Lompat ke isi

Durrotul Ma’munah: Perbedaan antara revisi

Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
Baris 4: Baris 4:


Durrohtul Mu’minah ikut berpartisipasi sebagai peserta dalam Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) pada 2017 di Cirebon, Jawa Barat.
Durrohtul Mu’minah ikut berpartisipasi sebagai peserta dalam Kongres [[Ulama Perempuan]] Indonesia ([[KUPI]]) pada 2017 di Cirebon, Jawa Barat.
== Riwayat Hidup ==
== Riwayat Hidup ==
Durrotul Ma’munah merupakan anak dari H. Moch Chozin dan Hj. Choirun Ni’mah di Gresik. Sejak menikah dengan suaminya, H. Nubkhatul Fikri, Ibu Durroh tinggal di Wanasari, Kab. Brebes. Pasangan ini memiliki 7 orang anak yakni Devi Atirotun Muthohharoh, Dahya Nur Maulida, Darira Fitriana, Dawiya Fuadiya, Daima Mufallaha, Ahmad Sufyan Assyamsuriy, dan alm. Nurul Hikmah.
Durrotul Ma’munah merupakan anak dari H. Moch Chozin dan Hj. Choirun Ni’mah di Gresik. Sejak menikah dengan suaminya, H. Nubkhatul Fikri, Ibu Durroh tinggal di Wanasari, Kab. Brebes. Pasangan ini memiliki 7 orang anak yakni Devi Atirotun Muthohharoh, Dahya Nur Maulida, Darira Fitriana, Dawiya Fuadiya, Daima Mufallaha, Ahmad Sufyan Assyamsuriy, dan alm. Nurul Hikmah.
Baris 18: Baris 16:


Sebagai pengelola pesantren, Durrotul Ma’munah juga aktif berkarya di tengah masyarakat dengan menggelar majelis taklim dan pengajian-pengajian di daerahnya. Selain itu, Durrotul Ma’munah juga mempunyai karya tulis diantaranya adalah “Konsep Waktu Menurut Al-Qur’an”. “Studi Analisis Pemikiran Syekh Muhammad Sholih Ibnu Umar Al-Samarani tentang Pendidikan Perempuan dalam Kitab Majmu'at al-Syari'at al-Kafiyat li al-Awam dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Nasional.”
Sebagai pengelola pesantren, Durrotul Ma’munah juga aktif berkarya di tengah masyarakat dengan menggelar majelis taklim dan pengajian-pengajian di daerahnya. Selain itu, Durrotul Ma’munah juga mempunyai karya tulis diantaranya adalah “Konsep Waktu Menurut Al-Qur’an”. “Studi Analisis Pemikiran Syekh Muhammad Sholih Ibnu Umar Al-Samarani tentang Pendidikan Perempuan dalam Kitab Majmu'at al-Syari'at al-Kafiyat li al-Awam dan Relevansinya dengan Tujuan Pendidikan Nasional.”
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan ==
== Tokoh dan Keulamaan Perempuan ==
Atas informasi dan rekomendasi dari rekannya di Brebes dan teman-temannya yang dulu satu almamater di Krapyak, Durrotul Ma’munah ikut menjadi peserta dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Cirebon, Jawa Barat pada 2017. Di dalam kongres, ia sangat terkesan dengan banyaknya perempuan dari berbagai elemen dan dari berbagai negara berkumpul dalam kongres tersebut untuk bersama-sama menyuarakan nasib perempuan di dalam dunia Islam.
Atas informasi dan rekomendasi dari rekannya di Brebes dan teman-temannya yang dulu satu almamater di Krapyak, Durrotul Ma’munah ikut menjadi peserta dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Cirebon, Jawa Barat pada 2017. Di dalam kongres, ia sangat terkesan dengan banyaknya perempuan dari berbagai elemen dan dari berbagai negara berkumpul dalam kongres tersebut untuk bersama-sama menyuarakan nasib perempuan di dalam dunia Islam.
Baris 37: Baris 33:
Dalam kiprahnya di tengah masyarakat, Durrotul Ma’munah sering mengisi pengajian-pengajian dan menyampaikan soal relasi dalam rumah tangga atau kehidupan sehari-hari dengan perspektif-perspektif yang sudah pernah dia dapat yang dia anggap paling mendekati kebenaran, yakni perspektif kesetaraan. Durrotul Ma’munah juga memikirkan cara terbaik dalam penyampaian ide kesetaraan gender baik kepada santri maupun jamaah pengajian agar gagasan yang ia sampaikan tidak mendapat penolakan.
Dalam kiprahnya di tengah masyarakat, Durrotul Ma’munah sering mengisi pengajian-pengajian dan menyampaikan soal relasi dalam rumah tangga atau kehidupan sehari-hari dengan perspektif-perspektif yang sudah pernah dia dapat yang dia anggap paling mendekati kebenaran, yakni perspektif kesetaraan. Durrotul Ma’munah juga memikirkan cara terbaik dalam penyampaian ide kesetaraan gender baik kepada santri maupun jamaah pengajian agar gagasan yang ia sampaikan tidak mendapat penolakan.


