Disabilitas dan Merawat Keberagamaan: Perbedaan antara revisi
Tampilan
Tidak ada ringkasan suntingan |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox berita, opini|italic title=Disabilitas dan Merawat Keberagamaan|sumber=[https://mubadalah.id/disabilitas-dan-merawat-keberagamaan/ Mubadalah.id]|name=|image_caption=|author=Fatikha Yuliana|title_orig=Disabilitas dan Merawat Keberagamaan|pub_date=23 Desember 2019|image=Berkas:Mubadalah.id.png|note=}}'''[[Mubadalah]].id –''' Penyandang disabilitas adalah kelompok yang kerap mendapat stigma negatif. Keterbatasan yang dimiliki membuat mereka dijauhi oleh masyarakat bahkan keluarganya sendiri. Penyandang disabilitas sering mendapat stigma atau stereotip sebagai manusia kutukan. Cara pandang tersebut yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai liyan. | |||
{| | |||
|[https://mubadalah.id/disabilitas-dan-merawat-keberagamaan/ Mubadalah.id] | |||
| | |||
| | |||
| | |||
| 23 Desember 2019 | |||
|: | |||
|} | |||
'''[[Mubadalah]].id –''' Penyandang disabilitas adalah kelompok yang kerap mendapat stigma negatif. Keterbatasan yang dimiliki membuat mereka dijauhi oleh masyarakat bahkan keluarganya sendiri. Penyandang disabilitas sering mendapat stigma atau stereotip sebagai manusia kutukan. Cara pandang tersebut yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai liyan. | |||
Keterbatasan yang melekat pada diri difabel dianggap sebagai hambatan untuk melakukan aktivitas serupa dengan mereka yang tanpa disabilitas. Dampak lanjut dari pemikiran tersebut berujung pada kebijakan, peraturan hingga fasilitas publik yang tidak aksesibel. Angka pemenuhan hak penyandang disabilitas juga masih minim. | Keterbatasan yang melekat pada diri difabel dianggap sebagai hambatan untuk melakukan aktivitas serupa dengan mereka yang tanpa disabilitas. Dampak lanjut dari pemikiran tersebut berujung pada kebijakan, peraturan hingga fasilitas publik yang tidak aksesibel. Angka pemenuhan hak penyandang disabilitas juga masih minim. | ||