2025 Konsep Mubadalah dalam Fiqih untuk Penyandang Disabilitas: Studi Kritis tentang Fleksibilitas Hukum Islam: Perbedaan antara revisi
Tampilan
←Membuat halaman berisi '{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Reformulating the Concept of Nusyuz in Malaysian Islamic Family Law: A Mubadalah-Based Gender Justice Analysis in Malaysian Islamic Family Law|author=*Wan Abdul Rahim Bin Wan Abd Aziz (Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), Malaysia) *Achmad Faishal (Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia)|title_orig=Reformulating the Concept of Nusyuz in Malaysian Islamic Family Law: A Mubadalah-Based Gender Justice Analysis in Malaysian...' |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
{{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title= | {{Infobox Jurnal Ilmiah|italic title=Konsep Mubadalah dalam Fiqih untuk Penyandang Disabilitas: Studi Kritis tentang Fleksibilitas Hukum Islam|author=M. Afiqul Adib (Universitas Islam Lamongan)|title_orig=Konsep Mubadalah dalam Fiqih untuk Penyandang Disabilitas: Studi Kritis tentang Fleksibilitas Hukum Islam|name=|issn=2988-7232|note=[https://www.husin.id/index.php/serumpun/article/view/172/65 (Download Original)]|pub_date=08 May 2025|series=Vol. 3, No. 1: January-June (2025)|image=Berkas:NO PHOTO.jpg|image_caption=[https://www.husin.id/index.php/serumpun/article/view/172 SERUMPUN; Journal of Education, Politic and Social Humaniora]|sumber=[https://www.husin.id/index.php/serumpun/article/view/172 SERUMPUN; Journal of Education, Politic and Social Humaniora]|doi=[http://dx.doi.org/10.61590/srp.v3i1.172 http://dx.doi.org/10.61590/srp.v3i1.172]}}'''Abstrak:''' Penelitian ini mengkaji konsep mubadalah dalam fiqh sebagai upaya menciptakan hukum Islam yang fleksibel dan inklusif bagi penyandang disabilitas. Masalah utama yang diangkat adalah keterbatasan interpretasi tradisional fiqh yang sering mengabaikan pengalaman dan kebutuhan penyandang disabilitas, sehingga menghambat aksesibilitas dan keadilan dalam praktik keagamaan. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi potensi penerapan mubadalah sebagai prinsip kesetaraan dan kemudahan dalam mengakomodasi kondisi difabel dalam ibadah dan kehidupan bermuamalah. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research), dengan menganalisis literatur keagamaan, artikel jurnal, buku, dan dokumen terkait fleksibilitas hukum Islam serta keadilan sosial bagi penyandang disabilitas. Analisis data dilakukan secara kualitatif menggunakan teknik koding dan kategorisasi untuk menyoroti tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip mubadalah dapat memberikan keringanan dan penyesuaian hukum yang lebih relevan bagi difabel. Reinterpretasi teks-teks keagamaan melalui lensa inklusivitas tidak hanya meningkatkan aksesibilitas dalam ibadah, tetapi juga menghapus stigma dan diskriminasi, sehingga menciptakan lingkungan keagamaan yang lebih adil dan manusiawi. | ||
'''''Kata Kunci:''' | '''''Kata Kunci:''' Mubadalah, Fiqih Disabilitas, Hukum Islam'' | ||
'''''Abstract:''' This | '''''Abstract:''' This study examines the concept of mubadalah in fiqh as an effort to create a flexible and inclusive Islamic law for individuals with disabilities. The primary issue addressed is the limitation of traditional fiqh interpretations, which often overlook the experiences and needs of persons with disabilities, thereby hindering accessibility and justice in religious practices. The research aims to identify the potential application of mubadalah as a principle of equality and ease in accommodating the conditions of persons with disabilities in both worship and social transactions. The research method employed is library research, which involves analyzing religious literature, journal articles, books, and documents related to the flexibility of Islamic law and social justice for persons with disabilities. Data analysis was conducted qualitatively using coding and categorization techniques to highlight the main themes. The findings indicate that the application of the mubadalah principle can offer legal accommodations and adjustments that are more relevant for individuals with disabilities. Reinterpreting religious texts through an inclusive lens not only enhances accessibility in worship but also eliminates stigma and discrimination, thereby creating a more just and humane religious environment.'' | ||
'''''Keywords:''' | '''''Keywords:''' Mubadalah, Fiqh of Disability, Islamic Law.'' | ||
[[Kategori:Khazanah]] | [[Kategori:Khazanah]] | ||
[[Kategori:Artikel Jurnal]] | [[Kategori:Artikel Jurnal]] | ||
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]] | [[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah]] | ||
[[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]] | [[Kategori:Artikel Jurnal Mubadalah 2025]] | ||