Ia merasa terbantu dengan adanya kitab seperti ''Sittin al-‘Adliyah'' karya KH [[Faqihuddin Abdul Kodir]] yang ia temukan dalam jaringan KUPI. Pada bulan puasa dan kesempatan lainnya, ia kaji kitab tersebut pada para santri dan jamaah majelis taklim. Baginya kitab tersebut membuat penyampaian gagasan kesetaran gender kepada santri dan ibu-ibu pengajian menjadi tidak terlalu berat.  Jamaah rata-rata santri dan jamaah mengiayakan pandangan-pandangan dalam kitab tersebut. Selain itu, di PC Fatayat Jogja pada bulan puasa menggelar pengajian Kitab ''Mambaussa’adah'' yang juga karya KH Faqihuddin Abdul Kodir.  
Ia merasa terbantu dengan adanya kitab seperti ''Sittin al-‘Adliyah'' karya KH [[Faqihuddin Abdul Kodir]] yang ia temukan dalam [[jaringan]] KUPI. Pada bulan puasa dan kesempatan lainnya, ia kaji kitab tersebut pada para santri dan jamaah majelis taklim. Baginya kitab tersebut membuat penyampaian gagasan kesetaran gender kepada santri dan ibu-ibu pengajian menjadi tidak terlalu berat.  Jamaah rata-rata santri dan jamaah mengiayakan pandangan-pandangan dalam kitab tersebut. Selain itu, di PC Fatayat Jogja pada bulan puasa menggelar pengajian Kitab ''Mambaussa’adah'' yang juga karya KH Faqihuddin Abdul Kodir.  


Bagi Durrotul Mu’minah, masyarakat pertama-tama, membutuhkan ayat atau dalil yang menjadi sumber dan rujukan. Setelah itu mereka harus mendapatkan narasi dakwah yang baik sehingga tidak membuat kaget. Ia optimistis kalau seperti itu caranya, masyarakat pelan-pelan akan memahami sendiri gagasan-gagasan kesetaaran gender. Selain pengajian dan ceramah, ia juga mengaplikasikan cara memahami dan menyelesaikan masalah-masalah keseharian dengan perspektif kesetaraan. Kalau ada masalah keluarga, masyarakat di sekitar pesantren biasanya datang ke rumah dan bertanya tentang masalah-masalah rumah tangganya kepada Durrotul Ma’munah.
Bagi Durrotul Mu’minah, masyarakat pertama-tama, membutuhkan ayat atau dalil yang menjadi sumber dan rujukan. Setelah itu mereka harus mendapatkan narasi dakwah yang baik sehingga tidak membuat kaget. Ia optimistis kalau seperti itu caranya, masyarakat pelan-pelan akan memahami sendiri gagasan-gagasan kesetaaran gender. Selain pengajian dan ceramah, ia juga mengaplikasikan cara memahami dan menyelesaikan masalah-masalah keseharian dengan perspektif kesetaraan. Kalau ada masalah keluarga, masyarakat di sekitar pesantren biasanya datang ke rumah dan bertanya tentang masalah-masalah rumah tangganya kepada Durrotul Ma’munah.