mereka nobatkan menjadi komisaris manajerial urusan medis Hindia Belanda.